Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 03 Januari 2016 16:29

Peradaban Baru Islam dalam Perspektif Rahbar

Peradaban Baru Islam dalam Perspektif Rahbar

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan para pejabat Iran dan tamu peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-29 di Tehran, Selasa (29/12/2015) mengatakan, saat ini adalah giliran dunia Islam untuk bergerak membangun "sebuah peradaban baru Islam" dengan menggunakan ilmu pengetahuan, akal, kebijaksanaan, wawasan, kehati-hatian dan kejelian.

 

Dalam pertemuan tersebut, Rahbar mengucapkan selamat kepada umat Islam atas Maulid Nabi Muhammad Saw dan kelahiran Imam Jafar Shadiq, cucu Rasulullah Saw. Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa maulid Nabi Muhammad Saw dan diutusnya beliau sebagai Rasulullah menjadi spirit untuk menghidupkan dunia yang mati dari kemanusiaan dan kemuliaan.

 

Terkait hal ini, Allah swt dalam al-Quran surat al-Anfal ayat 24 berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.”

 

Rahbar menilai peringatan maulid Nabi Muhammad Saw sebagai tindakan mulia. Meskipun demikian tidak cukup, sebab dunia saat ini dipenuhi oleh ketidakadilan, kejahilan dan diskriminasi. Ayatullah Khamenei berkata, "Kini, tugas umat Islam bukan hanya memperingati maulid atau hari diutusnya Nabi Muhammad Saw (sebagai Rasul), namun dunia Islam harus berusaha keras untuk mencapai peradaban baru Islam,".

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran memandang pembentukan peradaban baru Islam tidak bermakna menguasai berbagai wilayah lain, dan mengagresi bangsa lain, maupun memaksakan nilai dan budaya tertentu kepada bangsa lain. Menurut Rahbar, pembentukan peradaban baru Islam bermakna menawarkan hadiah ilahi kepada bangsa-bangsa dunia, sehingga dengan pilihan mereka sendiri akan memutuskan jalan benar mana yang akan dipilih.

 

Ayatullah Khamenei menyinggung terbentuknya peradaban materialisme Barat, dan mengatakan, pada abad 16 dan 17 orang-orang Eropa berhasil membangun peradaban dengan memanfaatkan pengetahuan dan filsafat Muslim. Tapi, karena basisnya adalah materialisme, maka Barat menggunakan segala cara, termasuk imperialisme dan penjarahan terhadap bangsa-bangsa dunia. Dengan ilmu pengetahuan yang dikuasainya, Barat menguasai umat manusia.

 

Menurut Rahbar, peradaban materialisme Barat dengan segala tampilan teknologi yang indah di luar dan kemakmuran, tapi tetap saja tidak mampu mewujudkan keadilan dan kebahagiaan manusia. Sebab di dalam dirinya muncul kontradiksi karena sirnanya spiritualitas dan kebobrokan moral akut.

 

Di bagian lain statemennya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengungkapkan, “Kini, tiba saatnya bagi umat Islam dengan tekad bajanya untuk membangun peradaban baru Islam. Demikian juga, ketika Eropa memanfaatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman umat Islam. Kini, kita harus memanfaatkan pengetahuan dan alat yang ada di dunia untuk mendirikan peradaban baru Islam, tapi dengan ruh Islam dan  semangat spiritualitas. Inilah kewajiban kita dewasa ini,”.

 

Ayatullah Khamenei menilai pembentukan peradaban Islam sebagai kewajiban ulama dan intelektual Muslim sejati. Beliau berkata, “Saya tidak menaruh harapan kepada para politisi....harapan kami saat ini kepada para ulama dan cendekiawan sejati yang tidak melihat Barat sebagai kiblat mereka; harapan bertumpu kepada mereka, dan ini sesuatu yang mungkin terjadi.”

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam memandang pembentukan peradaban Islam merupakan sesuatu yang mungkin dan bisa terjadi mengingat besarnya potensi besar dunia Islam, termasuk populasi, luas geografis, sumber daya alam dan sumber daya manusianya.

 

Ayatullah Khamenei menilai upaya menyulut perpecahan di tubuh umat Islam sebagai alat musuh untuk mencegah berdirinya peradaban baru Islam. Menurut Rahbar, ketika masalah Syiah dan Sunni diangkat dalam literatur para politisi Amerika Serikat, maka jelas mereka sedang mengejar sebuah konspirasi baru dan lebih berbahaya dari sebelumnya.

 

Ayatullah Khamenei menegaskan, Inggris memiliki sejarah dalam kemahirannya menyulut perpecahan antara Sunni dan Syiah, tapi kini konspirasi yang dijalankan AS lebih berbahaya. Rahbar berkata, “Ketika (musuh) memihak salah satu kubu di dunia Islam, apakah kita senang? Jika mereka memihak kita, apakah kita harus senang? Tidak, kita justru harus berduka. Lihatlah apa kelemahan yang mereka lihat dari kita yang akan dipergunakan sebagai alat pemihakan,”.

 

Imam Ali berkata, “Jangan merasa aman dari musuh, meskipun mereka mengucapkan terima kasih kepadamu.” Selain itu, Imam Shadiq menegaskan, “... terkadang musuh mendekatimu sehingga engkau lalai. Oleh karena itu, waspadalah dan curigalah ketika musuh optimis kepadamu !”

 

Ayatullah Khamenei dalam statemennya menyinggung peran besar negara-negara Barat dalam menciptakan perpecahan di tubuh umat Islam. Barat berusaha menciptakan perpecahan di antara umat Islam, dan contoh jelasnya adalah menciptakan kelompok teroris seperti ISIS dan kelompok-kelompok lainnya, di mana kelompok-kelompok itu muncul dengan bantuan finansial dan politik Amerika demi menimbulkan bencana di dunia Islam.

 

Rahbar berkata, “Suatu ketika friksi ini berbentuk Pan-Iranisme, Pan-Turkisme dan Pan-Arabisme dan sejenisnya yang tidak aplikatif; kini mengunakan nama mazhab lalu para pemuda (dunia Islam) saling bersengketa. Lalu, akhirnya lahir sekte teroris seperti ISIS dan sejenisnya dengan dana mitra-mitra AS, juga bantuan politik AS, disertai para sekutu AS, dan berpotensi untuk berkembang. Ini semua tragedi di dunia Islam,”.

 

Ayatullah Khamenei menyinggung tujuan musuh menyulut perang di tubuh umat Islam. Rahbar menilai konflik internal di antara umat Islam dan penghancuran infrastruktur negara-negara Islam seperti Suriah, Yaman dan Libya sebagai tujuan utama dari front kekuatan-kekuatan arogan dunia. Lebih lanjut Ayatullah Khamenei menegaskan, dunia Islam tidak boleh duduk diam, dan menyerah terhadap konspirasi ini, namun harus berdiri dan melawannya dengan visi ilahi dan ketegaran membela kebenaran.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran juga mengkritik kebungkaman dunia Islam atas berlanjutnya tekanan dan penindasan terhadap rakyat Muslim Bahrain dan kelanjutan serangan dan pemboman di Yaman. Selain itu, Rahbar juga menyinggung situasi di Suriah dan Irak serta pembantaian terbaru umat Islam Nigeria.

 

Ayatullah Khamenei menyesalkan tragedi tersebut dan sikaf pasif dunia Islam menyikapi peristiwa tersebut. Rahbar lebih lanjut menegaskan, Syiah dan Sunni bagi AS tidak ada bedanya, dan Washington akan menentang setiap Muslim yang berusaha hidup berdasarkan hukum-hukum Islam dan berjuang dengannya.

 

Ayatullah Khamenei menuturkan, ketika dunia Barat yang mengedepankan kekuatan mengerahkan semua kemampuannya untuk merealisasikan rencana berbahaya terhadap dunia Islam, maka tak seorangpun diperbolehkan untuk diam dan tidak mengetahui realitas sebenarnya.

 

Terkait hal ini, Allah swt dalam al-Quran surat Al-Imran ayat 103, berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

 

Imam Ali berkata, “Tuhan [kita] satu, Nabi [sama] satu, dan kitab suci pun satu”.Ketiganya menjadi pijakan bersama dunia Islam untuk membangun peradaban baru Islam. (IRIB Indonesia/PH)

Add comment


Security code
Refresh