Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 28 Desember 2015 15:00

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (8)

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (8)

Menyikapi serangan teror Paris dan reaksi besar publik dunia, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran kembali menulis surat yang dilayangkan kepada para pemuda Barat. Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei menggarisbawahi penegasan bahwa setiap gerakan prematur dan tergesa-gesa akan semakin memperlebar jarak dan meningkatkan permusuhan.

 

Menurut Rahbar, Langkah-langkah dangkal dan reaktif, apalagi jika didukung hukum, tidak akan membuahkan hasil apapun kecuali peningkatan polarisasi yang telah ada, sekaligus akan membuka pintu bagi munculnya berbagai krisis baru di masa mendatang. Hingga kini korban terbesar aksi tergesa-gesa menyikapi masalah  terorisme tersebut adalah warga Muslim, terutama yang berdomisili di negara-negara Barat.

 

Terkait hal ini, Rahbar berkata,“Reaksi prematur dan tergesa-gesa dalam menyikapi masalah terorisme sebagai kekeliruan besar yang justru menjadi pemicu penyebaran terorisme di seluruh penjuru dunia.” Ayatullah Khamenei mengingatkan,“Setiap gerakan sensasional dan tergesa-gesa yang membuat masyarakat Muslim Eropa dan Amerika Serikat, yang terdiri dari jutaan manusia aktif dan bertanggungjawab menjadi terisolasi maupun khawatir dan gelisah, membuat mereka terhalang dari hak-hak asasinya dibandingkan sebelumnya, serta membuat mereka tersingkir dari kancah sosial, bukan hanya tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan justru akan semakin memperlebar jarak dan meningkatkan permusuhan.”

 

Tapi amat disayangkan selama bertahun-tahun berbagai laporan menunjukkan terjadinya diskriminasi dan permusuhan terhadap Muslim di negara-negara Barat. Pasca peristiwa 11 September, para politisi sayap kanan esktrem, Kristen dan Yahudi garis keras dan partai politik anti-imigran Muslim bersama sejumlah media menyebarkan propaganda Islamofobia secara masif. Mereka menggunakan alasan  adanya segelintir teroris yang Muslim, dan menjadikan umat Islam sebagai sasaran telunjuk tudingannya.

 

Peristiwa 11 September menjadi alasan bagi para penguasa negara-negara Barat untuk menekan Muslim, terutama yang berada di negara mereka. Tidak hanya itu, para pelaku industri media dan hiburan pun memanfaatkannya untuk memproduksi berbagai produk berisi propaganda Islamofobia dalam berbagai bentuk. Akibatnya, ketika terjadi aksi terorisme di negara mereka, maka warga Muslim menjadi pihak pertama sasaran tuduhan. Tidak hanya itu, warga Muslim juga dinilai sebagai penyebab krisis ekonomi, sosial, budaya, politik dan militer.

 

Kebijakan konfrontatif terhadap warga Muslim tersebut menyebabkan imigran Muslim menjadi warga kelas dua di negara-negara sekuler dan tidak mendapatkan hak dasarnya. Padahal ujaran kebencian terhadap etnis, suku dan agama merupakan bentuk nyata pelanggaran terhadap piagam PBB pasal 20 ayat pertama yang berbunyi, “Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berkumpul dan berserikat secara damai”. Di pasal 20 ayat kedua ditegaskan, “Tidak seorang pun boleh dipaksa untuk memasuki sesuatu perkumpulan”.

 

Pelanggaran sistematis terhadap kebebasan beragama, terutama agama Islam terjadi di negara-negara yang mengaku sebagai pengusung kebebasan, demokrasi dan HAM. Kondisi tersebut berlangsung di saat Pew Research Center di tahun 2015 melaporkan terjadinya peningkatan populasi muslim. Diprediksi hingga tahun 2050, Muslim menjadi penganut agama terbesar kedua di AS.

 

Selain itu, populasi Muslim di Eropa yangn berjumlah 43 juta orang di tahun 2010 meningkat dua kali lipat beberapa tahun setelahnya. Pew Research Center memprediksi terjadinya pertumbuhan jumlah populasi Muslim di Eropa, dan akan mencapai 71 juta orang di tahun 2050. Data statistik tersebut mengemuka di saat warga Muslim yang berdomisili di negara-negara Barat mengalami berbagai diskriminasi terutama bidang pendidikan dan lapangan kerja.

 

Gelombang Islamofobia di negara-negara Barat menyulut eskalasi diskriminasi besar-besaran terhadap Muslim. Pusat polling dunia, Gallup di tahun 2015 mengungkapkan warga Muslim di negara-negara Barat tidak dihormati oleh warga lainnya. Dilaporkan sebanyak 54 persen dari responden AS, dan 48 persen responden Kanada, menyatakan warga negara-negara Barat tidak menghormati Muslim.

 

Berdasarkan jajak pendapat yang dikeluarkan Gallup, 80 persen Muslim menyerukan supaya warga negara-negara Barat menghormati al-Quran dan simbol-simbol keagamaan. Selain itu, 60 persen Muslim menyerukan perubahan perilaku terhadap Muslim supaya mereka diperlakukan setara seperti warga negara lainnya di negara-negara Barat.

 

Berbagai laporan di Prancis dan Inggris menunjukkan terjadinya penurunan sikap menghormati Muslim. Komisi HAM PBB mengeluarkan laporan ketujuh di tahun 2015 mengenai peningkatan angka diskriminasi dan xenofobia di Inggris. Komisi HAM PBB sangat mengkhawatirkan terjadinya diskriminasi dan xenofobia di media dan situs internet Inggris, dan juga penyebaran paper dan buku tentang ujaran kebencian terhadap Muslim dan Afrika.

 

Koran The Independent dalam salah satu laporannya tahun ini menyinggung terjadinya eskalasi diskriminasi terhadap warga Muslim Inggris di kelas, dan pemerintah Inggris gagal mengatasi masalah tersebut. Dilaporkan, warga Muslim di sekolah-sekolah Inggris menjadi sasaran serangan fisik dan mental.

 

Selain itu, di tahun ini juga terjadi berbagai aksi vandalisme yang dilakukan kelompok tertentu terhadap muslim, termasuk pembakaran dan pengrusakan sekolah, masjid dan pusat Islam serta pemakaman Muslim di sejumlah negara di kawasan Eropa. Gencarnya propaganda Islamofobia di negara-negara Barat menyebabkan warganya tidak memiliki pandangan positif terhadap Muslim. Dilaporkan antara 16 hingga 21 persen warga Prancis, Jerman dan Inggris tidak menyukai tetangganya yang Muslim.

 

Organisasi anti-Islam di Prancis, CCIF dalam laporannya mengungkapkan selama satu semester pertama 2015 terjadi peningkatan aksi anti-Islam dan Muslim sebesar 23,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2014. Menurut laporan CCIF, kekerasan fisik dan mental meningkat dari sebelumnya.

 

Selain Eropa, diskriminasi terhadap Muslim terjadi secara masif di AS. Majalah Economist yang bekerja sama dengan lembaga You Gov melaporkan hasil polling yang menunjukkan 73 persen Muslim di AS menjadi sasaran diskriminasi.

Human Right Watch dan pusat HAM Universitas Colombia tahun ini melaporkan “Operasi Patuk” mengenai aksi keamanan terhadap terorisme di AS.Berdasarkan laporan tersebut, kebijakan penumpasan terorisme kementerian kehakiman dan kantor investigasi federal mengancam identitas agama dan etnis Muslim.

 

Laporan setebal 24 halaman berjudul “Klaim Keadilan dan HAM dalam Peradilan Terorisme di AS” membahas 27 kasus terorisme yang berada dalam penanganan polisi federal. Laporan yang mengutip statemen pejabat Human Right Watch di Washington mengungkapkan bahwa sebagian dari mereka tidak pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, sesuai laporan ini operasi pemberantasan terorisme di AS mengancam kemanusiaan, sebab bersikap sesuai kecenderungan agama dan etnis.

 

Terorisme tidak pernah memiliki akar dalam ajaran agama, terutama Islam yang mengusung perdamaian dan cinta kasih. Tapi kinerja negara-negara Barat, terutama AS justru menjadikan agama Islam dan Muslim sebagai teroris. Lihatlah statemen para pejabat tinggi AS ketika tiga mahasiswa Muslim menjadi korban penembakan di California Utara pada Februari 2015 lalu. Lalu bandingkan dengan penyerangan dua orang pendukung kelompok teroris ISIS  di San Bernardino belum lama ini.

 

Ironisnya, statemen paling rasis justru keluar dari mulut seorang bakal capres AS, Donald Trump, yang menyerukan supaya Muslim tidak boleh memasuki AS. Ia berkata,“Kita tidak bisa mengizinkan negara ini menjadi korban serangan sadis orang-orang yang tidak rasional, dan tidak menghormati kehidupan umat manusia,”.

 

Menyikapi masalah ini, Ayatullah Khamenei menyesalkan terjadinya berbagai diskriminasi dan sikap tidak bersahabat terhadap Muslim di berbagai negara Barat. Rahbar berkata, “Berdasarkan berita-berita yang ada, di sejumlah negara Eropa telah ditetapkan ketentuan yang mendorong warganya untuk memata-matai Muslim. Perilaku ini adalah kezaliman dan kita semua mengetahui bahwa mau tidak mau kezaliman punya potensi menjadi bumerang,”

 

Ayatullah Khamenei menegaskan, “Selain itu, warga Muslim tidak patut atas perilaku tidak berterimakasih ini. Dunia Barat telah mengenal umat Muslim selama berabad-abad; baik di masa ketika orang-orang Barat menjadi tamu umat Islam dan tergiur oleh kekayaan tuan rumah, maupun pada hari ketika mereka menjadi tuan rumah serta mengambil manfaat dari karya dan pemikiran umat Islam, biasanya mereka tidak menyaksikan hal lain kecuali kasih sayang dan kesabaran.”(IRIB Indonesia/PH)

 

Add comment


Security code
Refresh