Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 23 Februari 2016 02:19

Dunia Modern, Ajang Perang Lunak Imperialis Dunia (4)

Dunia Modern, Ajang Perang Lunak Imperialis Dunia (4)

Setelah runtuhnya sistem bipolar dan berakhirnya Perang Dingin, kekuatan-kekuatan hegemoni mulai meninggalkan cara-cara lama untuk menguasai dunia dan merealisasikan tujuan-tujuannya. Mereka sekarang memilih perang lunak ketimbang menggunakan sarana materi.

 

Metode perang lunak untuk pertama kali diuji coba di Eropa Timur pada dekade 1980-an. Para pejabat Amerika Serikat mampu mendorong – dengan dukungan media, lembaga sosial, dan organisasi non-pemerintah – terbentuknya gerakan sipil demokratik.

 

Metode ini memiliki simbol budaya, dialog, dan ideologi. AS tidak lagi menggunakan langkah-langkah terorganisir untuk melancarkan kudeta langsung dan sekarang memanfaatkan sarana perang lunak dengan memprovokasi protes sosial di negara-negara target. Sementara pada dekade antara 1940 sampai 1980-an, model hegemoni dan bentuk intervensi di negara-negara lain adalah menggunakan sarana diplomatik, dinas-dinas intelijen, dan isu-isu keamanan.

 

Model seperti itu dapat ditemukan dalam aksi kudeta AS terhadap pemerintah Mohammed Mossadegh di Iran pada tahun 1953 dan di Guatemala pada 1954 serta penggulingan Salvador Allende di Chile pada tahun 1973. AS menggunakan sarana intervensi langsung di semua peristiwa tersebut.

 

Pasca runtuhnya Uni Soviet, para pejabat Washington berkesimpulan bahwa aksi-aksi langsung dan konfrontasi tidak lagi mampu memenuhi kepentingannya di era modern. Oleh karena itu, mereka lebih memilih perang proksi untuk menciptakan peluang menggoyah kekuatan struktural negara-negara target. Para pejabat AS mulai menyadari bahwa kekuatan sipil di negara tujuan sebagai amunisi utama dalam perang lunak untuk mewujudkan kepentingannya. AS juga menggunakan cara ini dalam melawan sistem sosialis yang menguasai Afghanistan.

 

Pada masa itu, AS memobilisasi kekuatan sipil dan pasukan suku Arab-Afghan di mana pada dekade 1990-an, mereka mampu membentuk organisasi-organisasi seperti, Taliban dan Al Qaeda. Washington memberi dukungan dana, senjata, dan pelatihan militer kepada mereka. Mantan Panglima Militer AS dan NATO di Afganistan, Jenderal Stanley A. McChrystal juga membenarkan perkara itu.

 

AS juga menggunakan pengalaman itu di Nikaragua dalam format perang sipil dan setelah Daniel Ortega berkuasa di negara itu, Washington berkepentingan untuk menciptakan ketegangan dan krisis di kawasan itu serta memprovokasi kubu oposisi pemerintah melawan Ortega. Model serupa juga diterapkan di Angola ketika AS membantu pemerintah setempat memerangi UNITA.

 

Sejalan dengan kepentingan imperialisnya, pemerintah AS membentuk berbagai kelompok dan organisasi seperti, kelompok munafikan (MKO) untuk melawan Republik Islam Iran. Namun, mereka gagal mencapai tujuannya di Iran. Semua kelompok tersebut sama-sama memainkan peran pengganti dan dalam konsep perang lunak, mereka melancarkan aksi untuk mendelegitimasi sebuah pemerintahan.

 

Dengan demikian, perang proksi diciptakan di ruang publik dalam format perang lunak. Model ini mengalami perubahan besar-besaran pada dekade 1990-an. Pada tahun 1994, Presiden Bill Clinton mengemukakan konsep memperluas demokrasi. Sementara tahapan lain dari perang lunak dapat ditemukan di negara-negara Asia Tengah, Kaukasus, dan negara-negara bekas Uni Soviet sebagai Revolusi Beludru.

 

Model itu mendapat perhatian besar dari para teoritisian Amerika sekelas, Henry Kissinge dan Zbigniew Brzezinski. Mereka dalam studinya mengkaji tentang cara mentransfer nilai-nilai politiknya ke wilayah lain. Dengan memperhatikan efektivitas metode tersebut, sejumlah pejabat Washington meminta alokasi dana yang lebih besar untuk membiayai perang lunak. Mereka berkesimpulan bahwa ketika kita tidak mampu memaksa raga mereka tunduk, maka kita harus membuat jiwa mereka terpesona dengan kita.

 

Jika AS berhasil mengubah “identitas asli” masyarakat di negara-negara tujuan, maka tidak ada lagi kebutuhan untuk berperang dengan wilayah itu. Sebab, pemikiran masyarakat telah mereka kuasai dan itu sudah cukup untuk sebuah kekuatan hegemonik. Para teoritisian Barat menilai tujuan itu akan mungkin dicapai melalui aksi propaganda dan operasi psikologis serta mengontrol dan menyakinkan opini publik. Menurut mereka, operasi psikologis harus memanfaatkan rumor ketimbang realitas dan dengan cara ini, kesadaran semu akan tercipta di tengah masyarakat.

 

Salah satu cara untuk memprovokasi opini publik dalam konsep perang lunak adalah menciptakan rumor dan desas-desus. Dalam proses ini, sasarannya adalah semua kelompok sosial dan politik. Para aktor perang lunak awalnya memulai operasi psikologis lewat media dan sarana-sarana lain untuk inflitrasi di masyarakat umum, kemudian menyasar tokoh atau kelompok tertentu untuk memperluas pengaruhnya.

 

Musuh menganggap jalan terbaik untuk mencapai tujuannya adalah aksi inflitrasi. Banyak orang berpikir bahwa infiltrasi hanya bermakna meyakinkan individu untuk melakukan pekerjaan tertentu untuk kepentingan sebuah negara. Namun anggapan ini tidak benar. Dalam banyak kasus, mereka hanya ingin mengubah motivasi dan keyakinan umum seorang individu sehingga proyek aksi infiltrasi sepenuhnya berjalan sukses.

 

Para aktor perang lunak dalam aksinya bahkan tidak memakai kata-kata. Mereka hanya ingin mewujudkan perubahan cara berpikir dan nilai-nilai, dan mereka akan mencapai tujuannya manakala sebuah negara tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam satu pidatonya, menyinggung fakta itu dan mengatakan, “Perang keras biasanya akan memantik emosi masyarakat dan menciptakan persatuan nasional, sementara perang lunak akan menghilangkan motivasi perlawanan dan juga memunculkan ruang untuk perselisihan.”

 

Fakta-fakta yang ada juga memperkuat analisa itu, di mana ketika perang lunak telah terbentuk, maka potensi untuk pertentangan internal akan membesar. Dengan kata lain, poros utama perang lunak adalah mengarahkan kekuatan sipil dan politik yang memiliki perbedaan pemikiran dan ideologi satu sama lain. Dengan begitu, kelompok-kelompok sipil akan meningkatkan tuntutannya, sementara pemerintah memilih melakukan perlawanan. Perseteruan politik akan muncul setiap kali masyarakat dan pemerintah berada dalam konflik. Situasi seperti ini tentu saja akan memperlemah kekuatan pemerintah.

 

Dari sisi lain, dunia modern juga memanfaatkan tiga ranah yaitu seni, budaya, dan teknologi untuk memajukan tujuan perang lunak dan inflitrasi. Mereka akan merusak budaya-budaya masyarakat setempat dan menggantikannya dengan budaya kapitalis untuk mempermudah hegemoni. Para pemimpin negara-negara Asia dan Eropa memperlihatkan keprihatinan serius tentang arus serangan budaya yang begitu cepat dan mereka percaya bahwa situasi ini dalam waktu dekat akan membuat negara mereka terancam dari segi keamanan dan politik.

 

Kekuatan-kekuatan hegemoni sekarang tampak lebih mudah mencapai tujuannya melalui proyek pecah belah dan perang mazhab. Michael Brant, mantan pejabat tinggi CIA dalam bukunya, A Plan to Divide and Destroy the Theology menulis, “AS sama sekali tidak terburu-buru untuk menggulingkan negara-negara penentangnya, karena program jangka panjang AS tentu saja penggulingan mereka.”

 

Michael Brant lebih lanjut menuturkan, “Bagian dari langkah-langkah yang sedang kami jalankan untuk strategi jangka panjang Barat adalah mengubah program pendidikan, membangun kanal satelit khususnya untuk Muslim, mengubah nama-nama Islami, menghapus konsep-konsep seperti jihad, amar makruf, dan mati syahid, serta menyebarluaskan sekularisme. Langkah ini bertujuan untuk transubstansiasi budaya Islam serta mencegah kebangkitan dan gerakan-gerakan Islam.”

 

Ini adalah sebuah fakta, di mana jika negara-negara Muslim tidak serius memikirkan jalan keluar, maka mereka harus siap menyaksikan kehadiran kekuatan-kekuatan hegemoni di negaranya. (RM)

Add comment


Security code
Refresh