Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 15 Desember 2015 15:58

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (4)

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (4)

Dewasa ini mucul fenomena terorisme negara. Sejumlah negara dunia menggelontorkan dukungan besar-besaran mulai dari finansial, pelatihan militer hingga politik terhadap kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di berbagai negara yang berpenduduk Muslim. Akibatnya rakyat di negara yang menjadi target aksi teroris setiap saat dihantui ketakutan dan ancaman masif.

 

Kini, kondisi serupa menimpa masyarakat Barat yang dihantui serangan teroris.Tapi pertanyaannya, bagaimana negara-negara Barat yang mengklaim sebagai pengusung perdamaian dan keamanan internasional sekaligus pengibat bendera HAM di dunia, tidak mengambil tindakan serius untuk memberantas terorisme, dan tindakan yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil signifikan?

 

Sebagian analis politik internasional berkayakinan bahwa kelompok-kelompok teroris saat ini kelahirannya dibidani oleh negara-negara Barat, dan kini berbalik menjadi bumerang bagi masyarakatnya sendiri. Salah satu alasan dukungan terselubung sejumlah negara Barat terhadap terorisme berkaitan dengan masalah kepentingan politik dan ekonomi negara-negara Barat. Tentang ini, Ayatullah Khamenei berkata, “Dewasa ini, sedikit sekali orang yang tidak mengetahui peran Amerika Serikat dalam membentuk maupun memperkuat dan mempersenjatai al-Qaeda, Taliban, dan para pengikut jejak mereka”.

 

Contoh paling jelas lainnya dari terorisme negara di kawasan Timur Tengah adalah rezim agresor Israel. Selama bertahun-tahun Israel melakukan berbagai kekerasan dan kejahatan terhadap bangsa Palestina. Rezim Zionis merampas hak paling utama bangsa Palestina yaitu tanah air, tempat tinggal, ladang, bahkan nyawanya, dan mereka harus terusir secara paksa dari tanah kelahirannya sendiri.

 

Ironisnya sepak terjang tidak berperikemanusiaan Israel tersebut justru didukung oleh AS dan sejumlah negara Barat lainnya, yang selama ini berteriak keras mengenai penegakkan HAM di berbagai negara dunia. Pertanyaannya, mengapa negara-negara Barat tidak bertindak serius untuk memerangi terorisme negara yang dipertontonkan secara vulgar oleh rezim Zionis Israel ? Apakah bangsa Palestina tidak memiliki hak untuk hidup di tanah airnya sendiri ? Apakah agresi militer Israel terhadap Palestina yang menyebabkan begitu banyak korban jiwa lebih rendah nilainya dari sekitar 100 orang warga negara Barat yang menjadi korban teroris ?

 

Masalah utamanya adalah kebijakan standar ganda Barat dalam masalah terorisme dan hak asasi manusia. Rahbar berkata, “Selama parameter-parameter standar ganda menguasai politik Barat, dan selama terorisme menurut pandangan para pendukung kuatnya terbagi dalam kategori baik dan buruk, dan selama kepentingan-kepentingan berbagai pemerintah didahulukan di atas nilai-nilai kemanusiaan dan etika, maka akar-akar kekerasan jangan sampai dicari di tempat lain”.

 

Tampaknya, kebijakan standar ganda yang dijalankan negara-negara Barat mengenai masalah terorisme dan HAM menyebabkan kita tidak perlu terlalu berharap dari mereka mengenai penegakkan hak asasi manusia. Dalam kondisi demikian, Ayatullah Khamenei menyampaikan pesan kepada pemuda Barat. “Saya yakin, hanya kalian para pemuda yang mengambil pelajaran dari peristiwa ini yang akan mampu menemukan jalan baru untuk membangun masa depan, sekaligus benteng dari berbagai penyimpangan yang telah mengantarkan Barat hingga ke noktah [hitam] sekarang ini,” ujar Rahbar dalam suratnya.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyampaikan solusi untuk mewujudkan ketentraman dan keamanan serta menghilangkan iklim rasa takut dan kekhawatiran yang menyelimuti para pemuda Barat. Salah satunya adalah reformasi pemikiran kekerasan di Barat, dan tidak tergesa-gesa mereaksi sebuah masalah tanpa didukung fakta yang bisa dipertanggungjawabkan.

