Meneroka Filosofi Haji Bersama Ustadz Nasir Dimyati

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google
Nasir Dimyati, Kandidat Doktor Universitas Internasional al-Mustafa

Keistimewaan ibadah haji kembali pada kekhasannya terkait waktu dan tempat pelaksanaan ibadah haji. Ibadah haji dilakukan pada bulan Dzulhijjah yang termasuk bulan-bulan Haram atau suci dimana diharamkan melakukan perang pada bulan ini. Selain waktunya telah ditentukan, tempat untuk melaksanakan ibadah haji juga sudah ditentukan dan tidak dapat dilakukan di sembarang tempat. Ibadah haji hanya dalam dilakukan di Mekah mulai dari Masjidul Haram, Arafah, Muzdalifah dan Mina.

 

Dimensi ibadah sosial dalam haji juga lebih tinggi tingkat dan derajatnya dibandingkan dengan ibadah-ibadah lain yang memiliki dimensi sosial juga. Hal ini mudah dicerna dengan melihat berkumpulnya jutaan umat Islam di Mekah untuk melakukan ibadah haji. Hadirnya jutaan manusia di tempat suci ini dapat menjadi potensi besar bagi gerakan-gerakan sosial, bahkan politik.

 

Bagi Ustadz Nasir Dimyati, kandidat doktor Universitas Internasional al-Mustafa, filosofi haji tidak dapat dicerna dengan mudah tanpa mengkaji lebih jauh mengenai filosofi penciptaan alam semesta dan manusia. Menurutnya, alam semesta diciptakan oleh Allah Swt untuk manusia dan manusia diciptakan untuk beribadah. Menariknya, ternyata ibadah bukan tujuan akhir, tapi masih menjadi alat bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan. Di sini, kesempurnaan manusia bila telah mencapai satu keyakinan tentang Allah Swt. Lalu di mana letak pentingnya ibadah? Ustadz Nasir Dimyati menyebut kesempurnaan manusia itu akan tercapai bila ibadah yang dilakukannya disertai ruh, yaitu takwa.

 

Selengkapnya simak wawancara wartawan IRIB Indonesia, Ahmad Hafid al-Kaf dengan Nasir Dimyati berikut ini:

 

Menurut Anda, apa sebenarnya filosofi haji dalam Islam?

 

Nasir Dimyati: Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad. Sebelum menelisik lebih jauh tentang filosofi haji, mungkin ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu filosofi ibadah itu sendiri, dimana haji merupakan bagian dari ibadah kepada Allah Swt. Lebih jauh lagi kita mungkin akan mundur ke belakang meneliti kembali apakah filosofi dan rahasia dari penciptaan manusia dan alam semesta.

 

Dalam surat al-Thalaq ayat 12 Allah Swt berfirman yang artinya, "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu."

 

Maksud dari ayat ini, Allah Swt menciptakan segalanya ini agar kalian manusia tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ini adalah filosofi penciptaan alam semesta. Bila lebih mengerucut lagi, kita akan mempertanyakan apa filosofi dari penciptaan manusia.

 

Dalam surat al-Dzariyat ayat 56 Allah Swt berfirman yang artinya, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

 

Jadi, filosofi penciptaan manusia itu sendiri adalah ibadah. Sementara ibadah itu sendiri bukan tujuan akhir. Karena tujuan akhir dari penciptaan manusia itu adalah sampai kepada sebuah keyakinan tentang Allah Swt. Bila kita membuka surat al-Hijr ayat 99, Allah Swt berfirman yang artinya, "Dan sembahlah Tuhanmu sehingga keyakinan menghampirimu."

 

Nah, dari tiga poin pengantar yang telah disampaikan sebelumnya terkait filosofi penciptaan alam semesta, manusia dan kemudian filosofi dari pada ibadah itu sendiri, maka akan muncul satu pertanyaan dari benak kita. Apa sebenarnya rahasia dari ibadah? Dengan kata lain, apa sebenarnya intisari dan nyawa dari ibadah?

 

Dalam literatur Islam kita mengenal tentang pembagian syarat sah atau tidak sahnya sebuah ibadah dan syarat diterimanya sebuah amal atau ibadah kita di sisi Allah Swt.

 

Syarat sah atau tidak sahnya sebuah ibadah dapat ditemukan dalam kajian-kajian fiqih. Seperti seorang yang ingin shalat harus memiliki wudhu, memakai pakaian yang suci dan syarat-syarat lainnya yang ditetapkan dalam buku-buku fiqih. Bila seseorang ingin menunaikan ibadah haji, maka ia harus memakai pakaian ihram yang tidak berjahit dan lain sebagainya.

 

Sementara syarat diterimanya sebuah ibadah diterangkan oleh Allah Swt dalam surat al-Maidah ayat 27 yang artinya, "... Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa."

 

Di sini takwa disebut oleh Allah sebagai rahasia ibadah. Takwa adalah ruh ibadah dan takwa adalah syarat diterimanya sebuah ibadah. Itulah mengapa Allah Swt dalam ayat yang lain menyebutkan, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa".

 

Kesimpulannya, penciptaan alam semesta sejatinya diperuntukkan kepada manusia agar mencapai satu titik kesempurnaan. Sementara untuk mencapai kesempurnaan itu manusia harus beribadah dan pada akhirnya ibadah dilakukan untuk meraih sebuah keyakinan. Akhirnya, untuk memiliki sebuah keyakinan, maka ibadah harus memiliki ruh dan batin. Ruh dan batin ibadah tidak lain adalah ketakwaan.

 

Ketika ibadah manusia tidak disertai dengan ketakwaan, maka ibadah kita tetap sah secara fiqih, tetapi belum tentu menjadi ibadah yang diterima oleh Allah Swt. Alasannya, karena tidak disertai dengan ketakwaan.

 

Bila pengantar tentang filosofi secara umum sudah jelas, perlu kiranya untuk mengurai lebih lanjut perbedaan antara ibadah haji dan ibadah-ibadah yang lain. Ibadah haji punya kekhasan sendiri bila dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain. Karena ada perbedaan dari sisi tempat dan waktu. Hal ini yang membedakannya dengan ibadah-ibadah yang lain. Ibadah haji dilakukan di bulan Haram dan di tempat yang disebut Haram (suci, -pen) juga.

 

Bila kita menengok ibadah puasa, maka berpuasa memang di lakukan di bulan Ramadhan yang juga termasuk bulan Haram, tapi dapat dilakukan di mana saja. Tidak ada batasan bagi tempat melaksanakan ibadah puasa. Berbeda dengan ibadah haji yang harus dilakukan di bulan Haram dan di tempat Haram, yaitu Baitullah.

 

Mengingat perbedaan dan kelebihan yang dimiliki oleh ibadah haji, seperti berkumpulnya jutaan manusia saat pelaksanaannya di satu tempat yang terkadang disebut poros tauhid, mengikuti jejak Nabi Ibrahim as yang disebut Bapak Tauhid yang dapat ditemukan di sana. Menurut Anda, apa hikmah di balik itu semua?

 

Sebagian ibadah memang memiliki dimensi sosial, selain dimensi individual tentunya, seperti shalat berjamaah. Shalat berjamaah sangat ditekankan oleh literatur hadis-hadis Islam baik yang diriwayatkan dari mazhab Syiah maupun Ahli Sunnah. Hadis-hadis itu menyebutkan shalat hendaknya dilakukan secara berjamaah. Banyak jenis shalat yang dilakukan dengan berjamaah.

 

Akan tetapi dimensi sosial yang dimiliki oleh sebuah ibadah juga punya tingkat dan derajat yang berbeda-beda. Ibadah haji memiliki dimensi sosial yang paling tinggi dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain. Dalam ibadah haji ada dua hal penting; pertama, iman kepada Allah Swt dan kedua adalah kufr atau mengingkari thagut. Dalam haji kita harus menjadi orang yang beriman dan pada saat yang bersamaan menjadi orang yang kafir. Tapi yang membedakan adalah obyek dari keimanan dan kekafiran itu sendiri. Di sini, kita beriman kepada Alla Swt dan kafir terhadap thagut, selain Allah. Artinya, kita mengingkari segala sesuatu yang bertentangan dengan Allah Swt. Dan di dalam al-Quran, seringkali hal ini disampaikan secara bersama-sama Yu'minuuna billahi wa Yakfuruuna bitthagut, tidak sendiri-sendiri.

 

Oleh karena itu, kita beriman kepada Allah bukan hanya memiliki dimensi individual, hanya menengok kepada diri kita sendiri atau yang agak lebih luas seperti keluarga. Tapi kita harus menengok dimensi sosial juga. Hal yang sama dengan kafir. Sekaitan dengan kafir bukan saja terbatas pada upaya memerangi egoisme diri kita saja atau memerangi rasa hasud kita atau rasa keserakahan dalam diri kita, melainkan kita harus memiliki rasa kebersamaan dan meningkatkan dimensi sosial pada ranah memerangi, mengkafiri dan menentang hal-hal yang bertentangan dengan Allah Swt yang disimpulkan al-Quran dengan kata thagut.  (IRIB Indonesia/SL)

Filosofi Haji dalam wawancara bersama Ustadz Nasir Dimyati

Tags:


3Comments

Comments

Name
Mail Address
Description