Dunia Modern dan Kemajuan Islam

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Saat ini, Islam telah menarik banyak pecinta dan pengikut ke arahnya di seluruh dunia. Kemajuan komprehensif ini diperoleh berkat ajaran dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam serta kesesuaian agama ini dengan akal dan fitrah manusia. Kecintaan terhadap Islam di tengah bangsa Arab muncul dalam bentuk Kebangkitan Islam dan bangsa-bangsa diarahkan menuju Islam hakiki. Dari sisi lain di Amerika Serikat, kecenderungan dan perhatian terhadap Islam mengalami peningkatan dan terus menyedot pengikut dari hari ke hari. Di Eropa, kondisinya juga seperti itu dan para penyebar Islamphobia mulai ketakutan. Menurut penuturan mantan Menteri Luar Negeri Jerman Klaus Kinkel, "Islam dalam 30 tahun lalu hanya menguasai 18 persen dari populasi dunia, namun sekarang mencapai seperempat dari populasi dunia yaitu, 1,4 miliar jiwa."

 

Gelombang kecintaan terhadap Islam lebih besar dari masa lalu dan terus melanjutkan gerakannya, dimana sekarang mendapat sambutan dari berbagai bangsa dunia. Ada banyak alasan dan faktor untuk menganalisa proses meluasnya gerakan cinta Islam di tengah bangsa-bangsa dunia. Kesesuaian Islam dengan fitrah ketuhanan dalam diri manusia, universalitas agama Ilahi ini, perhatian terhadap seluruh dimensi wujud manusia, dan jawaban terhadap seluruh kebutuhan manusia, termasuk di antara alasan diterimanya Islam oleh berbagai suku bangsa.

 

Dosen Naples Eastern University, Laura Veccia Vaglieri dalam bukunya An interpretation of Islam, terkait kunci kemenangan Islam mengemukakan beberapa poin menarik. Profesor Vaglieri selain menyatakan kekagumannya terhadap keagungan ajaran Islam, juga mengakui keabadian agama ini. Dikatakannya, "Kini, kebanyakan penulis kontemporer menanyakan bahwa faktor apa yang telah memacu pertumbuhan dan kemenangan Islam?" Profesor Vaglieri menjawab, "Saya sendiri sedang menyaksikan sebuah agama, dimana ajarannya sangat menakjubkan. Agama ini tidak hanya menawarkan pandangan-pandangannya tentang kehidupan manusia, tapi juga dengan meletakkan aturan-aturan ideal bagi masyarakat dan membawa mereka pada kehidupan positif dan kebahagiaan. Dengan sendirinya ini adalah sebuah argumen terbesar, dimana dengan keyakinan penuh dapat kita katakan bahwa Islam adalah sebuah agama Ilahi dan ajaran langit."

 

Seiring meluasnya proses Kebangkitan Islam dan meningkatnya kecenderungan ke arah spiritualitas di seluruh dunia, upaya-upaya para penentang Islam juga ikut meningkat. Di masa sekarang, gerakan Islamphobia mengintai kita sehingga setiap peristiwa akan dieksploitasi sebagai alasan untuk mencegah perkembangan Islam. Akan tetapi, Islamphobia bukan sebuah fenomena baru dan telah ada sejak dulu. Sejak kemunculan agama Islam lebih dari 1400 tahun lalu, fenomena itu muncul dalam berbagai bentuk dan metode. Pada awal permulaan Islam di Mekkah dan Madinah, kaum musyrik dan Yahudi melancarkan tudingan-tudingan palsu dan merusak citra Islam serta menciptakan kondisi mencekam bagi umat Islam.

 

Sikap bermusuhan seperti itu senantiasa membayangi agama Islam. Pada masa Perang Salib, penentangan terhadap Islam muncul dalam bentuk pertumpahan darah dan perang. Sementara pada era modern, gerakan Islamphobia meningkat tajam pasca peristiwa serangan 11 September.

Sekarang, muncul pertanyaan bahwa bagaimana Islam bisa tumbuh pesat di Eropa dan AS di tengah serangan bertubi-tubi dan propaganda miring anti-Islam? Sebenarnya jawaban atas pertanyaan itu ada pada dekadensi moral peradaban Barat, terutama dalam satu-dua abad belakangan, ketidakefektifan agama-agama yang sudah menyimpang, dan penindasan terhadap kaum lemah. Koran Australia, Sydney Morning Herald dalam sebuah pengakuan terhadap perkembangan Islam, menulis "Islam menembus batasan-batasan geografi dan meninggalkan paham-paham politik dan rezim-rezim nasionalis, berbagai negara akan menyaksikan gerakan politik dan pertumbuhan berkelanjutan Islam."

Di antara prinsip fundamental dalam sistem pemikiran dan ideologi Islam adalah gerakan menuntut keadilan dan memerangi segala bentuk ketidakadilan dan ketimpangan. Seorang orientalis di Universitas Wina, Lisa Lathe juga meyakini bahwa peningkatan jumlah pemeluk agama Islam dikarenakan kesempurnaan ajaran dan prinsip keadilan. Menurutnya, "Sudah tiba waktunya bahwa dengan memahami Islam secara benar, kita harus menciptakan peluang untuk menyebarkannya di tengah masyarakat Barat." Menariknya, para peneliti independen Barat melihat kemasyarakatan Islam dan prinsip keadilannya dengan pendekatan positif. Uskup Inggris, Roger Sainsbury dalam sebuah artikel di harian Sunday Times menulis, "Salah satu daya tarik Islam bagi pemuda miskin adalah bahwa Muslim berjuang untuk menegakkan keadilan sosial dan ras. Geraja Inggris harus mempelajari usaha dan perjuangan itu."

 

Meskipun musuh-musuh Islam melakukan usaha maksimal untuk mencegah penyebaran agama suci ini, namun perhatian terhadap propaganda miring mereka di Barat sedang meredup dan mulai sepi peminat. Terkait hal ini, Ketua Complotense, Profesor Juan Matus mengatakan, "Sekarang, Islam mendapat perhatian lebih dari setiap periode di dunia dan setiap saat, perhatian masyarakat dunia terhadap agama langit itu terus meningkat." Dia menegaskan, "Ketertarikan masyarakat untuk mengenal Islam telah meningkat bahkan seiring propaganda miring anti-Islam."

 

Sekarang, kondisi Muslim dunia sangat kompleks dan sekaligus sangat penting. Kebanyakan masyarakat Barat setelah melakukan riset dan penelitian panjang tentang Islam, mulai memahami dengan baik bahwa agama Islam jauh dari segala bentuk fanatisme dan menyeru seluruh manusia ke arah penyucian jiwa, kebahagiaan hakiki dan pada akhirnya menuju Tuhan Semesta Alam. Kini, realita ini terjadi di Barat bahwa mereka mulai memilah antara Islam hakiki dan kelompok-kelompok ekstrim seperti Al Qaeda dan Taliban. Beberapa tokoh Barat bahkan berusaha mengubah atmosfir Islamphobia yang tercipta setelah peristiwa 11 September.

 

Putera Mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles bahkan menekankan pentingnya dialog antar umat agama, terutama antara komunitas Muslim dan Kristen, untuk meningkatkan pemahaman antara mereka. Ia meminta agar para pemuka agama dari kedua pengikut agama tersebut saling berkunjung, agar sikap saling menghormati dan toleransi antar pemeluk agama lebih baik lagi di masa depan. "Menghormati budaya orang lain, adalah satu-satunya cara untuk mencapai persatuan dalam situasi keberagaman," ujarnya dalam pertemuannya dengan cendikiawan Muslim Maroko di sela-sela kunjungannya ke negeri itu.

 

Pangeran Charles terkenal dengan dukungan setianya untuk dialog berbagai agama dan menjembatani celah antara para pengikut Islam dan Kristen. Ia telah memimpin beberapa inisiatif untuk membantu mengembangkan rasa saling menghormati dan memahami antara para pemeluk agama yang berbeda dan meningkatkan dialog antar agama. Melalui beberapa pidatonya tentang Muslim dan Barat, ia telah menekankan pada pentingnya untuk keduanya tinggal dan bekerja bersama.

 

Saat memberikan pidato di Sheldonian Theater, Universitas Oxford, Pangeran Charles juga meminta masyarakat dunia mengikuti ajaran Islam dalam menjaga lingkungan. Dalam kesempatan itu, dia menjelaskan bahwa al-Quran tidak pernah memisahkan manusia dengan alam. Karena (ajaran Islam) juga menyatakan tidak ada pemisahan antara Tuhan dan alam semesta. Ajaran untuk menjaga lingkungan, menurut dia, juga terlihat sangat nyata dalam puisi-puisi Islam maupun karya tulis para ahli.(IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description