Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 25 Oktober 2015 13:44

Dampak Teknologi Komunikasi pada Gaya Hidup (30)

Dampak Teknologi Komunikasi pada Gaya Hidup (30)

Sebelumnya kami telah menyebutkan dampak merusak telepon seluler/ponsel bagi anak dan remaja. Kali ini kami ingin mengkaji dampak teknologi ini bagi kehidupan keluarga. Dewasa ini, dengan semakin majunya sains dan teknologi, telepon seluler selain menjadi sarana komunikasi, juga memiliki beragam kegunaan lain. Kemudahan komunikasi, foto, video, sharing gambar atau video, akses internet, aktivitas perbankan serta berpetualang di dunia maya, termasuk fasilitas yang dimiliki ponsel.

 

 

Sejatinya dengan masuknya generasi baru ponsel cerdas (smartphone) ke pasar, sarana komunikasi ini menjadi sebuah komputer berjalan dan dengannya kita dengan mudah berpetualang di dunia maya. Para produsen ponsel telah memberi pelayanan besar kepada umat manusia dan semakin hari teknologi ini semakin canggih serta pelayanan perusahaan raksasa ini pun kian luas. Namun ada kendala yang muncul, di mana sejumlah orang secara tak sadar menggunakan teknologi ini secara tak tepat serta menggunakannya di jalan yang tak semestinya.

 

Salah satu kendala penting yang ditimbulkan oleh sarana komunikasi ini adalah besarnya dampak dan mekanisme pengaruhnya bagi hubungan keluarga. Sejumlah meyakini bahwa penggunaan secara luas ponsel akan menimbulkan kesalahpahaman di antara anggota keluarga, hubungan seseorang di luar lingkungan keluarga semakin besar, hubungan non fisik di antara anggota keluarga semakin marak serta pada akhirnya rapuhnya tatanan keluarga.

 

Namun demikian ada yang mempertanyakan pemikiran seperti ini. Mereka meyakini bahwa kehidupan keluarga tidak akan menjadi lemah akibat internet dan telepon seluler, meski keluarga kadang dilanda stress akibat kehidupan modern, banyaknya kontak telepon, pesan pendek (SMS) serta beragam komunikasi lainnya.

 

Keluarga puas dengan beragam fasilitas yang ditawarkan ponsel, kerena dengan memanfaatkan teknologi ini, mereka sepanjang hari dengan mudah dapat saling berhubungan dan memiliki informasi posisi masing-masing. Dengan kata lain, teknologi baru termasuk ponsel tidak sampai membuat hubungan emosional di antara mereka terputus meski dengan ketidakhadiran fisik anggota keluarga. Secara global sarana ini malah bisa dimanfaatkan untuk memperkokoh sebagian hubungan kekeluargaan.

 

Banyak ilmuwan yang meyakini bahwa penggunaan berlebih-lebihan ponsel dapat memicu ketagihan. Ketagihan ini tak ubahnya seperti kecanduan narkotika, game dan internet yang sama-sama merusak. Para pecandu ponsel mengambil jarak dari teman dan anggota keluarganya, sehingga mereka terkucil. Sangat disayangkan bahwa sejumlah keluarga sangat bergantung kepada ponsel dan bahkan ketika di rumah mereka masih aktif menggunakan sarana komunikasi canggih ini. Padahal institusi keluarga harus menjadi lingkungan penuh dengan keakraban serta tempat untuk mengungkapkan kasih sayang di antara sesama anggotanya.

 

Mereka yang mengabaikan anggota keluarga dan orang lain serta sibuk dengan ponsel, pastinya telah melukai hati seluruh anggota keluarga. Terkadang dampak merusak kecanduan ponsel lebih parah dari sekedar sisi emosional, di mana seseorang bisa jadi menghadapi kendala lebih serius seperti kehilangan pekerjaan dan posisinya.

 

Di masa lalu, suami istri ketika sampai di rumah dari tempat kerja, biasanya memiliki banyak bahan yang dibicarakan dan peristiwa sepanjang hari yang mereka alami. Saling komunikasi dan berbicara tersebut membuat hari mereka semakin rapat dan intim. Namun dewasa ini, pasangan muda sepanjang hari senantiasa menggunakan ponsel dan saling berkomunikasi melalui sarana canggih ini. Mereka pun saling membicarakan peristiwa yang alami, sehingga saat sampai di rumah atau ketika akan tidur, mereka tidak lagi memiliki bahan yang dibicarakan.

 

Duduk berdekatan dan di satu meja serta makan bersama dapat meningkatkan rasa keakraban sesama anggota keluarga dan membuka peluang diskusi atau komunikasi. Tapi saat ini, manusia saat duduk di meja makan, perhatiannya lebih terfokus pada ponsel ketimbang makanan di depan mereka. bagian penting dari waktu yang seharusnya digunakan suami istri untuk menyantap makanan, kerap diganggu dengan dering telepon, sms masuk atau mms. Akibatnya mereka kekuarangan waktu untuk mencurahkan perasaan masing-masing atau saling memberi perhatian.

 

Hasil riset menunjukkan bahwa ponsel bahkan bisa mengancam kehidupan suami istri yang saling mencintai. Hampir sepertiga pasangan suami istri ketika duduk berdampingan pun saling berkomunikasi menggunakan sms atau sarana lainnya. Ketika menonton film, suami istri pun masih sibuk mengecek telepon selulernya, sehingga akan menyadari jika ada pesan atau kontak masuk. Bagi seorang perempuan atau laki-laki, akan sangat tidak menyenangkan ketika mereka sedang berbicara, namun sekali-sekali menengok ponselnya, jangan-jangan ada pesan atau telepon yang masuk. Bahkan tak jarang mereka masih disibukkan dengan permainan game di ponsel. Saat itulah lawan bicaranya akan merasa sendirian.

 

Buruk sangka merupakan salah satu bahaya bagi kehidupan bersama suami istri. Hubungan baru yang diciptakan oleh ponsel atau kontak telepon yang menimbulkan kecurigaan akibat kesalahpahaman, dengan mudah dapat merusak hubungan suami istri.

 

Sangat disayangkan bahwa akibat kontak telepon, sejumlah orang mencurigai pasangannya. Perasaan seperti ini secara perlahan menumpuk dan membesar, serta berujung pada pengecekan telepon seluler suami atau istri, pengajuan pertanyaan dan bahkan jawaban yang tak jelas. Pada akhirnya, jika istri menjadi tertuduh, ia akan dilarang beraktivitas di masyarakat. Sementara jika suami yang menjadi tertuduh, maka ia tidak mendapat kasih sayang istri dan terkadang terjadi percekcokan di rumah.

 

Kondisi seperti ini jika terus berlanjut, pada akhirnya akan berujung pada perceraian emosional. Perceraian emosional adalah suami istri hidup di satu atap, namun mereka hidup tanpa rasa saling memiliki dan tidak ada kasih sayang di antara mereka. Di kondisi seperti ini yang menjadi korban adalah anak-anak. Namun demikian poin tidak boleh dilupakan bahwa ponsel bukan satu-satunya pemicu buruk sangka, karena banyak parameter yang mempengaruhi hubungan suami istri. Tapi bagaimana pun juga harus diperhatikan bahwa ponsel dapat memberi pengaruh positif dan negatif  bagi hubungan keluarga, khususnya menciptakan prasangka buruk antara suami istri.

 

Sejumlah psikolog meyakini bahwa sebagian dari kendala dan problematika keluarga serta friksi suami istri diakibatkan oleh dampak buruk penyebaran gambar atau tulisan tak senonoh melalui bluetooth. Artinya sebagian percekcokan keluarga akibat kontradiksi, keraguan dan buruk sangka di antara anggota keluarga akibat penggunaan tak tepat bluetooth. Selain itu, salah satu kendala lain ponsel adalah sisi merusaknya pada privatisasi keluarga. Sangat disayangkan, foto atau video kehidupan khusus seseorang serta penyebarannya di tingkat sosial telah menghancurkan sekat-sekat privatisasi keluarga sehingga merusak ketenangan mental serta menciptakan beragam kendala di hubungan kekeluargaan.

 

Salah satu dampak negatif dari penggunaan tak tepat ponsel, adalah pemanfaatan fasilitas terknologi ini untuk mengubah gaya tradisional dan asli silaturahmi serta saling kunjung di antara famili. Penggunaan teknologi modern membuat mayoritas manusia lebih memilih menghubungi familinya melalui telepon seluler, mengirim sms atau mms ketimbang mendatangi mereka dan saling bercengkerama.

 

Harus disadari bahwa hubungan sosial manusia tidak terbatas pada sisi pendengaran dan ponsel jangan digunakan untuk sekedar memenuhi kewajiban bersilaturahmi dengan famili. Kita harus mementingkan saling bercengkema, berkomunikasi langsung serta saling mendengar keluhan masing-masing demi menciptakan ketenangan, kesepahaman serta keselamatan mental. Oleh karena itu, dengan penggunaan ponsel yang tepat dan benar, sarana modern ini dimanfaatkan untuk memperkokoh hubungan sosial sehingga kita lebih leluasa dan cermat mendengar kabar dan berita teman atau keluarga. Namun demikian kita jangan sampai lupa bahwa kecintaan, keakraban dan kesehatan mental kita sangat bergantung pada komunikasi langsung serta saling kunjung dengan teman atau famili.

 

Dewasa ini, ponsel masuk dalam list kebutuhan keluarga dan hampir semua anggota keluarga menggunakan teknologi ini. Namun kesulitan muncul ketika sejumlah anggota keluarga, khususnya anak-anak saat membeli ponsel terseret arus dan tanpa memperhatikan kebutuhan sejatinya, membeli setiap ponsel baru yang ditawarkan. Dampaknya adalah ekonomi keluarga akan terpengaruh.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh