Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 30 November 2015 11:51

Menelisik Ulang Teror Paris

Menelisik Ulang Teror Paris

Jumat (13/11), Paris, ibukota Perancis diguncang serangan teror paling berdarah selama beberapa tahun terakhir. Serangan teror di Paris dilancarkan secara serentak dan dengan berbagai metode. Metode pertama menggunakan aksi bom bunuh diri di Stadion Paris. Saat itu, tim Perancis tengah berlaga melawan tim Jerman. Bersamaan dengan bom bunuh diri di Stadion Paris, seorang bersenjata menembaki warga dan di gedung konser Bataclan, dua pria bersenjata menyandera pengunjung dan menembaki sejumlah lainnya.

 

 

Selang 25 menit dari penyanderaan di gedung konser Bataclan, terjadi serangan di sebuah jalan di Paris. Tak hanya itu, hanya satu jam dari serangan bom bunuh diri di stadiun Paris, sekelompok teroris dilaporkan melakukan serangan di dekat museum dan pusat perbelanjaan di Paris. Laporan serangan teror di Paris mencengangkan dunia. Berdasarkan laporan terakhir, total jumlah korban serangan teror di Paris berjumlah 132 orang dan korban luka mencapai lebih dari 300 orang. Sementara itu, kelompok teroris Takfiri ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan brutal tersebut.

 

Operasi yang dilancarkan ISIS mengingatkan serangan kelompok teroris al-Qaeda di tahun 2004 dan 2005 di berbagai negara Eropa, seperti serangan teror di metro London dan Spanyol. ISIS yang terdesak akibat serangan beruntun Rusia di Suriah, tengah berusaha menunjukkan kekuatan terorganisir dan operasi destruktifnya di berbagai dunia. Di sisi lain, serangan ISIS di berbagai negara lain akan semakin meningkatkan peluang perekrutan anggota baru bagi kelompok radikal ini.

 

Jumlah teroris dari Eropa yang menjadi anggota ISIS didominasi Perancis. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 571 warga Perancis bergabung dengan ISIS dan dari jumlah tersebut, 245 dilaporkan telah kembali ke negaranya. Kepulangan anasir ini dan wawasannya tentang militer serta operasi bunuh diri, merupakan sebuah potensi besar yang dapat memantik serangan teror di dalam negeri.

 

Selama beberapa tahun sejumlah negara di Timur Tengah termasuk Suriah, Irak, Afghanistan dan Pakistan dilanda kekerasan dan serangan brutal kelompok teroris Takfiri. Banyak perempuan dan anak-anak tak berdosa serta warga sipil negara tersebut setiap hari terancam kejahatan mengerikan teroris. Anasir teroris tidak pernah merasa malu atas kejahatannya dan mereka tak segan-segan menyebarkan rekaman video kejahatan paling brutalnya di dunia maya.

 

Meski demikian, pemerintah Barat ternyata menunjukkan sikap yang bertentangan dengan klaim pembela Hak Asasi Manusia (HAM) yang mereka sebarkan. Menghadapi kejahatan brutal kelompok teroris, mereka tidak menunjukkan reaksi apa pun. Hal ini dikarenakan berbagai bukti dan dokumen kuat menunjukkan bahwa pendukung utama kelompok teroris Takfiri adalah Arab Saudi dan sejumlah negara kawasan Teluk Persia yang juga menjadi sekutu Barat.

 

Sejatinya dapat dikatakan bahwa Barat saat ini harus membayar kebungkaman mereka selama ini terhadap pembantaian warga tak berdosa Suriah, Irak, Yaman dan negara lainnya oleh kelompok teroris dukungan Arab Saudi. Senjata yang dibeli dengan uang Arab Saudi, kali ini mulai beralih dari warga Suriah ke warga Paris, Perancis.

 

Dunia Arab dan Barat memilih mendukung para teroris dengan tujuan mencegah transformasi kebangkitan Islam di berbagai negara Islam. Landasan dukungan terhadap teroris ini sepenuhnya keliru. Seperti yang sejak awal diingatkan oleh Republik Islam Iran kepada pemerintah Barat, bahwa terorisme tidak mengenal batasan mazhab dan teritorial, serta pada akhirnya akan mengarah kepada pendukungnya sendiri.

 

Hal ini jelas mengingat tidak ada klasifikasi terorisme baik dan buruk. Terorisme tidak pernah menghormati sebuah bangsa, mazhab atau etnis. Mereka menyerang siapa pun. Insiden serangan teror Paris terjadi hanya satu hari pasca serangan teror di Bairut selatan, Lebanon. Pada Kamis (12/11) malam  di Lebanon, ketika umat Syiah tengah menggelar ritual doa Kumail di sekitar masjid, mereka secara brutal diserang oleh teroris. Seperti yang dapat disaksikan dari korban yang mencakup perempuan, anak-anak serta beragam etnis, dapat dipahami bahwa teroris tidak mengenal mazbah atau etnis apa pun dalam melancarkan aksinya.

 

Di sisi lain, selama beberapa tahun terakhir, banyak upaya untuk memoles serangan teror dan pelakunya dengan citra agama, khususnya Islam. Melalui propaganda luas dan perang syaraf, ideologi menyimpang ini disebarkan secara luas, di mana setiap ada Islam, pasti ada teroris di sana dan setiap ada teroris maka jejak-jejak Islam dapat ditemukan. Analogi seperti ini sepenuhnya keliru dan aksi terorisme tidak ada kaitannya dengan Islam. Analogi ini seperti realita kejahatan terorganisir dan tidak dapat dimaafkan yang dilakukan oleh Amerika Serikat di seluruh dunia dan contoh terorisme negara dan kita lekatkan kejahatan ini kepada umat Kristen atau seperti kejahatan bertahun-tahun rezim Zionis Israel di bumi pendudukan dan hari-hari ini kita saksikan dalam bentuknya yang paling brutal di Gaza, kemudian kita ingin menisbatkan terorisme dan Yahudi.

 

Terorisme tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama Samawi. Hal ini dikarenakan, agama Ilahi mencela kekerasan dan pengobaran ketakutan. Propaganda negatif anti Islam dan Muslim akibat maraknya Islamphobia di tingkat dunia. Padahal Islam adalah agama perdamaian dan kasih sayang serta menolak kekerasan dengan segala bentuknya. Allah Swt di al-Quran surat al-An’am ayat 151 berfirman, “Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).”

 

Allah Swt berfirman kepada Nabi Muhammad untuk menyeru mereka yang belum memeluk Islam dan mengatakan kepada mereka bahwa meski kita memiliki banyak berbedaan, namun ada lima kesamaan yang kita miliki dan tidak ada keraguan atas larangannya di agama mana pun. Salah satunya adalah pembunuhan yang dilarang oleh seluruh agama Ilahi. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa terorisme bukan saja bertentangan dengan Islam, namun juga dengan seluruh agama Ilahi.

 

Islam menilai kehormatan manusia sama halnya dengan kehormatan seluruh umat manusia. Allah Swt di surat al-Maidah ayat 32 menyebutkan, “...Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya...”

 

Namun harus dipahami bahwa terorisme tidak selamanya identik dengan pembunuhan. Tujuan utama terorisme adalah menciptakan ketakutan. Di surat al-Maidah ayat 33 dijelaskan empat hukuman keras bagi mereka yang menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat. Menurut ayat ini aksi kekerasan atau teror terhadap orang lain dikategorikan sebagai memerangi Allah Swt. Lantas bagaimana dapat diterima bahwa aksi radikalisme seperti kelompok teroris ISIS dapat dinisbatkan kepada Islam dan umat Muslim?

 

Dampak dari serangan teror terbaru di Paris adalah meningkatnya Islamphobia. Aksi ini mungkin dapat membuat umat Muslim di berbagai negara berada dalam tekanan dan keamanan mereka terancam. Bahkan di tengah masyarakat mereka dapat dikucilkan. Selain itu, mayoritas gerakan radikal, politik dan rasisme Barat semain getol memusuhi Islam dan terbuka peluang propagadan anti Islam lebih besar di Barat. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya saat serangan teror terhadap majalah Charlie Hebdo, ada sekitar 114 aksi anti Islam dan pelecehan terhadap umat Muslim di seluruh belahan dunia.

 

Salah satu dampak lain dari teror Paris adalah meningkatnya retorika nasionalisme di berbagai negara Eropa. Selama satu tahun lalu, banyak warga yang meninggalkan tanah airnya karena takut kepada teoris Takfiri dan mereka membanjiri Eropa. Rakyat Paris dan pemerintah Barat untuk sejenak merasakan pahitnya serangan teror dan instabilitas yang dialami Suriah dan negara-negara Islam. Teroris yang tumbuh besar dengan dukungan finansial mereka.

 

Di sisi lain, perlakuan buruk terhadap imigran merupakan nokta hitam di HAM negara-negara Eropa. Bahkan PBB berulang kali memperingatkan negara-negara tersebut atas perlakuan buruk mereka terhadap imigran. Diprediksikan pasca ledakan di Paris, imigran akan menghadapi banyak kesulitan, pasalnya arus radikalisme senantiasa menciptakan sikap keras dan ekstrim atas keberadaan imigran.

 

Realitanya adalah terorisme di mana pun saja adalah terkutuk, baik di Beirut, Suriah, Irak atau di Paris. Hal ini dikarenakan pembunuhan terhadap manusia tak berdosa tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, mencabut akar radikalisme membutuhkan tekad dunia. Di perang melawan fenomena buruk terorisme, hal pertama yang harus dihapus adalah sikap dualisme terhadap terorismedan dukungan terhadap warga tak berdosa serta korban dari aksi terorisme. (IRIB Indonesia)

 

Add comment


Security code
Refresh