Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 18 Februari 2016 08:44

Dunia Modern, Ajang Perang Lunak Imperialis Global (2)

Dunia Modern, Ajang Perang Lunak Imperialis Global (2)

Salah satu karakteristik unggul perang lunak adalah mengabaikan gesekan fisik selama pertempuran. Perang lunak termasuk bagian dari perang budaya. Musuh di perang lunak berusaha merampas dan menguasai ideologi serta nilai-nilai sebuah bangsa. Penguasaan emosi dan ideologi merupakan tujuan utama perang lunak dan ketika tujuan ini tercapai, sejatinya front seberang (target) akan berubah menjadi bagian dari penyerang.

 

 

Di kondisi seperti ini, tidak diperlukan lagi militeralisme untuk menyerang sebuah negara atau intervensi langsung untuk mengubah sebuah pemerintahan, namun tujuan ini direalisasikan oleh rakyat negara target yang telah dikuasai secara mental oleh musuh. Oleh karena itu, wajar jika sarana untuk merealisasikan tujuan di perang ini berupa budaya, ideologi dan pemikiran serta bukannya sarana militer umum. Pada dasarnya sarana seperti ini menjadi karakteristik pembeda dengan perang konvensional yang menggunakan senjata dan bentrokan fisik.

 

Jika kita ingin menyebut sarana terpenting dan paling efektif di perang lunak, maka tak diragukan lagi sarana tersebut adalah media, baik itu media maya atau pun bukan seperti koran, majalah, kantor berita, radio, televisi, satelit dan internet. Kesemuanya ini merupakan sarana paling umum yang digunakan di perang lunak. Tugas utama media adalah menyampaikan pesan dari lawan kepada audiens dan proses ini memainkan peran penting dalam membangun opini publik.

 

Karakteristik ini mendorong media dewasa ini berperan lebih dari misi utamanya, yakni sekedar sebagai sarana informasi. Kini media menjadi sarana untuk mensukseskan ambisi kubu imperialis dunia. Sarana ini menjadi ancaman bagi keamanan di berbagai level baik itu, individu, nasional, internasional maupun global. Jika kita mencermati secara seksama upaya yang telah dilakukan di bidang berbagai media, maka dengan mudah kita dapat menyaksikan realita pahit ini.

 

Radio dapat dikatakan sebagai sarana paling kuno di perang lunak. Media ini yang memiliki kemampuan menyebarkan informasi ke luar perbatasan dan memiliki akses luas kepada para audiens, selama satu abad lalu, memainkan peran signifikan dalam membentuk opini publik dan kontras media antar negara, kelompok dan bahkan sebuah bangsa. Sebut saja aktivitas Radio Liberty/Free (Kebebasan) di perang dingin terhadap blok timur dan Uni Soviet. Radio ini menjadi sarana utama Amerika Serikat untuk menebar propagada anti Uni Soviet di perang lunak. Bahkan banyak pakar yang menyebut sarana ini memiliki peran penting di tumbangnya Uni Soviet.

 

Dewasa ini, meski media lebih canggih bermunculan, disebabkan sejumlah alasan, radio masih mendapat tempat di sejumlah besar warga dunia. Karakteristik ini mendorong kubu imperialis tetap menggunakannya di perang lunak. Melalui radio, kubu imperialis menebar propaganda negatif terhadap negara yang mereka target dan berusaha merusak bidang politik, ekonomi, budaya dan pendidikan sebuah negara. Mereka membesar-besarkan sisi negatis dan mengecilkan berbagai prestasi.

 

Setelah radio, televisi merupakan salah satu media penting di perang lunak. Kini ada ujar-ujar “televisi saat ini tak ubahnya mata dan telinga manusia”. Kotak sihir ini memiliki pengaruh memukau pada ideologi, moral dan perilaku audiens. Oleh karena itu, televisi menarik perhatian serius para elit politik. Meski televisi memiliki banyak sisi positif, namun ia tetap menjadi sarana yang paling tepat bagi kubu imperialis global untuk menarget opini audiens dan mengarahkan mereka sesuai dengan kepentingannya.

 

Selama beberapa tahun terakhir, televisi juga mulai aktif di dunia maya, sehingga kubu imperialis memiliki peluang lebih besar untuk mensukseskan ambisinya. Misalnya, jaringan televisi internet BBC Farsi yang mulai mengudara pada tahun 2007, memainkan peran sangat aktif di pemilu presiden ke-10 Republik Islam Iran. Bahkan sejumlah pengamat meyakini bahwa pada dasarnya filsafat pembentukan televisi ini adalah masalah pemilu presiden Iran.

 

Televisi BBC Farsi sejak beberapa pekan penyelenggaraan pemilu presiden Iran periode ke-10 secara halus melontarkan isu kecurangan di pemilu dan secara bertahap berubah menjadi corong kubu pro Barat di Iran. Pasca pemilu, televisi ini secara transparan membela para pengacau dan merilis berita tersebut secara berlebihan.

 

Di kasus perang lunak ada dua media baru dan pengaruhnya lebih luas dengan fasilitas yang memukau. Keduanya adalah internet dan satelit. Dua sarana ini memiliki kemampuan mengejutkan karena dengan mudah melampaui sekat-sekat geografi dan menyihir para audiens. Dua media ini juga berhasil menampilkan beragam acara dan program yang menarik bagi audiens. Dengan demikian internet dan satelit (televisi satelit) menjadi sarana terpenting bagi pelaku perang lunak.

 

Media ini dengan beragam programnya yang menarik mampu merusak solidaritas sistem sosial dan identitas sebuah bangsa. Terlebih satelit sebagai salah satu sarana komunikasi, setelah diciptakan dengan cepat mencapai kesempurnaan dan dewasa ini kini memainkan peran utama dalam menyebarkan saluran televisi dan radio di seluruh dunia. Manfaat multi yang dimiliki satelit menempati urutan teratas di sarana media, bahkan satelit lebih cepat dalam mengirim informasi ketimbang internet. Karakteristik unggul ini membuat perang lunak di dunia semakin luas.

 

Untuk saat ini, sangat mudah mencari gelombang dan chanel televisi melalui satelit. Televisi dan radio satelit, baik yang dimanfaatkan oleh kubu pro pemerintah maupun oposisi aktif selama 24 jam penuh dan bahkan jaringan televisi dan radio yang seperitnya hanya menanyangkan program entertainment dengan mudah dapat dijadikan sarana untuk melancarkan pernag lunak, melalui operasi psikologis, penebaran desas-desus, perang mental maupun propaganda politik.

 

Sejatinya seiring dengan kemajuan sains, ketika manusia berhasil menaklukkan ruang angkasa dan menempatkan satelit di orbit, kubu imperialis tanpa mengindahkan segmentasi politik, mulai menebar pengaruh di berbagai penjuru dunia dan tidak memandang kedaulatan nasional negara lain. Saat ini tidak ada negara dunia yang lepas dari gelombang jaringan satelit. Luasnya domain gelombang satelit mengubahnya menjadi sarana paling penting dalam mempercepat terealisasinya ambisi kubu imperialis di perang lunak.

 

Satelit adalah media yang membuat kubu imperialis mampu mengubah persepsi, ideologi dan perilaku mayoritas rakyat di berbagai dunia. Karakteristik unggul satelit ini mendorong isu penyebaran informasi melalui sarana ini bahkan melebihi serangan bom di perang fisik.

 

Sementara itu, urgensitas internet sebagai salah satu media baru juga sangat transparan. Mengingat daya tarik besar dan pengaruh luas media komunikasi ini di berbagai masyarakat serta biaya murah, mungkin untuk saat ini tidak ada sarana media sosial yang mampu menyainginya. Internet telah menciptakan kondisi di mana seseorang tanpa bantuan yang lain dengan biaya murah mampu memanfaatkan fasilitas besar dunia maya. Pengaruh besar media ini di banding dengan media lain membuatnya disematkan sebagai sarana terpenting di perang lunak dalam menyerang budaya dan pemerintahan di berbagai negara. Sarana ini juga memiliki kekuatan menakjubkan sehingga para arsitek perang lunak dengan biaya mudah mampu menghancurkan kubu penentang mereka.

 

Kekuatan jaringan di internet dan munculnya laman sosial mampu membuatnya memainkan peran serius dan menentukan dalam menciptakan pemberontak, kubu politik dan sosial. Di peristiwa pasca pemilu presiden ke-10 di Iran, peran laman sosial seperti twitter dan facebook dalam mengobarkan kekacauan sangat jelas bagi semua orang. Melalui penyebaran berita palsu, audiesn mulai diprovokasi untuk mengobarkan kekacauan di Republik Islam Iran.

 

Namun demikian poin ini harus diperhatikan bahwa kekuatan global bukan saja memanfaatkan media sosial ini untuk mengubah persepsi dan ideologi rakyat di negara yang mereka target, namun juga menggunakannya untuk menjustifikasi aksi mereka dan bahkan mempermainkan keyakinan dan nilai-nilai rakyatnya sendiri, serta untuk membuat rakyatnya mendukung mereka, kubu ini tak segan-segan menebar gambar palsu atas apa yang terjadi di dunia guna memajukan ambisinya.

 

Misalnya Amerika Serikat masih membutuhkan nilai-nilaiyang dipercayai rakyatnya selama proses imperialisnya dan dengan bantuan mereka, Washington mampu menjustifikasi ambisinya. Oleh karena itu, pasca tumbangnya blok timur, Amerika masih membutuhkan untuk mengenalkan musuh baru demi melanjutkan kebijakan pengobaran perangnya. Padahal hal ini kontradiksi dengan nilai dan keyakinan rakyatnya sendiri. Salah satunya adalah menebarkan Islamphobia yang menjadi salah satu kebijakan Amerika Serikat saat ini. (IRIB Indonesia/MF)

Add comment


Security code
Refresh