Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 01 November 2015 15:06

Syeikh Nemr, Simbol Ketertindasan Umat Syiah Saudi

Syeikh Nemr, Simbol Ketertindasan Umat Syiah Saudi

Tiga tahun setelah penangkapan Syeikh Nemr Baqir al-Nemr, seorang ulama Syiah terkemuka Arab Saudi, nama ulama pejuang ini kembali mewarnai tajuk utama berbagai media massa. Pengadilan Tinggi Riyadh dan pengadilan banding telah menyetujui vonis mati untuk Syeikh Nemr dan telah menyerahkan berkasnya kepada Kementerian Dalam Negeri dan kantor Raja Saudi untuk ditandatangani oleh Raja Salman bin Abdulaziz.

 

 

Syeikh Nemr dituding para pejabat Riyadh, berusaha menyulut fitnah etnis, mendukung pemberontakan di Bahrain, membawa senjata dan tidak mematuhi perintah Raja. Syeikh Nemr ditangkap pada bulan Juni 2012 setelah menyatakan mendukung demonstrasi damai warga Syiah di provinsi Qatif. Pengadilan banding menilai vonis yang telah ditetapkan Pengadilan Tinggi Riyadh sudah sesuai untuk berbagai tuduhan kejahatan yang dilimpahkan kepadanya. Pengadilan Pidana Arab Saudi juga sebelumnya telah membenarkan vonis mati terhadap Syeikh Nemr.

 

Muhammad Nemr, saudara Syeikh Nemr mengatakan bahwa vonis tersebut ditetapkan tanpa kehadiran para pengacara dan anggota keluarga. Selain Syeikh Nemr, enam warga Syiah lainnya juga telah divonis mati termasuk salah satunya adalah keponakan Syeikh Nemr. Pelaksanaan atau pembatalan vonis mati untuk Syeikh Nemr ini hanya wewenang Raja Salman bin Abdulaziz. Penyerahan berkas vonis mati ulama Syiah terkemuka Arab Saudi ini dari Pengadilan Tinggi Riyadh kepada Raja Saudi, direaksi warga provinsi Qatif, Arab Saudi, yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah, juga menuai kritik dan peringatan dari Iran, Irak dan Lebanon.

 

Warga Syiah di Timur Arab Saudi, mereaksinya dengan memperluas demonstrasi mereka dalam rangka mengecam vonis mati terhadap Syeikh Nemr Baqir al-Nemr. Dalam beberapa hari terakhir, warga di berbagai wilayah timur Arab Saudi, termasuk wilayah al-Awamiyah di kota al-Qatif menggelar demonstrasi massif yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bersamaan dengan itu, sekelompok pemuda revolusioner turun ke jalan-jalan kota al-Qatif termasuk di jalan al-Tsaurah, dan meneriakkan slogan anti-Raja Saudi. Berbagai lembaga, ulama dan tokoh politik dan agama di Iran, Irak, Lebanon dan Bahrain, mengecam vonis Arab Saudi serta memperingatkan dampak negatif dari pelaksanaan eksekusi mati ulama pejuang itu.

 

Aliansi Pemuda Revolusi 24 Februari Bahrain merilis pernyataan menilai vonis mati tersebut sebagai indikasi kebingungan dan kekacauan politik dan keamanan rezim al-Saud baik di dalam negeri maupun di tingkat regional. Dalam pernyataan itu, masyarakat internasional dan seluruh lembaga HAM dituntut untuk segera terjun mencegah hukuman mati tersebut. Di lain pihak, Jame’eh Modaresin Hauzah Ilmiah Qom, memprotes vonis mati untuk Syeikh Nemr dan dalam pernyataannya menyebutkan, “Persetujuan putusan memalukan pengadilan Saudi untuk menghukum mati ulama pejuang Syeikh Nemr, akan membangkitkan amarah umat Muslim dunia.”

 

Putusan itu dirilis di saat rezim al-Saud secara rutin, membantai puluhan warga Muslim Yaman dan juga manajemen buruk dalam mengelola musim haji yang akhirnya merenggut nyawa ribuan tamu Allah. Apakah pengumuman vonis mati terhadap Syeikh Nemr bukan demi menutupi seluruh tindak kejahatan rezim al-Saud di Yaman dan juga kecerobohannya di Mina? Bukankah dosa Syeikh Nemr dan orang-orang sepertinya adalah demi memperjuangkan hak-hak kemanusiaan dan islami warga tertindas Syiah Arab Saudi? Apakah rezim seperti ini berhak memegang posisi sebagai Khadim al-Haramain?

 

Mamusta Abdurrahman Khalifezadeh, imam shalat Jumat kota Bukan di barat Iran, merupakan di antara ulama Ahlussunnah yang mereaksi vonis mati terhadap Syeikh Nemr dan memperingatkan rezim al-Saud jika melaksanakan vonis tersebut. Ulama Sunni Iran ini mengatakan, “Tujuan al-Saud menghukum mati Syeikh Nemr adalah untuk menjadikannya sarana untuk menguasai rakyat serta menebar ketakutan dalam masyarakat.” Menurutnya, vonis mati Syeikh Nemr bukan hanya akan berdampak sangat buruk bagi Arab Saudi di dalam negeri, melainkan juga di kawasan. Hukuman mati tersebut sama artinya dengan penuaian gelombang kebencian masyarakat Islam terhadap Arab Saudi.

 

Imam shalat Jumat kota Bukan, Kurdistan ini menjelaskan, “Tugas para ulama, penguasa dan para pencari keadilan Islam adalah mencegah pelaksanaan vonis zalim tersebut dan menghalangi hukuman mati terhadap pejuang besar keadilan ini, serta tidak membiarkan rezim al-Saud mencapai tujuan-tujuan bengisnya.”

 

Akan tetapi, sangat disayangkan sekali lembaga-lembaga internasional pengklaim pro-HAM dan kebebasan di Barat hingga kini tidak menunjukkan reaksi apapun di hadapan penetapan vonis mati Syeikh Nemr dan juga atas penistaan dua juta kaum minoritas Syiah oleh rezim al-Saud.  Jika ulama pejuang seperti Syeikh Nemr di negara-negara yang memiliki politik seirama dengan Barat, divonis mati, maka ulama sepertinya akan dinobatkan untuk menjadi penerima penghargaan Nobel perdamaian.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, Syeikh Nemr selalu berusaha memperjuangkan hak-hak kaum minoritas Syiah Arab Saudi yang ternistakan. Dia mengkritik kefasadan dan despotisme rezim al-Saud dan menyeru semua orang untuk memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Salah satu di antara langkah Syeikh Nemr Baqir Nemr adalah motivasi perubahan, reformasi dan demonstrasi damai, serta menunjukkan penentangan di hadapan berbagai tindak kekerasan dan sektarianisme. Ulama pejuang ini, dengan membongkar kebobrokan para penguasa negara-negara despotik di Timur Tengah, menyerukan diakhirinya kekuasaan rezim-rezim tidak demokratis dan perampasan kekayaan bangsa. Syeikh Nemr divonis mati karena seruan kebenaran dan kritikannya terhadap rezim al-Saud.

 

Jelas bagi semua orang di dunia bahwa sekarang protes seorang warga terhadap pemerintah atau kritik atas politik pemerintah, merupakan bagian dari hak-hak mendasar mereka. Di Arab Saudi, Syeikh Nemr juga memanfaatkan hak prinsip dan sahnya dalam hal ini. Dengan cara yang benar dan tanpa menggunakan kekerasan, dia mengkritik politik rezim al-Saud dan menuntut reformasi. Namun demonstrasi dengan menyeru slogan perubahan, keadilan dan hak asasi manusia itu dihadapi rezim dengan menggunakan senjata tajam dan api.

 

Jelas pula bahwa pemenjaraan dan hukuman mati terhadap Syeikh Nemr merupakan pelanggaran terbesar atas hak-hak manusia. Sayang sekali, banyak ulama Ahlussunnah di berbagai negara Islam khususnya para ulama al-Azhar, Mesir, yang memiliki pengaruh besar di dunia Islam, tidak menunjukkan reaksi dalam hal ini  dan ini bertentangan dengan ajaran Islam. Sesuai ajaran Islam dan hak-hak kewarganegaraan, tidak ada pembedaan antara Syiah, Sunni, Muslim atau non-Muslim. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dalam surat terkenalnya kepada Malik, seorang sahabat beliau ketika hendak bertolak menuju Mesir untuk mengelola wilayah tersebut menegaskan, “Wahai Malik, kau harus memiliki pandangan setara pada masyarakat; karena masyarakat adalah saudaramu baik seagama maupun dalam penciptaan, yang setara dengan dirimu.”

 

Negara-negara Islam yang membeda-bedakan hak-hak kewarganegaraan antara Syiah, Sunni, Muslim, dan non-Muslim, pada hakikatnya tidak melaksanakan ajaran Islam. Dengan menangkap, memenjarakan dan menghukum mati Syeikh Nemr dan manusia-manusia penyeru kebebasan lainnya, rezim al-Saud beranggapan dapat memadamkan tuntutan keadilan mereka.  Sebagaimana dikemukakan banyak pengamat masalah Arab Saudi, hukuman mati terhadap Syeikh Nemr sepenuhnya bersifat politis dan rezim al-Saud akan menderita kerugian sangat besar jika melaksanakan hukuman itu.

 

Di sisi lain, wilayah Timur Tengah sedang dilanda berbagai krisis dan keamanan regional sedang terancam akibat perluasan aktivitas kelompok-kelompok teroris Takfiri. Sekarang Arab Saudi menjadi salah satu faktor penyebaran instabilitas regional. Dengan memberikan dukungan penuh terhadap kelompok teroris Takfiri di Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Afghanistan dan Pakistan, rezim al-Saud berusaha menyukseskan transformasi yang diinginkan Amerika Serikat  sehingga akan memperkuat rezim-rezim despotik di kawasan.

 

Akan tetapi dampak dari politik tersebut kini telah menjerat pemerintah Arab Saudi serta sekutu regionalnya. Rezim al-Saud sekarang menjadi biang perluasan terorisme Takfiri di kawasan. Dengan mengacaukan front muqawama (resistensi anti-Israel) di Irak, Suriah dan Lebanon, rezim al-Saud ingin mengokohkan kekuasaannya dan rezim-rezim sekutu yakni para pendukung rezim Zionis. Namun sekali lagi politik tersebut justru akan menjadi bumerang bagi Riyadh.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh