Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 29 September 2015 15:19

Tragedi Mina dan Kebisuan Saudi

Tragedi Mina dan Kebisuan Saudi

Ritual ibadah haji tahun ini diwarnai dua insiden mematikan yang membuat dunia Islam berduka. Ritual terbesar Islam serta simbol persatuan dan solidaritas kaum Muslim dunia berubah menjadi acara duka. Dua pekan sebelum manasik haji dimulai, sebuah crane roboh menimpa jamaah di Masjidil Haram.Insiden ini menewaskan dan melukai puluhan tamu Allah Swt. Dua pekan kemudian dalam pelaksanaan ritual lontar jumrah di Mina, sebuah tragedi besar terjadi akibat penumpukan jamaah dan manajemen yang kacau balau. Petaka Mina sejauh ini telah menewaskan dan melukai ribuan orang serta ratusan jamaah masih dinyatakan hilang.

 

 

Keluarga Al Saud sudah memegang hak tunggal penyelenggaraan haji sekitar 80 tahun. Mereka menyebut dirinya sebagai Khadimul Haramain (pelayan dua tempat suci). Setiap tahun jutaan umat Islam mengunjungi Arab Saudi untuk menunaikan ibadah umrah dan haji. Pemerintah Saudi sepenuhnya menyadari bahwa mereka memiliki tugas penting dan sensitif, terlebih peristiwa demi peristiwa silih berganti datang selama beberapa tahun terakhir. Ada 13 insiden mematikan yang merusak kekhusyukan jamaah haji dalam 40 tahun lalu. Masing-masing dari insiden tragis ini membuat puluhan jamaah meninggal dunia dan terluka.

 

Pada 10 Desember 1975, sebuah ledakan tabung gas menyebabkan kebakaran hebat di tenda-tenda yang ditempati jamaah haji. Lebih dari 200 orang meninggal dunia dalam insiden tersebut. Pada 20 November 1979, insiden penyanderaan jamaah haji di Masjidil Haram dan aksi baku tembak dengan aparat keamanan Saudi telah menewaskan 150 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya. Pada 31 Juli 1987, pasukan keamanan Saudi menyerang jamaah haji Iran ketika sedang menyelenggarakan ritual bara’ah dari kaum musyrikin. Aksi penumpasan ini menyebabkan kematian lebih dari 400 jamaah dan mayoritas korban berasal dari Iran.

 

Insiden tragis terus mewarnai lembaran musim haji dan kebanyakan tragedi itu terjadi di Mina.Namunsemua peristiwa tersebut tidak seburuk dan separah tragedi Mina pada 24 September 2015 lalu.Tragedi berdarah ini dapat ditelusuri dari dua dimensi yakni, pertama tentang bagaimana insiden itu terjadi dan kedua mengenai respon para pejabat Arab Saudi atas tragedi di Jalan 204 itu. Para pejabat Riyadh anehnya tidak menunjukkan sikap yang bertanggung jawab dan bijak terhadap tragedi Mina.Sebaliknya, rezim Al Saudjustru mencari kambing hitam dan berusaha lari dari tanggung jawab.

 

Setelah Jalan 204 bergelimpangan mayat, pemerintah Saudi seharusnya melakukan kerjasama dengan para panitia haji dari berbagai negara untuk mengindentifikasi korban luka dan tewas dalam tragedi itu. Tapi sayangnya, mereka justru menolak semua permintaan dari para panitia haji, khususnya Organisasi Haji Iran untuk membantu proses identifikasi korban dan mengurangi penderitaan keluarga mereka. Jamaah haji Republik Islam Iran menjadi korban terbesar dalam tragedi Mina 2015.

 

Sikap askar Arab Saudi dan bentuk pertolongan kepada korban selamat, menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak menghargai nyawa manusia dan kehormatan para tamu Allah Swt.Andai otoritas Saudi mengizinkan tim medis dari negara lain, terutama Iran untuk membantu para jamaah yang terluka, tentu jumlah korban tewas dapat dikurangi dan banyak nyawa terselamatkan. Sungguh memilukan karena regu penyelamat dan askar Saudi tidak memiliki kompetensi dan ketangkasan yang cukup untuk memberi pertolongan kepada korban dan mengumpulkan mayat yang sudah menumpuk. Mereka juga tidak mengizinkan tim medis negara lain untuk membantu proses evakuasi dan identifikasi.

 

Pemerintah Saudi benar-benar tidak menghargai keluarga korban dan bahkan tidak memberi akses yang diperlukan kepada tim medis negara lain. Perilaku penguasa Saudi jelas tidak sejalan dengan ajaran Islam dan hukum internasional sebagai tuan rumah penyelenggaraan ibadah haji, di mana mereka harus menjamin keamanan dan keselamatan jamaah. Demi melepas tanggung jawab dan menutupi kelalaiannya, pemerintah Saudi awalnya menyebut tragedi Mina sebagai ketetapan dan takdir Tuhan. Mereka kemudian menuding para jamaah Afrika tidak tertib dan menjadi pemicu insiden tragis itu.

 

Pejabat Riyadh tampak sangat panik dan mereka mulai mempolitisasi tragedi Mina dengan menuding rombongan haji Iran sebagai pemicu kekacauan di Jalan 204. Di dunia maya dan media,pemerintah Saudi berusaha memberikan alasan-alasan yang tidak valid untuk membela diri. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahkan membela Arab Saudi dalam tragedi Mina dan menegaskan kesalahan tak bisa dibebankan kepada negara yang dipimpin rezim Al Saud ini. Di tengah kesedihan ratusan keluarga korban, Erdogan dan Saudi justru ingin mengambil keuntungan politik dan pencitraan diri. Turki dan Saudi seakan-akan ingin menutupi kegagalannya dalam memajukan kebijakan intervensif di Irak, Suriah, dan Yaman dengan mendukung kelompok-kelompok teroris Takfiri.

 

Jika menurut Erdogan pemerintah Saudi tidak bisa disalahkan atas tragedi Mina, lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Mengapa pemerintah Saudi tidak menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab pasca insiden itu? Video dan foto yang tersebar di media-media sosial dan internet dengan jelas memperlihatkan kebobrokan manajemen para pejabat politik dan keamanan Saudi dalam mengatur jamaah haji. Salah satu video dan berdasarkan keterangan para saksi mata, pasukan keamanan Saudi menutup dua jalan menuju Mina karena ada konvoi wakil Putra Mahkota Saudi sekaligus Menteri Pertahanan Muhammad bin Salman Al Saud. Penutupan ini memicu kepanikan luar biasa jutaan jamaah haji dan membuat mereka berdesak-desakan hingga menewaskan ribuan orang.

 

Kini, mari kita simak keterangan seorang saksi mata dari Pantai Gading, Waltera Musa mengenai pemicu tragedi Mina:

 

Dia menuturkan, “Jalur pergi sudah bertabrakan dengan jalur pulang, jamaah saling berbenturan dan ini menjadi penyebab tragedi. Tapi harus saya katakan bahwa petugas keamanan dan tim penyelamat hadir di lokasi dan mereka tidak berbuat sesuatu. Ini benar-benar mengundang tanda tanya. Masalah lain adalah bahwa di kedua sisi terdapat sebuah pagar besi, sementara di samping-sampingnya berdiri tenda-tenda milik jamaah Tunisia dan Aljazair. Kita adalah orang Muslim danmereka bisa membuka jalan-jalan yang ditutup dan menyelamatkan jamaah, tapi tidak satupun mau bekerjasama dan saya tidak ingin berbicara tentang kulit putih dan hitam, namun jelas tidak adanya kerjasama oleh askar Saudi dan ketidakpedulian mereka terhadap saudara seagama telah menyebabkan tragedi ini.”

 

Tragedi Mina memerlukan pengusutan serius.Buruknya manajemen merupakan sebuah realitas yang mengundang protes banyak pemerintah di negara-negara Islam. Sayangnya, negara-negara Muslim hanya sebatas menyampaikan penyesalan atas terjadinya insiden-insiden berdarah di musim haji, dan setelah itu mereka melunak dan menguap begitu saja. Sikap arogan pemerintah Saudi dalam menyikapi setiap tragedi di Tanah Suci harus dirunut pada cara Kerajaan Al Saud memandang manusia. Kematian seorang Muslim bagi rezim Al Saud merupakan sebuah insiden biasa dan mereka sama sekali tidak merasa harus bertanggung jawab atau meminta maaf.

 

Arogansi mereka dapat disaksikan di Yaman. Di bulan haram (Dzulhijjah) saja, militer Saudi tetap membombardir negara itu dan membunuh masyarakat Muslim Yaman. Dalam doktrin Wahabi yang dianut oleh rezim Al Saud, semua mazhab-mazhab Islam adalah sesat dan secara khusus, darah pengikut Syiah sah untuk ditumpahkan dan sama sekali tidak jadi persoalan. Reaksi dingin para pejabat Saudi terhadap tragedi kemanusiaan di Mina juga harus ditelusuri dalam doktrin ajaran Wahabi. Para Syeikh Wahabi bahkan bersedia menghancurkan Makam Nabi Saw jika saja memiliki kekuasaan, mereka sudah berkali-kali menyampaikan keinginannya itu dan juga menganggap banyak ritual haji sebagai perbuatan syirik.

 

Jadi, tidak perlu heran jika tragedi Mina yang menewaskan ribuan jamaah tidak membuat para pemimpin Saudi merasa prihatin. Tragedi Mina memiliki sebuah perbedaan serius dengan peristiwa-peristiwa lain di musim haji dan itu adalah kecepatan arus pertukaran informasi, di mana rezim Al Saud tidak mampu mengelola insiden tersebut sesuai dengan kebijakannya.

 

Masyarakat dunia menyaksikan kejadian memilukan dan insiden tragis yang menimpa jamaah haji di Mina. Publik dunia akan mengenang Keluarga Al Saud sebagai sebuah kelompok yang tidak memiliki komitmen dan tanggung jawab dalam pelaksanaan ritual ibadah terbesar kaum Muslim di tanah yang paling suci di dunia.Negara-negara Islam perlu mengambil sikap tegas untuk mendorong investigasi independen atas tragedi Mina dan mengingatkan tanggung jawab rezim Al Saud dalam menjamin keamanan dan keselamatan para tamu Allah Swt. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh