Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 08 Oktober 2015 14:50

Mempertanyakan Penyebab Tragedi Mina

Mempertanyakan Penyebab Tragedi Mina

Sejumlah tokoh Lebanon menilai peristiwa Mina bersumber dari salah urus dan mismanajemen para pejabat Arab Saudi. Untuk itu mereka menegaskan pentingnya melakukan penyidikan terkait apa penyebab tragedi ini. Sheikh Maher Hamoud, Sekjen Organisasi Internasional Ulama Muqawama di Lebanon dalam wawancaranya dengan televisi Alalam menekankan pembentukan komite pencari fakta tragedi Mina.

 

 

Ia menyinggung soal hilangnya banyak hujjaj dan mengatakan, “Bila terjadi ledakan, badan manusia akan hancur. Bila terjadi kebakaran, akan terlihat luka bakar di tubuh korban. Tapi mengapa orang saling bertindihan bisa menyebabkan sebagian hujjaj hilang? Bila sebagian jasad sudah dikuburkan, apa dasar hukumnya mereka melakukan ini. Dan bila dipindahkan ke tempat lain, apa alasannya?”

 

Di bagian lain dari wawancaranya, ia mengatakan, “Sikap Organisasi Internasional Ulama Muqawama terkait kejahatan rezim Arab Saudi di Yaman dan Mina sangat jelas. Namun yang perlu digarisbawahi adalah tidak memolitisasi krisis dan peristiwa ini. Karena politisasi masalah ini hanya akan membuat upaya mencari solusi menjadi sangat sulit.”

 

Sementara itu, Sheikh Yousef al-Ghoush, Sekjen Ulama Lebanon yang diwawancarai televisi Lebanon punya pendapat yang sama. Menurutnya peristiwa Mina akibat ketidakbecusan para pejabat Arab Saudi. Mereka bertanggung jawab atas tewasnya para hujjaj, termasuk dari Iran. Sayangnya mereka masih juga belum mengakui kesalahan dan ketidakbecusannya. Ia juga setuju dibentuknya Komite Islam yang mengurusi masalah haji, begitu juga Mekah dan Madinah.

 

Samir Sabbagh, politisi Lebanon menyebut tragedi Mina sebagai peristiwa yang sangat menyedihkan dan menyakiti hati umat Islam dan rakyat Iran. Ia menegaskan telah terjadi salah urus para pejabat Arab Saudi selaku penyelenggara ibadah haji dan mengatakan, “Tapi penyebab asli peristiwa ini masih tidak jelas.” Ia menyatakan dukungannya atas pembentukan Komite Islam yang mengelola urusan haji dan menuntut dibentuknya tim pencari fakta atas kejadian ini.

 

Sheikh Hassan Al-Nasri, Wakil Ketua Biro Politik Gerakan Amal Lebanon dalam wawancaranya kepada televisi Alalam menyampaikan belasungkawa kepada seluruh negara dan umat Islam terkait meninggalnya para hujjaj dalam peristiwa Mina. Ia juga menuntut dibentuknya sebuah komite dari negara-negara Islam untuk mengawasi manajemen pelaksanaan haji dengan tujuan menjamin keamanan dan keselamatan hujjaj. Al-Nasri meminta kerjasama negara-negara Islam untuk membentuk satu kekuatan yang mampu mencegah terjadinya tragedi Mina di kemudian hari.

 

Sementara itu, Sheikh Mohammad Qoddura, anggota Delegasi Islam Palestina menilai peristiwa Mina sebagai konspirasi dengan tujuan merusak umat Islam. Menurutnya, seluruh negara Islam harus terlibat dalam manajemen haji.

 

Sheikh Mukmin ar-Rifai, anggota Organisasi Internasional Ulama Islam mengatakan bahwa dari sisi akhlak dan syariat sangat memalukan Wahabi mengalirkan darah umat Islam seperti ini. Umat Islam harus menyelenggarakan pertemuan komprehensif yang diakui seluruh mazhab Islam guna membahas masalah manajemen haji. Jangan biarkan rezim Arab Saudi memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk menekan umat Islam.

 

Muin Batsur, anggota Kongres Nasional Arab mengatakan, “Peristiwa berdarah seperti ini tidak boleh dibiarkan tanpa penyidikan dan tidak menetapkan siapa yang bersalah. Semua negara harus melakukan tanggung jawabnya untuk mencari siapa yang bersalah dalam tragedi Mina.”

