Hari Internasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Tanggal 25 November ditetapkan sebagai Hari Internasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Ketetapan itu diputuskan pada 17 Desember 1999 oleh Majelis Umum PBB. Lembaga dunia itu mengajak pemerintah, organisasi internasional dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mengatur kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

 

Tanggal itu dipilih sebagai penghormatan atas meninggalnya Mirabal bersaudara (Patria, Minerva & Maria Teresa) pada 25 November 1960 akibat pembunuhan keji yang dilakukan oleh kaki tangan penguasa diktator Republik Dominika pada waktu itu, yaitu Rafael Trujillo. Mirabal bersaudara merupakan aktivis politik yang tak henti memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran peguasa Republik Dominika pada waktu itu. Berkali-kali mereka mendapat tekanan dan penganiayaan dari penguasa yang berakhir pada pembunuhan keji tersebut.

 

Deklarasi Universal Majelis Umum PBB tentang perempuan menyatakan bahwa segala bentuk kekerasan terhadap perempuan akan menghambat peluang mereka untuk mencapai kesetaraan hukum, sosial, politik dan ekonomi dalam masyarakat. Deklarasi ini menegaskan kembali bahwa istilah kekerasan terhadap perempuan akan mengacu pada tindakan yang membahayakan fisik, seksual atau psikologis, baik dalam kehidupan publik atau pribadi. Pada dasarnya, segala bentuk kekerasan mulai dari fisik hingga intimidasi, pelecehan, dan penghinaan atau bahkan melarang mereka berpartisipasi dalam lingkungan sosial, dikategorikan sebagai kekerasan terhadap perempuan.

 

Bentuk-bentuk kekerasan itu mungkin saja terjadi di berbagai lingkungan sosial, termasuk lingkungan keluarga, tempat kerja, lembaga pendidikan dan atau bahkan secara lebih tampak dan terorganisir dalam perdagangan perempuan atau pemaksaan menjual diri. Selain itu, pemerintah mungkin juga terlibat dalam kekerasan terhadap perempuan melalui perang dan konflik bersenjata atau melalui undang-undang diskriminatif dan keras.

 

Amnesti Internasional dalam laporan tahun 2003 menilai kekerasan terhadap perempuan sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang paling komprehensif dan mendunia. Mereka juga menyebut kasus itu sebagai skandal pelanggaran HAM terbesar di dunia. Sementara itu, Sekjen PBB, Ban Ki-moon dalam sebuah pernyataan terkait perempuan mengatakan, "70 persen perempuan dalam hidupnya menghadapi kekerasan fisik atau mental oleh laki-laki. Oleh karena itu, pada tahun 2009, PBB memutuskan untuk membentuk jaringan internasional memerangi kekerasan terhadap perempuan."

 

Meski adanya deklarasi universal, berbagai konvensi, dan juga usaha beberapa organisasi internasional untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan, namun hingga sekarang kita menyaksikan kekerasan dan pelecehan terhadap kaum hawa. Para peneliti Barat berdasarkan statistik dan dokumen, telah sering mengakui kondisi tragis dan memilukan perempuan di Barat. Saat ini perdagangan perempuan, persepsi perempuan sebagai instrumen, dan krisis runtuhnya rumah tangga, termasuk masalah paling serius di tengah masyarakat Barat. Perdagangan perempuan menunjukkan bukti lain atas sebuah fakta bahwa saat ini perempuan di Barat tidak diperlakukan layaknya manusia. Sungguh ironis bahwa kekerasan seksual di Barat, merupakan ancaman serius bagi perempuan Barat.

 

Berbagai laporan menyebutkan bahwa tingkat kekerasan terhadap perempuan di Amerika Serikat menempati rangking pertama. Di negara maju itu, wanita yang berpendapatan rendah, paling rentan terhadap kekerasan di tengah keluarga dan pelecehan seksual. Anehnya, kurang dari 5 persen pelaku kekerasan terhadap perempuan dinyatakan bersalah dan hanya 3 persen dari mereka mendekam di penjara. Dengan kata lain, 15 dari 16 pelaku kekerasan terhadap perempuan divonis bebas.

 

Menurut laporan PBB pada tahun 2010, 40 persen remaja putri AS mengalami kekerasan fisik dan mental yang dilakukan pacarnya. Masalah itu di Barat mengindikasikan penurunan usia kekerasan terhadap perempuan. Di militer AS, sepertiga serdadu perempuan juga menjadi korban pelecehan seksual. Senator AS dari Negara Bagian Missouri, Claire McCaskill mengatakan, "Pada tahun lalu terjadi sekitar 3.000 kasus serangan seksual terhadap serdadu perempuan AS. Orang tua mereka secara sadar mengizinkan putri-putrinya untuk menghadapi bahaya di medan perang, namun hal yang tidak bisa diterima bahwa putri-putri mereka berada di lingkungan yang tidak sehat. Dengan kata lain, serdadu perempuan AS menghadapi bahaya di lingkungan militer."

 

Masyarakat Eropa dengan segudang klaimnya untuk membela hak-hak perempuan, juga tidak mampu menjaga perempuan terhadap pelecehan-pelecehan di tengah masyarakat. Jumlah perempuan dalam sebuah keluarga Eropa yang mengalami kekerasan fisik dan mental, sangat mengkhawatirkan. Di Inggris ada banyak kasus kekerasan terhadap perempuan. Peningkatan eksploitasi wanita telah menjadi masalah serius bagi masyarakat Inggris. Di negara pemuja HAM itu, hampir setiap menit, wanita menghubungi polisi karena berada dalam bahaya akibat kekerasan di keluarga.

 

Dalam setiap pekannya, dua wanita Inggris tewas akibat kekerasan yang dilakukan oleh tunangannya. Statistik tersebut tidak hanya terbatas di Inggris, tapi juga di seluruh negara Eropa. Oleh karena itu, federasi untuk melindungi perempuan membuka sambungan telepon darurat untuk melindung perempuan yang mengalami kekerasan fisik dan mental. Pada tahun 2009 saja, sambungan itu sudah dibuhungi oleh 150 ribu wanita yang meminta bantuan darurat.

 

Di Perancis juga dilaporkan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Di negara mode itu, hak-hak perempuan, terutama minoritas agama dan etnis tidak dihormati. Mayoritas perempuan Perancis menghadapi pelecehan laki-laki di lingkungan kerja. Sementara itu di Italia, kekerasan terhadap perempuan meningkat dari hari ke hari. Di Negeri Pizza itu, perempuan dipertontonkan seperti alat pemuas seks. Sejak awal tahun 2011, iklan yang terang-terangan merendahkan kedudukan perempuan meningkat 35 persen. Pada Februari lalu, perempuan Italia turun ke jalan-jalan untuk memprotes gerakan masyarakat yang mengarah pada perilaku tidak bermoral terhadap perempuan.

 

Sementara itu di Timur Tengah, kaum hawa menerima bentuk kekerasan yang berbeda. Di Palestina, khususnya Jalur Gaza, perempuan mengalami penindasan akibat brutalitas militer rezim Zionis Israel. Sebagai contoh, jeritan dan tangisan tawanan perempuan Palestina di penjara-penjara Zionis masih terus membahana. Tentara Zionis tak segan-segan untuk melakukan pelecehan terhadap tahanan perempuan Palestina. Baik dengan kata-kata vulgar maupun pelecehan seksual secara fisik.

 

Kementerian Urusan Tahanan Palestina menyatakan bahwa perempuan Palestina, terutama mereka yang ada di penjara Israel terus mengalami tindak kekerasan terorganisir dari pihak Zionis. Hampir setiap hari perempuan Palestina menjadi sasaran serangan kekerasan oleh serdadu Israel di pos-pos perlintasan militer, yang tersebar di seluruh penjuru Tepi Barat.

 

Di Bahrain, kaum perempuan yang berpartisipasi dalam kebangkitan Islam di negara itu harus menanggung penindasan dan pelecehan terburuk. Pelecehan seksual terhadap perempuan Bahrain oleh tentara Arab Saudi di penjara-penjara rezim Al Khalifa, adalah bukti penindasan itu. Aktivis HAM Bahrain, Yahya Al Hadid membeberkan dokumen-dokumen akurat tentang kekerasan terhadap perempuan Bahrain selama revolusi. Dikatakannya, "Setelah revolusi dan kebangkitan Islam di Bahrain, perempuan menerima pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Selain itu, dokter dan perawat perempuan juga dikurung di tempat kerjanya dan menghadapi kekerasan fisik dan mental. "

 

Di Arab Saudi, kondisi perempuan sangat memilukan. Mereka dianggap strata kedua dan tidak dapat menikmati hak-hak paling mendasar. Perempuan Saudi dilarang berpartisipasi dalam berbagai bidang sosial dan politik dan bahkan hak untuk mengemudi kendaraan. Perempuan Saudi dapat disebut sebagai korban terbesar atas persekutuan Riyadh dengan Washington, sehingga masyarakat internasional tidak dapat mengambil langkah-langkah serius untuk memperbaiki keadaan mereka.(IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description