Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 11 April 2016 15:14

Redupnya Kilau Mutiara Padang Pasir, Palmyra

Redupnya Kilau Mutiara Padang Pasir, Palmyra
Kota kuno bersejarah Palmyra di Suriah yang jatuh ke tangan kelompok teroris Takfiri Daesh, beberapa waktu berhasil dibebaskan melalui operasi luas militer Suriah. Kebebasan kembali mewarnai kota tersebut. Di sela-sela pendudukan Daesh atas kota bersejarah itu, selain ratusan warga menjadi korban brutalitas kelompok teroris Daesh, juga banyak bangunan bersejarah yang dihancurkan.

Kota Palmyra yang merupakan peninggalan sejarah 2.000 tahun itu, mengalami kerusakan berat pada masa pendudukan Daesh. UNESCO dan banyak lembaga internasional yang bungkam hingga sebelum jatuhnya kota Palmyra dan pembantaian warga setempat oleh Daesh, mendadak menyatakan khawatir atas pendudukan kelompok teroris Takfiri itu. Namun yang dikhawatirkan adalah peninggalan bersejarah kota tersebut, bukan nyawa warga tidak berdosa Palmyra.

Para teroris Daesh pada masa pendudukan atas Palmyra, menggunakan area amfiteater di situs bersejarah itu sebagai panggung eksekusi warga tidak berdosa termasuk di antaranya Khaled al-As’ad, arkeolog dan mantan ketua situs bersejarah Palmyra. Mereka meledakkan dan merusak berbagai kuil di situs bersejarah Palmyra, dan merusak berbagai area pemakaman kuno di kota tersebut.

Sebelum dimulainya perang di Suriah, industri pariwisata merupakan salah satu pilar utama perekonomian negara ini yang menyerap banyak tenaga kerja. Begitu pula dengan sektor industri yang berkaitan dengan pariwisata. Sebelum perang di Suriah, setiap tahunnya 150 ribu turis berkunjung ke Palmyra. Namun dalam beberapa tahun terakhir, industri pariwisata di Suriah telah mencapai titik nol dan tidak ada wisatawan asing yang berkunjung.

Fakta-fakta soal perusakan peninggalan bersejarah oleh para teroris di Suriah, benar-benar mengkahwatirkan. Selain Palmyra, banyak situs bersejarah di kota Damaskus, Aleppo dan berbagai situs kuno lainnya di Suriah termasuk “Kota Mati” yang menderita kerusakan parah akibat ulah para teroris. Serangan berulangkali kelompok teroris ke makam Sayyidah Zainab sa, cucu Rasulullah Saw dan perusakan berbagai bangunan yang dihormati oleh kaum Muslim, termasuk di antara ulah para anasir teroris Daesh.

Selama itu, Daesh juga merusak kubah, menara dan makam tiga sahabat nabi yaitu Uwais Qarni, Ammar bin Yasser dan Ubai bin Qais Nakhai. Bangunan makam ketiga sahabat Nabi itu juga diratakan dengan tanah. Selain itu, kelompok bersenjata FSA juga merusak makam Hujur bin Udai, seorang tokoh terkemuka pada era awal-awal kemunculan Islam di Damaskus.

Baru saja perang di Suriah dimulai, para pejabat keamanan Eropa memperingatkan bahwa negara itu akan menjadi destinasi wisata bagi para teroris pendukung Al-Qaeda. Mereka mengatakan bahwa “wisata teror atau tour terorisme” merupakan bagian penting dari aktivtas para pelancong yang di antaranya adalah warga Inggris, dan bahwa masalah ini akan semakin mengancam wilayah tersebut.

Perlu disebutkan pula bahwa mereka dan kelompok-kelompok itu mengklaim bahwa niat mereka sepenuhnya berdasarkan agama, akan tetapi aksi-aksi mereka sama sekali tidak mengesankan sedikit pun dari perilaku agama. Sebagai contoh, salah satu pemimpin Daesh di Suriah, dua tahun lalu menyatakan, seluruh gereja yang dibangun setelah kemunculan Islam akan dihancurkan, dan ini membuktikan bahwa mereka tidak lebih dari sebuah kelompok terbelakang dan fanatik buta. Mereka tidak memiliki pedoman agama apapun selain menebar perpecahan dan merusak kehidupan rukun antarpenganut agama. Karena penghancuran tempat-tempat peribadatan penganut agama samawi tidak pernah tercatat dalam sunnah Rasulullah Saw.

Damaskus, ibukota Suriah, juga memiliki nama sebagai “Pintu Gerbang Sejarah” dan kota ini dikenal sebagai salah satu kota terkuno di dunia, yaitu antara delapan hingga 10 ribu tahun sebelum Masehi. Sejak itu, Damaskus telah menjadi tempat tinggal dan peradaban banyak kaum. Oleh karenanya, Damaskus dinobatkan sebagai ibukota dunia pertama.

Damaskus menyaksikan kemunculan dan perkembangan berbagai peradaban besar umat manusia di dunia Timur. Pada banyak periode, kota ini menjadi ibukota dan pusat pemerintahan berbagai imperium. Pada tahun 636 Masehi, Damaskus menjadi ibukota dunia Islam dan berubah menjadi kota terpenting di dunia Islam. Damaskus pernah menjadi pusat pemerintahan dinasti Umayyah walau untuk periode singkat. Banyak pula para nabi dan manusia-manusia besar dalam sejarah yang berasal dari kota tersebut.

Palmyra atau Tadmur, adalah salah satu di antara kota-kota bersejarah peninggalan era kuno di Suriah, yang terletak di provinsi Homs. Suriah pada era Bizantium, menjadi pusat peradaban sangat indah dan bernilai tinggi. Warga Palmyra, terdiri dari etnis Aramis, Amuriyan, Arab dan minoritas Yahudi. Di sebelah Palmyra, terdapat kota Tadmur. Tadmur adalah nama untuk Palmyra, yang menjadi lokasi interaksi dan percampuran banyak budaya. Kota Palmyra juga disebut sebagai “Mutiara Padang Pasir”. Kota Palmyra yang kini tinggal puing-puingnya itu juga telah termasuk dalam peninggalan bersejarah warisan UNESCO.

Usia sebagian besar puing-puing Palmyra kembali pada abad pertama dan kedua Masehi. Di masa itu, Palmyra merupakan salah satu pusat budaya terpenting dunia. Kota ini merefleksikan kesenian dan arsitektur abad pertama dan kedua yang menggunakan teknik campuran arsitektur Yunani, Romawi, lokal dan Persia kuno. Situs tersebut melingkupi 1.000 pilar dan sebuah area pemakaman besar yang menampung lebih dari 500 makam.

Kota Tadmur dibangun oleh kaum Ashkanian dari Persia yang kala itu memiliki kekuasan sangat luas. Akan tetapi tidak lama kemudian kota itu terpisah dari wilayah kekuasan imperium Persia setelah diserang Romawi. Setelah itu kota tersebut dipimpin oleh Ratu Zenobia. Kota indah dengan pilar-pilar warna keemasan dan dengan nuansa puitis itu merupakan pusat perdagangan antara Asia dan Eropa pada abad pertama Masehi. Pada akhirnya, tahun 273 Masehi, kota Palmyra dirusak oleh Kaisar Aurelianus dari Romawi.

Kota bersejarah ini terbagi menjadi beberapa bagian penting: gerbang Palmyra, kuil Bel, gerbang Haderian, Tetrapylon, kuil Baalshamin, dan sebuah area pemakaman mewah. Kuil Baalshamin yang tercatat sebagai warisan budaya di UNESCO, dihancurkan pada 23 Agustus 2015 oleh kelompok Daesh dengan menggunakan bom.

Sejak diduduki oleh Daesh, kota itu berubah menjadi panggung perusakan situs-situs bersejarah dan maha karya seni era kuno, serta pembunuhan para sejarawan dan arkeolog. Pada bulan Juli 2015, para teroris Daesh merusak enam patung bersejarah di Palmyra. Abdul Karim, direktur warisan budaya Suriah pasca insiden tersebut menyatakan, patung-patung tersebut telah dilindungi dengan lempengan baja dan kantung-kantung pasir untuk mencegah kerusakan akibat kontak senjata yang sedang terjadi. Akan tetapi Daesh melepas pelindung itu dan menghancurkannya. Menurutnya aksi Daesh ini merupakan kejahatan terhadap warisan budaya Palmyra.

Terlepas dari seluruh kejahatan tersebut, pasukan militer Suriah pada Ahad 27 Maret 2016 berhasil membebaskan kota Palmyra dari kontrol kelompok teroris Daesh. Setelah membersihkan kota itu dari ranjau dan bom-bom yang dipasang para teroris, seluruh wilayah kota Palmyra juga dibersihkan dari anasir Daesh. Namun sangat disayangkan sekali foto-foto yang tersebar pasca operasi pembersihan ranjau menunjukkan besarnya kerusakan akibat ulah para teroris. Kilau Palmyra, sebagai Mutiara Padang Pasir, nampak lebih redup dari sebelumnya. (IRIB Indonesia/MZ)

Add comment


Security code
Refresh