 

Anggota Parlemen Lebanon, Qassem Hashem mengatakan, “Penyebab terjadinya tragedi Mina harus diungkap secara tranparan. Harus dikaji tentang bagaimana menjamin keamanan umat Islam saat melakukan kewajiban agamanya. Di sini, Organisasi Kerjasama Islam harus memiliki cara pandang yang jelas.”

 

Sheikh Hesham Menqare, Ketua Presidium Front Amal Islami Lebanon kepada para pejabat Arab Saudi mengatakan, “Mereka harus bertanggung jawab terkait peristiwa ini dan menjelaskan secara transparan penyebab kejadian ini.”

 

Sheikh Walid Adnan Allamah, anggota Front Amal Islami Lebanon mengatakan, “Peristiwa Mina diakibatkan ketelodoran para pejabat Arab Saudi. Mereka harus membayar ganti rugi kepada keluarga korban. Mereka harus bertanggung jawab atas keteledorannya. Umat Islam harus bekerjasama terkait apa penyebab peristiwa ini, sehingga dapat mencegah terjadinya peristiwa yang sama di kemudian hari. Arab Saudi sebagai penangung jawab urusan haji harus menjawab semuanya.”

 

Sheikh Mohammad Sharaf, Direktur Pusat Ilmu-Ilmu Islam di Akkar, Lebanon menuntut dibentuknya komite Islam yang terdiri dari negara-negara Arab dan Islam, begitu juga dari negara-negara yang prosentase korbannya banyak.

 

Kini kita melihat bagaimana para saksi mata dari Tunisia menyampaikan apa yang disaksikan dan dirasakan pada saat terjadinya tragedi Mina. Seorang dari mereka menyinggung kepadatan dan saling tindih manusia di Hari Raya Idul Adha. Ia mengatakan, “Tidak ada pengawasan dan bantuan menyebabkan banyak orang tua yang tidak mampu menyelamatkan dirinya.”

 

Seorang lagi mengisyaratkan tidak adanya fasilitas dan alat-alat yang mampu mendinginkan udara yang begitu panas. Ia menjelaskan, “Tragedi Mina dan saling tindih manusia waktu itu sangat mengerikan. Arab Saudi harus bertanggung jawab atas kondisi mengenaskan itu.”

 

Haji dari Tunisia yang menjadi saksi atas peristiwa Mina menyebut para petugas keamanan Arab Saudi berperilaku buruk dengan jemaah haji. Menurutnya kondisi tragedi Mina sangat memalukan. Apalagi dengan biaya perjalanan haji yang tinggi, sementara pelayanan tidak semestinya. Ini sangat patut dipertanyakan.

 

Yang lain menjelaskan bahwa penyebab jemaah haji saling dorong di Mina adalah tidak adanya sistem dan aturan dari pihak penyelenggara haji Arab Saudi. Oleh karenanya, manasik haji harus diawasi oleh seluruh negara Islam.

 

Sementara yang lain menegaskan bahwa berulangnya peristiwa yang sama dalam pelaksanaan ibadah haji dalam beberapa dekade terakhir tidak dapat diterima. Tragedi Mina tahun ini sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya, sesuai dengan ajaran al-Quran, kota Mekah merupakan tempat aman. Setiap muslim harus merasakan keamanan di tanah suci. Tapi berulangnya peristiwa seperti jatuhnya crane di Masjidil Haram dan tragedi Mina memunculkan ketegangan di antara umat Islam.

 

Seorang haji dari Tunisia yang selamat dari peristiwa Mina mengatakan, “Al Saud seharusnya tidak menuduh para korban penyebab terjadinya peristiwa ini dan tidak menghormati mereka. Yang harus dilakukan adalah bagaimana mencegah pengulangan terjadinya peristiwa seperti ini. Arab Saudi harus berusaha keras menyelenggarakan manasik haji dalam kondisi aman.

 

Sementara yang lain menegaskan bahwa Arab Saudi hanya berusaha menyalahkan pihak lain dan tidak menjelaskan secara transparan apa sebenarnya penyebab tragedi ini. Apa lagi seluruh kemah di Arafah dan Mina dipasang kamera untuk mengawasi segala yang ada.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh