Sejarah Intervensi Inggris di Iran (Bagian Kedua)
Pengaruh hubungan Inggris dan Iran dengan menghubungkan puncak aktivitas perdagangan Inggris di India melalui The East India Company. Masa itu sangat berhubungan kuat dengan persaingan Rusia dan Inggris dalam memperebutkan wilayah jajahan di India. Di sisi lain, Perancis juga berupaya menjajah sejumlah wilayah di kawasan di tengah perseteruan Inggris dan India.
Masa itu dapat disebut sebagai gerakan cepat penjajahan Inggris di kawasan. Saat itu, Dinasti Afshar berkuasa di Iran. Di masa itu, Inggris melalui antek-anteknya berupaya memperluas wilayah jajahan dan berambisi menyingkirkan Rusia dan Perancis yang juga melirik kawasan. Semua ini berhubungan dengan politik Inggris dan Rusia yang masing-masing berambisi melirik kawasan. Iran saat itu juga menjadi korban tekanan dari kedua pihak, bahkan hingga terjadi konflik di kawasan timur, selatan dan utara negara ini.
Para politisi pemerintah Inggris berulangkali menyatakan kekhawatirannya atas kebijakan Rusia di timur Iran. Lord Kruzen dalam bukunya jilid kedua ketika berbicara tentang hubungan politik Inggris dengan Iran, menulis,"…Pada tahun 1833, pemerintah Inggris benar-benar khawatir. Jangan sampai Inggris terancam dengan gerakan pasukan Iran ke arah Herat, perbatasan antara Iran dan Afghanistan."
Sir John Capel yang juga politisi Inggris menyinggung kekhawatiran Inggris itu dalam laporan resminya pada bulan Juni 1835. Disebutkannya, gerakan militer dan peran Rusia untuk memperluas wilayah di timur Iran kian meningkat. Perseteruan dan kekhawatiran itu bersumber dari ketamakan Inggris yang kemudian berujung pada perang antara penguasa Iran saat itu dan negara-negara tetangga, termasuk Afghanistan dan Rusia. Serangan militer Inggris ke Iran dapat dikatakan sebagai intervensi transparan negara ini yang kemudian berujung pada pendudukan atas sejumlah wilayah. Hal itu terjadi di masa Dinasti Qajar.
Menjaga wilayah pendudukan di kawasan dan monopoli perusahaan The East India Company di India dan selatan Asia sangatlah penting bagi Inggris. Untuk itu, kawasan-kawasan sekitar itu seperti Herat dan Baluchistan dijadikan sebagai wilayah yang berfungsi menjaga kepentingan Inggris. Wilayah itu selalu menjadi ajang fitnah dan konspirasi di tengah persaingan antara Inggris, Perancis dan Rusia.
Di masa itu telah dimulai penjajahan Inggris di timur Iran dan Baluchistan. Sejumlah analis sejarah juga menyebutkan, pengokohan The East India Company juga disebut-sebut sebagai antisipasi intervensi Perancis dan Rusia di Teluk Persia. Apalagi saat itu juga muncul kemungkinan bahwa Napoleon akan menyerang jajahan Inggris di India melalui wilayah Iran. Bagi Inggris, India begitu penting. Bahkan sejumlah politisi berpandangan bahwa Inggris tak akan bertahan lama tanpa India.
Lord Kruzen yang saat itu menjadi Menteri Luar Negeri Inggris, menulis, "….Sejak India diketahui, Inggris selalu mempunyai wewenang separuh dunia."
Isu politik yang berkembang saat itu menyebut Iran sebagai pintu masuknya intervensi asing. Hal itulah yang menjadikan Inggris kian menekan Iran. Untuk menjaga kepentingan Inggris di India, wilayah Iran dijadikan sebagai tameng yang dapat mengantisipasi masuknya Rusia. Apalagi Perancis juga tertarik merebut pendudukan Inggris di India melalui wilayah Iran. Intervensi Inggris terhadap Iran saat itu begitu kuat hingga berujung pada pemecahan wilayah timur, utara dan selatan. Selain itu, banyak kontrak sepihak yang dilakukan Inggris untuk menekan Iran.
Iran saat itu benar-benar tunduk di hadapan Inggris. Di masa Raja Nashirudin Qajar tidak ada perlawanan terhadap Inggris. Akibatnya, banyak kawasan dan Baluchistan dikuasai Inggris dan dijadikan sebagai benteng untuk menangkal kemungkinan serangan dari Rusia dan Perancis.
Pada tahun 1800, Inggris melalui utusan The East India Company, John Malcolm, kembali melakukan berbagai kontrak dengan Iran. Kontrak itu hanya berkepentingan untuk menjaga hegemoni para pejajah di wilayah India. Salah satu kesepakatannya memutuskan bahwa Inggris berkomitmen untuk membela Iran jika ada serangan dari Rusia. Berangkat dari kesepakatan itu, Inggris mendapatkan berbagai konsensi yang tentunya dapat mengokohkan kekuatan The East India Company.
Setelah kesepakatan itu ditandatangani, Inggris sama sekali tidak menepati janjinya. Iran terlibat perang dengan Rusia. Banyak kerugian yang dialami Iran akibat perang Rusia. Iran juga banyak kehilangan wilayahnya.
Pada saat yang sama, Inggris dan Rusia menandatangani kesepakatan bersama yang berujung pada serangan Rusia ke Iran. Akibat serangan itu, Iran mengalami kekalahan besar seperti kekalahan Aslanduz yang kemudian berujung pada perjanjian Golistan pada Oktober 1813.
Duta Besar Inggris untuk Iran saat itu, Sir Gore Ouseley, disebut-sebut sebagai pihak yang menyesatkan para penguasa Iran dan memaksa mereka untuk menandatangani perjanjian. Perjanjian itulah yang menyebabkan Iran terpecah belah menjadi beberapa wilayah. Di penghujung tugasnya, Ouseley bertolak ke London dari Rusia. Di Rusia, ia mendapat penghargaan kehormatan.
Tujuan utama politik Inggris di masa itu adalah melemahkan Iran. Konspirasi Inggris di negara ini juga terbukti dengan upaya-upaya provokasi di dalam negeri yang diantaranya adalah memprovokasi Raja Khalilullah yang juga pemimpin kelompok Ismailiyah di Kerman, Iran timur. Provokasi dan upaya memecah belah masyarakat yang dilakukan Inggris berkembang hingga wilayah Baluchistan dan selatan Iran.
Dengan cara ini, Inggris membuat Iran disibukkan dengan berbagai masalah internal dan intimidasi dari Rusia. Dari satu sisi, Inggris berupaya menjaga kepentingannya di India, tapi dari sisi lain, negara ini juga berambisi besar menguasai Iran.
Iran terus menjadi ajang ketamakan Inggris baik dari sisi ekonomi maupun militer melalui berbagai perjanjian. Di antara perjanjian yang menekan Iran adalah kesepakatan Turkmanchai. Berdasarkan kesepakatan itu, Inggris dapat memetik berbagai konsensi yang sama dengan pemisahan kota-kota Iran di utara dan Kaukasus. Kesepakatan itu juga dikenal dengan "Perjanjian Penghapusan Perdagangan Budak". Perjanjian itu ditandatangani pada tahun 1815.
Melalui perjanjian itu, angkatan laut Inggris dan kapal The East India Company berhak menahan dan memeriksa kapal-kapal Iran yang dicurigai membawa budak-budak. Pada dasarnya, perjanjian itu dijadikan alasan bagi Inggris untuk mengintervensi Iran dan mengokohkan kekuatannya di Timur Tengah, termasuk Bahrain.
Saat itu, pendudukan Inggris di Iran terus berlanjut hingga wilayah selatan negara ini. Dengan masuknya Inggris ke wilayah selatan, para penjajah mempunyai peluang untuk memecah belah wilayah di wilayah timur Iran, termasuk Herat. Pada tahun 1855, penguasa Herat dan rakyatnya mempunyai hubungan baik dengan Iran. Namun setelah Inggris masuk, para penjajah mampu memprovokasi Herat supaya berpisah dari Iran. Akhirnya, Herat mengumumkan perang atas Iran. Herat pun resmi terpisah dari Iran.
Pulau Kharak dan pelabuhan Bushehr juga dikuasai Inggris. Penjajah terus bergerak ke arah Shiraz. Inggris juga menguasai Khuramshahr di Khuzistan. Dengan demikian, wilayah selatan diduduki penuh oleh Inggris. Setelah itu, Iran kembali dipaksa menandatangani Perjanjian Paris.(IRIB Indonesia)