Workshop Persatuan Umat, Tehran

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Oleh: Muhammad Ma'ruf

 

Peserta workshop dari berbagai negara 10/7 mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Teheran, setelah lima hari dari tanggal 5/9 mengikuti  kelas worshop "Persatuan Umat" di Kop Ali, Iran.  Di antara tempat bersejarah yang dikunjungi, makam Imam Khomeini, rumah Imam Khomeini di Jamaran, makam para syuhada dan ke Milad Tower. Beragam komentar dilontarkan oleh para peserta, Mirza salah seorang peserta dari FIM (Forum Indonesia Muda) menyatakan terharu mengikuti acara worshop ini, "kita semakin banyak teman dan berbagai informasi internal di berbagai negara dibahas secara bersama dan akhirnya menciptakan saling pemahaman".

 

Forum Indonesia Muda mengirimkan 8 delegasi, di antaranya Reza mahasiswa Magister Islamic bangking dari UI, Fazhurrahman dari Universitas Teknologi Indonesia, Ibnu mahasiswa geografi UI, Rido, Dewa, mahasiswa ITS, jurusan Informatika, Irfan, mahasiswa ITB, Industri Pertanian, dan dua aktifis perempuan Maryati, dan Ika.

 

Damar Triadi, peserta dari Voice Of Palestine(VOP) Indonesia sekaligus sebagai pimpinan rombongan mengatakan, "Persoalanya adalah bukan menyatukan mazhab, tetapi komunikasi antarmazhab dalam Islam. Mazhab bisa mempunyai potensi untuk menimbulkan perpecahan, akan tetapi juga berpotensi menyatukan umat. Konflik Sunni-syiah dihembuskan Israel dan AS dan para kolaboratornya digunakan untuk membajak revolusi di timur tengah. Kekuatan kebangkitan Islam di Timur tengah dialihkan, dilemahkan dan diarahkan untuk memperlemah kelompok pro-muqawama anti zionis."

 

Ukhuwah ini sangat penting dan menciptakan saling pemahaman di antara umat Islam. Umat tidak hanya fokus pada urusan internal negara masing-masing. Hal ini dikatakan Salman peserta dari Malaysia. Malaysia mengirimkan empat orang delegasi, mewakili MAPIM (Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia). Salman mengaku bingung dengan kasus Suriah, sebelumnya dia menganggap pembunuhan rakyat Suriah dilakukan Bashar Assad, akan tetapi setelah mengikuti workshop, pandanganya jauh lebih objektif. Hal seperti ini menjadikan kita paham bahwa Suriah menjadi lahan potensial bagi Israel dan AS untuk memecah belah kekuatan Islam, terutama untuk melemahkan semangat perlawanan rakyat Palestina.

 

Workshop ini diselenggarakan oleh Unified Ummah. 300 peserta datang dari berbagai negara di antaranya, Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Iran, Turki, Mesir, Bahrain, Azerbaijan dan Nigeria. Para pembicara berasal dari Iran, Bahrain, Ikhwanul Muslimin Mesir, Pakistan, UK. Peserta sejak pagi pukul 09.00–21.00 malam waktu Tehran  mendapatkan materi dan sesi tanya jawab, pada malam harinya peserta membentuk kelompok diskusi dan saling tukar informasi membahas berbagai persoalan internal negara masing-masing. Tema diskusi di antaranya Revousi Iran, pembantaian muslim Kasmir, pembantai muslim Rohingya, revolusi Mesir, revolusi tunisia, penjajahan Palestina dan persoalan Sunni-Syiah Pakistan.

 

Salman, aktifis Malaysia dari Mapim mempresentasikan kasus Rohingya dan telah mengorganisir dengan berbagai elemen di Malaysia akan memberangkatkan misi kemanusiaan dengan menggunakan kapal menuju Rohingya, Myanmar. Misi kemanusiaanya ini mirip dengan Flotilla, berencana berangkat sebelum Ramadhan dengan membawa berbagai bantuan kemanusiaan, dan akan menembus Rohingya. Menurut pemaparan Salman, kurang lebih 20.000 muslim Rohingya dibantai oleh pemerintah Myanmar dan ekstrimis Budhis dalam kurun waktu hanya dua bulan. Kasus ini tidak begitu diketahui publik karena Rohingya terisolasi. media tidak bisa meliput, informasi datang langsung dari penduduk.

