Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 20 Desember 2015 06:54

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (6)

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (6)

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam surat kedua kepada pemuda Barat menjelaskan sejumlah masalah penting. Salah satunya adalah perhatian terhadap faktor pemicu mengapa pemuda Eropa tertarik bergabung dengan kelompok teroris, terutama ISIS. Rahbar mengajukan pertanyaan penting, “Di sisi lain, harus dipertanyakan mengapa orang-orang yang lahir di Eropa dan pemikirannya tumbuh di lingkungan tersebut, tertarik kepada kelompok jenis ini? Apakah dapat dipercaya jika orang-orang yang baru sekali atau dua kali mengunjungi zona perang mendadak berubah sedemikian ekstrim hingga menembaki orang-orang satu negaranya sendiri?”.

 

 

Ayatullah Khamenei menegaskan,“Tentu saja tidak bisa dilupakan peran budaya tidak sehat dan lingkungan terpolusi yang melahirkan kekerasan. Dalam hal ini harus dilakukan analisis komprehensif, sebuah analisis yang mendeteksi berbagai pencemaran nyata dan terselubung dalam masyarakat. Mungkin kebencian mendalam telah tertanam dalam hati satu lapisan masyarakat Barat selama beberapa tahun era keemasan industri dan ekonomi, akibat berbagai ketimpangan dan terkadang diskriminasi hukum dan struktural, yang telah menciptakan dendam yang terkadang muncul dalam bentuk penyakit seperti ini”.

 

Sarana utama kemunculan perilaku ekstrem di dunia Barat dewasa ini akibat diskriminasi dan rasisme yang berakar kuat dalam masyarakatnya. Stein Rokkan, sosiolog politik menilai akar kesenjangan dalam setiap peristiwa bersejarah dan penting bisa dilacak dalam revolusi nasional di abad 15 dan 16, dan revolusi industri di abad 18.

 

Sosiolog politik Universitas Bergen, Norwegia ini menilai kesenjangan yang dipicu oleh revolusi nasional, split budaya dan identitas serta kesenjangan akibat revolusi industri, pada dasarnya memiliki esensi ekonomi dan sosial. Seiring meletusnya revolusi industri di Barat di abad kedelapan belas kehidupan umat manusia bergerak menuju babak baru.

 

Revolusi industri menyebabkan lahirnya metode baru, keragaman jenis dan keberlimpahan produk, serta kemunculan komoditas baru yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik industri yang memasuki pasar dan dikonsumsi masyarakat Barat. Oleh karena itu, revolusi industri memunculkan interaksi sosial politik baru di tengah masyarakat Barat. Sejatinya, meskipun revolusi industri berada di ranah ekonomi, tapi pengaruhnya mencakup seluruh bidang kehidupan.

 

Di tahun-tahun awal abad kesembilan belas, Inggris memperluas imperialismenya di Kanada dan kemudian memasuki Australia, Selandia Baru dan Afrika Selatan. Memasuki seperempat abad kesembilan belas terjadi peningkatan kompetisi dan perang di kancah internasional untuk memperebutkan daerah jajahan seiring meningkatnya kemajuan teknologi industri dan penumpukan modal.

 

Ketika itu pengaruh Prancis semakin meluas hingga ke Afrika Utara dan menguasai sebagian besar dari bangsa-bangsa di kawasan itu.Tidak ingin ketinggalan dari Prancis, Spanyol dan Italia pun memperluas pengaruhnya. Lalu friksi muncul di antara mereka yang memperebutkan pulau-pulau di samudera Atlantik dan penempatan pusat-pusat dagang di Cina. Selanjutnya, AS muncul sebagai imperialis baru.

 

Menyikapi masalah ini, Ayatullah Khamenei dalam salah satu pidatonya berkata, “Salah satu kejahatan terbesar terhadap umat manusia adalah penggunaan ilmu untuk menindas pihak lain, sebagaimana terjadi di era revolusi industri di dunia sekitar dua atau tiga abad. Inggris termasuk pemuka revolusi industri yang menggunakannya untuk menguasai seluruh dunia, dan menyengsarakan berbagai bangsa.”

 

“Tahukah Anda apa yang terjadi di era imperialisme di Anak Benua India, siapa yang besar dan kaya raya ? Ini bukan hanya menimpa Anak Benua India saja. Seluruh kawasan Asia Timur selama bertahun-tahun dalam rentang lebih dari satu abad berada di bawah cengkeraman mereka. Mereka memanfaatkan ilmu untuk menguasai masyarakat; entah berapa banyak manusia yang meninggal, betapa banyak harapan yang sirna, berapa banyak bangsa yang terbelakang,  dan berapa banyak negara yang porak-poranda. Mereka menggunakan ilmu  untuk tujuan demikian.”

 

Menurut Rahbar, tindakan para imperialis tersebut “Sebagai kejahatan terbesar terhadap ilmu pengetahuan, sekaligus kejahatan terbesar terhadap umat manusia”. “Setiap bangsa bisa merdeka, bukan dengan izin mereka (imperialis) yang berada di genggamannya.Tapi berdiri di atas kakinya sendiri melalui sebuah pukulan terhadap monopoli itu, dan kini sedang dilancarkan oleh Iran,” tegas Ayatullah Khamenei.

 

Meskipun diskriminasi dan ketidakadilan terhadap manusia memiliki sejarah panjang, tapi apartheid dan keunggulan sebuah etnis tertentu terhadap etnis lain dikembangkan secara masif oleh negara-negara Barat yang menjajah berbagai bangsa dunia. Selain itu Penimbunan kekayaaan yang merupakan karakteristik dari era renaisans di Eropa, juga tidak bisa dilepaskan peran besarnya.

 

Penemuan wilayah baru oleh para imperialis dan perdagangan budak yang mencapai puncaknya di abad ke-17, menurut sejumlah sumber berjumlah sekitar 30 hingga 40 juta orang, telah membuat Eropa kaya raya. Salah seorang penulis Afrika mengungkapkan, “Selama berabad-abad telah terjadi berbagai peristiwa penting dalam sejarah perbudakan, dan apartheid adalah akibat langsungnya yang menyakitkan,”.

 

Frantz Fanon menuturkan, “Imperialisme Barat menguasai dunia dengan bersandar pada teknik supremasi (dirinya). Para pemuka imperialis berkeyakinan bahwa mereka memiliki keunggulan budaya, oleh karena itu merasa etnisnya lebih unggul dari yang lain. Dari sini apartheid muncul dalam berbagai bentuk budaya dan peradaban barat, dan lambat laun menjadi salah satu prinsip utamanya. Mulai dari penghinaan terhadap etnis lain hingga kemanusiaan dan penolakan terhadap martabat dan kemuliaan manusia. Barat berupaya menjadikan pribumi tidak memiliki identitas, bahkan sejarah mereka pun disita lalu menulis sejarah baru sehingga pribumi percaya mereka tidak memiliki identitas”.

 

Dewasa ini rasisme dan fanatisme agama dan etnis di Eropa sedang berkembang pesat. Masalah ini mengancam sistem politik dan keamanan dunia. Xenophobia yang semakin tinggi di Eropa dan AS membunyikan lonceng bahaya kebencian membabi buta kepada pihak lain selain mereka. Kelompok sayap kanan ekstrem Kristen, Far Right kembali tumbuh berkembang yang mengancam ikatan sosial benua Eropa melebihi sebelumnya.

 

Partai sayap kanan Kristen terbentuk sejak dekade sembilan puluhan di sejumlah negara Eropa. Mereka menyebarkan islamofobia dan sentimen anti-imigran di tengah meningkatnya masalah ekonomi dan sosial. Kelompok dan anggota kubu ini biasanya ekstrem dan meyakini keunggulan pihaknya dari yang lain. Bahkan bagi masyarakat Eropa sendiri menimbulkan masalah serius, karena bertentangan dengan prinsip kesetaraan.

 

Diskriminasi gender merupakan salah satu masalah serius yang dihadapi masyarakat Barat, dan kini melanda masyarakat Timur, terutama dunia ketiga. Terkait hal ini, Ayatullah Khamenei berkata, “Sejak orang-orang Eropa menghasilkan industri baru pada awal abad ke-19, seiring dibangunnya pabrik-pabrik besar oleh para pemodal Barat, maka kebutuhan terhadap tenaga kerja murah, tidak banyak tuntutan dan sedikit masalah, mulailah suara ‘kebebasan perempuan’ dikumandangkan; perempuan dibawa keluar rumah menuju pabrik-pabrik yang dipergunakan sebagai pekerja murah, saku-saku mereka terisi dan perempuan diturunkan kemuliaan dan harkat martabatnya,”.

 

Data statistik yang dikeluarkan Uni Eropa menunjukkan bahwa tingkat kerja perempuan tanpa anak sebesar 75 persen, dan perempuan yang memiliki anak 54 persen. Sedangkan untuk laki-laki tanpa anak sebesar 80 persen, dan laki-laki dengan anak 85 persen. Sesuai data tersebut, tingkat partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di Barat juga tidak besar. Tingkat rata-rata partisipasi perempuan di parlemen di negara-negara Barat sebesar satu banding empat, atau sekitar 24 persen.

 

Contoh lain dari diskriminasi adalah apartheid. Protes dan kerusuhan terhadap sepak terjang rasis polisi kulit putih terhadap warga kulit hitam di Eropa dan AS menunjukkan masalah serius rasisme di Barat. Citra negatif yang dibangun media Barat terhadap kulit hitam selama bertahun –tahun melekat dalam benak masyarakat yang menyebabkan timbulnya berbagai masalah seperti kesulitan untuk mencari lapangan kerja bagi warga kulit hitam. Warga kulit hitam di negara-negara Barat menghadapi masalah rendahnya pendapatan, kemiskinan, pendidikan dan penangkapan serta kekerasan, bahkan oleh polisi kulit putih. (IRIB Indonesia/PH) 

Add comment


Security code
Refresh