Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 15 Desember 2015 13:26

Insiden Nardaran, Upaya Penumpasan Semangat Huseini

Insiden Nardaran, Upaya Penumpasan Semangat Huseini

Upaya pemerintah Baku untuk menghapus secara fisik warga Syiah dan melemahkan semangat keagamaan masyarakat Republik Azerbaijan terus berlanjut. Pada kasus terbaru perilaku negatif ini, pemerintah Baku, Rabu 9 Desember 2015, menangkap Haj Natiq Karimov, ketua dewan tokoh masyarakat di wilayah Nardaran. Sebelumnya polisi Azerbaijan, menangkap puluhan warga Syiah Nardaran. Kamran Karimov, putra Natiq Karimov menyatakan, ayahnya ditangkap satuan polisi khusus dan diinterogasi di markas polisi. Natiq Karimov merupakan seorang tokoh Syiah berpengaruh di Azerbaijan khususnya di wilayah Nardaran.

 

 

Kementerian Keamanan Nasional Azerbaijan dalam beberapa hari terakhir berupaya merusak semangat perjuangan masyarakat Syiah dengan memaksa para tokoh Nardaran termasuk Natiq Karimov untuk bekerjasama dengan pemerintah. Namun upaya tersebut gagal dan disebarkan isu bahwa sejumlah tokoh Nardaran telah bekerjasama dengan Kementerian Keamanan Nasional. Akan tetapi isu tersebut segera dijegal oleh Natiq Karimov. Sebelum penangkapan dan penahanan ketua dewan tokoh Nardaran, Karimov kepada media nasional dan regional mengungkap upaya pemerintah Baku untuk memaksakan tuduhan tidak berdasar terhadap warga Syiah.

 

Menurut Karimov, Nardaran tetap dikontrol ketat oleh polisi dan pasukan militer. Dalam wawancaranya dengan Televisi Sahar berbahasa Azeri, Karimov mengatakan, “Pasukan polisi menggeledah rumah-rumah para ulama dan tokoh setempat serta mengemukakan tuduhan mengejutkan, dan mereka mengklaim bahwa dari 80 persen dari rumah-rumah yang mereka geledah di Nardaran, mereka menemukan senjata. Bahkan mereka mengklaim menemukan senjata di gurun, padang rumput dan gang-gang di Nardaran. Pasukan polisi telah menggeledah lebih dari 50 rumah dan menangkap sejumlah warga.”

 

Karimov menegaskan, “Pemerintah berusaha menekan warga wilayah Nardaran dengan mempersulit  saluran air, listrik dan gas.” Ditegaskannya pula bahwa pemerintah memasang meter baru untuk gas dan listrik di mana warga hanya dapat menikmati listik atau gas dengan menggunakan kartu isi ulang. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah banyak memecat warga Syiah dari instansi pemerintahan dan membatasi peluang kerja bagi warga Syiah di Republik Azerbaijan.

 

Terkait hal ini, ketua dewan tokoh Nardaran mengkritik perilaku dan kebijakan yang diambil pemerintah terhadap masyarakat miskin Nardaran. Ditambahkannya, “Menruut saya, mengingat pengangguran 95 persen populasi wilayah Nardaran khususnya para pemuda dan kondisi pertanian yang buruk, saya tidak yakin ada orang yang bisa membayar air, listrik dan gas untuk kebutuhan keluarganya.

 

Haj Natiq Karimov juga merespon klaim soal kerjasamanya dengan Kementerian Keamanan Nasional Republik Azerbaijan dan menepisnya. Pada Senin 7 Desember 2015, ia mengatakan, “Upaya pemerintah Baku untuk menciptakan ketidakpercayaan terhadap kelompok Muslim di negara ini, akan sia-sia.” Menyinggung kondisi pendapatan yang buruk masyarakat Nardaran serta penggeledahan dan tuduhan tidak mendasar terhadap mereka, Karimov mengatakan, “Permakaman Nardaran dikontrol oleh pasukan polisi dan tidak mengijinkan masyarakat  masuk. Ahad lalu satuan khusus polisi menegebumikan seseorang di sana di mana identitasnya tidak diketahui. Ketua dewan tokoh Nardaran menegaskan bahwa sebab pelarangan pertemuan keluarga mereka yang ditahan pada 26 November adalah, agar jumlah korban tewas dalam insiden tersebut tidak diketahui masayarakat.”

 

Para pengamat menilai langkah-langkah pemerintah Baku terhadap warga Syiah di Nardaran sia-sia. Karena harus dikatakan bahwa Republik Azerbaijan dengan populasi hampir 10 juta orang yang 98 persen di antaranya adalah Muslim, dan 86 persen Muslim Azerbaijan adalah Syiah. Sementara di sisi lain, pemerintah Ilham Aliyev bersikeras berusaha mengesankan diri sebagai negara toleransi di tingkat global serta  meminta negara-negara dunia khususnya Barat untuk mengajarkan politik toleransi kepada pemerintah Baku. Namun aksi terbarunya terahdap warga Syiah Nardaran sama sekali tidak dapat ditolerir. 

 

Sekitar 12 persen populasi Azerbaijan adalah warga Muslim Sunni. Riset menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir dan pasca kemerdekaan negara ini pada 1991, warga Sunni selalu berdampingan dengan saudara-saudara Syiahnya. Selain itu, masyarakat Kristen di seluruh negara dunia bukan hanya tidak mengolok acara duka Imam Husein as, bahkan di sejumlah negara mereka bahkan mengiringinya.

 

Harus dikatakan bahwa politik anti-Islam khususnya anti-Syiah oleh pemerintah Baku bukan hanya bertentangan dengan keyakinan kaum Muslim Syiah dan Sunni Republik Azerbaijan, juga tampaknya dalam rangka memenuhi tuntutan dua persen populasi negara itu mencakup kelompok Atheist, Yahudi dan kelompok-kelompok sesat yang baru muncul.

 

Pada insiden 26 November 2015, polisi dan pasukan keamanan Republik Azerbaijan menyerang para warga Syiah yang sedang menggelar acara duka untuk kesyahidan Imam Husein as, di sebuah masjid di Nardaran, di pinggiran Baku. Insiden itu menewaskan lima warga dan melukai 30 lainnya. Menyusul langkah-langkah bodoh dan tidak bijak itu, pemerintah Baku berusaha menciptakan perpecahan di antara masyarakat Syiah. 

 

Di lain pihak, para pengamat menyatakan bahwa pemerintah Baku berniat menciptakan perpecahan di antara warga Nardaran, dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Termasuk di antaranya adalah penangkapan beruntun serta upaya menakut-nakuti warga Syiah serta pengemukaan tuduhan tidak berdasar seperti memiliki senjata dan upaya melawan undang-undang dasar. Pada saat yang sama, masalah kerjasama sejumlah warga Nardaran dengan pihak polisi dan Kementerian Keamanan, kerjasama sejumlah orang dan pemerintah Islam regional, serta upaya penggulingan pemerintah, dijadikan alasan oleh pemerintah Ilham Aliyev untuk menyukseskan tujuannya.

 

Tujuan polisi dan pasukan militer Republik Azerbaijan menangkap, menahan warga Nardaran adalah untuk menakut-nakuti dan melemahkan semangat para warga Syiah di wilayah itu, akan tetapi langkah tersebut tidak akan berlangsung lama dan tidak mungkin akan dilanjutkan untuk jangka panjang. Jelas bahwa pemerintah Baku melalui langkah tersebut berusaha menarget iman warga Syiah.

 

Para analis berpendapat bahwa pemerintah Baku tidak mungkin dapat melanjutkan politik “trial and error” ini. Apalagi sebelumnya, pemerintah Baku dengan menangkap puluhan pemimpin dan anggota partai Islam, beranggapan akan menggerus martabat keagamaan merkea dan bahkan mungkin akan menghancurkannya. Namun tidak demikian yang terjadi dan empat tahun berlalu setelah peristiwa tersebut, pemerintah Baku kembali mengulang kekeliruan yang sama. 

 

Dalam hal ini, para pejabat Azerbaijan mengambil keputusan atas dasar kegeraman. Termasuk di antaranya Gündüz İsmayılov, Wakil Komite Urusan Agama Republik Azerbaijan, pada Ahad 6 Desember 2015 menyatakan bahwa pemerintah Baku sedang berusaha melarang pelaksanaan acara peringatan Tasua dan Asyura di negara ini. Menurutnya pemerintah sedang menyusun perencanaan melarang pelaksanaan acara Tasua dan Asyura guna memperingati gugur syahidnya Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw, di padang Karbala. 

 

Parlemen Republik Azerbaijan, pada Jumat lalu, melarang pemasangan bendera dan berbagai atribut peringatan Huseini di jalan-jalan, serta menetapkan denda hingga 5.000 euro atau satu tahun penjara bagi para pelanggarnya. Di lain pihak, Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan dua pekan lalu, mencegah pelaksanaan acara besar Arbain yang setiap tahun digelar secara massif di makam Rahimah Khatun, salah satu saudara perempuan Imam Ridha as di Nardaran. Akan tetapi hingga kini politik tersebut belum mampu merealisasikan tujuan yang diacu pemerintah Baku. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh