Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 21 Februari 2016 01:37

Dunia Modern, Ajang Perang Lunak Imperialis Global (3)

Dunia Modern, Ajang Perang Lunak Imperialis Global (3)

Sebelumnya telah kami jelaskan tentang esensi dari perang lunak dan komponen perang jenis ini. Media perang lunak beragam bentuknya dan setiap sarana perang ini memiliki karakteristik tersendiri. Selain itu, media ini juga memiliki fasilitas dan kegunaan sesuai dengan kapasitasnya. Namun yang terpenting adalah mana medan perang lunak dan mana kelompok yang menjadi target utama perang jenis ini?

 

 

Tujuan final dari perang lunak tak beda dengan perang fisik, yakni mengendalikan dan meruntuhkan sebuah pemerintahan atau sistem politik. Namun demikian metode dan sarana yang digunakan oleh perang lunak dalam aksinya berbeda. Jika di perang normal, biasanya diawali dengan pendudukan wilayah sehingga sebuah pemerintahan runtuh serta sistem pertahanan dan keamanan sebuah negara hancur, namun di perang lunak hal ini dilakukan melalui menebar pengaruh ideologi dan nilai-nilai sebuah bangsa serta menyerang model manajemen sebuah negara yang menjadi identitas nasional.

 

Jika musuh berhasil dalam usahanya ini, maka mereka akan sukses meruntuhkan targetnya dengan menghapus legalitas dan kepercayaan kepada pemerintah yang mereka target. Sarana utama perang ini adalah kekuatan lunak khususnya kekuatan menundukkan dan media tertanam yang biasanya memanfaatkan sarana komunikasi, media dan psikologis untuk menciptakan keraguan identitas sebuah masyarakat.

 

Domain perang ini adalah menyerang ideologi, pemikiran, keyakinan, nilai dan kecenderungan masyarakat. Pihak penyerang akan menyusun strategi untuk merusak domain tersebut dan pada akhirnya menguasai opini serta nurani rakyat di sebuah negara yang menjadi target. Serangan tersebut untuk mengubah struktur di tengah masyarakat.  Dengan kata lain, perang lunak adalah perang mengubah model dan teladan. Pihak penyerang di perang ini menebar keraguan terhadap prinsip dan nilai-nilai fundamental sebuah pemerintahan serta membekukan teladan sebuah pemerintahan di berbagai bidang sosial.

 

Pakar perang lunak menyebutkan beragam dimensi perang ini. Namun demikian ada tiga arena yang lebih penting dari arena lainnya. Dimensi budaya, politik dan sosial. Menurut mereka mukaddimah dari perang lunak di bidang politik yakni memandulkan model politik yang ada, serangan budaya atau merusak identitas budaya sebuah bangsa.

 

Oleh karena itu, dimensi budaya merupakan dimensi terpenting di perang lunak, karena musuh memanfaatkan mekanisme budaya untuk mengubah nilai-nilai fundamental sebuah masyarakat seperti  tauhid, keadilan dan pandangan mendasar seperti persepsi mengenai pihak asing, bentuk pemerintahan, dan hubungan sosial. Hasil dari perang lunak di bidang budaya adalah transmutasi budaya dan perubahan identitas.

 

Sementara itu, di bidang politik, musuh berusaha merusak model pandangan, sikap dan reaksi warga terhadap pemerintah dan lembaga politik sebuah negara. Musuh dalam hal ini akan mendorong warga untuk menggelar protes, demo dan aksi mogok. Lebih jelasnya, musuh berusaha memaksa warga untuk membangkang dan memberontak. Di model perang lunak ini yang menjadi target adalah model politik sebuah negara.

 

Ketika perang lunak terbentuk, maka akan muncul kontradiksi di dalam sebuah struktur. Dengan kata lain, poros utama perang lunak adalah menggiring kekuatan sosial dan politik yang memiliki kontradiksi ideologi dan analisis. Kekuatan ini jika saling kontradiksi akan mengirim komponen konfliknya ke struktur politik dan melalui mekanisme ini, friksi internal akan meningkat tajam. Jika hal ini terjadi maka sikap pemerintah atau bahkan bentuk sebuah pemerintahan secara bertahap akan mengalami perubahan. Parahnya lagi legalitas, akseptabilitas dan efektivitas model politik yang ada akan diragukan. Oleh karena itu, sejumlah revolusi berwarna juga menjadi salah satu metode perang lunak.

 

Berbagai peristiwa selama beberapa tahun terakhir di Ukraina merupakan contoh dari proses ini. Mayoritas pengamat politik menilai statemen deputi menlu Amerika Serikat sebagai pembenaran atas pelancaran perang lunak di Kiev oleh Washington. Saat diwawancarai televisi CNN, ia mengakui bantuan miliaran dolar oleh Washington kepada sejumlah gerakan politik dan sosial di Ukraina. Dikatakannya, AS sedikitnya menyalurkan bantuan sebesar lima miliar dolar untuk membantu apa yang diklaim sebagai dukungan terhadap warga Ukraina untuk memiliki pemerintahan yang kuat dan demokratis.

