Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 09 Maret 2016 15:45

Interaksi Uni Eropa Terhadap Iran

Interaksi Uni Eropa Terhadap Iran

Hubungan Republik Islam Iran dan Uni Eropa dalam lima tahun terakhir menurun drastis, khususnya di sektor perdagangan dan ekonomi, menyusul partisipasi Eropa dalam pemberlakuan sanksi unilateral yang diprakarsai Amerika Serikat.

Alasan yang diklaim Barat untuk pemberlakuan sanksi anti-Iran itu adalah penekanan Republik Islam untuk menindaklanjuti program nuklir sipilnya. Program nuklir damai Iran adalah masalah yang sangat ditentang Barat, hingga pada akhirnya menyatukan AS dan Uni Eropa untuk mengambil langkah-langkah anti-Iran.

 

Meski demikian, sejak dimulainya putaran baru perundingan Republik Islam Iran dengan Kelompok 5+1 pada tahun 2013, pada praktiknya telah terbuka peluang pendahulu dalam hubungan timbal balik Iran dan Uni Eropa. Setelah beberapa kali berunding di Jenewa, New York dan Wina, akhirnya Amerika Serikat bersama dengan para mitranya di Eropa, mencapai kesepakatan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), yang menjamin kelangsungan program nuklir Iran.

 

Dewan Keamanan PBB juga pada 20 Juli 2015, menetapkan resolusi nomor 2231 yang akan menjadi pembuka jalan pelaksanaan JCPOA. Menyusul Ratifikasi resolusi usulan Kelompok 5+1 di Dewan Gubernur IAEA soal diakhirinya pembahasan masalah berbagai dimensi militer potensial program nuklir Iran atau yang dikenal dengan PMD, maka JCPOA telah sampai pada tahap implementasi. Setelah Iran membuktikan komitmennya, maka sanksi pun secara bertahap dicabut mulai Januari 2016.

 

Tahap pasca pelaksanaan JCPOA, disebut juga sebagai tahap pembaruan hubungan Iran dan Eropa. Apalagi setelah Uni Eropa memainkan peran penting dan berpengaruh pada proses penyelesaian masalah program nuklir Iran, yang ditunjukkan dalam kinerja Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini. Dia bertindak sebagai koordinator dalam perundingan antara Iran dan Kelompok 5+1 dan peran tersebut tetap dijalankannya.

 

Untuk saat ini, Iran dan Uni Eropa telah memasuki fase pengembangan dan peningkatan hubungan timbal balik. Pelaksanaan JCPOA dapat menjadi poros positif untuk kerjasama di semua lini politik, ekonomi dan sosial kedua pihak. Untuk saat ini, telah terbuka ruang dialog baru dalam hubungan antara Iran dan Uni Eropa yang setidaknya belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir. Pada hakikatnya sejak JCPOA, Eropa dengan sangat antusias menanti peluang tepat untuk kembali terjun ke Iran. Ini terbukti dalam kunjungan berbagai delegasi Eropa ke Iran.

 

Tercatat lebih dari 100 delegasi Eropa telah berkunjung ke Iran sejak tercapainya JCPOA. Pada saat yang sama pelaksanaan JCPOA sejak 16 Januari 2016, menjadi kunci untuk kebuntuan hubungan antara Iran dan Eropa. JCPOA juga dapat menjadi peta jalan proporsional dalam hubungan bilateral kedua pihak. Uni Eropa dan negara-negara anggotanya memberikan perhatian khusus untuk pelaksanaan JCPOA, dan menilainya sebagai mekanisme dan peta jalan hubungan dengan Iran.

 

Uni Eropa telah terjun dalma mekanisme implementatif dan praktis hubungannya dengan Iran serta telah melakukan perundingan dengan mengirim delegasi tingkat tinggi ke Tehran. Mengingat perjalanan panjang hubungannya dengan Iran hingga sebelum pemberlakukan sanksi unilateral, Uni Eropa merupakan mitra perdagangan utama Iran. Dan sekarang Uni Eropa menunjukkan tekad lebih besar dari Amerika Serikat untuk memperluas hubungan dengan Iran.

 

Sekarang, semua negara Eropa ingin memperluas hubungan dengan Iran, sehingga dalam dua tahun terakhir, berbagai delegasi tingkat tinggi Eropa telah berkunjung ke Tehran. Kunjungan Presiden Austria, Wakil Kanselir Jerman, Perdana Menteri Yunani, Ketua Parlemen Eropa, Presiden Swiss, Perdana Menteri Hongaria, Ketua Kebijakan Politik Luar Negeri Uni Eropa dan masih banyak lagi para menteri luar negeri dan ekonomi Eropa serta berbagai delegasi politik dan ekonomi dari Jerman, Italia, Perancis dan lain-lain, semuanya mensinyalir tekad besar Uni Eropa memperluas hubungan bilateralnya dengan Republik Islam.

 

Selain itu, Republik Islam Iran juga sangat tertarik untuk memperluas hubungan dengan Uni Eropa dalam rangka revivalisasi dan rekonstruksi ekonominya, serta pemanfaatan peluang dagang, dekonomi, politik dan budaya yang tersedia. Kunjungan dan lalu-lalang diplomatik Iran dan Eropa pasca implementasi JCPOA terus berlangsung dan akan berlanjut di masa mendatang untuk mewujudkan kerjasama politik, perdagangan, perbankan, ilmiah-budaya dan juga penandatangan puluhan kesepakatan dan kontrak di semua lini.

 

Masalah penting lainnya yang telah disinggung adalah kecenderungan besar Uni Eropa untuk meningkatkan hubungan dengan Iran dan perluasan interaksi serta lalu-lalang diplomatik kedua negara. Dalam hal ini, Mogherini pada akhir Februari 2016 yang menyatakan bahwa Uni Eropa sedang mengacu peningkatan kerjasama dengan Iran. Menurutnya, JCPOA sangat penting untuk mencegah pengembangan senjata nuklir serta menjamin kerjasama dengan Iran. JCPOA harus dijadikan tonggak bersejarah dalam hal ini.

 

Seraya mengumumkan perudningan terbarunya dengan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif di Brussels membicarakan perkembangan regional dan bilateral, serta menyatakan, dalam waktu dekat beberapa pejabat Eropa akan berkunjung ke Tehran. Menurut Mogherini, perundingan diplomatik yang teratur dan pemulihan hubungan dekat ekonomi dengan Iran ini mengindikasikan kecenderungan kedua pihak untuk saling mendukung peningkatan kerjasama.

 

Iran sendiri juga telah berulangkali menekankan pentingnya hubungan dengan Uni Eropa. Dalam kunjungan Mogherini ke Iran, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Iran, Alauddin Boroujerdi, mengatakan bahwa dalam interaksi dan kerjasama dengan Uni Eropa, Republik Islam tidak menetapkan batasan apapun sesuai kebijakan strategis makro Iran. Dia bahkan menilai Uni Eropa sebagai anggota paling efektif dalam proses perundingan nuklir Iran dengan Kelompok 5+1.

 

Secara keseluruhan harus dikatakan bahwa hubungan Iran dan Uni Eropa harus berdasarkan hubungan win-win bagi kedua pihak. Syarat utama mewujudkan hubungan tersebut adalah keberanian Uni Eropa untuk independen dan tidak terpengaruh kebijakan Amerika Serikat dalam berinteraksi dengan Iran. Dengan demikian, hubungan dan kerjasama tersebut akan sepenuhnya berdasarkan penghormatan hak dan kepentingan kedua pihak. Apalagi dari sisi ekonomi dan industri, masalah transfer teknologi dan pengembangan industri harus menjadi prioritas dalam interaksi Iran dan negara-negara Eropa.

 

Pada saat yang sama, Uni Eropa harus menilai Iran sebagai gerbang akses menuju wialyah Asia Selatan dan Tengah. Iran selain memiliki kapasitas memadai untuk mengembangkan hubungan dagang dengan Eropa, juga dapat berfungsi sebagai gerbang perdagangan bagi Eropa untuk mengakses wilayah Asia Tengah termasuk Afghanistan dan Pakistan. Selain itu, potensi besar Iran di bidang ekspor gas ke Eropa dan posisi strategisnya di Laut Kaspia dan Teluk Persia, juga sangat menguntungkan Uni Eropa.

 

Berdasarkan doktrin Republik Islam Iran, Tehran tidak menetapkan batasan apapun dalam menjalin interaksi dan hubungan yang bermanfaat dengan Uni Eropa. Perlu ditekankan pula bahwa Uni Eropa adalah pihak yang paling merugi selama perjalan sanksi anti Iran. Atas pertimbangan tersebut, di masa mendatang, Uni Eropa diharapkan dapat terjun independen dalam berinteraksi dengan Republik Islam. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh