Program Nuklir Iran: Antara Logika Konfrontasi dan Logika Kooperasi

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Oleh: Ammar Fauzi Heryadi

 

Tadi malam waktu Istanbul, usai sudah perundingan pertama isu nuklir Iran di tahun ini. Perundingan ini krusial lebih dari sebelumnya bukan hanya ditinjau dari hasil dan kesan umum yang terungkapkan di hadapan media, tetapi dipersiapkan perencanaannya secara sangat alot dan begitu menegangkan. Dalam penentuan venue saja bahkan muncul berbagai opsi, belum lagi sempat tertunda dalam rentang waktu yang cukup panjang, sampai Iran menjatuhkan ketegasan menganulir kelayakan Istanbul sebagai tuan rumah dan beralih ke Baghdad hanya beberapa hari setelah kunjungan PM Turki, Erdogan, ke Teheran karena peningkatan ketegangan politik Turki terhadap Suriah dengan memanjakan gereget Amerika dan sekutunya di negara-negara Arab dalam konferensi "Friends of Syria".

 

Bagi Turki sendiri, bukanlah kebanggaan kecil memperoleh kepercayaan Teheran memilihnya kembali untuk mengakomodasi perundingan mahapanjang yang telah nyaris memakan 20 tahun. Upayanya membujuk kepercayaan itu tidak jarang disinyalir pengamat senilai mengemis. Alhasil, bisa duduk di belakang jajaran peserta perunding, meski sekadar berstatus tuan rumah dan penghangat suasana, sudah merupakan prestasi politis Istanbul di tingkat dunia dan, khususnya di Uni Eropa, sekaligus "mengurangi beban malu" di hadapan Teheran atas hasil perundingan putaran September 2011 yang berakhir amat mengecewakan, kalau bukan justru menghinakan suatu bangsa.

 

Hanya dalam percaturan politik Timur Tengah, kali ini Turki tidak mendapatkan poin selain lagi-lagi "mengurangi beban malu" untuk kedua kalinya. Keputusan Iran mencabut kelayakan Istanbul sebagai tuan rumah perundingan tak kurang dari mempermalukan politik luar negeri Davutoglu yang bangga dengan kebangkitan imperium neo-Otoman dalam paket "Deep Strategy". Sikap Teheran menelanjangi balutan beberapa lapisan paket itu menegaskan getaran politik détente Turki di kawasan nyatanya dan ajaibnya bisa aktif merangsang nafsu Amerika, Inggris, Saudi Arabia dan Qatar untuk intervensi terhadap negara tetangganya, Suriah, dengan senjata dan pertumpahan darah. Pada titik ini, sikap politis Iran dalam penanganan isu nuklirnya dengan G5+1 telah meneguhkan pengaruh Teheran di kawasan sebelum diangkat Kofi Annan sebagai satu satu solusi untuk krisis Suriah. Dengan kekuatan isu nuklirnya, Iran meyakinkan Turki bahwa logika konfrontasi bukan kebijakan politis untuk membantu penyelesaian krisis Suriah, dan bahwa jalur militer hanyalah membuktikan kegagalan berpikir dan berpolitik.

 

Untuk sampai ke putaran ini, perundingan isu multidimensi nuklir Iran telah memakan nyaris 20 tahun sejak awal kali Iran diperkarakan di IAEA. Selama ini sudah lebih dari ribuan kali inspeksi dari para ahli IAEA terhadap instalasi dan instansi apa saja yang dianggap perlu. Hingga kini, tidak satu baris pun dari laporan mereka menyatakan ada langkah Teheran ke arah pengembangan senjata nuklir, juga tidak sedikit laporan Badan Atom Internasional ini ataupun sekian resolusi DK-PBB yang menekan dan merugikan Iran. Hanya yang tidak kalah penting dari itu bagi Iran adalah kekuatan dan ketahanannya selama 20 tahun ini sebagai pihak yang ‘pantas' sederajat duduk dengan rezim-rezim tetap di Dewan Keamanan PBB. Perhelatan perundingan, kapanpun, di manapun dan apa pun hasilnya, jadi alat pembuktian ketahanan itu yang terus terulang setiap putaran diinisiasi berlangsung.

 

Teheran masuk perundingan dengan G5+1 dengan melipat tebal berbagai lapisan kekuatan yang digalang dalam kurun 20 tahun ini dari rangkaian perkembangan politis dan teknis di dalam negeri. Setidaknya, prestasi teknis Iran dalam pengembangan nuklir hingga kini tengah merampungkan jaringan teknologi dari hulu sampai hilir secara benar-benar independen dan berdiri di atas kaki sendiri. Prestasi dan program ini ditunjang oleh konsensus segenap komponen bangsa akan program nuklirnya. Bukan berlebihan bila Rouhani, sekjen Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, sebelum meletakkan jabatannya di akhir era Khatami dan menjelang pemilu presiden yang dimenangkan Ahmadinejad, mengatakan bahwa siapapun yang terpilih nanti akan jatuh kapan saja menarik dukungan terhadap program nuklir negara. Jatuhnya lima pakar nuklir sebagai korban teror tidak menyusutkan tekad mereka untuk tidak mundur dari titik manapun mereka mencapai kemajuan.

 

Putaran perundingan terakhir ini di Istanbul merupakan babak baru yang disambut optimis oleh semua pihak berunding. Sekjen Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Saeed Jalili, dalam jumpa pers mengatakan bahwa perundingan berlangsung konstruktif, terbangun spirit saling percaya hingga beh kulli mutafavet "berbeda total" dari putaran sebelumnya, yakni putaran yang sarat bahasa arogan dan meninggalkan arus ancaman bombastis serangan militer. Dalam beberapa bulan terakhir hingga menjelang perundingan ini, Amerika memperluas embargo terhadap Iran dan, bersama Inggris serta Israel, menunjukkan hasrat luar biasa besar mereka menyerang Iran, walaupun tidak cukup diimbangi oleh opini dan emosi pejabat serta publik Republik Islam ini selain dipandang sekedar gertak sambal. Retorika "All options are on the table" yang diulang-ulang pejabat paling tinggi di London dan di Washington sejak era Bush hanya mampu jadi bahan lelucon nasional bagi rakyat di sana untuk berbagi tawa menjelang peringatan Hari Revolusi mereka, 22 Bahman, di awal tahun ini.

 

Optimisme dan saling percaya semua pihak mengemuka dalam perundingan dari beberapa indikasi: fatwa haram pengembangan senjata nuklir dari otoritas tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei, yang sudah dapat dipahami oleh pihak 5+1; dan pengakuan hak pengembangan teknologi nuklir dalam kerangka NPT, termasuk pengayaan uranium. Dua hal ini menjadi bagian dari acuan bersama yang akan mendudukkan isu-isu yang diperundingkan dalam putaran berikutnya di Baghdad. Boleh jadi, ini bukan dinamika baru. Sebelumnya, Iran pernah menagih pihak G5+1 untuk memberi jaminan komitmen saling percaya dalam bentuk pencabutan embargo. Bagi Teheran, pemberlakuan embargo terhadapnya adalah kontradiktif dengan upaya membangun itikad saling percaya. Dan kali ini, dalam putaran perundingan ini, Teheran sekali lagi menegaskan hal yang sama; sebuah posisi bargaining yang berpotensi menegangkan perundingan di Baghdad.

 

Apa pun nantinya, hanya kesepahaman dan desakan semua pihak untuk membuka putaran berikutnya merupakan bukti atas keunggulan logika kooperasi dan runtuhnya logika konfrontasi. Keunggulan logika kooperasi ini kian kokoh kapan saja perundingan itu akan berputar dan di mana saja akan digagas berlangsung. Sekerap dan seintensif itu pula negara-negara yang berlogika konfrontasi tergerus dan terus tersiksa selama terlibat dalam perundingan, atau menarik diri dengan mengais citra buruk pecundang tanpa tahu harus bagaimana "mengurangi beban malu" selain dengan kebiasaan mereka: serang!

 

* Kanditat Doktor Filsafat Al Mustafa International University Qom, Iran

Tags:


2Comments

Comments

Name
Mail Address
Description