Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 26 Januari 2016 09:03

Pemilu dalam Perspektif Rahbar

Pemilu dalam Perspektif Rahbar

Sistem pemerintahan Republik Islam Iran berpijak di atas prinsip demokrasi religius yang menjunjung tinggi suara rakyat. Oleh karena itu, sejak jauh hari sebelum digelarnya setiap pemilu, lembaga pelaksana dan pengawas pemilu telah mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan demi terciptanya sebuah pemilu yang bebas, jujur dan adil dengan partisipasi rakyat setinggi-tingginya.

 

 

Beberapa hari lalu, pejabat penyelenggara pemilu parlemen dan Dewan Pakar Kepemimpinan Iran bertemu dengan Rahbar, dan menyampaikan laporan mengenai persiapan menjelang pelaksanaan dua pemilu besar tersebut. Sebelum digelar setiap pemilu, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei menyampaikan masalah penting kepada pejabat dan rakyat Iran. Salah satunya disampaikan Rahbar dalam pertemuan dengan pejabat komisi pemilu Iran mengenai persiapan pemilu 26 Februari mendatang.

 

Ayatullah Khamenei menilai pemilu sebagai sebuah kompetisi sehat yang tumbuh di tengah rakyat Iran, dan rakyat Iranlah yang menjadi pemenangnya. Sebab, mereka berpartisipasi aktif dalam menentukan nasibnya sendiri. Terkait hal ini, Rahbar berkata, “Jika bangsa Iran baik, kuat, dan bertekad baja memasuki arena dengan mengisi suara di tempat pemungutan suara, maka Iran akan tumbuh berkembang, Republik Islam Iran akan jaya dengan segala kehormatannya; Siapapun yang menang, ataupun siapa yang kalah, sejatinya bukan kemenangan maupun kekalahan bagi bangsa ini; sebab bangsa ini tetaplah sebagai pemenangnya. Inilah masalah penting dalam pemilu.”

 

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya kepada pejabat komisi pemilu Iran menegaskan peran aktif rakyat Iran dalam pemilu. Bahkan mereka yang memiliki masalah dengan pemerintahan Republik Islam Iran sekalipun didorong untuk berpartisipasi dalam pemilu kali ini. Rahbar menuturkan, “Kini, pemerintahlah yang menjaga keamanan negara, mewujudkan kemajuan negara, dan kewibawaan bangsa. Peran mereka tidak bisa dipungkiri, mereka [oposan] pun dengan pilihannya sendiri bisa memasuki arena...”

 

Masalah kedua yang disampaikan oleh Ayatullah Khamenei, yang senantiasa ditegaskan dalam setiap pemilu, adalah kewaspadaan dan kecermatan dalam memilih kandidat. Rahbar menegaskan, rakyat memilih kandidat untuk memilih wakilnya yang jujur, berwawasan, penuh dedikasi, berani, dan bertakwa di parlemen demi membantu pembangunan dan kesejahteraan bangsa dan negara serta membela independensi dan kewibawaan Iran.

 

Meskipun Ayatullah Khamenei mengajak kalangan penentang pemerintah Republik Islam Iran untuk berpartisipasi dalam pemilu mendatang, tapi Rahbar menilai masuknya kalangan penentang negara di parlemen tidak logis dan keliru. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran berkata, “Di mana pun di dunia ini pusat pengambilan keputusan tidak akan diberikan kepada orang-orang yang menentang prinsip negara; bahkan di banyak tempat sedikit saja menghina [negara] akan segera diganti,”.

 

Terkait masalah ini, Rahbar memberikan contoh sepak terjang AS dalam perang dingin dengan Uni Soviet, bahkan orang yang dicurigai berpandangan kiri segera di negara ini akan disingkirkan, bahkan dijebloskan ke penjara. Sikap keras di berbagai negara seperti AS yang mengklaim sebagai pengusung demokrasi, kini menerapkan hal yang sama terhadap Muslim.

 

Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan pejabat komisi pemilu menjelaskan urgensi penyelenggaraan pemilu yang sehat, jujur dan adil dan antusiasme tinggi rakyat Iran. Pertama, masalah undang-undang sebagai pijakan dan hakim terbaik dalam menyelesaikan friksi antar kandidat yang bersaing dalam pemilu. Oleh karena itu, Rahbar menyerukan semua pihak untuk memperhatikan masalah tersebut.

 

Ayatullah Khamenei berkata,“Semua harus bersandar kepada hukum... ini pesan kami. Saya senantiasa menegaskan kepada para pejabat terkait di komisi pemilihan umum supaya bersandar kuat kepada aturan. Titik tekannya adalah undang-undang. Undang-undang harus diperhatikan.” Terkait hal ini, Rahbar mengajak seluruh elemen masyarakat Iran untuk menghormati institusi legal penyelenggara pemilu, dan pelecehan terhadapnya akan menyebabkan chaos.

 

Kampanye pemilu di negara-negara Barat senantiasa disertai dengan propaganda bohong, culas dan menghina pihak lain. Tapi pandangan seperti ini tidak berlaku di Iran. Ayatullah Khamenei memberikan pesan, “Para kandidat jangan saling menghina. Anda, adalah kandidat yang berkomitmen sebagai orang baik, dan manusia yang terhormat. Silahkan sampaikan kebaikan anda, tapi jangan menghina saingan anda, jangan mencelanya, jangan membicarakan keburukannya... ini adalah sebuah kewajiban dan sebuah parameter bagi kesehatan pemilu.”

 

Poin lain yang dijelaskan Rahbar kepada para kandidat supaya menghindari janji muluk-muluk yang tidak bisa diimplementasikan. Ayatullah Khamenei mengingatkan, “Jangan memberi janji muluk-muluk; sebagian kandidat memberi janji kepada masyarakat, padahal dia sendiri tidak yakin bisa mewujudkannya...bahkan janji mereka bertentangan dengan hukum. [Mereka berkata] kami akan melakukan ini dan itu untuk kalian, padahal tindakan itu melanggar hukum; jangan menyuarakan slogal ilegal... jujurlah kepada masyarakat dalam perbuatan dan perkataan. Semua ini merupakan bagian dari etika pemilu yang sehat,”.

 

Secara umum pemimpin Revolusi Islam Iran menilai pemilu sebagai karunia besar yang harus disyukuri oleh semua pihak, dan semua elemen masyarakat harus berpartisipasi untuk mewujudkan pemilu yang sehat.

 

Masalah lain yang menjadi sorotan Ayatullah Khamenei dalam pidatonya yang disampaikan di hadapan para pejabat komisi pemilu Iran mengenai atmosfir politik negara ini dan juga negara lain serta dimulainya implementasi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Rahbar menilai implementasi JCPOA sebagai kemenangan besar Iran. Beliau menyampaikan terima kasih kepada presiden Hassan Rohani dan seluruh tim yang terlibat di dalamnya.

 

Meski demikian, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan karena kemurahan AS, tapi ketangguhan Iran dalam mempertahankan dan membela hak legalnya di arena internasional.

 

Rahbar berkata, “Kita menghasilkan energi nuklir dengan kemampuan kita sendiri, dengan pemikiran para ilmuwan kita, dengan dukungan setiap pemerintah di Iran, mempersembahkan empat syahid hingga mencapai titik ini; kita berupaya hingga musuh, yang tidak ingin satu pun sentrifugal beroperasi di Iran, kini terpaksa harus menerima realitas sebenarnya mengenai adanya ribuan setrifugal beroperasi di negara ini. Ini bukan kemurahan mereka, tapi perjuangan bangsa Iran dan kerja keras para ilmuwannya.”

 

Pemimpin besar Revolusi Islam Iran menjelaskan bahwa sanksi AS dan Eropa terhadap Iran disebabkan karena permusuhan mereka terhadap Republik Islam. Ayatullah Khamenei membantah klaim Barat yang menilai rakyat Iran tidak puas terhadap pemerintahan Republik Islam.

 

Terkait hal ini, Rahbar berkata, “Rakyat kita berdiri tegak, perjuangan rakyat ini, ketanggungan rakyat mendukung kerja diplomasi dan perundingan dan sejenisnya. [Akhirnya] musuh terpaksa mundur. Hal ini menunjukkan bangsa ini berdaulat, pemerintahan Republik Islam Iran memperlihatkan kewibawaannya, kemuliannya... semua kemajuan yang telah dicapai perlu diapresiasi sebagai pekerjaan penting. Semua itu disebabkan karena dukungan rakyat, kedaulatan bangsa, bersandarnya pemerintahan Republik Islam kepada suara rakyat dan akar rumput.”

 

Ayatullah Udzma sayid Ali Khamenei menjelaskan masalah penting lainnya bahwa negara-negara hegemoni Barat tahu Republik Islam Iran tidak mengejar senjata nuklir dalam program nuklir sipilnya. Lalu mengapa mereka menjatuhkan sanksi ? Rahbar menjawab masalah ini, “Ini salah satu dari gerakan publik untuk menekan bangsa Iran, demi menghentikan gerakan revolusioner bangsa Iran menuju tujuannya, untuk menghentikan perluasan pengaruh Republik Islam di kawasan dan dunia. Ini adalah sebuah realitas.”(IRIB Indonesia/PH)

Add comment


Security code
Refresh