Jika Tokoh Islam (HMI) Bangga Berteman dengan Zionis

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Oleh: Muhammad Ma'ruf

 

Perayaan kemerdekaan Israel ke 64, Kamis (25/4) pekan lalu dirayakan di gedung School of the Arts, Singapura, beberapa tokoh politik dan pejabat KADIN tampak hadir. Salah satu tokoh politik yang hadir adalah mantan Politisi dari Partai Golkar, Ferry Mursdian Baldan. Ferry mengakui bahwa dirinya bersama istri memang menghadiri acara Peringatan Hari Kemerdekaan Israel. Menurut dia, ia hanya sebatas memenuhi undangan. Mantan anggota DPR RI itu menyatakan dirinya terbiasa membuka hubungan komunikasi dengan siapa pun termasuk dengan Israel. "Itu undangan pribadi yang dikirim resmi oleh dubes Israel. Dan itu buat saya lumrah.Saya sudah empat tahun menghadiri perayaan kemerdekaan Israel di Singapura," kata salah satu dari mereka yang mengaku bekas sekretaris jenderal Himpunan Mahasiswa Islam ini. Bahkan, ia mengatakan bakal ada rombongan pemuda dari Indonesia yang akan berkunjung ke Israel bulan depan".

 

Ferry menuturkan mengaku sudah melawat ke Israel tiga tahun lalu. "Saya mengunjungi Hebron, Jericho, dan Yerusalem," ujar pria berkaca mata ini. Dia juga sempat bertemu sejumlah anggota Knesset (parlemen Israel).

 

Istrinya tak kalah bangga bercerita soal kunjungan mereka ke negara Zionis itu. Menurut perempuan berjilbab ini, situasi Israel tidak seperti yang ia ketahui sebelumnya. "Di Knesset saja ada masjid karena ada anggota mereka keturunan Arab muslim," katanya.

 

Semua orang Indonesia tidak kikuk berada di resepsi itu. Bahkan, mereka berbincang akrab dengan tuan rumah, yakni Duta Besar Israel buat Singapura Amira Arnon. Amira tampak senang menyambut tetamunya dari Indonesia itu. Bahkan, ia menyebut mereka kawan Israel.

 

Menurut Irman Abdurrahman, aktifis VOP (Voice of Palestine), tindakan Ferry dan konco-konconya itu merupakan para penghianat konstitusi, tidak bisa di satu sisi mendukung Palestina di sisi lain menjalin komunikasi dengan Israel, sikap ketika mendukung Palestina otomatis harus mengingkari keberadaaan Israel, mau tidak mau, harus berhadap-hadap.

 

Sikap Fery ini bermuka dua, hal ini dikatakan Mujtahid Hashem, presidium Kahmi Depok, menurutnya orang macam Fery tidak layak mencalonkan diri menjadi anggota legistlatif dari Nasdem, sebagai aktifis HMI, Mujtahid malu mempunyai senior seperti dia, Ferry tidak bisa jadi contoh bagi yuniornya. Mujtahid menambahkan kalau alasan Ferry biasa membuka komunikasi dengan siapa saja artinya Ferry  dengan sadar membuka komunikasi (pintu dengan setan), " sayang sekali karir politik Fery dia hancurkan sendiri" kata Mujtahid.

 

 

Orang-orang seperti Ferry hanya cerita kecil dari korban propaganda zionis. Langkah Israel untuk memperoleh dukungan politik sejak 1948 dengan berbagai cara, mulai dari menjalin hubungan diplomatik dan hubungan dagang. Ketika suatu negara tidak mau menjalin hubungan dengan Israel, negara tersebut biasanya di "iming-imingi" keuntungan hubungan dagang dan alih teknologi. Maka seringkali ada ungkapan, "sudahlah menjalin hubungan dagang dengan Israel lebih menguntungkan", Indonesia butuh teknologi pertanian dan teknologi senjata dari Israel".

 

Propaganda zionis seperti ini di Indonesia ini selalu dipantau perkembanganya, maka ada orang seperti ketua Komunitas Pencinta Yahudi di Indonesia, Unggun Dahana yang pada tahun ini kembali berencana merayakan HUT Kemerdekaan Israel di Jakarta. "Dalam hari jadi Israel ke-64 yang jatuh 14 Mei nanti, komunitas tetap akan menggelar acara peringatan. Namun acara kecil-kecilan saja,"katanya

 

Acara tersebut tetap akan disertai pengibaran bendera Israel dan bendera Indonesia, serta menyanyikan Hatikva, lagu kebangsaan Israel dan juga Indonesia Raya. "Memang begitu aturannya. Bendera Israel harus lebih rendah dari Merah Putih," ujarnya. Unggun mengatakan, untuk tahun ini acara tidak akan dipublikasikan, mengingat kehebohan yang terjadi pada tahun lalu. Namun, dia berjanji akan melaporkan acaranya ke polisi jika anggota yang hadir lebih dari sepuluh orang.

 

Menurut pemahaman Gugun, proklamasi negara Israel atau Hakhrazat HaAtzma'ut terjadi pada tanggal 14 Mei 1948, ketika Mandat Britania atas Palestina berakhir. Saat itu pengumuman bahwa negara Yahudi baru bernama Israel secara resmi didirikan di wilayah Mandat Britania atas Palestina dan di tanah di mana kerajaan Israel, kerajaan Yehuda dan Yudea berada. Mengikuti perhitungan kalender Yahudi, acara HUT Kemerdekaan Israel sudah berlangsung lebih dulu di sejumlah Kedubes Israel di beberapa negara.

 

Ketika ditanya tentang isi Pembukaan UUD 1945 yang sudah jelas menyebutkan Indonesia anti penjajahan, Unggun berkilah, kadang-kadang beda persepsi. Ada yang mengatakan bahwa Israel itu menjajah Palestina. Kalau persepsi dari kami, umat Kristen, Israel itu tidak menjajah. Karena sebenarnya Palestina itu tidak ada. Sejarah Palestina itu tidak ada. Yang ada sekarang itu orang-orang Yordan. Dan Palestina itu baru terbentuk setelah Israel merdeka. Jadi orang Palestina itu orang-orang Arab itu. Negara Palestina itu tidak pernah ada. Nah, itu keyakinan dari kita.

 

Tingkah Gugun memang fenomena yang menarik, dia berani melawan arus di saat mayoritas jutaan muslim Indonesia mendukung Palestina dan konstitusi Indonesia mengatakan dengan gamblang anti penjajahan. Gugun bisa jadi memang kurang memahami masalah sejarah penjajahan Palestina, tetapi melihat keberanian Gugun, kelihatan lebih bermotif seorang agen zionis dibandingkan dengan kemurnian niat pribadinya. Lebih jelasnya Gugun mendapatkan intruksi dari agen Mossad.

 

Lalu yang menjadi pertanyaan, apa makna seorang Fery dan Gugun yang gigih ikut mengenang kemerdekaan "Israel Raya"?. Kedua orang ini jelas sekali mendukung politik rasisme, karena "Israel Raya" berarti negara yang didirikan khusus ras Yahudi di atas tanah rampasan Palestina.

 

Hari kemerdekaan Israel bagi bangsa Palestina adalah hari duka yang mengerikan, hari dimana sejarah penjajahan dimulai.  Hari kemerdekaan Israel, artinya orang seperti Gugun dan Fery ikut merayakan pembersihan etnis, pengusiran massal, penghancuran tanah air Palestina.

 

Apa sebutan yang paling tepat bagi warga Indonesia yang bergabung dengan seluruh warga dunia pro zionis merayakaan "kembalinya bangsa yahudi  ke tanah zion" sebagai prestasi gerakan zionis dalam mewujudkan mimpi "Israel Raya" (‘Eretz Israel') di seluruh tanah historis Palestina. Kita tidak tahu, tapi paling tidak mereka layak disebut para penghianat bangsa (konstitusi UUD 1945).

 

Kita tidak tahu apa yang ada dalam benak dan pikiran Ferry dan Gugun, ketidaktahuan atau memang karena tawaran materi, kedua orang ini memang harus diberitahu bahwa saat telinga mereka mendengarkan lagu "hativka"(lagu kebangsaan Israel), ingatan mereka harusnya melayang 64 tahun silam; 685 desa dikosongkan, 805 ribu penduduk Palestina asli Palestina menjadi pengungsi, sekarang menjadi 7 juta, 70 pembantaian Zionis untuk menuntaskan pembersian etnis, 78% tanah Palestina diduduki Israel, artinya 14 kali wilayah yang dimiliki Yahudi, 6 kali wilayah yang zionis rampas dari Palestina saat Israel dideklarasikan: 24 % lebih dari yang direkomendasikan resolusi PBB 181.

 

Hari kemerdekaan Israel Raya artinya nakba (bencana) bagi Palestina dan telah berlangsung 64 th, pengungsi Palestina terus diingkari hak pulang dan tak jua mendapatkan ganti rugi. Bahkan yang lebih mengerikan, semua penduduk Palestina di tepi barat akan dipindahkan ke Yordania, sehingga sisa tanah Palestina tidak lama lagi tinggal Gaza.

 

Padahal kalau kita menengok hukum Internasional, 7 juta pengungsi Palestina di seantero dunia berhak untuk pulang, seperti yang tertera dalam Deklarasi Universal HAM Pasal 13; setiap orang memiliki hak untuk  kembali ke tanah airnya, Konvensi Internasional tentang Penghapusan segala Bentuk Diksriminasi Rasial Pasal 5 (d)(ii): hak untuk kembali ke tanah airnya, Konvensi Internasional tentang hak-haka sipil dan Politik 12 (4): tak ada seorangpun yang bisa diingkari haknya untuk kembali ke tanah airnya. Resolusi PBB 194: mengakui hak mutlak bangsa Palestina untuk kembali ke tanah airnya.

 

Lalu apakah orang seperti  Ferry yang pernah menjadi anggota yang terhormat legislatif  Indonesia dan pernah memimpin Himpunan Mahasiwa Islam Indonesia layak menjadi tokoh di bumi Pancasila ini? Ferry sebagai tokoh HMI harusnya serius memperjuangkan bangsa Palestina, berjuang  memang  perlu konsisten, kesabaran dan tawakal, tanpa itu "sesat pikir", dan tawaran dunia sesaat banyak menjadikan tokoh muslim menjadi terhina di akhir karirnya. (IRIB Indonesia)

 

* Aktivis Indonesia Pro Palestina dan Kontributor IRIB Indonesia

Tags:


3Comments

Comments

Name
Mail Address
Description