Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 05 Oktober 2015 10:54

Dampak Teknologi Komunikasi pada Gaya Hidup (27)

Dampak Teknologi Komunikasi pada Gaya Hidup (27)

Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas bersama pengaruh jejaring dan media sosial terhadap anak dan remaja. Selain anak dan remaja, orang dewasa dan kedua orang tua juga tidak lepas dari pengaruh jejaring ini. Dewasa ini internet dan media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan orang dewasa pun menghabiskan banyak waktunya untuk berinteraksi dengan teman-temannya melalui media sosial.

 

 

Jika kita ingin menilai secara netral maka harus kita akui bahwa teknologi modern dan media sosial memiliki keuntungan yang bersifat positif bagi umat manusia. Namun yang membuat kerugian dan pengaruh negatif dari sarana modern ini adalah mekanisme penggunaannya oleh manusia sendiri. Pada prinsipnya, sesuatu yang melebihi batas dan keluar dari garis seimbang di setiap pekerjaan akan menimbulkan beragam pengaruh negatif. Tentu saja hal ini juga berlaku di jejaring sosial.

 

Teknologi modern memiliki saham besar dalam mempermudah kehidupan manusia. Seiring dengan kemajuan sains dan teknologi, banyak kesulitan dan penyakit menular serta mematikan berhasil diberantas dari masyarakat. Meski di masa lalu, lokasi yang berjauhan menjadi kendala hubungan antar manusia dan berpengaruh pada minimnya hubungan di antara mereka. Namun dewasa ini, hubungan antar manusia dengan bantuan internet dan media sosial, menjadi semakin sering dan luas.

 

Di masa lalu, jika salah satu anggota sebuah keluarga berada di tempat jauh, jalan satu-satunya menghubunginya melalui telepon dan dengan biaya yang mahal tentunya. Namun kini, kita menyaksikan jika salah satu anggota keluarga berada di belahan dunia yang jauh sekali pun,  dengan biaya murah  mereka dapat berkomunikasi dengan keluarganya melalui jejaring sosial. Selain itu, ia juga dapat memasang foto dan moment bahagia kehidupannya di laman profilnya serta membaginya kepada keluarga, famili atau teman.

 

Jejaring sosial mengingat daya tarik dan karakteristik uniknya berhasil memukau banyak orang. Kecenderungan untuk memiliki sebuah interaksi dan komunikasi lebih besar dengan manusia serta partisipasi sosial, mendorong pengguna media sosial (medsos) terus memanfaatkan sarana ini dan berpetualang di dunia maya. Menggunakan waktu berlebihan di dunia maya yang kerap disebut sebagai kecanduan internet, akan menimbulkan dampak negatif cukup besar dari sisi individu maupun sosial serta mempengaruhi keharmonisan hubungan kekeluargaan.

 

Keluarga sebagai salah satu pilar utama sosial adalah lingkungan tumbuh dan berkembang serta pendidikan manusia yang sehat. Institusi keluarga dalam menjalankan tugasnya ini menjadi sarana paling efektif dan masyarakat yang terdiri dari keluarga sehat dan penuh dengan kasih sayang di antara sesama anggotanya akan memiliki masa depan yang cerah.

 

Saya masih ingat seorang ibu mengatakan bahwa anaknya sangat pemalu dan cenderung menyendiri. Ketika ia merujuk ke psikolog untuk mengatasi masalah tersebut, dokter memintanya untuk membawa sejumlah lukisan anaknya di pertemuan berikutnya. Poin penting di sini dan yang menarik perhatian dokter di lukisan anak adalah tidak adanya gambar ayah.

 

Kemudian dokter bertanya kepada sang ibu, apakah anda cerai dengan suamimu? Dengan penuh keheranan sang ibu berkata, tidak dokter, kami telah hidup bersama kira-kira sepuluh tahun. Kemudian dokter bertanya lagi, lantas mengapa putri anda tidak menggambar ayahnya di lukisan ini? Ibu tersebut berkata, sangat disayangkan memang dokter, suamiku setiap hari ketika pulang dari kerja, setelah beristirahat sebentar kemudian duduk di depan komputer dan tidak pernah memperhatikan anak ini. Ketika anakku mendekati ayahnya yang sibuk di depan komputer, ayahnya langsung membentak dan mengusirnya. Bukan saja anak ini, tapi saya sendiri selama bertahun-tahun tidak mendapat perhatian dan kasih sayangnya. Aku telah letih dan tidak mampu lagi mengatasi kenakalan anakku.

 

Realita ini bisa jadi merupakan kisah kehidupan mayoritas manusia abad modern. Bukan saja ayah, namun juga istri dan ibu yang menghabiskan waktunya selama berjam-jam di jejaring sosial. Ketika sadar ternyata waktunya berjam-jam telah habis di dunia maya dan mereka tidak merasakan berlalunya waktu.

 

Kecanduan media sosial dan menghabiskan waktu tanpa henti di jejaring ini telah menimbulkan kerusakan di berbagai hubungan keluarga. Ketika suami-istri seharusnya memanfaatkan waktu mereka untuk mengungkapkan kasih sayang dan menyelesaikan berbagai problema rumah tangga melalui dialog yang ramah, biasanya waktu mereka dihabiskan untuk mengomentari foto dan komentar orang lain atau menyusuri kehidupan pribadi orang lain.

 

Terkadang seorang ibu yang disibukkan dengan dunia maya, lalai akan urusan rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Hal ini akan menimbulkan ketidakpuasan suami dan anak-anak mereka. Poin lain adalah para pakar menyimpulkan bahwa kebanyakan orang memamerkan sisi kehidupan menyenangkan mereka di jejaring sosial, namun sebaliknya mereka enggan mensharing problematika yang dihadapinya.

 

Hal ini juga membuat orang lain yang kondisinya lebih sulit akan merasa sangat sedih dan membenci diri sendiri. Rasa kecewa ini pada akhirnya membuat seseorang frustasi dan stress. Atau dengan membandingkan kehidupannya dengan orang lain membuat suaminya marah dan kemudian yang terjadi adalah pertengkaran antara suami-istri. Tapi begitu realita seperti ini tidak membuktikan sisi destruktif  teknologi maju. Teknologi tidak memainkan peran merusak, namun tidak adanya penggunaan yang benar manusia atas sarana ini yang membuat mereka menghadapi kesulitan.

 

Selain menghabiskan waktu selama berjam-jam di jejaring sosial, tidak adanya kepedulian terhadap suami dan anak-anak, serta hilangnya kecintaan dan kehangatan suami terhadap istri serta anak-anaknya membuat sendi-sendi rumah tangga semakin rapuh dan hubungan di antara mereka menjadi dingin. Di media sosial, berkenalan dengan lawan jenis semakin mudah di banding dengan di dunia nyata.

 

Di media sosial, umumnya setiap orang cenderung memamerkan karakteristik unggul dan menariknya dan biasanya mereka enggan mengungkapkan kekurangan yang dimilikinya. Masalah ini membuat orang lain secara tak sadar tertarik padanya. Padahal jika mereka hidup di bawah satu atap maka akan menghadapi beberapa kendala dan problematika.

 

Para pakar meyakini bahwa interaksi dengan lawan jenis di media sosial seperti facebook dan twitter sangat cepat dan dapat dilakukan hanya dengan mengklik tombol keyboard. Hubungan seperti ini pastinya membangkitkan sensitifitas pihak lawan dan memicu kecurigaan para istri atau suami.

 

Di sisi lain, suami-istri mengingat hubungan perkawinan yang suci, memandang hubungan maya dari sisi moral sebagai dosa kecil dan bukan sebuah pengkhianatan. Namun hasil riset sosiolog menunjukkan para istri atau suami orang seperti ini sama menderitanya atas hubungan di jejaring sosial seperti terjadinya pengkhianatan di dunia nyata.

 

Terkadang mereka yang telah menikah tidak memiliki alasan untuk memutus hubungan maya dan persabahatan internetnya dengan lawan jenis. Sebaliknya ia terus melanjutkan hubungan seperti ini. Pastinya hubungan ini akan memicu reaksi dan kekecewaan suami atau istri, dan terkadang sampai pada batas kehancuran hidup berumah tangga mereka. Perceraian pun terkadang tak dapat dihindari. Data statistik yang mengejutkan di negara-negara Barat menunjukkan eskalasi angka perceraian suami-istri akibat aktivitas salah satu dari mereka di media sosial. Karena aktif di jejaring sosial membuat mereka saling mencurigai dan berdampak merusak pada hubungan mereka.

 

Rusaknya keharmonisan di keluarga, musnahnya perasaan manusia dan kasih sayang suami-istri menimbulkan dampak merusak bagi sebuah masyarakat. Mereka yang dibesarkan di sebuah keluarga buruk dan penuh masalah, akan menanggung tekanan mental lebih besar dan sangat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan sosialnya dengan orang lain.

 

Sebaliknya sebuah masyarakat yang terdiri dari institusi keluarga yang kokoh, maka anggotanya memiliki kesehatan dan ketahanan mental lebih besar untuk membangun masa depannya. Ajaran agama menekankan poin bahwa jika sebuah keluarga sempurna dan sehat, maka masyarakat pun akan sehat.

 

Pakar agama menilai pengokohan hubungan emosional di antara anggota keluarga sebagai solusi untuk mencegah dampak negatif media sosial terhadap lingkungan keluarga. Hubungan emosional terbentuk dari iklim dialog dan pertukaran pendapat di antara anggota keluarga. Oleh karena itu, suami-istri harus cerdik dan waspada sehingga tidak membiarkan dunia maya merusak hubungan emosional dan kasih sayang di antara mereka dan anak-anaknya.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh