Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 16 Februari 2016 14:45

Penderitaan Anak-anak Suriah

Penderitaan Anak-anak Suriah

Ailan hanya mengecap kehidupan dunia selama tiga musim semi. Ketika Ailan lahir, penduduk di kotanya sedang menderita akibat kejahatan kelompok teroris Takfiri. Ia ingin menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan gembira dan penuh energi, namun hal ini sulit dilakukan mengingat kondisi lingkungannya dan kekhawatiran mendalam sang ibu. Ailan mendengar detak jantung ibunya yang penuh kekhawatiran ketika berada digendongannya.

 

Sementara itu, kakak Ailan yang berusia lima tahun dengan cepat memahami bahwa seluruh harapan ayah dan ibunya menguap. Ketika ayahnya hanya memiliki satu harapan untuk membahagiakan keluarganya dan dengan terpaksa membawa mereka keluar dengan menumpang perahu, Ailan dengan kuat berpegangan pada ayahnya. Hanya selang beberapa jam, ombak besar telah merenggut pegangan Ailan dari tangan ayahnya dan ia terseret ombak. Badan kecil Ailan dipermainkan ombak laut. Deru ombak menggantikan teriakan lemah Ailan. Sehari kemudian, di pinggir pantai Turki, sosok jenazah Ailan mengguncang dunia dan lembaran sejarah umat manusia kembali dipenuhi noktah hitam. Di hari-hari berikutnya, masyarakat dunia kembali menyaksikan jenazah anak-anak pengungsi Suriah di pantai. Sampai saat ini, perahu harapan pengungsi Suriah masih terus berjuang melawan keganasan ombak di lautan.

 

Halima, anak perempuan lain yang berhasil selamat. Perjalanan panjang tanpa air dan makanan yang cukup membuat Halima lelah dan menderita sakit. Sementara itu, saudaranya yang masih menyusu tak mampu bertahan menempuh puluhan kilometer perjalanan tanpa makanan yang cukup, ia akhirnya meninggal di pejalanan. Halima saat ini bersama ribuan pengungsi lainnya meninggalkan tanah airnya dan mengarungi lautan asing. Pemandangan mengerikan berupa kepala-kepala yang dipenggal dan badan berlumuran darah, mimpi buruk Halima setiap malam.

 

Ayah Halima, seorang petani sederhana dengan dalih menolak bekerjasama dengan kelompok teroris Takfiri dibantai dengan sadis. Setelah berbulan-bulan mengalami penderitaan, kini Halima beserta ibunya memasuki Eropa bersama pengungsi Suriah lainnya. Ibunya tidak memiilki kekuatan lain, dan harapan hidupnya hanya Halima. Halima berusia sembilan tahun dan pemikiran kanak-kanaknya masih belum mampu mencerna seluruh penderitaan yang ada.

 

Halima tidak memiliki perpektif masa depan sama sekali. Keamanan, sebuah kata yang tidak memiliki makna sama sekali bagi Halima dan semisalnya. Pandangan Halima kosong dan terkadang tangannya tak henti-henti bergetar. Ia kini berada di negara yang warganya memandang dirinya asing. Salah satu pengungsi mengingatkan ibu Halima untuk berhati-hati. Ia berbicara mengenai perbudakan seks dan penyelundupan anggota badan pengungsi. Halima tidak memahami perkataan ini dengan baik, namun dari pandangan khawatira ibunya, ia memahami bahwa di negara ini mereka masih mengalami ancaman besar. Penderitaan akibat penyakit, kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal menjadi semakin kecil di hadapan berita baru ini.

 

Tangan-tangan rapuh anak-anak Suriah dan Irak tidak mendapat banyak perhatian di arus pengungsi. Dosa anak-anak ini adalah mereka lahir di Suriah atau Irak. Nasib anak-anak pengungsi adalah kehilangan rumah, keluarga atau orang tua, menyaksikan pemandangan mengerikan, mengemis atau bekerja keras di jalan-jalan negara asing. Menurut laporan Europol, hingga kini sebanyak 270 ribu pengungsi anak-anak tercatat di sistem imigrasi Eropa. Selain itu, sebagian besar mengungsi ke Lebanon, Turki dan negara-negara kawasan.

 

Mayoritas anak-anak tersebut kehilangan orang tua mereka di kekerasan yang terjadi di negara mereka atau terpaksa mengungsi ke negara asing tanpa pengawas. Hanyak sedikit dari pengungsi yang menempati kamp-kamp khusus, dan banyak dari mereka hidup di pinggir jalan, sekitar kota atau daerah perbatasan dengan fasilitas yang sangat rendah. ISIS mencap mereka berdosa dan kafir serta kejahatan lainnya. Dan kini di Barat mereka juga diperlakukan sama dengan alasan keislamannya sehingga tidak mendapat fasilitas hidup yang layak serta diperlakukan dengan kasar.

 

Dunia Islam kini ditimpa musibah besar akibat perpecahan. Para pemimpim imperialis, Amerika beserta sekutu Baratnya merancang skenario busuk untuk mengalahkan Islam dan menguasai wilayah-wilayah Islam. Mereka milih untuk mendukung kelompok radikal dan menciptakan kelompok teroris di wilayah Islam sebagai sarana terbaik untuk meraih ambisi mereka.

 

Hillary Clinton, mantan menteri luar negeri Amerika Serikat saat di Kongres mengakui bahwa kelompok teroris al-Qaeda diciptakan oleh Amerika dan Washington mendukung kelompok ini. Kini meski beragam klaim palsu keluar dari mulut Barat terkait perang anti terorisme, dukungan nyata Amerika terhadap ISIS dan sejenisnya dipahami oleh semua pihak. Kini yang menjadi korban kebijakan kejam imperialis adalah anak-anak tak berdosa dunia Islam. Namun sebagian pemerintah Arab yang mengklaim sebagai negara Islam dan memiliki kekayaan cukup, tidak menunjukkan reaksinya terhadap isu pengungsi dan instabilitas di kawasan.

 

Anak-anak Suriah dan Irak adalah anak-anak tak berdosa dan mimpi buruk kejahatan Takfiri telah merenggut mimpi-mimpi indah masa kecil serta masa depan mereka. Kini mereka sangat membutuhkan perhatian serius umat Muslim dunia. Sepanjang empat tahun lalu, akibat serangan kelompok teroris dan instabilitas yang ada, jutaan warga Suriah terpaksa meninggalkan rumah mereka dan setidaknya 2,4 juta di antara mereka berlindung ke negara lain.

 

Sementara itu, jutaan lainnya terkatung-katung di dalam negeri Suriah tanpa tempat tinggal. Mayoritas di antara mereka adalah anak-anak. UNHCR dan UNICEF melaporkan, separuh dari pengungsi Suriah yang tercatat di PBB adalah anak-anak dan 740 ribu di antaranya berusia di bawah 11 tahun. Di sisi lain, pengungsi Irak pun memiliki kisah dan penderitaan yang sama.

 

Anak-anak yang mencicipi pahitnya mengungsi, kini mereka tidak mendapat fasilitas belajar. Siang dan malam bocah-bocah tak berdosa ini senantiasa dilanda kekhawatiran atas keselamatan jiwa mereka, makanan untuk bertahan hidup dan tempat berteduh untuk menghindari cuaca panas dan dingin. Sepertinya untuk beberapa tahun kedepan, anak-anak malang ini tidak mungkin melanjutkan belajar mereka atau mendapat pendidikan paling dasar.

 

Generasi anak Muslim Suriah dan Irak kini telah kehilangan kesempatan belajar di usianya yagn paling dini. Selain itu, mengingat tingkat kebersihan yang rendah dan minimnya fasilitas kesehatan, bencana wabah dan penyakit menular marak di kamp-kamp pengungsi. Korban pertama dari wabah ini adalah anak-anak. Kehidupan di lingkungan yang tidak sehat membuat wabah cepat tersebar di antara pengungsi. Tidak adanya sarana kebersihan, air bersih dan makanan sehat membuat sejumlah besar pengungsi khususnya anak-anak menderita beragam penyakit seperti TBC, tipus dan lainnya.

 

Selain itu, gangguan psikologis akibat perang, instabilitas dan pengungsian membuat anak-anak ini rentan terkena beragam gangguan kejiwaan dan stress. Di tempat yang sulit untuk mencari makanan dan tempat berteduh, maka peluang untuk mengobati gangguan mental tidak mungkin ada.

 

Gambar Ziyad, anak pengungsi Palestina yang bersama ayahnya duduk di samping Cristian Ronaldo menyaksikan pertandingan Real Madrid, untuk sejenak menunjukkan sikap sejumlah warga Eropa menyikapi para pengungsi. Namun kisah puluhan ribu anak pengungsi lainnya berbeda dengan nasib Ziyad Abdulmuhsin. Anak-anak, khususnya mereka yang kehilangan orang tua akibat kekejaman kelompok teroris Takfiri, menjadi makanan empuk mafia kriminal Eropa.

 

Polisi Uni Eropa (Europol) menyatakan, selama 18 bulan lalu, lebih dari sepuluh ribu anak-anak pengungsi tanpa orang tua tiba di Eropa dan hilang. Pejabat Europol menekankan, ada kekhawatiran bahwa mayoritas dari anak-anak ini diperjualbelikan sebagai budak seks. Brian Donald, salah satu anggota senior Europol mengingatkan, sekitar lima ribu anak-anak di Italia dan seribu anak di Swedia hilang dan ada kemungkinan bahwa organisasi kriminal menarik mereka.

 

Anggota Europol ini menambahkan, terbuka peluang bahwa mereka bergabung dengan keluarga lain, namun point penting di sini adalah tidak ada informasi dan data mengenai mereka. Anak-anak tersebut dilaporkan raib setelah terdaftar di pemerintah Eropa. Berdasarkan data yang ada, di tahun 2015 sebanyak 26 ribu imigran anak-anak tanpa orang tua memasuki Eropa. Gelombang imigran ke Eropa dan dampak sosial serta ekonomi kondisi ini menjadi kendala serius bagi pemerintah Eropa.

 

Kini “Pengungsi dan Krisis Imigran” menjadi krisis serius yang dihadapi pemerintah Eropa. Krisis mengerikan ini akibat dari kebjakan haus perang dan intervensif kekuatan dunia separti Amerika Serikat, Inggris dan Perancis  selama 50 tahun terakhir di negara-negara Asia Barat. Namun dalam hal ini, peran negara-negara Islam, khususnya negara kaya Arab dalam mengurangi penderitaan pengungsi Suriah dan Irak yang memiliki kesamaan bahasa dengan mereka, sangat kecil.

 

Sebaliknya sejumlah negara tersebut, seperti Arab Saudi malah giat mempersenjatai teroris untuk mengobarkan perang semakin besar. Akibat perang dan instabilitas, setiap hari jumlah anak-anak yang menjadi pengungsi dan kehilangan orang tuanya semakin besar. Mereka adalah ratusan ribu anak-anak Muslim yang ketika lahir, ayak mereka mengumandangkan azan di telinga mereka dan beberapa tahun kemudian lidah mereka terbiasa melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. (MF)

 

Add comment


Security code
Refresh