Masalah Suriah; Sampai Saat Ini Siapakah Pemenangnya?

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Dengan dimulainya babak baru aksi kekerasan dan teror di dua kota Suriah; Damaskus dan Aleppo yang merupakan dua kota besar di Suriah, ternyata militer negara ini boleh dikata  relatif berhasil mengontrol kondisi dua kota ini. Namun pertanyaannya, hingga saat ini, siapa pemenang permainan ini?

 

Berikut ini 5 pendahuluan untuk menjawab pertanyaan ini:

 

1. Kini segalanya mulai jelas bahwa kelompok oposisi bersenjata Suriah dan negara-negara yang mendukungnya tidak mampu memenangkan perang di lapangan melawan militer dan intelijen Suriah. Di medan tempur, setiap kali militer Suriah berhadap-hadapan dengan kelompok perusuh, maka sudah dapat ditebak sejak awal bahwa militer mampu mengalahkan mereka. Lebih penting lagi, kelompok oposisi bersenjata Suriah tidak mampu menarik simpati rakyat untuk ikut bersama mereka. Artinya, kelompok perusuh Suriah tidak mampu mengubah cara pandang opini publik internal dan internasional bahwa gerakan yang mereka lakukan merupakan gerakan sosial.

 

Justru mereka menghadapi kondisi terburuk. Karena rakyat justru apatis dengan sikap dan tindakan mereka. Rakyat lebih banyak menanti siapa nantinya yang bakal menjadi pemenangnya. Damaskus saat ini sudah aman. Sementara kondisi keamanan Aleppo yang menjadi target kelompok perusuh untuk dikuasai, perlahan-lahan mulai stabil keamanannya.

 

2. Militer Suriah tengah mengevaluasi opsi baru. Menghadapi kelompok perusuh yang semakin mengarah pada aksi-aksi militer dan semakin jelas substansi mereka dalam melakukan aksi teror, militer Suriah saat ini lebih bebas untuk memberangus aksi-aksi para perusuh. Pemerintah Suriah sendiri mengubah strateginya dan lebih fokus urusan internal dan memutuskan untuk menyikapi secara serius proyek untuk melakukan instabilitas keamanan di daerah-daerah perbatasan negara-negara intervensif urusan dalam negerinya.

 

Pemindahan rudal dan perlengkapannya, senjata kimia dan penembakan artileri ke kawasan perbatasan Suriah dan daerah Palestina pendudukan (Israel) di Dataran Tinggi Golan merupakan tanda-tanda pertama perubahan strategi Suriah ini.

 

3. Kini masalah ini sudah sangat jelas bagi Barat bahwa tanpa menemukan solusi politik bagi masalah Suriah, maka masalah ini tidak dapat diselesaikan murni lewat jalur militer dan keamanan. Sekalipun diasumsikan bahwa pemerintah Bashar Assad lengser sekalipun, kemungkinan yang akan terjadi, dan kemungkinan ini lebih besar, pemerintah oposisi tidak akan berkuasa di sana. Kaum Alawi yang akan mengisi kekosongan kekuasan ketika pemerintahan Bashar Assad lengser. Karena kaum Alawi merupakan kelompok yang sangat rapi dan terorganisir dengan baik serta memiliki pengaruh kuat di Suriah. Mereka akan bangkit melawan pemerintah Sunni yang akan berkuasa.

 

Oleh karenanya, bagi semua pihak sudah jelas bahwa yang harus dilakukan adalah mencari solusi politik bagi masalah Suriah yang mampu membuat kedua pihak rela. Terlebih lagi, prakarsa Kofi Annan, utusan PBB dan Liga Arab telah gagal dan itu artinya, setiap prakarsa politik baru soal Suriah ke depannya tidak mungkin berasal dari Barat.

 

4. Saat ini juga mulai terlihat tanda-tanda kelompok oposisi bersenjata menunjukkan keinginannya untuk berunding dengan pemerintah Suriah. Bahkan sebagian dari kelompok teroris Tentara Bebas Suriah menyatakan siap menerima berlanjutnya pemerintahan saat ini di bawah pimpinan Bashar Assad. Disebutkan juga bahwa Amerika tengah berusaha menghubungi orang-orang di sekitar Bashar Assad untuk menerapkan skenario Yaman, dimana dalam skenario ini, Presiden Bashar Assad mengundurkan diri, tapi pemerintahan tetap seperti sedia kala. Sekalipun seluruh usaha menghubungi orang-orang terdekat Bashar Assad mengalami kebuntuan dan mereka secara tegas menuntut berlanjutnya pemerintah yang ada dan membela Bashar Assad, sikap Amerika dan kelompok perusuh Suriah untuk berunding dengan pemerintah Suriah, menunjukkan terbatasnya medan perang yang perlahan-lahan justru menekan mereka.

 

5. Sekalipun masih saja ada lontaran ungkapan-ungkapan provokasi dari para pejabat Amerika dan Zionis Israel, para analis politik dalam masalah Suriah mengatakan Barat tidak mungkin terlibat dalam invasi militer ke Suriah. Alasan utamanya, Amerika saat ini tengah menghadapi pemilu presiden dan satu invasi militer baru dengan cepat akan membuat citra Obama terjun bebas di mata masyarakat. Karena rakyat Amerika saat ini menuntutnya lebih fokus akan urusan dalam negeri dan segera menyudahi intervensi militer di negara-negara lain. Sementara rezim Zionis Israel, sekalipun tidak menyatakan secara transparan, tapi dari sisi intelijen, mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa memulai aksi militer baru akan mengubah perbatasan yang tidak stabil itu menjadi benar-benar tidak aman dan Dataran Tinggi Golan akan menjadi Gurun Sina baru bagi Israel.

 

Lalu, hingga kini siapa pemenangnya? (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description