Peran Wanita di Keluarga Dalam Pandangan Revolusi Islam

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Saat ini di Republik Islam Iran, kaum wanita dengan baik membuktikan kemampuannya tampil di berbagai sektor sosial dan tanggung jawabnya sebagai sorang ibu dalam mendidik anak serta istri dalam mendampingi suami. Hal ini berhasil dicapai berkat penghormatan tinggi terhadap ajaran Islam terkait urgensitas keluarga dan peran sentral wanita yang menilai pekerjaan seorang istri di rumah seperti jihad.

 

Dewasa ini penentuan status sosial yang tepat bagi kaum hawa menjadi isu besar. Kemenangan Revolusi Islam di Iran tahun 1979 ternyata juga sangat memperhatikan posisi serta peran wanita. Sampai-sampai Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menyebut isu wanita termasuk masalah utama Republik Islam Iran.

 

Saat ini di Iran, masalah kaum hawa dibahas dalam dua kategori, keluarga dan sosial. Pandangan terhadap wanita yang dilandasi oleh ajaran suci Islam membuat kemampuan wanita meningkat serta masyarakat pun semakin maju. Islam memandang kaum waniata sebagai manusia. Dalam pandangan Islam, wanita memiliki kehormatan dan terhitung landasan bagi tatanan keluarga serta sosial. Oleh karena itu, aktivitas wanita di berbagai bidang tidak menghalanginya untuk membentuk keluarga.

 

Keluarga merupakan institusi pertama dalam sebuah masyarakat dan maminkan peran penting terkait keselamatan sosial. Rahbar yang memiliki pandangan luas dan mendalam soal wanita menilai keluarga sebagai sel utama sebuah masyarakat. Menurut Rahbar, jika sel ini sehat maka bagian masyarakat lainnya juga sehat pula. Beliau berpendapat kemajuan masyarakat Islam tidak mungkin dicapai tanpa adanya keluarga yang sehat dan aktif dalam sebuah negara.

 

Sementara di Barat, masalah utama yang ada adalah para pejabat negara tidak memandang keluarga sebagai lembaga utama dan penting dalam sebuah masyarakat. Mereka memandang wanita sebagai indivu yang terpisah dari keluarga. Rahbar menilai Barat sengaja melalaikan masalah keluarga. Dalam pandangan Rahbar, masalah keluarga menjadi titik lemah Barat dan wanita yang menjadi poros utama di keluarga telah disingkirkan.

 

Perkawinan selama ini menjadi sarana bagi manusia untuk menyalurkan kebutuhan biologis, mental dan spiritualnya.  Dan keluarga menjadi pondasi utama bagi tatanan sosial, infrastruktur bagi kemajuan budaya dan peradapan manusia. Kini berbagai iklan dan propaganda di Barat menjurus pada dorongan kepada manusia untuk hidup membujang dan tidak membentuk sebuah keluarga. Oleh karena itu, kita menyaksikan maraknya keluarga yang terdiri dari satu orang tua atau orang yang membujang di Barat. Sementara di Iran, perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan ikatan janji suci yang memiliki akar kuat di ajaran Islam

 

Rasulullah Saw menyebut perkawinan sebagai penyempurna keimanan seseorang serta menyebutnya sebagai sunnah beliau. Rahbar seraya mengisyaratkan sakralitas perkawinan dalam pandangan agama khususnya Islam meyakini bahwa nilai sakral ini tidak boleh dipisahkan dari perkawinan. Beliau kerap menekankan acara perkawinan digelar dengan sederhana dan tidak mewah. Salah satu tujuan utama perkawinan adalah membentuk komunikasi hangat antara anggota keluarga. Allah Swt dalam surat Ar-Rum ayat 21 berfirman," Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

 

Sebagai negara dengan pemerintahan yang meneladani ajaran Nabi Saw, Republik Islam Iran memandang kaum wanita sebagai kelompok masyarakat yang memiliki banyak potensi dan bakat. Pemerintahan Islam ini menghidupkan kembali kedudukan dan kemuliaan kaum wanita yang sebenarnya. Pandangan seperti ini mendorong kaum wanita untuk terlibat secara aktif dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Dengan menyadari dan menjaga jatidirinya, wanita Muslimah dapat menunjukkan kepada dunia hakikat diri dan perannya. Islam memandang wanita sebagai insan mulia yang mendidik dan mencetak wanita-wanita agung, cendekia, dan ibu atau istri yang berjiwa kuat dan pejuang di jalan Allah.

 

Apa yang dilakukan Republik Islam Iran terkait masalah wanita selama ini memang layak diapresiasi. Namun demikian, Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei memandangnya sebagai kinerja yang belum sempurna. Untuk itu dalam pertemuan dengan kalangan elit, cendekia dan intelektual wanita, beliau mengimbau mereka untuk melakukan telaah dan studi yang mendalam dan ilmiah terkait masalah wanita. Hasil telaah itu dapat diimplementasikan lewat penyusunan program strategis.

 

Di dunia Barat, masalah perempuan dan perannya di tengah masyarakat diidentikkan dengan benturan dua kelompok gender, laki-laki dan perempuan, dan gesekan kepentingan diantara mereka. Pandangan yang salah ini telah menjauhkan perempuan di Barat dari keistimewaan jiwa dan kedudukan insaninya. Mengenai masalah ini Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, "Secara perlahan mereka membuat aturan yang tidak adil yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang diuntungkan, sementara perempuan dijadikan sebagai pihak yang dimanfaatkan. Karena itu, dalam budaya Barat, jika perempuan ingin menonjol dan meraih kepribadiannya maka ia mesti mempertontonkan daya tarik seksualnya. Bahkan dalam acara-acara resmi, pakaian yang dikenakan perempuan harus bisa memuaskan pihak yang diuntungkan, yakni laki-laki."

 

Menurut Rahbar, ada dua masalah inti terkait problema perempuan di tengah masyarakat. Jika dua masalah ini dipikirkan dengan baik, dicanangkan sebagai wacana baru dan ditindaklanjuti secara intensif maka apa yang kini di dunia dianggap sebagai krisis wanita bisa diharapkan terurai dalam jangka pendek ataupun panjang. Pertama berkenaan dengan kesalahan orang dalam memandang status dan kedudukan wanita di tengah masyarakat. Kesalahan ini mengakar pada pemikiran Barat yang kebetulan memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang. Bisa diperkirakan tidak salah orang yang mengklaim bahwa masalah ini ada dalam protokol-protokol para pemikir Zionis. Artinya, kesalahan persepsi mengenai kedudukan wanita di tengah masyarakat ini kemungkinan baru berjalan di Barat sekitar 100 sampai 150 tahun dan merambah komunitas-komunitas masyarakat lain, termasuk masyarakat Islam. Masalah kedua adalah yang paling asas, yakni kesalahan persepsi mengenai rumah tangga dan keburukan perilaku dalam rumah tangga.

 

 

Munculnya fenomena anak haram - dalam hal ini AS menduduki rangking tertinggi-, begitu pula fenomena kumpul kebo sejatinya adalah pemusnahan sendi-sendi, kehangatan, keharmonian dan berkah kehidupan rumah tangga. Problema tadi adalah biang keterasingan manusia dari berkah tersebut. Ini harus dipikirkan; kedudukan sejati kaum wanita harus dijelaskan, logika naif Barat itu harus dilawan dengan sungguh-sungguh.

 

Peran penting wanita dalam sebuah keluarga adalah posisinya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Psikolog dewasa ini menyebut insting keibuan merupakan bawaan dan fitrah seorang wanita. De Marneffe Daphne, psikolog Amerika Serikat dalam sebuah bukunya menulis, mayoritas seorang ibu menganggap kecintaannya untuk membesarkan dan merawat anak adalah fitrah dan alami serta sarana untuk merepleksikan hubungan kekeluargaan. Sangat disayangkan di masyarakat Barat, fitrah keibuan untuk menjaga serta merawat anak mengahadapi ancaman serius. Wanita di Barat cenderung untuk tidak memiliki anak atau jika mereka memiliki anak lebih memilih menyerahkan anak-anaknya ke tempat penitipan anak atau pusat-pusat sosial lainnya.

 

Sementara itu, aktivitas dan pekerjaan wanita di luar rumah juga merupakan dimensi lain dari mereka. Dalam pandangan Islam diperbolehkan aktif di berbagai bidang mulai sains, riset, politik, sosial dan ekonomi. Islam sejak 14 abad lalu telah mengakui secara resmi aktivitas wanita tersebut. Adapun di Barat partisipasi wanita untuk berpolitik baru diakui di akhir abad 20 dan dipermulaan abad 21.

 

Salah satu perkembangan penting pasca kemenangan Revolusi Islam bagi perempuan Iran adalah perkembangan pola fikir dan mental mereka. Kaum hawa di Iran berhasil menggapai banyak kemajuan dengan aktif di masyarakat. Saat ini, lebih dari 68 persen pusat-pusat pendidikan khususnya di jenjang perguruan tinggi ditempati perempuan. Angka buta huruf khususnya bagi kaum wanita di Iran pun mengalami penurunan. Jika sebelum revolusi, jumlah wanita yang mengenyam pendidikan mencapai 34 persen, kini tercatat wanita Iran yang berpendidikan sebesar 80 persen. Ini menunjukkan perhatian besar Revolusi Islam terhadap kaum wanita.(IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description