Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 28 Februari 2016 10:25

Ramalan Krisis Yaman di Tahun 2016

Ramalan Krisis Yaman di Tahun 2016

Arab Saudi sejak tanggal 26 Maret 2015 melancarkan serangan ke negara Arab paling miskin, Yaman, dengan dukungan sembilan negara. Namun pada praktiknya, hanya Uni Emirat Arab dan Qatar yang menyertai agresi tersebut. Agresi Saudi akan lengkap selama 10 bulan pada 26 Januari 2016. Hasil dari perang itu hingga akhir tahun 2015 adalah tragedi kemanusiaan di Yaman. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Yaman, akibat serangan Saudi, lebih dari 8.000 warga Yaman tewas dan lebih dari 28 ribu lainnya terluka.

 

 

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) dalam laporan terakhir untuk tahun 2015 menyebutkan; 21.1 juta warga Yaman memerlukan bantuan pangan segera di mana 9.9 juta di antaranya adalah anak-anak. Sekitar 15.2 juta warga Yaman memerlukan layanan kesehatan mendesak. Tercatat 19.3 juta warga Yaman tidak dapat mengakses air bersih, dan 2.5 juta orang yang 31 persen di antaranya adalah anak-anak menjadi pengungsi. Disebutkan pula, setengah juta warga tinggal di sekolah-sekolah, gedung-gedung kosong dan gedung milik pemerintah, tenda-tenda dan tempat-tempat penampungan sementara.

 

Untuk tahun 2016, berlanjutnya perang, adalah peristiwa yang paling dapat diprediksi rakyat Yaman. Di medan pertempuran, perang di Yaman berlanjut di tiga sektor: berlanjutnya serangan Arab Saudi dan sekutunya, berlanjutnyar pertempuran di dalam negeri antara militer Yaman bersama pasukan Ansarullah melawan militan pro-Mansur Hadi, serta berlanjutnya pertempuran dengan kelompok-kelompok teroris di berbagai wilayah. 

 

Menyusul kebungkaman kekuatan adidaya dunia, Arab Saudi dengan leluasa melanjutkan agresinya ke Yaman dan setiap hari membombardir berbagai wilayah Yaman. Korban jiwa dan luka di pihak warga sipil Yaman juga terus bertambah setiap hari. Selain itu, perusakan infrastruktur Yaman juga semakin meluas dan disebutkan bahwa 80 persen infrastruktur negara miskin itu telah hancur. Dan dipastikan pula angka pengungsi akan  terus meningkat. 

 

Perang pasukan Ansarullah bersama militer Yaman melawan militan loyalis Mansur Hadi juga merupakan bagian lain dari transformasi lapangan Yaman. Pada hakikatnya, militan loyalis Mansur Hadi sedang melaksanakan perang proxy untuk Arab Saudi di Yaman. Namun kancah terpenting saat ini di Yaman adalah pertempuran melawan kelompok-kelompok teroris yang aktif di wilayah selatan dan yang semakin berkembang menyusul melemahnya militan pro-Mansur Hadi serta perselisihan di antara berbagai kelompok di selatan negara itu. Bahkan sebuah laporan menyebutkan, mantan presiden buronYaman dan militer Uni Emirat Arab telah mencapai kesepakatan dengan ISIS dan al-Qaeda, untuk menyerahkan provinsi Hadramaut kepada dua kelompok teroris itu, sebagai imbalan dari keluarnya seluruh anasir dua kelompok teroris itu dari provinsi Aden.

 

Upaya pelaksanaan perundingan antarkelompok Yaman juga merupakan bagian lain dari transformasi Yaman yang diharapkan akan dilanjutkan oleh Ismail Ould Cheikh, utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yaman. Namun hingga kini masih ada perselisihan mendasar antarkelompok perunding soal berlanjutnya dialog. Perundingan pertama kelompok-kelompok Yaman guna mengakhiri bentrokan dan mencapai solusi krisis, digelar pada Juni 2015, namun perundingan itu gagal sebelum pelaksanaannya pasca kelancangan Arab Saudi. Riyadh mencegah keberangkatan para delegasi Ansarullah ke Jenewa dan partisipasi pun mereka tertunda. Perundingan yang dibarang-bayangi tekanan dari Saudi itu pun kandas. 

 

Pasca kegagalan perundingan Jenewa, delegasi Ansarullah dan para perwakilan dari mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, serta para utusan dari gerakan selatan, beberapa kali bertemu dengan Ismail Ould Cheikh, di Muscat, ibukota Oman. Hasil dari pertemuan tersebut adalah kesepakatan tujuh butir Muscat. Di antaranya disebutkan penarikan mundur pasukan Ansarullah dan militan pro-Ali Abdullah Saleh dari wilayah Selatan, dan kedua pihak memenuhi komitmen tersebut dan mundur dari wilayah selatan Yaman. Berbagai masalah di selatan Yaman termasuk meluasnya kehadiran kelompok teroris al-Qaeda, bermunculan setelah pasukan Ansarullah dan militan pro-Ali Abdullah Saleh keluar dari wilayah tersebut dan menyerahkan kontrol keamanan kepada kelompok-kelompok lokal.

 

Ismail Ould Cheikh telah melakukan berbagai upaya pelaksanaan perundingan putaran kedua kelompok-kelompok Yaman. Akhirnya setelah sempat tertunda beberapa kali, perundingan itu digelar 15 Desember di Swiss, namun gagal mencapai hasil. Pasalnya terdapat friksi tajam antarkelompok peserta perundingan. Sebagai contoh, delegasi dari pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri, bersikeras menuntut pelaksanaan resolusi 2216 Dewan Keamanan PBB, akan tetapi perwakilan Ansarullah dan utusan Abdullah Saleh menekankan pelaksanaan kesepakatan tujuh poin Muscat.

 

Masalah lain yang mempengaruhi kegagalan perundingan Swiss itu adalah pelanggaran gencatan senjata tujuh hari yang telah dimulai sebelum pelaksanaan perundingan. Pada hari pelaksanaan perundingan, Arab Saudi melanggar gencatan senajta tersebut dan selama perundingan berlangsung, jet-jet tempur Saudi melanjutkan serangannya ke berbagai wilayah Yaman. Pada perundingan Swiss, disepakati pelaksanaan perundingan putaran mendatang pada 14 Januari 2016. Akan tetapi friksi tajam antarpihak peserta menggagalkan pelaksanaan perundingan dan hingga kini belum jelas kapan perundingan akan terlaksana.

 

Meski perundingan akan terus berlanjut di bawah mediasi dan pengawasan PBB, namun ada tantangan serius yang menghadang dan segera akan membuat perundingan itu kehilangan pengaruhnya menghentikan atau mereduksi krisis. Tantangan utama kegagalan perundingan kelopok-kelompok politik Yaman dikarenakan pelanggaran Arab Saudi. Riyadh gagal menyingkirkan Ansarullah dari struktur kekuasaan di Yaman dan enggan menerima perundingan yang melibatkan Ansarullah.

 

Arab Saudi menilai Ansarullah sebagai pemain ilegal dalam transformasi Yaman dan kehadiran gerakan kelompok itu dalam perundingan berarti penerimaan legalitasnya. Namun di sisi lain, penyingkiran Ansarullah dari struktur kekuasaan dan kekuatan Yaman nyaris mustahil. Kehadiran Ansarullah dalam perundingan politik bukan hanya tidak menghapus Ansarullah dari struktur politik negara itu bahkan semakin memperkokoh kehadirannya dalam pemerintahan mendatang Yaman.

 

Itu berarti terealisasinya tuntutan Ansarullah dalam transformasi Yaman dan kegagalan acuan Arab Saudi. Oleh karena itu, rezim al-Saud dengan segala cara berupaya menghalangi tercapainya kesepakatan perundingan kelompok-kelompok Yaman. Karena hanya dengan cara itu, Arab Saudi bisa menindaklanjuti krisis Yaman di medan pertempuran dan dalam kontinyuitas bombardir berbagai wilayah negara itu. Riyadh tentunya berharap cara ini dapat menekan Ansarullah.

 

Tantangan penting lain akibat kegagalan perundingan Yaman-Yaman adalah karena salah satu pihak perunding tidak memiliki cukup wewenang untuk memutuskan kesepakatan, serta bahwa kepentingan politik dan kelompok menjadi prioritas di atas kepentingan nasional. Pemerintah Mansur Hadir yang telah mengundurkan diri, meski mendapat dukungan dari sejumlah negara regional dan juga masyarakat internasional, sudah tidak mendapat tempat di mata rakyat Yaman karenatelah melarikan diri ke Arab Saudi. Adapun eksistensinya tetap berhatan karena dukungan regional khususnya Arab Saudi.

 

Pemerintah Mansur Hadi yang telah mengundurkan diri dan melarikan diri ke Arab Saudi itua berniat kembali berkuasa di Yaman dan masalah ini tidak dapat diterima delegasi Ansarullah dan Ali Abdullah Saleh. Oleh karena itu, delegasi pemerintah Mansur Hadi selama perundingan selalu menekankan pelaksanaan resolusi 2216 Dewan Keamanan PBB, yang menyebutkan bahwa Mansur Hadir merupakan presiden sah Yaman.

 

Ancaman disintegrasi, adalah skenario lain yang dapat terjadi di Yaman. Yaman saat ini tidak memiliki pemerintahan nasional. Terdapat pemerintahan Mansur Hadir yang setelah enam bulan melarikan diri ke Arab Saudi, kembali ke provinsi Aden, Yaman selatan, serta membentuk kabinet. Sementara wilayah-wilayah utara Yaman berada di bawah kontrol mantan presiden Ali Abdullah Saleh dan kelompok Ansarullah dan didukung militer Yaman. Namun pemerintah Mansur Hadi juga tampil di kancah internasional sebagai perwakilan rakyat Yaman.

 

Masalah lain yang mengancam disintegrasi Yaman adalah pengokohan partisipasi al-Qaeda dan ISIS di berbagai wilayah khususnya Yaman selatan. Al-Qaeda yang sejak 1990 beraktivitas di Yaman, semakin menguat pada periode revolusi tahun 2011 akibat manajemen buruk Ali Abdullah Saleh. Sekarang, kehadiran kelompok teroris itu juga semakin menguat mengingat kekosongan kekuasaan Yaman. Kini al-Qaeda sedemikian kuat sampai mantan presiden buron Yaman, menawarkan provinsi Hadramaut kepada al-Qaeda dan ISIS sebagai imbalan kedua kelompok tersebut meninggalkan provinsi Aden.

 

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa krisis Yaman akan berlanjut di medan perang, perundingan, sementara pada saat yang sama kemungkinan disintegrasi juga semakin menguat.  (IRIB Indonesia/MZ)

Selanjutnya di kategori ini: « Parameter Caleg Iran

Add comment


Security code
Refresh