Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 09 Maret 2016 15:14

Hubungan Iran dan Negara Timur Tengah dalam Setahun

Hubungan Iran dan Negara Timur Tengah dalam Setahun

Politik luar negeri Iran dalam hubungan dengan negara-negara Islam berlandaskan pada perwujudan stabilitas, ketenangan dan persatuan umat Islam.

Iran selalu mengupayakan persatuan dan pengikisan hegemoni Barat atas dunia Islam, serta perlawanan terhadap agresi dan propaganda Barat terhadap umat Islam. Dalam hal ini, dukungan Iran untuk Palestina memiliki posisi istimewa dan mendapat perhatian luas opini publik. Dukungan tersebut membuat masyarakat Palestina menilai Iran sebagai pendukung utama Palestina dan hal ini memperkokoh hubungan persaudaraan antara rakyat Palestina dan Iran.

 

Rakyat Palestina dengan bangga menyinggung hubungan dengan Iran dan peran efektif Republik Islam dalam perimbangan regional serta bantuannya bagi bangsa Palestina dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Dalam hal ini, wakil Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzuq menyatakan, “Tidak ada negara Arab dan Islam yang membantu perjuangan dan bangsa Palestina seperti Iran.”

 

Abu Marzuq menambahkan, beragam bantuan Republik Islam Iran, selain kepada rakyat dan muqawama, khususnya pada tahun 2006 yang juga mencakup untuk pemerintah Palestina. Abu Marzuq dan Syeikh Maher Hamud, Ketua Persatuan Ulama Muqawama di Beirut, mengapresiasi peran Iran dalam mendukung gerakan muqawama Palestina dan program pembebasan seluruh Palestina serta menekankan pentingnya hubungan strategis Hamas dan berbagai kelompok perjuangan Palestina dengan Republik Islam Iran.

 

Penekanan anggota senior Hamas ini sekaligus menepis isu yang beredar soal meregangnya hubungan antara Iran dan kelompok-kelompok muqawama Palestina. Selain itu, Iran beberapa waktu lalu, bertepatan dengan peringatan kemenangan Revolusi Islam Iran ke-37, menerima kehadiran perwakilan berbagai kelompok muqawama Palestina termasuk Fatah dan Hamas, di Tehran.

 

Sikap dan kebijakan konstruktif Iran terkait krisis Suriah juga diapresiasi oleh rakyat dan pemerintah Suriah serta para tokoh internasional, termasuk Utusan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam hal ini, Staffan de Mistura, utusan Sekjen PBB untuk Suriah, berulangkali menekankan peran konstruktif Iran dalam krisis Suriah dan dia juga kembali menyampaikan apresiasi kepada Iran atas peran dan diplomasinya menyukseskan gencatan senjata di Suriah.

 

Menyinggung peran konstruktif Iran dalam proses pemberantasan terorisme dan bantuan mewujudkan gencatan senjata serta proses politik di Suriah, Staffan de Mistura mengatakan, semua negara pendukung Suriah dalam konferensi terbaru di Munich, memiliki peran penting dalam membantu mewujudkan gencatan senjata di negara itu.

 

Hossein Amir-abdollahian, Wakil Menteri Luar Negeri Iran urusan Arab dan Afrika menjelaskan, Tehran telah mengerahkan seluruh upayanya membantu pemberantasan terorisme, perwujudan gencatan senjata, percepatan penyaluran bantuan kemanusiaan dan pelaksanaan dialog komprehensif kubu Suriah dengan mediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

Jaber Ansari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga dalam menjelaskan perkembangan terbaru mengatakan, Iran sejak awal krisis Suriah menekankan tiga prinsip utama yaitu, penghormatan terhadap tuntutan rakyat Suriah, penentangan intervensi asing, dan penolakan pemanfaatan terorisme sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik.

 

Jubir Kemenlu Iran menambahkan, para pemain asing yang berpengaruh, menyambut baik prinsip Iran ini dan menegaskan bahwa krisis Suriah tidak dapat diselesaikan melalui jalur militer melainkan dalam dialog Suriah-Suriah dan penghormatan terhadap tuntutan rakyat Suriah.

 

Menjaga hubungan persahabatan antara Iran dan Oman, serta peningkatannya, selalu menjadi program kerja pemerintah kedua anegara. Meski Oman adalah anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC), akan tetapi negara ini menjalin hubungan harmonis dengan Iran, dan jauh dari politik konfrontatif Arab Saudi di kawasan. Disebutkan bahwa Oman memiliki hubungan politik yang relatif independen dibanding negara-negara Arab lain anggota PGCC, di hadapan politik Arab Saudi.

 

Sementara itu, Iran selalu memprioritaskan politik luar negeri yang berlandaskan pada peningkatan hubungan konstruktif berdasarkan kepentingan kolektif. Dalam hal ini, Ali Shamkhani, Sekjen Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, beberapa waktu lalu bertemu dengan Yusuf bin Alawi, Menteri Luar Negeri Oman dan menyatakan bahwa Republik Islam menilai Oman sebagai mitra yang dapat dipercaya di kawasan. Oleh karena itu, Iran akan melanjutkan upaya peningkatan hubungan dan kerjasama dengan Oman.

 

Terkait transformasi politik di Irak, Iran juga menunjukkan kinerja berlandaskan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas nasional negara itu, serta terhadap hak-hak seluruh kelompok di Irak dan Lebanon. Politik Iran adalah mendukung persatuan dan kekompakan negara-negara regional khususnya negara jiran. Lobi para pejabat Iran dan Irak dalam upaya mewujudkan persatuan kelompok-kelompok Irak, juga dalam rangka menyelesaikan krisis politik dan menjaga kedaulatan serta integritas Irak. Pada prosesnya, Iran juga tidak memperhatikan atau mengutamakan kelompok tertentu di Irak. Karena secara keseluruhan, Iran menilai keamanan Irak adalah ketenteraman bagi Republik Islam sebagai tetangga.

 

Soal hubungan Iran dan Arab Saudi selama satu tahun harus dikatakan bahwa hubungan tersebut terganggu akibat langkah dan kebijakan petualangan, tidak bijak dan berlebih-lebihan Arab Saudi, serta penekanan Riyadh untuk mendukung kelompok Takfiri dan teroris di kawasan. Pernyataan para pejabat Arab Saudi menunjukkan politik yang diacu Arab Saudi di kawasan adalah politik totaliter. Orang-orang Saudi yang masih berpegang pada pemikiran tradisional di negara ini, berpendapat bahwa dengan petrodolar dan pembelian senjata, mereka dapat mengubah jalur perjalanan transformasi regional. Salah satunya adalah keputusan terbaru Arab Saudi terhadap Lebanon.

 

Pernyataan para pejabat Saudi dalam hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak perspektif keliru dalam banyak hal. Hampir satu tahun, Arab Saudi terlibat perang langsung di Yaman. Arab Saudi dengan dukungan finansial terhadap kelompok Takfiri-Zionis ISIS dan berbagai kelompok ekstrimis lainnya di Suriah, juga sedang memimpikan jatuhnya Bashar al-Assad. Arab Saudi berubah menjadi pendukung utama kelompok-kelompok teroris di kawasan dan peran destruktifnya dalam hal ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi.

 

Mereaksi politik provokatif dan agresif Arab Saudi, yang mengakibatkan hubungan negara itu dengan Iran menjadi suram, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, Arab Saudi memilih politik lebih agresif di kawasan dibanding politik konservatif di masa lalu, dan inti dari politik tersebut adalah konfrontasi.

 

Gerak-gerik Arab Saudi mensinyalir upayanya untuk menyusun sebuah formasi anti Iran di kawasan. Pelaksanaan sidang tingkat menteri PGCC di Jeddah, beberapa waktu lalu juga dalam rangka penyatuan kebijakan negara-negara anggota untuk melawan Iran. Tujuannya adalah pengambilan langkah-langkah politik dan diplomatik anti-Iran.

 

Faktor utama di balik sikap Arab Saudi ini adalah kekhawatirannya atas dampak serangan militernya ke Yaman, gagalnya peritungan Arab Saudi terkait perundingan nuklir antara Iran dan Barat, serta kegagalan politiknya di pasar minyak global. Sekarang Arab Saudi sedang mengkhawatirkan seluruh dampak negatif dari kebijakannya dalam beberapa tahun terakhir.

 

Add comment


Security code
Refresh