Muthahhari, Warisan Keabadian

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Kematian bukan akhir dari segalanya. Jasadnya telah tiada, tapi warisan pemikiran besarnya senantiasa hidup hingga kini. Sosok Ayatullah Murtadha Muthahhari, salah seorang arsitek utama kasadaran baru Islam hingga kini masih dikajidan digali.

 

Pria sederhana itu lahir pada 2 Februari 1920 di Fariman, sebuah dusunyang terletak 60 km dari Mashhad, pusat belajar dan ziarah kaum Syiah yang besar di Iran Timur. Kemudian, beliau melanjutkan studi agama di kota suci Qom, dan mengabdikan hidupnya sebagai intelektual dan ulama di Tehran, hingga menemui kesyahidannya di ibukota Iran itu pada 2 mei 1979. Meski beliau telah meninggal lebih dari tiga dekade lalu, namun pemikirannya tetap hidup hingga kini disebabkan karakteristik khusus beliau.

 

Pemikir yang Merakyat

 

Salah satu faktor mengapa pemikiran Mutahhari hingga kini tidak lekang oleh zaman, karena beliau bukan hanya seorang pemikir, tapi juga orang yang sangat merakyat. Muthahhari tidak menggunakan bahasa kelompok tertentu. Selain menyampaikan pandangannya melalui pidato dan buku di forum-forum ilmiah, beliau juga berbicara tentang hikmah dengan bahasa masyarakat awam. Dalam bukunya, Dastan Rastan, (hikayat bijak), Mutahhari menyampaikan nasihat yang bersumber dari sumber-sumber Islam sepeti al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw dengan bahasa orang biasa.

 

Tidak hanya itu, Muthahhari dalam berbagai karyanya dengan jelas menunjukkan keberpihakannya terhadap rakyat kecil. Untuk itulah,beliau disebut sebagai pemikir agamis yang merakyat.

 

Keadilan

 

Pandangan lain Muthahhari yang hingga kini menjadi perhatian besar adalah masalah keadilan dengan menggunakan terma dan pendekatan Islam. Salah satu karya monumental Muthahharimengenai masalah iniadalah "Keadilan Ilahi".

 

Muthahhari memiliki perhatian khusus terhadap keadilan sosial. Bahkan beliau menyoroti keadilan bukan dari dimensi pribadi, tapi dari aspek sosial. Pemikiran Muslim Iran ini menilai kesyahidan Imam Ali dalam rangka mewujudkan keadilan sosial.

 

Paradigma Baru

 

Muthahhari mengungkapkan pandangannya mengenai pemikiran Islam sebagai solusi dengan pendekatan baru. Karya-karya Muatahhari melahirkan berbagai terobosan penting di berbagai bidangmulai dari filsafat hingga ekonomi  dengan cara pandang baru yang segar dan mencerahkan.

 

Dalam buku, Islam dan Tantangan Zaman, Muthahhari memberikan solusi cemerlang terhadap berbagai problem kekinian.

 

Patologi Agama

 

Patologi Agamadalam konteks Iran tampaknya menjadi istilah baru yang diperkenalkan oleh Muthhahri. Terma patologi agama mengkaji keyakinan keagamaan dan perilaku penganut agama.Terobosan yang dilakukan Mutahhari adalah melakukan kajian ilmiah mengenai masalah agama dan jawaban atas berbagai kritik terhadap ajaran agama yang menyimpang dan pola keberagamaannya. Tidak hanya itu, Muthahhari juga mengkaji  solusi atas berbagai problem kekinian dengan mendulang jawaban dari sumber-sumber Islamyang ditampilkan secara santun, tepat dan aktual.

 

Muthahhari begitu serius mengkaji dan memberikan solusi atas bebagai penyimpangan terhadap polakeberagamaan. Salah satu yang beliau lakukan dalam karyanya "EposHuseini" yang membahas berbagai penyimpangan dalam Asyura sekaligus memberikan solusinya.

 

Aktivis Pergerakan Islam

 

Tidak bisa dipungkiri, Mutahhari menyumbangkan peran besar bagi pemikiran dan gerakan Islam di Iran dan dunia. Beliau memberikan perhatian besar pada gerakan Islam dan menyumbangkan pikiran dan tenaga, bahkan seluruh hidupnyauntuk perjuangan Islam.

 

Selain sebagai seorang pemikir, Muthahhari adalah aktivis pergerakan Islam yang konsisten dengan sikap dan pemikirannya. Selain menulis, ceramah dan mengajar, beliau juga gigih melakukan perlawanan bersama rakyat melawan kezaliman rezim Shah Pahlevi.

 

Aktualisasi Islam

 

Sejumlah pemikir melancarkan kritik pedas bahwa ajaran Islam tidak sejalan dengan perkembangan zaman. Mereka menilai ajaran Islam yang turun di jazirah Arab lebih dari seribu tahun yang lalu sudah kadaluarsa jika diterapkan di era modern dewasa ini. Muthahhari mengkritik pandangan tersebut, sekaligus mengungkapkan solusi Islam untuk mengatasi masalah manusia modern dewasa ini.

 

Dalam buku, "Bantuan Ghaib dalam Kehidupan Manusia" (hal.15-59) mengungkapkan bahwa Islam adalah ajaran yang sempurna dan selalu hidup. Matahari Agama tidak pernah tergelam. Pembelaan terhadap masalah akidah seperti Qadha dan Qadr, Safaat, penantian dan pembelaan terhadap aturan dan undang-undang Islam seperti masalah perempuan, sejumlah aturan hukum dan jihad maupun pembelaan terhadap akhlak Islam tidak luput dari perhatian Muthahhari.

 

Dalam buku, "Islam dan Tantangan Zaman" Mutahhari mengatakan, "Islam tidak mati, tapi kaum muslimlah yang mati. Mengapa Islam tidak mati ? Sebab, agama ini memiliki kitab langit, sunah Nabi dan dunia tidak bisa memberikan yang lebih baik dari itu. Lalu di mana kecacatannya ? kekeliruan terletak pada pemikiran umat Islam. Para pemikir Muslim tidak bisa memahami Islam dengan cara yang hidup". (hak dan Batil hal.77)

 

Di bagian lain, Mutahhari mengungkapkan hakikat Islam dan prinsip universalnya yang tetap hidup. Beliaumenilai pandangan yang berkembang di tengah masyarakat mengenai agamalah yang menyebabkan pemikiran keagamaan mati. Islam berbeda dengan Muslim. Islam tetap hidup, tapi kaum muslim kini  yang mati." (10 Petuah hal 134). Dengan demikian, prinsip utama karakteristik Mutahhari adalah kepiawaiannya mengkaji Islam dengan tajam dan mendalam yang ditampilkan sebagai pemikiran aktual dan kontekstual.

 

Terobosan Baru

 

Muthahhari menyorotimasalah utama yang menimpa para pemikir agama. Misalnya pemahaman para pemikir mulai dari metodologi yang keliru seperti mazhab pemikiran dari rasionalisme absolut, empirisme absolut dan determinisme sertaimperialisme.

 

Di bidang ini, Muthahhari mempunyai beberapa pandangan penting antara lain:

·        Kritik terhadap materialisme absolut (Manusia Sempurna hal.115-178).

·        Kritik terhadap empirisisme (Prinsip Filsafat dan Metode Realisme jilid 1 bagian 1 dan 2)

·        Kritik terhadap Determinisme (10 Petuah hal. 116-110).

·        Kritik terhadap Wahabi (Pandangan Dunia Tauhid hal 76-80)

 

Mengenai terjadinya kekeliruan dalam memahami agama, Muthahhari mengusulkan dua tawaran penting antara lain:

1.     Pembentukan Dewan Fiqih dan Ijtihad Kolektif (10 Petuah hal 125-128)

2.     Ijtihad spesialisasi

 

Multidisiplin

 

Penguasaan Muthahhari terhadap pandangan dunia Islam dan pemikiran kontemporer yang berkembang ketika itu membuatnya mampu memahami peta pemikiran modern dan masalah kekinian. Dengan kepiawaian dan komprehensivitas pemikirannya, Mutahhari mampu menemukan solusi yang digali dari sumber-sumber Islam untuk menjawab problem kekinian.

 

Tidak Fanatik Buta dan Reformis

 

Muthahhari tidak pernah mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan masyarakat dan agama. Beliau memberikan perhatian terhadap praktik beragama kaum agamis. Beliau juga memilah antara hal yang benar-benar murni agama dan khurafat yang bercampur di dalamnya. Beliau mengkritik keras praktik fanatisme buta dan kejumudan yang dijalankan oleh sejumlah kaum agamawan. (IRIB Indonesia)

 

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description