Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 12 Januari 2016 09:54

Perspektif Rahbar: Pentingnya Pemilu Parlemen dan Dewan Ahli

Perspektif Rahbar: Pentingnya Pemilu Parlemen dan Dewan Ahli

Perjalanan Revolusi Islam Iran, yang dimulai pada dekade 1960-an, sempat mengalami pelemahan menyusul pengasingan Imam Khomeini dan juga penumpasan berbagai gerakan revolusioner pada 1963. Hal yang membuat gerakan revolusi kembali meletup-letup adalah kebangkitan warga kota Qom pada Januari 1978, menyusul penghinaan terhadap Imam Khomeini di koran Ettalaat. Demonstrasi dan kecaman masyarakat terhadap rezim despotik Pahlevi pun meluas hingga ke berbagai kota. Dan dalam rangka memperingati peristiwa besar itu, masyarakat Qom bertemu dengan Rahbar.

 

Dalam pertemuan tersebut, Rahbar menyebut faktor kelanggengan gerakan kebangkitan masyarakat kota Qom pada 1978 adalah kemiripannya dengan perjuangan agung Asyura yang setelah 14 abad berlalu tetap hidup dan memberikan hidayah bagi umat. Rahbar menekankan, “Peristiwa ini (kebangkitan masyarakat Qom) juga demikian; termasuk dalam tipe peristiwa Asyura.” Sebabnya adalah yang terjadi waktu itu merupakan peristiwa besar yang tidak disaksikan di negara atau masyarakat lain, dampaknya juga sangat menakjubkan. 

 

Ayatullah Khamenei menilai kebangkitan masyarakat Qom sangat penting dan determinan, serta menyinggung perannya dalam kemenangan Revolusi Islam, beliau mengatakan, “Darah para syuhada yang tertumpahkan secara mazlum dan keberanian masyarakat Qom, serta penampilan tepat waktu mereka di kancah juga kesadaran akan kewajiban pada saat-saat penting, telah membuahkan hasil; pada hakikatnya itu merupakan kunci yang terbuka, persiapannya bergulir dan rakyat bangkit. Oleh karena itu langkah masyarakat Qom adalah langkah yang takkan terlupakan.”

 

Revolusi Islam Iran adalah sebuah gerakan tanpa padanan yang tidak pernah terlintas di benak individu dan pemerintahan manapun. Di pihak seberang terdapat rezim dependen Pahlevi yang bersenjatakan lengkap dan kokoh, serta mendapat dukungan kekuatan adidaya dunia, khususnya Amerika Serikat. Oleh karena itu, dinas-dinas intelijen Barat khususnya Amerika Serikat, tidak memprediksikan jatuhnya rezim Pahlevi hingga beberapa bulan sebelum kemenangan Revolusi Islam. Dalam hal ini, Rahbar menyebut kemenangan Revolusi Islam Iran adalah campur tangan hukum Allah Swt di mana musuh tidak mungkin dapat memahaminya. Beliau mengatakan, “Ada hukum-hukum dalam masyarakat, hukum tersebut tidak dapat dipahami oleh [manusia] materialis dengan mata lemah, akan tetapi [hukum] itu ada. Ketika kita telah mempersiapkan landasan untuk hukum itu, maka Allah Swt memberlakukannya.”

 

Tujuan Ayatullah Khamenei mengingatkan kembali pertolongan Allah Swt dalam  kemenangan gerakan rakyat Iran, adalah untuk pengambilan kesimpulan menghadapi kondisi yang dihadapi Iran saat ini. Mengingat musuh-musuh Republik Islam Iran termasuk negara-negara Barat, negara-negara reaksioner Arab, kelompok-kelompok teroris Takfiri dan para penentang Revolusi Islam di dalamnegeri, sedang mengerahkan seluruh daya mereka untuk menggulingkan pemerintah Republik Islam. Namun Rahbar menegaskan bahwa Allah Swt akan tetap menolong bangsa Iran berdasarkan sunnah-Nya, dengan syarat masyarakat juga mempersiapkan pelaksanaan sunnah ilahi tersebut.

 

Beliau menyinggung hadis Imam Ali as:

فَلَمّا رَأَى اللهُ صِدقَنا اَنزَلَ بِعَدُوِّنَا الکَبتَ وَ اَنزَلَ عَلَینا النَّصر

Beliau menjelaskan hadis Amirul Mukminin as dalam Nahjul Balaghah itu dan berkata, “Terjunlah kalian ke kancah dengan jujur, berjuanglah, Allah Swt akan membinasakan musuh-musuh kalian dan menolong kalian. Ini adalah hukum dasarnya. Hukum ini telah termanifestasi dalam Revolusi Islam; masyarakat terjun ke medan dengan jujur dan mereka berjuang.” Ayatullah Khamenei menambahkan bahwa sekarang juga demikian, memalui perjuangan, kejujuran dan keikhlasan rakyat Iran, Allah Swt akan memenangkan mereka di hadapan musuh.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, menilai kunci kelanggengan gerakan ini adalah penyerahan diri rakyat kepada Allah Swt dan permohonan pertolongan-Nya. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Muhammad ayat tujuh: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Betapa banyak kebangkitan rakyat yang menang akan tetapi semuanya tidak dapat bertahan dan kemudian menyimpang atau dapat ditumpas.

 

Kepada masyarakat kota Qom, Rahbar menyinggung berbagai macam makar politik, ekonomi, militer dan budaya Barat untuk menggagalkan Revolusi Islam Iran, dan kasus yang terbaru terjadi pada tahun 2009. Pasca pilpres Iran pada tahun itu, pemerintah Barat menggunakan metode “revolusi berwarna” yang sukses di sejumlah negara, untuk meyakinan para pendukung kandidat yang kalah bahwa telah terjadi kecurangan serta memprovokasi mereka turun ke jalan-jalan.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai langkah Barat itu sebagai “kudeta berwarna” dan mengatakan, “...sebenarnya itu adalah kudeta berwarna, sebuah kudeta berwarna yang gagal. Ini sangat penting; peristiwa yang terjadi di negara-negara lain—di empat atau lima negara—sukses dilakukan orang-orang Amerika dengan uang dan berbagai fasilitas, akan tetapi gagal di Republik Islam meski mereka mendukungnya.”

 

Pada tanggal 17 Esfand 1394 HS atau bertepatan dengan tanggal 26 Februari 2016, rakyat Iran kembali akan mengisi kotak suara untuk pemilu parlemen dan Dewan Ahli Kepemimpinan. Imbauan Ayatullah Khamenei selalu menjadi petunjuk bagi masyarakat untuk memilih para kandidat yang layak. Beliau kembali menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pemilu dan menilainya sebagai faktor kelanggengan Revolusi Islam.

 

Terkait dampak dari partisipasi luas masyarakat dalam pemilu, Rahbar mengatakan, “Semua harus datang berpartisipasi dalam pemilu; ini akan mengokohkan pemerintah Republik Islam, melanggengkan dan memantapkannya, negara akan tetap berada dalam pagar keamanan yang utuh—yang alhamdulillah hari ini demikian adanya—ini akan membuat bangsa Iran terhormat di mata bangsa lain, meningkatkan kredibilitasnya, membuatnya berwibawa di mata musuh; seperti ini [dampak] pemilu.”

 

Parlemen Islam Iran adalah manifestasi musyawarah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat dan riwayat-riwayat. Ayatullah Khamenei telah berulangkali menekankan pentingnya tempat rujukan hukum di Iran ini, dan pada pertemuan terbaru, beliau mengatakan, “Parlemen sangat penting; baik dari sisi hukum maupun dari sisi peletakan rel untuk gerakan pemerintah—rel itu diletakkan parlemen sehingga kereta dapat bergerak sampai ke tujuan--... oleh karena itu parlemen Republik Islam Iran sangat penting untuk masalah dalam negeri, untuk kredibilitas global dan internasional negara.”

 

Mengingat posisi dan peran parlemen Republik Islam Iran, maka dengan sendirinya pemilu parlemen juga sangat penting. Dalam hal ini, beliau mengatakan, “Kita harus melihat, list yang diberikan kepada kita untuk [pemilu] parleman atau Dewan Ahli Kepemimpinan, harus kita lihat siapa yang memberikan list itu kepada kita. Kita harus amanatkan kepercayaan kepada mereka benar-benar beragama, yang berkomitmen pada ideologi, kita harus tahu apakah mereka beragama, revolusioner, berada di jalan Imam Khomeini ra dan sepenuhnya menerima Imam atau tidak. Seperti ini kita harus bersikap.”

 

Pemilu para anggota Dewan Ahli Kepemimpinan juga akan berlangsung sekitar satu setengah bulan lagi. Dewan ini akan mewakili rakyat untuk memilih Rahbar, atau Pemimpin Besar Revolusi Iran, yaitu posisi tertinggi di Iran, serta mengawasi kinerjanya. Soal pentingnya ketelitian dalam memilih anggota Dewan Ahli Kepemimpinan, Rahbar mengatakan, “Pada hari ketika Rahbar saat ini tidak ada di dunia atau tidak ada pemimpin, maka mereka (para anggota Dewan Ahli) akan memilih rahbar. Siapa yang akan mereka pilih? Apakah mereka akan memilih sosok yang berdiri di hadapan serangan musuh, bertawakkal kepada Allah Swt, menunjukkan keberanian dan melanjutkan jalan Imam Khomeini? Apakah mereka akan memilih pemimpin seperti ini atau mereka memilih yang lain? Ini sangat penting, kalian menginginkan seseorang di Dewan Ahli yang artinya dia akan memilih Rahbar yang memegang kunci gerakan revolusi; ini sangat penting, ini bukan masalah kecil. Oleh karena itu, harus diteliti dan harus dipastikan.”

 

Di akhir pidatonya, Rahbar menekankan bahwa pemberian suara dalam pemilu sama seperti berbaiat dengan Revolusi Islam dan Imam Khomeini, serta mengingat hukum Islam berkuasa, maka suara tersebut sama seperti baiat dengan Rasulullah Saw sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran akan menenangkan hati.(IRIB Indonesia/MZ)

Add comment


Security code
Refresh