Karbala dan Asyura di Mata Orientalis Amerika Serikat

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Seorang orientalis Amerika Serikat, Profesor Peter J. Chelkowski, keturunan Polandia, menyatakan bahwa kehausan anak-anak kecil dan rintihan mereka meminta air kepada Abbas, baginya merupakan peristiwa paling menyayat dalam tragedi di Karbala.

 

Dalam wawancaranya dengan Fars News, Profesor Chelkowski, dosen riset Timur Tengah, orientalis, dan Islamolog, di Universitas New York itu, mengaku memiliki kesan yang dahsyat dari peristiwa Karbala.

 

Ketertarikan Terhadap Muharram

 

FarsNews: Mohon Anda sudi memperkenalkan diri.

Chelkowski: Nama saya  Peter J. Chelkowski. Saya menamatkan S1 di bidang linguistik Timur pada tahun 1958 di Polandia. Pada tahun 1959 saya hijrah ke London dan tahun 1962, saya menyelesaikan studi S2 di bidang sejarah Timur Tengah. Untuk saat ini, saya telah menjadi dosen selama lebih dari 40 tahun di bidang riset Islam dan Timur Tengah di Universitas New York. Sebagian besar riset saya berkaitan dengan Islam Syiah dan lebih spesifik lagi, Muharram dan Karbala, dan di bidang ini saya telah menulis tiga buku, serta berbagai artikel tentang Imam Husein [as] dan tragedi di Karbala.

 

Fars News: Apa sebab kunjungan Anda ke Iran?

Chelkowski: Seperti yang telah saya katakan, saya menamatkan S1 di bidang linguistik Timur dan selanjutnya saya menelaah tentang Timur Tengah di sebuah universitas Inggris, dan dari situ saya mengenal Iran, dan sebab itulah saya memilih Iran untuk melanjutkan studi di bidang sastra Persia.

 

FarsNews: Anda termasuk salah satu peneliti Barat yang mengenal Muharram dan Asyura. Bisa dijelaskan pengenalan Anda dengan Muhrram?

Chelkowski: Tentang pengenalan saya dengan Muharram dan Asyura, harus saya katakan bahwa sebelum saya berkunjung ke Iran, saya tidak banyak mengetahui tentang Muharram dan ketika saya pergi ke kota Rasht [Iran] untuk melanjutkan studi, waktunya bertepatan dengan Muharram dan di sana saya mengenal takziyah. Di sana, saya sangat terpukau dengan acara tersebut dan harus saya akui ketika itulah saya menjadi pecinta relatif Muharram. Bagi saya yang telah menekuni bidang drama di Polandia, acara takziyah tersebut sangat memukau. Sejak itu, saya mulai meneliti dan menulis tentang takziyah dan Muharram. Sedemikian terpukau saya atas takziyah itu, maka sejak hari pertama menyaksikannya, saya memulai penelitian saya.

 

Kesenian Takziyah Mengenalkan Saya Pada Muharram

 

Hal pertama yang membuat saya sangat menyukai Asyura dan Muharram—karena ketidaktahuan saya atas peristiwa di Karbala—adalah seni takziyah itu sendiri. Pertunjukannya dilakukan dengan hebat. Masing-masing peran menyampaikan dialog dengan nada syair dan orang-orang baik dan jahat dipilah dengan menggunakan warna [pakaian]. Saya telah melakukan penelitian mendalam tentang takziyah di berbagai negara dunia dan hasil dari penelitian tersebut saya tuangkan dalam salah satu dari buku saya.

 

FarsNews: Bisakah Anda menjelaskan contoh takziyah di negara-negara lain?

Chelkowski: Pada abad ke-19, di kawasan Karibia, Inggris memperkerjakan budak-budak kulit hitam di ladang-ladang tebu, akan tetapi para budak itu melawan dan menolak bekerja untuk Inggris dan akhirnya melarikan diri. Untuk menutupi kekurangan pekerja itu, Inggris mendatangkan orang-orang India untuk mengurusi ladang-ladang tebu itu. Para pendatang India itu memilih acara Asyura untuk berkumpul dan memperkenalkan diri kepada warga pribumi, meski sebagian besar mereka bukan Muslim atau Syiah.

 

Semakin lama, acara tersebut sudah menjadi tradisi di kawasan itu dan mengalami perubahan dan diberi nama Tadjah. Acara tersebut digelar di pura-pura yang beratap sangat tinggi dan berwarna-warni.

 

Budaya Asyura yang Mengantarkan Iran Pada Kemenangan dalam Perang Pertahanan Suci

 

Fars News: Bagaimana Anda melihat pengaruh Asyura dalam masyarakat Iran?

Chelkowski: Rakyat Iran dan secara keseluruhan Syiah, menilai tragedi Asyura sebagai musibah terbesar dalam sejarah umat manusia. Di Iran, selain diperingati pada bulan Muharram, budaya Asyura juga punya tempat istimewa di berbagai dimensi kehidupan. Ungkapan bahwa setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala pada perang delapan tahun [Pertahanan Suci melawan rezim Saddam] memiliki pengaruh sangat besar dalam semangat perjuangan pasukan Iran. Budaya inilah yang mengantarkan pasukan Iran pada kemenangan. Saya bukan seorang Muslim atau Syiah, akan tetapi saya sangat tertarik pada budaya ini.

 

FarsNews: Apakah penelitian tentang Asyura berdampak besar pada diri Anda?

Chelkowski: Dengan membaca ulang peristiwa Karbala, saya berulangkali tersentuh dan air mata pun mulai menggenang, akan tetapi saya tidak membiarkan diri saya menangis, karena saya adalah peneliti dan sebagai seorang peneliti saya tidak boleh terpengaruh oleh afeksi.

 

Saya Terpukau dengan Pribadi Abbas

 

FarsNews: Siapa yang paling menarik perhatian Anda dalam peristiwa Asyura?

Chelkowski: Saya sangat terpukau dengan kepribadian Abbas. Saya telah menulis berbagai artikel tentang Abbas dan juga mengumpulkan banyak makalah tentang Abbas.

 

FarsNews: Jika Anda ingin memperkenalkan Abbas kepada audien di Amerika Serikat, apa yang akan Anda katakan?

Chelkowski: Abbas adalah seorang kesatria, pejuang kebebasan, dan sosok pemberani yang menjaga Imam Husein [as] dan keluarganya. Abbas adalah sosok yang dalam bahasa Persia, Anda menyebutnya dengan pahlevan (pahlawan atau kesatria). Abbas adalah pahlevan sejati. Ia menjaga Imam Husein [as] dan keluarganya hingga hembusan nafas terakhir. Ketika berusaha mengambil air untuk anak-anak kecil, Abbas kehilangan lengannya dan kemudian dia menggigit kantung air yang dibawanya. Dan karena Abbas terus maju dan melawan, musuh pun membunuhnya.

 

Peristiwa Paling Menyedihkan di Karbala

 

FarsNews: Peristiwa mana yang menurut Anda paling menyedihkan di Karbala?

Chelkowski: Kehausan anak-anak kecil dan rintihan mereka meminta air kepada Abbas.

 

Fars News: Rakyat Iran sangat mencintai Abbas dan mereka mengadakan berbagai acara terkait beliau…

Chelkowski: Saya sangat menyukai berbagai acara yang merupakan nazar demi Abbas. Seperti sufrah Abbas. Saya memperhatikan dengan sangat teliti sedemikian besar keyakinan kaum perempuan Syiah Iran terhadap nazar atas nama Abbas.  (IRIb Indonesia/MZ/SL)

Tags:


3Comments

Comments

Name
Mail Address
Description