Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 17 Oktober 2015 12:48

Dampak Teknologi Komunikasi pada Gaya Hidup (29)

Dampak Teknologi Komunikasi pada Gaya Hidup (29)

Pada kesempatan lalu kita telah mengkaji bersama dampak merusak telepon seluler (ponsel) bagi fisik manusia. Dampak ini lebih buruk lagi terhadap anak-anak. Remaja dan anak-anak dewasa ini merupakan kelompok usia paling tergila-gila dengan telepon seluler. Selama beberapa tahun lalu, seiring dengan munculnya posel pintar (smartphone) yang disertai dengan fasilitas menggiurkan seperti kamera untuk foto dan video dengan kualitas tinggi serta akses internet, maka pengguna ponsel mulai merambah anak-anak. Kini kita menyaksikan anak-anak dan remaja banyak yang menggunakan smartphone. Terlepas dari dampak fisik, apakah ponsel adalah barang yang penting bagi anak-anak dan apakah kedua orang tua harus menyerah pada tuntutan berulang kali mereka untuk membeli teknologi ini?

 

 

Dewasa ini anak-anak tenggelam dalam permainan di ponsel ketimbang menggunakan waktunya untuk bermain di jalan atau taman, permainan yang penuh energi dan sangat bermanfaat bagi badan. Sementara itu, masa kanak-kanak dibutuhkan permainan yang penuh gerak untuk mengeluarkan energi melalui olah raga dan lainnya. Adapun permainan di smartphone secara tak sadar telah menarik anak-anak. Masalah ini pada akhirnya membuat anak-ana lesu, malas serta mengalami kegemukan.

 

Ponsel merupakan bagian terbesar dari kehidupan anak-anak dan remaja. Mereka lebih memilih menghabiskan waktunya bersama smartphone ketimbang belajar atau membaca buku. Mayoritas anak-anak menggunakan sms dan mms sebagai sarana komunikasi dan hiburan. Berbagai riset menunjukkan bahwa mengirim, menerima atau membaca pesan pendek (sms) semakin besar di kalangan anak-anak. Fasilitas yang diberikan sarana komunikasi modern ini telah merebut posisi membaca buku dan aktivitas fisik dari tangan anak-anak.

 

Mayoritas remaja sebelum tidur mengirim sms melalui ponselnya atau membaca sms yang ia terima. Sementara itu, teknologi yang semakin maju juga memberi fasilitas baru dan pengguna dengan mudah dapat mengakses berbagai laman internet dan media sosial melalui smartphone.

 

Telepon seluler juga memiliki sisi positif bagi anak-anak. Misalnya smartphone yang memiliki fasilitas untuk tersambung ke internet dapat membantu siswa untuk merujuk ke laman-laman pendidikan, sistem email sekolah dan mengirim file dari rumah ke sekolah atau sebaliknya.

 

Sebagian pengamat dan kepala sekolah yakin bahwa penggunaan sms bagi siswa sangat penting dan dapat menjadi sarana komunikasi luas bagi wali murid dan guru. Melalui sms wali murid dapat menjalin komunikasi kontinyu dengan staf di sekolah dan mendapat informasi secara umum terkait kondisi siswa. Selain itu, sms juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk membantu pendidikan.

 

Dalam hal ini, sejumlah perusahaan produsen gadget memberikan fasilitas pendidikan bagi siswa berbahasa Inggris secara kelompok atau kelas. Dengan fasilias ini, siswa mampu menggapai prestasi di bidang pendidikan bahasa Inggris. Di sejumlah kasus di sekolah, telepon seluler dimanfaatkan sebagai sarana untuk membantu pendidikan dan pertanyaan pilihan diberikan kepada siswa melalui smartphone. Bahkan sejumlah soal ujian diunduh melalui ponsel.

 

Sejumlah pengamat meyakini bahwa mengingat sulit mengontrol secara penuh penggunaan smartphone oleh anak-anak dan remaja, maka sisi negatifnya telah mengalahkan sisi positif. Riset menunjukkan bahwa sarana komunikasi ini memiliki dampak negatif lebih besar bagi proses belajar siswa. Anak-anak dan remaja, mengingat karakteristif era perkembangan mereka, ketika mereka sibuk menggunakan ponsel yang memiliki fasilitas segudang seperti media sosial, internet, kamera foto dan video, dengan sendirinya perhatian mereka tersedot oleh gadget modern. Tak hanya itu, mereka pun akan menggunakan sebagian besar waktunya untuk teknologi modern ini.

 

Hasil dari kondisi ini tentu saja sangat negatif bagi proses belajar anak. Mereka akan malas belajar dan ketidakpedulian untuk belajar berujung pada penurunan prestasi di sekolah. Sejumlah siswa dengan menggunakan smartphone di kelas membuat perhatian teman sekelasnya terganggu dan mereka tidak bisa fokus pada pelajaran.

 

Salah satu kasus yang saat ini marak adalah penggunaan tak bermoral siswa dengan mengambil foto tak senonoh dan menyebarkanya di kelas. Mengingat kontrol perbuatan seperti ini baik oleh orang tua atau guru tidak mungkin, maka sejumlah pendidik dan staf sekolah melarang penggunaan sarana modern ini dalam proses belajar-mengajar di kelas.

 

Salah satu kendala dari penggunaan telepon seluler oleh siswa di sekolah adalah remaja tidak pernah belajar ketentuan komunikasi sosial sejati dan malah memperkuat komunikasi sosialnya di dunia maya. Kondisi ini nantinya akan menyulitkan remaja ketika mereka mamasuki masyarakat. Kini kita pun sering menyaksikan remaja yang sibuk bermain ponsel di samping temannya dan mengabaikan teman di sampingnya. Sms dan kontak telepon jangan pernah sampai menggantikan percakapan langsung, karena komunikasi non verbal dan tidak langsung merusak sensitifitas seseorang.

 

Sejumlah keluarga mengemukakan alasannya membeli smartphone karena ingin mendapat berita tentang anaknya dan menghapus kekhawatiran mereka. Wajar jika keluarga khawatir akan anak-ananya dan condong menggunakan ponsel setiap saat untuk mendapat kabar sang buah hati. Namun harus disadari bahwa sekolah bukan sekedar tempat belajar mata pelajaran tertentu, tapi juga tempat belajar keterampilan sosial.

 

Sekolah adalah tempat di mana anak-anak belajar bagaimana bersosial dan menjalin komunikasi dengan yang lain. Selain itu sekolah juga tempat bagi anak belajar untuk mandiri. Oleh karena itu, orang tua tak perlu mengontrol anak-anaknya ketika di sekolah dan lebih baik mereka menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada pihak sekolah. Kini mayoritas keluarga tanpa memperhatikan dampak negatif dari teknologi ini malah menyediakan ponsel bagi anak-anaknya. Bahkan kebanyakan mereka menyerah pada rengekan anak-anaknya untuk dibelikan smartphone.

 

Bagaimana pun juga penggunaan ponsel dan teknologi lainnya merupakan keharusan di kehidupan manusia abad ini. Namun seperti di sebuah masyarakat, warga juga membutuhkan untuk memanfaatkan teknologi canggih. Tapi yang harus diperhatikan adalah penggunaan sarana ini harus berdasarkan ketentuan khusus. Sebuah sarana komunikasi seperti ponsel dengan sendirinya tidak mampu memberi dampak positif atau negatif, tapi penggunaan yang tak tepat dari sarana ini yang menimbulkan beragam dampak negatif serta merusak.

 

Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan kita untuk menyebarkan budaya yang benar atas penggunaan smartphone di antara anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja harus belajar budaya yang benar atas penggunaan sarana modern ini dan mereka harus mengetahui menggunakan berbagai fasilitas smartphone di berbagai kondisi.

 

Dengan demikian sangat urgen bagi kalangan pendidik untuk membudayakan serta memberi pelajaran pemanfaatan yang benar smartphone kepada anak didik mereka. Kurikulum keterampilan hidup di mata pelajaran Departemen Pendidikan Iran mampu menjadi faktor pencegah. Mata pelajaran keterampilan hidup termasuk keberanian dan memperkokoh harga diri membuat siswa memiliki keberanian untuk mengatakan tidak dihadapan permintaan teman sekelasnya untuk menyaksikan gambar-gambar tak senonoh di smartphone.

 

Di sisi lain, acara tanya jawab dengan melibatkan siswa dan mendengar pembicaraan serta alasan mereka tertarik menggunakan smartphone, penjelasan akan bahaya dari penggunaan tak tepat sarana modern ini dengan contoh nyata akan sangat efektif untuk menyebarkan budaya benar penggunaan smartphone dan meredam dampak negatif penggunaan tak benar akan sarana ini.

 

Namun begitu kerjasama dan bantuan keluarga dalam masalah ini memainkan peran menentukan dalam mencegah dan menurunkan dampak negatif penggunaan ponsel oleh siswa. Orang tua jika membelikan ponsel bagi anaknya, maka mereka harus mengawai penggunaannya serta memberi hukuman bila menyaksikan penggunaan yang tak tepat. Memperkokoh keyakinan dan ajaran agama kepada para siswa dan doktrin untuk tidak mengakses gambar atau tulisan tak senonoh dapat membantu menyelesaikan kendala ini.

 

Patut diingat bukan anak-anak saja yang harus memahami budaya benar penggunaan smartphone, namun orang dewasa pun memerlukannya sehingga kendala ini tidak akan terseret ke lingkungan keluarga.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh