KTT GNB Tehran; Mendedah Tujuan Gerakan Non Blok

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Gerakan Non Blok sebagaimana organisasi lainnya dipengaruhi oleh peran besar para tokoh pendirinya. Empat pendiri GNB, Presiden Indonesia Ahmad Soekarno, Presiden Mesir Gamal Abdol Nasser, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan Presiden Yugoslavia, Yosep Broz Tito dan Kwame Nkrumah dari Ghana. Kelima negara itu memiliki pengalaman buruk selama bertahun-tahun dijajah negara maju. Rakyat negara itu berjuang merebut kemerdekaannya dari tangan imperialis. Mereka juga menegaskan sikap independen dari berbagai ketergantungan terhadap salah satu blok, baik timur maupun Barat.

 

Para tokoh itu merupakan pemimpin politik pertama negara mereka masing-masing setelah merdeka dari cengkeraman penjajah. Selain berperang melawan penjajah, dan mereka juga aktif melancarkan gerakan anti Imperialisme di kancah internasional. Tahun 1945 hingga 1955 menjadi momentum perlawanan politik keempat negara itu melawan penjajah hingga meraih kemerdekaannya.

 

Dengan spirit itu, para pendiri GNB mengemukakan sejumlah masalah yang paling mendasar  yaitu: prinsip saling menghormati integritas teritorial;  menjaga perdamaian; meredakan friksi di level internasional akibat friksi blok Timur dan Barat; tidak mengintervensi urusan dalam negeri negara lain; perjanjian non-agresi dengan tidak menyerahkan pangkalan militer kepada salah satu blok, mendukung piagam PBB dan perlucutan senjata melalui pengawasan internasional. Dengan demikian maksud dan tujuan dari didirikannya gerakan non blok adalah memperjuangkan hak bangsa-bangsa dunia demi mewujudkan perdamaian dan keamanan melalui partisipasi aktif dalam masalah internasional.

 

Persaingan antara dua kekuatan adidaya dunia, blok Timur Uni Soviet  dan Barat AS menyeret negara-negara lain  di kawasan Eropa, Asia, Afrika, bahkan sesama anggota PBB sendiri saling bermusuhan yang melebarkan terjadinya friksi global. Salah satunya adalah persaingan kedua blok itu di bidang militer. Ketika itu dunia berada dalam atmosfir perang dingin antara blok Timur dan blok Barat.

 

Dalam posisi demikian, tidak adanya politik independen berdasarkan prinsip saling menghormati antar negara memicu ketidakseimbangan tatanan internasional. Masalah ini menyebabkan GNB terutama di era perang dingin tidak mampu menampilkan perannya di level internasional sebagai kekuatan penyeimbang dari dua blok besar itu.

 

Tampaknya, inilah kelemahan GNB dalam konstelasi internasional. Gerakan ini tidak bisa memainkan peran pentingnya di arena internasional untuk mewujudkan perdamaian dunia melalui ketentuan internasional. Di sisi lain, sejumlah faktor lain seperti tidak adanya unsur yang memadai bagi GNB menjadi sebuah lembaga internasional, lemahnya kinerja GNB selama setengah abad lalu, dan tidak efektifnya GNB dalam pengambilan keputusan di level internasional, menyebabkan gerakan itu kehilangan peran pentingnya di dunia.  

 

Di akhir tahun 1960-an, gerakan ini sempat kehilangan kredibilitasnya ketika anggota-anggotanya mulai terpecah dan bergabung bersama Blok lain, terutama Blok Timur. Muncul pertanyaan bagaimana sebuah negara yang bersekutu dengan Uni Soviet seperti Kuba bisa mengklaim dirinya sebagai negara nonblok. Gerakan ini kemudian terpecah sepenuhnya pada masa invasi Soviet terhadap Afghanistan tahun 1979. Setelah Uni Soviet bubar, GNB pun memiliki masalah yang hampir serupa.

 

Kini muncul pertanyaan besar apakah memang GNB lemah di level internasional, ataukah akibat kekuatan hegemoni global mengebiri gerakan itu ?

 

Gerakan Non Blok dewasa ini harus memainkan peran penting di arena internasional mengingat potensinya yang sangat besar. Situasi dan kondisi dunia saat ini memerlukan peran aktif GNB sebagai kekuatan penyeimbang di tengah  cengkeraman dominasi kekuatan global terhadap negara-negara dunia. Setelah tumbangnya Uni Soviet, GNB harus tetap bisa memainkan peran penting sebagai kekuatan penyeimbang demi mewujudkan prinsip dasar gerakan itu dalam konteks kekinian.

 

Selama bertahun-tahun berdirinya GNB, lebih dari setelah abad lalu para pendiri gerakan ini dan penerusnya berkeyakinan bahwa keragaman geografis dan ideologi negara-negara anggotanya merupakan potensi gerakan ini. Tapi nyatanya ini justru menjadi masalah. Sebab hingga kini GNB tidak memiliki struktur resmi seperti anggaran dasar dan sekretariat permanen. Jika kondisi ini terus berlanjut maka kemungkinan gerakan ini akan bubar, maupun ditinggalkan anggotanya sendiri. Bagaimanapun, sebuah lembaga lintas negara yang terdiri dari berbagai negara dengan ideologi dan tujuan yang beragam harus memiliki struktur administrasi bagi eksekusi kebijakan yang disepakati anggotanya.

 

Dengan demikian, GNB harus memiliki struktur administrasi khusus. Saat ini, struktur administrasi GNB sebagaimana organisasi biasa lainnya relatif tidak memiliki rangkaian yang terorganisir. Seluruh negara anggota terlepas dari potensi dan urgensinya masing-masing dalam memanfaatkan peluang ini bisa memainkan perannya demi memberikan konstribusi dalam keputusan-keputusan global.

 

Dalam kerangka ini,  KTT merupakan peluang untuk mewujudkannya sebagai pertemuan tertinggi dalam GNB. Sebelumnya, Iran dalam pertemuan tingkat menteri luar negeri menggulirkan solusi ilmiah untuk menjalin kerjasama kolektif demi mewujudkan tujuan jangka panjang bangsa-bangsa dunia seperti perdamaian, keamanan, pembangunan dan kemajuan. Masalah ini meliputi pembahasan penting seperti larangan penghinaan terhadap agama dan keyakinan pihak lain, menghadapi sanksi dan aksi sepihak dan tindakan ilegal lainnya, menghadapi serangan budaya Barat, reformasi struktur PBB dan dukungan terhadap anggota GNB untuk berpartisipasi di institusi PBB seperti Dewan Keamanan.

 

Selain itu Iran juga mengungkapkan sejumlah isu lain seperti investigasi terhadap kejahatan dan serangan maupun penghinaan yang dilakukan adidaya global terhadap anggota GNB, perang melawan terorisme dan narkotika serta sejumlah isu lainnya. Pandangan Tehran ini bisa memberikan cara pandang baru dalam revitalisasi peran GNB. Sejatinya, penerapan program ini bisa menentukan arah baru bagi peningkatan peran stategis gerakan ini.

 

Selama ini Iran juga aktif memainkan perannya di GNB. Sejumlah isu seperti Palestina, apartheid, islamophobia dan sentimen anti agama, dan pembukaan pasar negara-negara utara bagi ekspor negara-negara selatan termasuk prakarsa Tehran. Sebaliknya, GNB juga memiliki kontribusinya yang tidak kecil terhadap Iran terutama mengenai dukungan gerakan ini terhadap program nuklir sipil Iran. Dalam sidang Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang digelar untuk membahas program nuklir sipil Iran, GNB mendesak organisasi nuklir itu supaya menghindari politisasi masalah nuklir anggotanya, dan mengkaji masalah dari sisi teknik secara akurat. Meskipun demikian, sejumlah negara anggotanya tidak mengikuti komitmen kolektif dan prinsip GNB.

 

Sikap Republik Islam Iran yang diwakili para pemimpinnya dalam berbagai statamen resmi di KTT GNB senantiasa menegaskan peningkatan peran global gerakan ini demi mewujudkan persamaan di level internasional, termasuk dalam memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

 

Transformasi dunia yang begitu cepat yang menuntut penerapan prinsip perdamaian, stabilitas, keamanan lebih besar dari sebelumnya mendorong GNB untuk memainkan peran lebih besar di arena global. Untuk mewujudkan tujuan tersebut diperlukan revitalisasi prinsip GNB demi menyempurnakan fondasi gerakan itu.

 

Salah satu yang menjadi perhatian Tehran atas kelemahan tersebut adalah kurangnya perhatian terhadap potensi politik GNB sebagai wakil mayoritas negara-negara Islam. Selain itu, GNB juga merupakan organisasi internasional terbesar setelah PBB sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan anggotanya. Namun gerakan ini memiliki masalah berupa tidak adanya struktur yang memadai. GNB hingga kini tidak memiliki sekertariat permenen dan hanya memiliki sekertariat sementara di New York. Padahal dengan anggota mencapai 120 negara, dan lebih dari 60 persen merupakan anggota PBB, GNB memliki posisi strategis dalam pengambilan keputusan penting anggota dan perdamaian dunia.

 

Para analis menilai GNB bisa memainkan peran lebih besar di arena internasional. Namun hingga kini gerakan itu terbentur berbagai rintangan di dalam struktur internalnya sendiri. Pertama, negara-negara anggota tidak punya persamaan kepentingan ekonom maupun politik. Kedua, anggota GNB tidak memiliki tekad bersama yang kokoh, karena kepentingan politik yang beranaka ragam para anggotanya. Inilah "PR besar" KTT GNB ke-16 di Tehran (IRIB Indonesia/PH)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description