 

 

Perpecahan Sumber Kejahatan

Salah satu topik materi workshop adalah tentang Sunni dan Syiah. Menurut salah satu pembicara dari Iran, adanya mazhab dalam Islam adalah sebuah keniscayaan, mustahil orang beragama tanpa mazhab, Imam Jakfar mengatakan, jika ada mayoritas Sunni, maka minoritas Syiah harus gabung di masjid Sunni, begitu juga sebaliknya. Dalam kehidupan beragama mau tidak mau umat Islam harus bermazhab, sehingga sebuah perbedaan tidak bisa dihindari, sedangkan persatuan yang bersifat sosial itu menjadi keharusan. Pendapat ini dikatakan Ahmad Moballeghi dalam presentasi materi hari pertama dengan tema sesi (Religious Basis of Unity), 6/7.

 

Mustofa Haidar, seorang peserta worshop, mahasiswa sekolah bisnis managemen dari Universitas Karachi, juga aktifis Palestine Fondation (PLF) Karachi Pakistan mengatakan, "Perpecahan adalah sumber bencana",  ibu dari dosa-dosa (umu dhunub), riwayat dari Imam Ali. Perpecahan menyebabkan manusia terhalang dari mengenal agama yang benar, perpecahan bisa mengakibatkan bencana bagi kelanjutan generasi penerus.

 

Salman Siddiqi Bin Muhammad Azmi, aktifis Mapim Malaysia berpendapat lain, kesatuan umat harusnya tidak memandang isu Sunni-Syiah, meski berbeda akidah akan tetapi harus tetap bersatu, "Ta'awanu alal Birri wattaqwa wala ta'awanu alal Itsmi waludwan", hendaklah saling bantu dalam kebajikan dan ketakwaan, jangan membantu dalam kejahatan. Kata "saling", berarti saling membantu di antara mazhab dalam Islam bukan menyatukan mazhab. Meski berbeda akidah, menurut pendapat aktifis muda ini haruslah tetap bisa bersatu misalnya dalam hal keamanan dan ekonomi.  Berbeda dengan Asmi aktifis yang juga dari Malaysia mengatakan, kita harus saling toleransi tidak boleh diantara kita saling menghina, toleransi antara Sunni-Syiah bisa dimaknai terutama dalam  bidang sosial.

 

Husein Hommo Zadeh, seorang panitia Worshop, anggota Central Unified Ummah Iran, bidang "Culture Comunity" mengatakan, acara ini  dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang dunai Islam, dan menjawab tantangan didalamnya, disamping itu acara ini untuk meningkatkan komunikasi di antara komunitas Sunni-Syiah. Husein menambahkan, "Kita mengundang beberapa peserta dari komunitas tidak hanya Syiah tapi juga Sunni, di antaraya 30 peserta bermazhab Sunni yang tinggal di Iran dan juga 40 peserta dari Baluchestan dan Kurdistan, kita coba untuk meningkatkan komunikasi di antara komunitas Sunni-Syiah".

 

Pada sesi terakhir hari pertama, disampaikan oleh Dr. Razaqi dengan tema (A survey International economics) mengatakan kegiatan ekonomi kapitalis yang disponsori USA hanya menjadikan negara-negara lemah menjadi tempat barang-barang konsumsi dan tidak ada sedikitpun yang mendorong untuk memproduksi barang. Ekonomi imperialis seperti ini hanya akan menjadikan manusia jauh dari kemanusiaanya.

