Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 16 April 2016 15:55

Jihad Muslimah dalam Perspektif Islam

Jihad Muslimah dalam Perspektif Islam

Perjuangan dan jihad adalah masalah suci bila dimaksudkan untuk membela. Oleh karena itu, masyarakat di seluruh dunia menghormati para pasukan yang tewas dalam memperjuangkan kemanusiaan atau negara mereka. Mereka akan disebut sebagai para pahlawan.

Pada hakikatnya menjaga lingkup agama, keyakinan, akidah dan juga membela diri, keluarga dan nilai-nilai adalah jihad dan perjuangan. Perjuangan dan jihad adalah sebuah esensi natural dalam diri manusia. Manusia dengan akal sehat tidak akan mengijinkan dirinya atau orang lain terzalimi. Oleh karena itu, mereka yang terzalimi akan bangkit dan melawan.

 

Perjuangan seperti ini dalam Islam disebut sebagai bagian dari taklif agama dan perjuangan terbaik adalah jihad di jalan Allah Swt, di mana umat Muslim memperjuangkan nilai-nilai dan rela mengorbankan harta dan nyawanya demi menegakkan kebenaran. Jenis perang seperti ini adalah perjuangan yang wajib dan salah satu dari faridhah dalam agama Islam, yang telah ditekankan oleh para pemuka agama. Bahkan Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah menyebut jihad sebagai salah satu di antara berbagai pintu sorga yang akan terbuka untuk hamba-hamba terpilih. Akan tetapi apakah jihad dalam Islam juga berlaku untuk kaum perempuan?

 

Dalam banyak ayat al-Quran telah disebutkan bahwa jihad dan perang tidak hanya untuk gender tertentu saja. Dalam fiqih Islam juga ditekankan bahwa jihad membela rakyat dan negara merupakan kewajiban bagi kaum laki-laki dan perempuan. Akan tetapi jika perang tidak dalam kondisi defensif, maka kewajiban tersebut terangkat dari pundak kaum perempuan. Meski demikian dalam Islam, jihad tidak hanya bertaut pada konflik yang dibarengi dengan pertumpahan darah saja. Sebagaimana Rasulullah Saw ketika dalam perjalanan pulang pasukan Islam dari medan perang beliau bersabda, "Bahagialah kalian yang telah melakukan jihad dan pertempuran kecil, akan tetapi jihad yang lebih besar tetap di pundak kalian." Para sahabat kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah! Apa itu jihad besar?" Rasulullah Saw menjawab, "Jihad melawan hawa nafsu."

 

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, "Perempuan memiliki jihad tanpa pertumpahan darah yaitu haji dan umrah." Imam Ali as juga berkata bahwa jihad seorang perempuan adalah menjadi istri yang baik, bersabar menghadapi gangguan dan cobaan yang dipaksakan kepadanya oleh kehidupan berumahtangga." Semua hadis tersebut dalam rangka menunjukkan amalan dan kesantunan Islam yang menjadi prioritas bagi seorang Muslimah.

 

Dalam sejarah disebutkan bahwa pada suatu hari, Asma' binti Yazid Ansari, mendatangi Rasulullah Saw sebagai juru bicara kaum perempuan dan berkata, "Wahai Rasulullah, Allah telah mengutusmu untuk memberikan hidayah kepada kaum laki-laki dan perempuan, dan kami beriman kepada Tuhan Pencipta alam semesta. Akan tetapi semua keutamaan dan pahala jihad serta pengorbanan di jalan Allah Swt, hanya diwajibkan untuk kaum laki-laki bahwa jika mereka mati di jalan dan iman-Nya maka mereka akan mati sebagai syahid. Namun kami kaum perempuan yang melakukan pekerjaan di rumah dan mengurus anak-anak ketika suami-suami kami pergi ke medan perang, apakah kami juga berbagi pahala dalam jihad mereka?" Rasulullah Saw menjawab,"Sungguh pertanyaan yang bagus! Sampaikan dariku kepada para perempuan, bahwa pelaksanaan tugas di rumah dan mendidik anak serta menjadi istri yang baik, merupakan jihad di jalan Allah Swt."

 

Kaum Muslimah telah membuktikan bahwa ketika menghadapi serangan musuh, maka mereka akan bangkit mengangkat senjata bersama-sama dengan kaum laki-laki untuk membela akidah dan tanah air mereka. Sebagai contoh, Sayyidah Fatimah as, memiliki peran yang sangat besar dalam menghibur dan memberi semangat kepada Rasulullah Saw dan juga suaminya Imam Ali as, dalam menghadapi para musuh dan kaum kufar. Contoh lainnya adalah Sayyidah Zainab Kubro as, cucu Rasulullah Saw, yang berjuang dalam menyampaikan pesan kebangkitan dan pengorbanan Imam Husein as bersama para sahabatnya di padang Karbala.

 

Akan tetapi, sekarang yang kita saksikan adalah sebuah fenomena yang benar-benar aneh, yaitu jihad nikah. Istilah yang untuk pertama kalinya digunakan pada tahun 2013 dan menyebar di seluruh media massa internet dan sosial media dalam proses perang di Suriah. Dalam jihad rekayasa ini, kaum perempuan atau anak-anak gadis diminta untuk memenuhi tuntutan seksual para anasir yang sedang berperang di Suriah. Untuk melakukan ini, mereka harus masuk ke Suriah melintasi perbatasan Turki. Di tempat tujuan, mereka akan dinikahi oleh para kombatan dengan hitungan jam untuk mendapat tiket menuju sorga.

 

Pada hakikatnya kelompok Takfiri khususnya Daesh memanfaatkan kaum perempuan untuk merekrut calon teroris baru dan juga mempertahankan jumlah pasukannya. Pada saat yang sama, aksi Daesh juga hanya akan mencoreng nama Islam dan memperluas Islamphobia serta provokasi gelombang perpecahan dalam barisan umat Islam.

 

Menurut laporan Institute for Strategic Dialogue, para perempuan yang bergabung dengan Daesh akan dikirim ke sebuah tempat penampungan dan di sana mereka akan dibagi dalam beberapa kategori dari sisi "nilai". Setelah itu berdasarkan "nilai" yang telah ditetapkan, mereka akan dengan cepat dipersunting oleh para kombatan dengan pangkat yang sesuai. Ini terjadi karena para mufti Wahabi mengeluarkan fatwa bahwa jalan tercepat bagi para perempuan untuk mendapatkan jaminan masuk sorga adalah dengan melakukan "jihad nikah" di Suriah. Salah satunya adalah mufti Wahabi bernama Muhammad Al-Arifi, yang mengimbau gadis-gadis Muslimah berusia 14-16 tahun untuk melakukan jihad nikah dengan melayani hawa nafsu para teroris di Suriah. Iming-iming sorga menjadi andalan seruan dalam jihad nikah.

 

Fatwa-fatwa tidak islami dan amoral ini, telah menjebak banyak gadis, perempuan, janda dan bahkan para istri yang meminta diceraikan suaminya hanya untuk pergi ke Suriah dan berjihad nikah. Hasil dari fatwa-fatwa bejat tersebut tidak lain adalah ratusan perempuan yang hamil, ribuan anak di luar nikah serta penularan penyakit seksual. Banyak perempuan yang terjebak dan setelah memahami kebuasan para teroris Daesh, berusaha melarikan diri. Berdasarkan pernyataan Lotfi ben Jeddo, Menteri Dalam Negeri Tunisia, banyak gadis remaja Tunisia yang bergabung dengan Daesh di Suriah telah melayani 30 hingga 100 teroris dan mereka kembali ke negara mereka dalam keadaan hamil. Ini semua terjadi dengan alasan jihad nikah.

 

Yang lebih disayangkan lagi, ketika Daesh kekurangan anasir untuk melakukan operasi bom bunuh diri, mereka memanfaatkan para perempuan yang bergabung dalam jihad nikah untuk melaksanakan aksi teror tersebut. Madradasah Az-Zawarah, berdasarkan pernyataan anggota senior Daesh, dibentuk untuk merekrut gadis-gadis atau perempuan yang bersedia melakukan aksi bom bunuh diri.

 

Pernyataan itu sendiri secara gamblang menjelaskan betapa mereka membenci kehidupan normal dan jauh dari sunnah agama. Bahkan untuk merekrut pelaku bom bunuh diri lebih banyak, Daesh menginstruksikan para muftinya untuk merilis fatwa membolehkan para perempuan yang telah berkeluarga melakukan aksi bom bunuh diri tanpa ijin dari suami mereka. Meski demikian, pemanfaatan perempuan yang bergabung dalam jihad nikah untuk aksi-aksi bom bunuh diri telah membangkitkan ketidakpuasan dalam barisan Daesh sendiri. Banyak perempuan yang akhirnya melarikan diri dari wilayah yang dikontrol Daesh setelah mereka menyadari bahwa mereka akan dimanfaatkan untuk operasi bom bunuh diri. Karena mereka tidak datang ke Suriah atau Irak untuk mati melainkan untuk berjihad nikah.

 

Menariknya, Muhammad Al-Arifi yang merilis fatwa jihad nikah, dengan cepat menarik kembali fatwanya setelah menimbulkan kontroversi hebat di wilayah Arab dan Islam. Dalam beberapa kesempatan, dia secara resmi mengklaim bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan fatwa tersebut. Selain itu, dia juga mengklaim bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan, sebagai pelopor jihad nikah. Mufti Wahabi ini menyatakan, "Pada perang Siffin, penasehat Islam, Amr bin As, mengutarakan usulan itu kepada paman kami Muawiyah. Paman kami langsung menginstruksikan para pempuan dan istri untuk bergabung dalam jihad di Siffin demi membantu pasukan Islam."

 

Kelompok menyimpang ISIS ini memanfaatkan konsep jihad dan kesyahidan untuk kepentingan bejat mereka. Melalui fatwa para mufti ekstrim Wahabi, mereka mengiming-imingi sorga dan kebahagiaan abadi kepada para audiens. Baik jihad dalam medan perang maupun jihad nikah, mereka menjanjikan kebahagiaan di akhirat. Akibat fatwa-fatwa sesat tersebut, banyak pemuda Muslim dan Muslimah yang tidak memiliki pondasi pengetahuan agama yang mendalam akan dengan mudah terjebak.

 

Namun trik seperti ini dengan cepat akan gagal. Sebagaimana keterangan Farida Al-Baji, seorang gadis asal Tunisia yang lari dari kamp Daesh, "Hari ini kita melihat orang-orang yang mengklaim berjihad di jalan Allah saling bentrok dan saling memenggal kepala. Ini karena pemahaman mereka terhadap Islam sama sekali tidak benar. Pembantaian di wilayah Islam sama sekali tidak bermakna jihad dan Islam."(IRIB Indonesia)

 

Selanjutnya di kategori ini: « Ramalan Krisis Yaman di Tahun 2016

Add comment