Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 09 Desember 2015 16:49

Manusia dan Berbagai Tantangan HAM di Dunia Modern

Manusia dan Berbagai Tantangan HAM di Dunia Modern

Tanggal 10 Desember bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Hari Hak Asasi Manusia Sedunia ditetapkan pada tahun 1948 oleh Majelis Umum PBB, tiga tahun setelah pembentukan lembaga tersebut. Tujuannya adalah untuk menetapkan parameter keberhasilan kolektif untuk umat manusia di seluruh dunia.

 

 

Dalam piagam yang berisikan 30 poin Majelis Umum PBB, disebutkan berbagai pondasi sipil, budaya, ekonomi, politik dan sosial bagi seluruh umat manusia. Ide-ide fundamental yang terangkum dalam 30 poin itu merupakan hasil dari perenungan ratusan tahun dalam masalah hak asasi manusia. Pasca perenungan para filsuf yang telah selama ratusan tahun memfokuskan masalah hak asasi manusia, namun tetap dirasa perlu penyempunaan dalam piagam tersebut. Oleh karena itu, ditetapkan pula berbagai konvensi hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, budaya dan berbagai dokumen tentang hak asasi manusia.

 

Tahun ini, hari hak asasi manusia terfokus pada masalah kebebasan. Poin pertama dalam piagam HAM PBB menyebutkan, “Setiap manusia dilahirkan bebas dan setara dari sisi martabat, kehormatan dan hak-hak.” Kebebasan yang disebutkan dalam piagam tersebut dikemukakan oleh mantan presiden Amerika Serikat, Franklin Roosevelt, pada Januari 1941, di Kongres AS, atau tujuh tahun sebelum ratifikasi piagam HAM. Kepada seluruh warga Amerika Serikat dan juga seluruh masyarakat dunia, Roosevelt menjelaskan empat kebebasan bagi masa depan umat manusia, yaitu kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, terbebas dari kekhawatiran dan terbebas dari kemiskinan. 

 

Roosevelt sangat menekankan empat kategori kebebasan itu, karena masyarakat yang tidak dapat dengan bebas mengemukakan pendapatnya, masyarakat yang tidak diijinkan untuk memeluk agama, filosofi, ideologi, atau tujuan politik tertentu, dalam masyarakat yang ditumpas dan dicekam ketakutan oleh para penguasanya, dan dalam masyarakat yang tidak mampu menikmati kesejahteraan pada tingkat dasar, maka masyarakat tersebut telah kehilangan persyaratan paling mendasar untuk menikmati kehidupan yang bebas.

 

Sekjen PBB, Ban Ki-moon dalam pesannya memperingati Hari HAM Sedunia juga memfokuskan masalah kebebasan dan mengatakan, “Di antara kejahatan dan kekerasan ekstrimisme serta pelanggaran luas hak asasi manusia di seluruh dunia, pada Hari HAM Sedunia ini harus dilakukan perluasan dan pengembangan prinsip utama HAM. Karena banyak negara-negara yang menyatakan komitmennya di hadapan piagam HAM. Sekarang, menjelang peringatan ke-70 pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kita semua mampu mengambil inspirasi dari gerakan HAM kontemporer yang muncul setelah Perang Dunia II.”

 

Kebebasan termasuk di antara hak-hak esensial dan paling penting bagi umat manusia , yang akan termanifestasi di berbagai sektor. Franklin Roosevelt, menilai kebebasan berpendapat dan bergama serta kebebasan dari kemiskinan dan ketakutan, sebagai prinsip paling utama dalam hak asasi manusia. Eleanor Roosevelt, membacakan piagam HAM itu di gedung PBB di Paris, dan semua negara menyatakan mendukung empat jenis kebebasan tersebut.

 

Ban dalam pesannya tahun ini mengakui bahwa sekarang ini, muncul berbagai tantangan dalam implementasi empat kebebasan tersebut di seluruh penjuru dunia. Kebabasan berpendapat merupakan hak sah yang harus dirasakan semua manusia secara setara  yang akan membuat masyarakat bebas dalam  mengungkapkan pendapat selama tidak melanggar hak dan nilai-nilai pihak lain.

 

Terkait kebebasan yang pertama yaitu kebebasan berpendapat, Ban mengatakan, “Kebebasan berpendapat jutaan orang masyarakat dunia secara meningkat terancam dan dilanggar.” Dia kemudian menyinggung tugas masyarakat internasional untuk menjaga, membela dan memperluas mekanisme demokratis kebebasan berpendapat, serta menyiapkan peluang untuk kebebasan dalam masyarakat. Langkah ini perlu untuk menciptakan stabilitas terkait kebebasan berpendapat.

 

Adapun kebebasan kedua adalah kebebasan bergama dan berideologi. Poin ke-19 dalam piagam HAM PBB menyebutkan, “Setiap orang bebas berideologi dan menjelaskan, dan hak tersebut mencakup tidak takut atau khawatir karena memeluk dan mengikuti sebuah ideologi, serta bebas dan tidak ada pertimbangan pembatas untuk memperoleh informasi dan pemikiran serta dalam mengakses dan mempublikasikannya dengan menggunakan berbagai sarana.”

 

Ban dalam pesannya tahun ini menegaskan, “Di seluruh penjuru dunia, para teroris telah merampas agama, dengan pembunuhan massal dan kejahatan mereka mengatasnamakan agama, mereka telah mengkhianati agama. Kelompok minoritas mazhab lain menjadi target dan mereka mengacu berbagai kepentingan politik dengan memanfaatkan kekhawatiran dan ketakutan. Dalam mereaksi nestapa dunia saat ini, kita harus  menghormati keragaman agama dan berasaskan prinsip kesetaraan semua manusia, kita harus mendukung hak kebebasan beragama.”

 

Kebebasan ketiga adalah kebebasan dari kemiskinan. Dewasa ini kemiskinan telah sangat membuat masyarakat dunia menderita. Dalam hal ini, Sekjen PBB mengatakan, “Para pemimpin dunia pada bulan Desember meratifikasi agenda kerja pembangunan stabil 2030, dengan tujuan mengakhiri kemiskinan dan meningkatkan kemampuan masyarakat dunia untuk memiliki sebuah kehidupan yang terhormat dalam nuansa perdamaian dan di planet yang sehat. Oleh karena itu, saat ini kita harus sekuat tenaga berupaya merealisasikannya.”

 

Kebebasan keempat yaitu kebebasan dari rasa takut. Jutaan pengungsi dari berbagai negara dunia yang terlantar di perbatasan sejumlah negara, adalah dampak menyedihkan dari tidak terealisasikannya kebebasan tersebut. Sekjen PBB menegaskan, “Bukan hanya pada era Perang Dunia II, melainkan hari ini banyak warga yang meninggalkan rumah mereka. Mereka melarikan diri dari tanah kelahiran mereka karena takut akan perang, kekerasan dan ketidakadilan, serta berlindung ke wilayah lain di berbagai benua. Hijrah yang terkadang ditebus mahal dengan nyawa mereka, akan tetapi mereka tetap bersedia untuk menempuhnya walau dengan ancaman nyawa, demi setitik harapan.”

 

Ban dalam menjawab masalah kolektif dunia ini menjelaskan mekanisme tepat dan manusiawi seraya mengatakan, “Kita tidak boleh menutup perbatasan kita di hadapan para pengungsi, melainkan kita harus menyambut mereka dengan tangan terbuka. Kita harus membuka perbatasan kita untuk para pengungsi dan kita berupaya memberikan jaminan dan hak mereka tanpa diskriminasi. Para pengungsi dan pencari suaka yang melarikan diri dari negara mereka karena kemiskinan dan keputusasaan itu, juga berhak untuk menikmati hak asasi manusia fundamental.” 

 

Di akhir pesannya untuk peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia tahun ini, Ban menekankan komitmen PBB dan berbagai negara dalam mendukung hak-hak asasi manusia paling mendasar dan menyatakan, “Sekarang kita kembali menyatakan komitmen kita dalam mendukung prinsip-prinsip kemanusiaan dan hak asasi manusia sebagai landasan upaya kita. Perserikatan Bangsa-Bangsa bertanggungjawab menciptakan sebuah front komprehensif dan berinisiatif untuk mewujudkan tujuannya dalam mencegah pelanggaran hak asasi manusia. Juga PBB bertanggungjawab mereaksi pelanggaran HAM dalam volume besar dan meluas ini. Pada Hari HAM Sedunia ini, mari kita kembali menegaskan kembali janji kita untuk menjamin kebebasan prinsip dan dukungan terhadap HAM.” (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh