Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 16 Februari 2016 14:41

Peran Angkatan Udara Iran di Kemenangan Revolusi Islam

Peran Angkatan Udara Iran di Kemenangan Revolusi Islam

19 Bahman 1357 bertepatan dengan 8 Februari 1979 di sejarah Revolusi Islam Iran merupakan hari besar dan tak pernah dilupakan. Di hari tersebut, menjelang kemenangan Revolus Islam dan ketika rezim Pahlevi berusaha menempatkan militer untuk memerangi rakyat, sejumlah personil dan perwira angkatan udara menghadap Imam Khomeini dan menyatakan solidaritas mereka terhadap kebangkitan rakyat.

 

 

Baiat para komandan angkatan udara dinilai para pengamat internasional sebagai langkah bersejarah dan titik balik di sejara perjuangan rakyat Iran. Pernyataan kesetiaan unit penting militer di saat sensitif sejatinya membuat kemampuan dan upaya untuk memberangus revolusi oleh musuh kehilangan maknanya dan keseimbangan kekuatan berbalik menguntungkan kubu Revolusi. Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, angkatan udara militer negara ini setiap tahun memperingati hari penting tersebut dan kembali menyatakan kesetiaan mereka terhadap pemerintah dan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

 

Rahbar di pertemuan dengan para komandan dan staf angkatan udara menilai penghormatan dan baiat kesetiaan unit ini di hadapan Imam Khomeini sebagai sebuah peristiwa penting yang berhasil mengubah konstelasi nasional menjelang Revolui Islam. Beliau menilai peristiwa ini sebagai indikasi kebohongan klaim rezim Pahlevi terkait ancaman militer kepada rakyat revolusioner. Rahbar menekankan, peristiwa penting ini sebuah pelajaran bersejarah dan persitiwa ini harus tetap dilestarikan.

 

Ayatullah Khamenei menekankan, selama tahun-tahun pertahanan suci dan selanjtunya, angkatan udara militer Iran memiliki prestasi gemilang. Di kondisi sulit untuk memenuhi peralatan yang dibutuhkan, angkatan udara mampu menunjukkan kinerja yang baik dan tetap mempertahankan prestasinya.

 

Rahbar mengisyaratkan bahwa angkatan udara sebelum revolusi dan angkatan udara setelah revolusi memiliki perbedaan nyata. Menurut Ayatullah Khamenei, meski angkatan udara di zaman rezim Pahlevi, mengingat ketergantungan mereka kepada Amerika Serikat, memiliki peralatan lengkap dan canggih, namun di dalam mereka rapuh dan tidak memiliki kemampuan produksi dan bahkan pengambilan keputusan. Namun kini, kata Rahbar, angkatan udara memiliki kemampuan inovasi dan mandiri serta memenuhi peralatan yang mereka perlukan tanpa harus mengemis kepada kubu imperialis.

 

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa menjaga keamanan negara adalah tugas nasional dan salah satu metodenya dengan memperkuat angkatan bersenjata. Menurut Rahbar angkatan bersenjata harus memiliki fasilitas dan persenjataan yang dibutuhkan. Rahbar di pertemuan tersebut mengisyartkan peringatan kemenangan Revolusi Islam dan pemilihan umum. Menurut Rahbar keduanya merupakan hari raya bagi bangsa Iran dan harus dihormati. Beliau menilai partisipasi luas dan jutaan rakyat di peringatan Hari Kemenangan Revolusi Islam sebagai fenomena menakjubkan di dunia.

 

Rahbar seraya menekankan bahwa revolusi tetap hidup dan kita masih berada di pertengahan jalan mengatakan, “Revolusi bukan peristiwa mendadak, revolusi sebuah perubahan yang berlangsung secara bertahap...Selama revolusi mampu memperkokoh sendi-sendinya dan merealisasikan tujuannya, sisi kuantisasi pasti ada dan tujuan tidak boleh dilupakan.” Rahbar menyebut keadilan sosial, merealisasikan kehidupan Islami dan membentuk sebuah masyarakat Islami yang terhormat, bermoral, adil dan berpengetahuan sebagai tujuan revolusi. “Seluruh upaya musuh adalah menghancurkan gerakan Republik Islam Iran ke arah tujuan Ilahi, Islami dan tujuan untuk terhormat serta kuat. Sehingga mereka mampu kembali menancapkan hegemoninya terhadap Iran.”

 

Iran di era kesultanan Qajar dan Pahlevi berada di bawah hegemoni kekuatan arogan Barat dan Timur serta raja-raja memalukan mengorbankan bangsa Iran dan kepentingannya. Ayatullah Khamenei seraya mengisyaratkan resistensi rakyat di Revolusi Tembakau di era Qajar yang membuat perusahaan asing mundur serta Revolusi Konstitusional menekankan budaya Iran-Islami membuat bangsa ini melawan arogansi kekuatan dunia, namun rezim Pahlevi melalui instruksi Amerika serta negara Barat mengubah budaya tersebut.

 

Rahbar menambahkan, “Bangsa ini karena esensi Islami, potensi dalam negeri dan karakteristik unik yang dimiliki masyarakat Iran serta munculnya seorang pemimpin luar biasa seperti Imam Khomeini mampu membebaskan diri dari represi, berdiri tegak di atas kaki sendiri, menyatakan pendapatnya dan memajukan langkahnya.” Seraya mengisyaratkan peran lunak musuh terhadap bangsa Iran, Rahbar mengatakan, “Tujuan perang lunak adalah merampas elemen kekuatan dari pemerintah Republik Islam dan rakyat Iran serta mengubahnya menjadi sebuah bangsa lemah, tercela dan mudah menyerah.” Rahbar menegaskan bahwa jika kondisi ini tercapai, maka musuh pun akan memiliki keberanian untuk menggelar perang konvensional.

 

Sementara itu, terkait pemilu, Rahbar menilainya sebagai suntikan kekuatan baru ke jantung Republik Islam dan dukungan kekuatan bagi bangsa Iran. Rahbar menekankan, partisipasi seluruh lapisan masyarakat di pemilu akan membuat bangsa dan negara terhormat. Oleh karena itu, menurut Rahbar seluruh rakyat yang memiliki hak suara harus berpartisipasi di pemilu.

 

Rahbar menyatakan, “Salah satu tujuan kekal front musuh, khususnya Amerika Serikat, sejak awal revolusi hingga kini adalah menciptakan dua kutub berbahaya antara rakyat dan pemerintah....Pemilu termasuk kasus yang dapat membuat musuh pesimis, artinya menunjukkan hubungan kuat antara pemerintah dan rakyat serta menghancurkan dua kutub yang dirancang oleh musuh.”

 

Republik Islam Iran sejak awal revolusi bertumpu pada suara rakyat dan seluruh elemen pemerintah termasuk Rahbar, presiden, anggota parlemen dipilih oleh rakyat baik secara langsung atau tidak. Pasca kemenangan Revolusi Islam, rakyat Iran rata-rata setiap tahun memiliki pemilu dan tingkat partisipasi di setiap pemulu cukup tinggi. Selain itu, pemilu tersebut digelar secara aman dan sehat.

 

Allah Swt berfirman di al-Quran bahwa jika kalian menolong Tuhan maka Ia pun akan menolong kalian. Ayatullah Khamenei seraya mengisyaratkan ayat tersebut berkata, menolong Tuhan berarti upaya untuk merealisasikan kehendak Ilahi (Iradah Tashrii) di bumi, di mana Republik Islam termasuk dari contoh nyata dari upaya tersebut.

 

Seraya menekankan terealisasinya janji Ilahi terkait Revolusi Islam, Rahbar mengatakan, “Sejak awal revolusi kekuatan meterialis utama dunia memusuhi Republik Islam, namun mereka tidak mampu berbuat apa pun...Musuh revolusi sejak saat itu, ketika revolusi masih di masa dini, berusaha memecah belah Iran, mengobarkan kudeta, namun gagal. Mereka mengobarkan perang yang dipaksakan selama delapan tahun, sejak awal kemenangan revolusi mereka menjatuhkan sanksi dan terus memperketat sanksi. Negara mana yang mampu menghadapi seluruh ancaman ini? Namun pemerintah Republik Islam bangkit melawan, bukan saja mampu mempertahankan diri, namun juga berhasil meningkatkan kemampuannya. Kini kekuatan Republik Islam tidak dapat dibandingkan dengan awal kemenangan Revolusi. Sebagai sebuah kekuatan regional dan di kasus tertentu sebagai kekuatan dunia, ini artinya ketika kalian menolong Tuhan, maka Tuhan pun akan menolong kalian.”

 

Seraya menekankan pentingnya pemilu, Rahbar menyebutnya sebagai masalah perkasus di samping isu utama seperti ekonomi pengokohan negara. Seraya mengisyaratkan potensi dalam neger termasuk sumber daya manusia dan sumber lainnya, Rahbar mengatakan ini adalah fasilitas yang membuat kita kuat dan memperkokoh ekonomi kita. Ayatullah Khamenei memberi nasehat para pejabat pemerintah untuk tidak terjebak dengan keributan yang diciptakan media terkait pemilu serta fokus terhadap ekonomi dan mengakhiri ketergantungan kepada asing.

 

Ayatullah Khamenei seraya menekankan urgensitas pengenalan musuh mengatakan, “Rakyat tidak memuji person atau kubu tertentu ketika mereka lalai keberadaan musuh....Jangan sampai melupakan musuh... Dewasa ini kita harus fokus pada isu keamanan, ekonomi, kehidupan, budaya, pemuda dan krisis sosial. Kita harus menyadari apa peran musuh serta atas dasar ini kita menentukan kebijakan dan hukum. Berdasarkan hal ini pula kita berbicara.”

 

Ayatullah Khamenei menambahkan lalai dari musuh bukan sebuah kebanggaan. Beliau berkata, “Musuh kita adalah musuh yang jahat dan tak kenal malu. Mereka tidak bersedia menjawab pertanyaan paling sederhana opini publik terkait Yaman dan Palestina.” Ayatullah Khamenei menilai pembantaian ribuan anak, perempuan dan warga sipil Yaman baik di dalam rumah mereka atau rumah sakit sebagai bentuk terorisme negara yang paling buruk dan keji.

 

Amerika dengan penuh kecabulan mendukung penuh kejahatan Arab Saudi terhadap rakyat Yaman dan kejahatan Israel di Palestina. Selain itu AS dengan tak kenal malu masih mengklaim sebagai pembela Hak Asasi Manusia (HAM). Rahbar berkata, “Ketika sebuah negara menghadapi musuh seperti ini, maka perhatian mereka harus tinggi. Bangsa Iran harus mempertebal perhatian mereka. Atas kemurahan Allah, indera dan perhatian bangsa Iran sensitif dan terus fokus. Gerakan agung rakyat hingga kini berhasil menggagalkan beragam konspirasi musuh yang penuh tipu daya ini. Selanjutnya dengan izin Allah, musuh akan terhina.” (MF)

 

Selanjutnya di kategori ini: « Pemilu dalam Perspektif Rahbar

Add comment


Security code
Refresh