 

 

Pengaruh Revolusi Timur Tengah Bagi Palestina

Tema materi workshop yang lain adalah tentang ektrimisme dalam Sunni dan Syiah. Isu persatuan umat menjadi penting bagi umat Islam, karena banyak sekali fenomena dalam internal Islam terjadi perpecahan. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam tingkat  pemahaman akan tetapi sampai pada tingkat yang membahayakan nyawa orang.  Dalam dunia Islam terdapat dua kelompok ektrimis Sunni dan Syiah.

 

Dalam kelompok Sunni terdapat fenomena seperti larangan bagi perempuan mengemudi di Arab Saudi hingga pengkafiran kelompok lain. Adanya pengkafiran kelompok tertentu ini mengakibatkan bencana, hingga menghilangnya nyawa seperti yang terjadi di Karachi, bom meledak di tempat-tempat umum. Kelompok ini biasanya dilakukan oleh salafi dan wahabi yang terang-terangkan bertanggung jawab. Sementara itu dalam kelompok Syiah, terdapat juga kelompok ektrimis yang memandang kelompok lain di luar Syiah sebagai musuh. Pendapat ini dikatakan oleh Dr. Abbas Salehi dari Iran, menjadi pembicara pertama hari ketiga dengan tema  Ektrimisme Sunni-syiah. Mostafa, seorang aktifis Palestina dari Pakistan pernah menyaksikan akibat dari bom yang meledak di tempat keramaian membenarkan dan menyatakan kesedihanya.

 

Arif, pendiri "Free Palestine Campaign", India memandang, ektrimis yang terjadi di dua kutub, baik Sunni dan Syiah ini akan semakin melemahkan perjuangan kemerdekaan Palestina. Perjuangan membantu Palestina butuh persatuan, semakin umat terpecah semakin menguntungkan Israel.

 

Pembicara kedua dari Gaza, Ahmad Almodalal mengatakan, zionis hadir di kawasan Timur Tengah terutama di  Palestina hanya ingin menguasai sumber daya alamnya terutama minyak dan gas. Sejak deklarasi Balford Palestina resmi terjajah. Tahun 1967 Masjidil Aqsa dikuasai Israel. Tahun 1990, terbentuklah kelompok Jihad Islam, dengan moto menjadikan Palestina menjadi isu dunia. Jihad Islam berkeyakinan bahwa tidak akan berhubungan dengan rezim Israel, tidak akan menerima perjanjian perdamaian, Israel adalah musuh umat Islam. Jihad Islam berprinsip tidak akan menyerahkan satu jengkal tanahpun kepada Israel. Karena menurut Ahamd, setiap perjanjian perdamian dengan Israel hanya akan menyisakan penghianatan dan semakin memberikan legitimasi bagi Israel untuk terus meluaskan wilayahnya. Hal ini bisa kita saksikan sejak perjanjian Camp David, dan Yasser Arafat menyebabkan tanah Palestina semakin sempit.

 

Menurut Ahmad, perjuangan dengan senjata adalah kemestian bagi kemenangan Palestina. Kemenangan Palestina adalah kemenangan dunia Islam. Meski hanya dengan batu dan roket sederhana, kemenangan pasti datang. Revolusi di Mesir membuka harapan baru  bagi Gaza, ujian pertama bagi kemenangan Muhammad Mursi, Presiden baru Mesir adalah membuka pintu Rafah. Berkenaan dengan krisis Suriah, menurut pandangan Ahmad, krisis Suriah telah dibajak oleh USA dan Israel, kelompok pemberontok telah di danai oleh kelompok pro-zionis.

 

Ibrahim Ahmed, salah seorang pelaku media di Gaza, juga pernah meliput perang 22 hari di Gaza mengatakan, banyak jalan untuk bisa membantu Palestina, dengan foto, berita, facebook, meski skala kecil pasti akan ada efeknya. Barat selalu mensosialisasikan kelompok perlawanan di Gaza sebagai kelompok teroris, tapi hal itu tidak benar. Revolusi di kawasan sekitar akan berpengaruh pada perjuangan Palestina memperoleh kemerdekaanya, tetapi yang perlu di waspadai adalah adanya campur tangan asing seperti yang terjadi di Suriah, karena kelompok perlawanan Palestina di sana.

 

Hipokrasi Hak Asasi Manusia di Barat

Tema hari keempat adalah hak asasi dunia Islam di Barat, 8/7. Pemahaman terhadap hak asasi manusia dan implementasinya berbeda antara dunia Islam dengan dunia Barat. Di dalam dunia Islam, kita tidak punya hak melakukan kejahatan, kita tidak punya hak untuk melakukan bunuh diri. Hal ini berbeda dengan dunia Barat yang menempatkan hak privat begitu ektsrim dan kabur. Kita bisa melihat kasus pembacakan CD bisa diberlakukan di manapun, akan tetapi kasus penjara Abu Ghraib, kasus Afganistan tidak bisa di ajukan ke mahkamah Internasional, inilah yang dinamakan dengan hipokrasi dan ambiguitas dalam penerapan hukum di Barat.

 

Sejak 40 tahun lalu, 80% pelanggaran hak manusia dan penindasan terjadi di dunia muslim yang dilakukan oleh non muslim. Muslim menjadi tertuduh sekaligus korban, setelah bom Oklahoma, semua media mengatakan pelakunya adalah muslim. Apa yang terjadi dengan 9/11, tertuduhnya juga adalah muslim. Penjara Abu Ghraib, dibuat di luar hukum Internasional, dan penghuninya tidak ada dinyatakan bersalah, mereka mengalami berbagai penyiksaan. Korban pesawat drone AS, 70% adalah anak tidak berdosa, dan korban yang dikira teroris tidak ada yang diadili karena mereka sudah mati.

 

Kita melihat kebelakang, kaum Nazi telah melakukan pembantai kaum Yahudi dan Yahudi zionis diera sekarang ganti melakukan pembantaian pada muslim. Kita menghadapi situasi peradaban dan barbarisme. Kita tahu tentara AS dan Inggris beserta keluarga mereka membunuh orang-orang Afganistan dan Irak, tetapi mereka tidak dajukan ke pengadilan. Pertanyanya adalah kenapa kita mengijinkan mereka melakukan kejahatan sistematis itu? Kenapa mereka membiarakan kita tidak bersatu menghentikan kejahatan? Pandangan ini disampaikan oleh Mahsood Sajareh, dari (Islamic Human Right) UK yang menjadi pembicara hari ke-empat  8/7. IHRC (Islamic Human Right Wach) adalah  organ yang mempunya keanggotaan resmi di PBB, yang fokus pada pembelaan kaum Muslim tertindas di seluruh dunia.

 

Workshop dengan tema "Chalenges Confroting  Islamin Ummah " berlangsung dari tanggal 5 hingga 11 juli 2012. Jumlah peserta sekitar 300 peserta, datang dari berbagai negara di antaranya dari Indonesia, Malaysia, Iran, Turki, Pakistan, Mesir, Afganistan.  Damar Triadi, salah satu kordinator rombongan dari Indonesia sekaligus aktifis VOP menyempatkan diri mengikuti talk show di kantor radio IRIB berbahasa Indonesia, Tehran. Katanya workshop ini salah satu media ampuh dan efektif memberikan keseimbangan berita-berita yang negatif yang masuk ke Indonesia, umat islam harus bersatu, perpecahan hanya menguntungkan kelompok zionis.

 

Setelah lima hari workshop peserta dari berbagai mempunyai satu pemahaman, bahwa kelompok pro-zionis telah membajak seluruh kawasan, persatuan Islam baik yang bermazhab Sunni maupun Syiah harus bersatu melawan Israel dan AS. Mazhab tidak bisa disatukan, tetapi umat Sunni dan Syiah bisa disatukan dan persatuan yang nyata adalah melawan kelompok penindas (AS, NATO dan Israel). (IRIB Indonesia)

 

*) Kontributor IRIB Indonesia, sedang menyelesaikan Master Filsafat Islam IC-Jakarta.

Tags:


1Comments

Comments

Name
Mail Address
Description