 

Sebelumnya berbagai laporan juga dirilis mengenai statemen serupa terkait Ukraina. Menurut statemen ini, bantuan tersebut dimulai sejak runtuhnya Uni Soviet dan diberikan kepada gerakan politik dan sosial yang dekat dengan Barat. Berdasarkan informasi yang ada, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) selama satu dekade lalu mengalokasikan dana cukup besar bagi pelatihan perwira militer Ukraina dan hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat militer negara ini enggan menangani para demonstran.

 

Sementara itu, dimensi ketiga perang lunak adalah dimensi sosial. Di antara komponen dimensi sosial perang lunak adalah reaksi sosial, hubungan dan interaksi, tradisi serta perilaku massa. Musuh di perang lunak berusaha mengusai identitas masyarakat dan mempengaruhi solidaritas sosial, semangat nasional, investasi sosial, teladan perilaku dan ketergantungan nasional.

 

Dengan demikian, ketika sebuah sistem sosial mulai lemah kekuatan identitasnya, maka wajar tidak akan ada kekuatan yang mampu mengorganisir identitas yang tercerai berai dan lebih penting lagi bahwa tidak akan lagi kemampuan yang dapat mempersatukan keyakinan masyarakat. Di kondisi seperti ini, wajar jika isu keamanan yang merupakan tujuan utama kebijakan luar negeri setiap pemerintahan semakin lemah, karena solidaritas sosial yang menjadi peluang bagi kerjasama dan partisipasi yang dibutuhkan oleh setiap kubu untuk menciptakan keamanan tidak ada lagi.

 

Musuh di perang lunak untuk jangka panjang mengharapkan mampu mempengaruhi perilaku audiens, karena di doktrin perang lunak prinsipnya adalah rakyat sebuah negara yang menjadi target sehingga tujuan mereka dapat terealisasi. Oleh karena itu, keharusan dari prinsip ini adalah menguasai nurani serta ideologi rakyat. Siapa saja yang mampu menguasai hati dan pemikiran rakyat sebenarnya bekerja untuk musuh.

 

Musuh berusaha merusak tekad dan motivasi rakyat dan membuat mereka menjadi manusia yang tidak peduli atau menjadi massa yang suka membangkang. Tak hanya itu, musuh juga berusaha untuk menciptakan kesenjangan di antara rakyat dan pemerintah. Perang lunak di level ini akan sangat mempengaruhi tingkat dukungan rakyat terhadap pemerintah.

 

Kini pertanyaannya adalah, metode apa yang efektif untuk menguasai rakyat sehingga ambisi musuh dengan mudah terealisasi? Menurut pakar sosiolog, metode tersebut sebenarnya mudah dan sederhana, namun di sisi lain juga sulit. Oleh karena itu, musuh mulai memasuki dimensi kognitif dan emosional untuk mempengaruhi nurani serta pemikiran masyarakat. Musuh menggunakan metode psikologis seperti kepuasan, bujukan, mengubah persepsi, dan pencucian otak dengan harapan mampu mempengaruhi pemikiran, benak dan sistem kognitif audiens.

 

Adapun tujuan di dimensi emosional adalah menguasai hati dan menggerakkan seseorang untuk melakukan aksi tertentu. Musuh di perang lunak berusaha menguasai sistem emosional audiens dan persepsi mereka. Misalnya, mereka berusaha membangkitkan kebencian masyarakat terhadap pemerintah dan menarik kecenderungan dan minat masyarakat kepada mereka (musuh). Menguasai hati seseorang biasanya dilakukan dengan memberi kepuasan dan provokasi. Membuat seseorang puas akan sesuatu kian mempermudah untuk menguasai emosionalnya. Musuh dalam hal ini menerapkan metode psikologis dan mental untuk membangkitkan masyarakat.

 

Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa di perang lunak bukan hanya rakyat di berbagai negara yang menjadi target, namun pemerintah dan tokoh nasional pun tak luput dari sasaran. Level perang lunak ini menempati posisi strategis berbagai negara serta kembali pada para pemimpin dan elit politik negara tersebut. Ini juga dapat disebut sebagai level tertinggi perang lunak. Tujuan dari perang lunak di level ini adalah melemahkan pengaruh dan mainstreaming elit politik baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

 

Semakin kuat musuh berhasil menekan kekuatan dan pengaruh elit politik sebuah negara atau menundukkan mereka sehingga bersedia mengikuti musuh, maka peluang kemenangan kian besar. Di level perang lunak ini, diupayakan untuk mensabotase prediksi elit politik atas setiap fenomena. Atau dengan serangan psikologis terhadap mereka, tekad elit politik sebuah negara akan dapat diubah. Musuh di perang lunak di level ini memanfaatkan manajemen persepsi. Metode ini menarget individu dan elit politik serta berusaha membujuk mereka atas satu isu tertentu dan mendiktekan kepada mereka informasi khusus sehingga peluang untuk mengontrol pemikiran mereka terbuka lebar.

 

Mencermati kinerja pelaku perang lunak selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa meski proses perang lunak di negara-negara Eropa timur, Asia Tengah, Kaukasus dan Timur Tengah tak sama, namun begitu model perang ini memiliki karakteristik yang sama yakni massa dimotivasi untuk menimbulkan gelombang politik sehingga terbuka peluang bagi aksi protes massa guna menggulingkan sebuah pemerintahan. (MF)

Add comment


Security code
Refresh