Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 09 April 2016 16:24

Dampak Perang Brutal Saudi untuk Anak dan Perempuan Yaman

Dampak Perang Brutal Saudi untuk Anak dan Perempuan Yaman
Intervensi militer di Yaman pada 25 Maret 2015 dimulai dengan serangan udara koalisi negara-negara regional pimpinan Arab Saudi bersandi “Badai Mematikan” dan satu bulan kemudian dilanjutkan dengan operasi baru bersandi “Revivalisasi Harapan”.

Hanya satu negara Arab anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC) yang tidak menyertai perang tersebut yaitu Oman. Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait dan Bahrain dan dipimpin Arab Saudi mengagresi Yaman. Yordania, Mesir, Maroko dan Sudan juga menyertai perang tersebut.

Media dan sumber-sumber Yaman sejak awal agresi telah membongkar dukungan dan kerjasama Arab Saudi dengan rezim Zionis Israel dalam agresi tersebut. Israel sendiri tidak mengomentari berita itu, namun beberapa waktu kemudian sejumlah media Barat membenarkan dukungan persenjataan dan bahkan kehadiran perwira militer Israel di kamar operasi militer Saudi dan kroninya.

Di sisi lain, Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Turki termasuk di antara negara-negara yang mendukung agresi rezim Saudi, pembunuh anak-anak tidak berdosa Yaman. Bahkan Gedung Putih secara resmi menyatakan Presiden AS Barack Obama telah mengijinkan pasukan AS untuk memberikan dukungan logistik dan informasi operasi militer Arab Saudi.

Agresi koalisi besutan Arab Saudi ke Yaman telah lebih dari satu tahun berlalu, namun serangan tersebut gagal dan pihak agresor gagal mencapai tujuannya. Satu-satunya keberhasilan kelompok koalisi adalah penyusupan kelompok-kelompok teroris Takfiri Daesh ke Yaman, kemiskinan, kelaparan, instabilitas, pelanggaran hak asasi manusia rakyat Yaman.

Pembantaian warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak, bombardir rumah sakit dan pusat pengobatan, bahkan pemboman terhadap rumah sakit yang dikelola oleh Para Dokter Tanpa Batas, penggunaan senjata terlarang seperti bom kluster, mengancam nyawa rakyat Yaman dengan memberlakukan blokade total negara itu serta melarang masuknya bantuan kemanusiaan, bombardir seluruh infrastruktur dan sektor ekonomi Yaman, merupakan bagian dari pelanggaran nyata terhadap semua prinsip dan ketentuan internasional.

Pusat HAM Yaman menyatakan sejak dimulainya agresi, hingga kini tercatat 8.200 warga Yaman gugur syahid termasuk di antaranya 1.519 perempuan dan 1.996 anak-anak kecil. Sebanyak 15.184 warga Yaman terluka di mana lebih dari 3.000 di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Akan tetapi Amnesti Internasional dalam laporan terbarunya pada 26 Februari 2016 menyatakan, 35 ribu warga Yaman telah terbantai dalam agresi Arab Saudi. Lembaga itu menyebutkan memiliki bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa Arab Saudi menyerang wilayah permukiman dan infrastruktur Yaman. Kurang dari satu tahun 35 ribu warga Yaman terbantai dan lebih dari dua juta lainnya mengungsi di dalam dan ke luar negeri.

Data dari Amnesti Internasional menyebutkan, Arab Saudi telah menyerang 14 bandara, 10 pelabuhan dan dermaga, 512 jembatan dan jalan, 125 pembangkit listrik, 164 tangki air, 167 stasiun komunikasi, 325.137 rumah, 615 masjid, 569 lembaga dan pusat pendidikan, 39 universitas, 16 kantor media, 328 pusat kesehatan, 970 gedung pemerintah, 353 pasar dan pusat perbelanjaan, 584 truk bahan bakar dan pangan, 328 SPBU, 546 gudang makanan, 59 situs bersejarah, 119 wilayah pariwisata, 190 pabrik, dan 42 gedung olahraga. Akibat agresi sebanyak 3.750 sekolah terpaksa diliburkan.

Berdasarkan keterangan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), 2.690.000 pengungsi Yaman di dalam dan luar negeri merasakan dampak tragis dari serangan Arab Saudi. Hingga kini 170.000 warga Yaman melarikan diri ke Djibouti, Ethiopia, Somalia dan Sudan. PBB memprediksi hingga akhir tahun 2016, 167.000 lainnya juga akan mengungsi.

Berdasarkan laporan media Akhar As-Saa’ah, setiap pekan antara 500-800 warga Yaman mengungsi ke Djibouti akibat agresi udara Arab Saudi. Mereka terpaksa hidup dalam kondisi mengenaskan tanpa fasilitas pokok termasuk makanan, air dan obat-obatan, serta hidup di lingkungan terbuka tanpa atap.

Krisis kemanusiaan tragis di Yaman telah membuat lebih dari 80 persen warga Yaman terancam kekurangan makanan dan lebih dari 1.8 juta anak-anak Yaman tidak dapat sekolah. PBB dalam laporannya menyebutkan, lima perempat warga Yaman atau sekitar 21.2 juta orang, saat ini sangat membutuhkan bantuan pangan dan kemanusiaan mendesak. Akibat perang sedikitnya 320.000 balita Yaman mengalami gizi buruk.

Sementara itu Dana untuk Anak PBB UNICEF dalam sebuah laporan menyebutkan tewas dan terlukanya rata-rata enam anak Yaman per hari. Dalam laporan bertajuk “Anak dalam Bahaya” itu juga disebutkan bahwa sejak dimulainya agresi militer Arab Saudi ke Yaman, hingga kini 934 anak Yaman tewas dan 1.356 lainnya terluka. Selain itu, sekitar 10 ribu balita meninggal dunia karena gizi buruk dan kurangnya fasilitas medis. Ditambahkan pula bahwa gangguan dan diskriminasi terhadpa anak Yaman juga sedemikian meluas sehingga banyak anak yang yang terpaksa berperang. Tercatat 848 anak berusia di bawah 10 tahun ikut berperang.

Perempuan-perempuan Yaman dengan dada sesak penuh dengan kisah-kisah menyedihkan dampak sosial dan ekonomi akibat perang, terpaksa melanjutkan perjalanan hidup mereka dengan penuh penderitaan. Tidak ada pilihan lain di depan mereka. Bentrokan di dalam negeri Yaman menciptakan kondisi kritis bagi kaum perempuan Yaman. Banyak dari perempuan Yaman yang berjuang untuk mendukung dan mencukupi keluarganya. Di sisi lain, tidak adanya akses kesehatan, pendidikan dan peluang kerja, membuat kondisi tersebut semakin buruk.

Yang lebih menyakitkan adalah bahwa dampak dari perang itu akan tetap dirasakan hingga bertahun-tahun pasca perang berakhir. Anak-anak yatim dan para janda harus bertahan hidup dan terpaksa bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Oleh karena itu, Ahlam Sofan, pengamat dari UNFPA mengatakan, perempuan dan anak-anak gadis adalah kelompok paling rawan yang akan merasakan dampak negatif perang, karena setelah para laki-laki berperang, mereka yang harus mengelola dan menghidupi keluarga mereka.

Perempuan-perempuan tersebut sebagian besar tidak dapat mengakses layanan pokok dan demi menghidupi anak-anaknya mereka terpaksa mengungsi. Ini adalah masalah yang membuat mereka menjadi golongan paling rentan akibat perang. Berubahnya peran perempuan sebagai pemimpin keluarga, pengungsian dari satu tempat ke tempat lain secara berkesinambungan, tidak adanya tempat tinggal dan diskriminasi, kemiskinan serta ketidakamanan dari sisi makanan dan psikologi, semuanya adalah ancaman yang mereka hadapi.

Perang brutal dan sangat destruktif yang dibawa Arab Saudi ke Yaman benar-benar merupakan fakta pahit bagi anak-anak dan kaum perempuan negara itu. Para agresor telah melanggar bahkan hak-hak asasi manusia paling mendasar. Dalam hal ini, kaum perempuan adalah golongan masyarakat yang paling rentan di hadapan dampak-dampak perang. Instabilitas akan semakin membuat mereka rentan di hadapan berbagai kejahatan seksual. Masalah ini akan memiliki dampak menyedihkan khususnya bagi kaum perempuan Yaman. Dampak negatif yang akan berlanjut hingga bertahun-tahun pasca perang.

Kekerasan dan kejahatan seksual terhadap kaum perempuan Yaman saat ini sedang terjadi. Pernikahan paksa anak-anak perempuan, gangguan fisik dan mental serta tidak tersedianya fasilitas, semuanya akan menyebabkan dampak negatif serius. Berdasarkan pernyataan Saba Zabwah, koordinator nasional untuk proyek hak asasi manusia di badan pembangunana PBB, pernikahan orang-orang tua Arab Saudi dengan anak-anak perempuan Yaman di bawah umur telah menjadi fenomena yang biasa.

Dalam beberapa waktu terakhir, masalah gencatan senjata mengemuka. Seorang perwakilan UNICEF di Yaman mengatakan bahwa jika gencatan senjata di negara ini digelar mulai 10 April, maka dapat diharapkan keluarga-keluarga Yaman akan menerima bantuan makanan dan obat-obatan PBB.

Akan tetapi faktanya adalah bahwa dampak fisik dan mental akibat perang tersebut akan berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian. Perang yang tidak mendatangkan apapun kecuali pembunuhan, kerusakan, keyatiman anak-anak dan tekanan hebat bagi kaum perempuan negara itu.

Add comment


Security code
Refresh