 

Salah satu aksi kelompok ekstrem dan rasis di Barat adalah memanfaatkan peristiwa getir terorisme demi kepentingannya dengan menyulut eskalasi gelombang islamofobia di Eropa. Faktanya, lihatlah bagaimana media-media mainstream Barat menggambarkan Islam secara pejoratif dan mengidentikkan terorisme dengan Islam, padahal terorisme sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sangat menjunjung tinggi perdamaian.

 

Dalam kondisi demikian, masyarakat Barat terutama para pemudanya harus kritis dan tidak terpengaruh oleh propaganda media mainstream itu. Sebab jika mereka terpengaruh oleh permainan media tersebut maka mereka tidak akan bisa secara rasional dan bijak menyusun program dan tindakan yang efektif untuk menghadapi ekstremisme dan kekerasan dalam masyarakatnya sendiri demi menciptakan keamanan dan kedamaian negaranya masing-masing di tingkat dunia.

 

Sejatinya, stempel teroris berlabel Islam semacam ISIS, tidak memiliki hubungan sama sekali dengan ajaran agama Islam. Terkait masalah ini, Rahbar berkata, “Bagaimana mungkin salah satu agama yang paling menjunjung tinggi moralitas, dan nilai-nilai kemanusiaan di dunia dalam sumber ajarannya, (al-Quran) yang meyakini pembunuhan satu nyawa sama seperti membunuh seluruh umat manusia, memproduksi sampah seperti ISIS?”. Oleh karena itu, pemuda Eropa harus melacak akar pemicu kelahiran dan tumbuh berkembangnya teroris semacam ISIS dengan berbagai kejahatannya yang paling sadis.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai “reaksi prematur dan tergesa-gesa” dalam menyikapi masalah terorisme sebagai kekeliruan besar yang justru menjadi pemicu penyebaran terorisme di seluruh penjuru dunia.Ayatullah Khamenei mengingatkan, “Setiap gerakan sensasional dan tergesa-gesa yang membuat masyarakat Muslim Eropa dan Amerika Serikat, yang terdiri dari jutaan manusia aktif dan bertanggungjawab menjadi terisolasi maupun khawatir dan gelisah, membuat mereka terhalang dari hak-hak asasinya dibandingkan sebelumnya, serta membuat mereka tersingkir dari kancah sosial, bukan hanya tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan justru akan semakin memperlebar jarak dan meningkatkan permusuhan.”

 

Dalam suratnya kepada pemuda Barat, Rahbar menggarisbawahi penegasan bahwa setiap gerakan prematur dan tergesa-gesa akan semakin memperlebar jarak dan meningkatkan permusuhan.” Ditegaskannya, Langkah-langkah dangkal dan reaktif, apalagi jika didukung hukum, tidak akan menghasilkan apapun kecuali peningkatan polarisasi yang telah ada, sekaligus akan membuka pintu bagi berbagai krisis di masa mendatang.

 

Ayatullah Khamenei melanjutkan penjelasannya dalam surat yang dikirim kepada pemuda Barat. “Berdasarkan berita-berita yang ada, di sejumlah negara Eropa telah ditetapkan ketentuan yang mendorong warganya untuk memata-matai Muslim. Perilaku ini adalah kezaliman dan kita semua mengetahui bahwa mau tidak mau kezaliman punya potensi menjadi bumerang. Selain itu, warga Muslim tidak patut atas perilaku tidak berterimakasih ini. Dunia Barat telah mengenal umat Muslim selama berabad-abad; baik di masa ketika orang-orang Barat menjadi tamu umat Islam dan tergiur oleh kekayaan tuan rumah, maupun pada hari ketika mereka menjadi tuan rumah serta mengambil manfaat dari karya dan pemikiran umat Islam, biasanya mereka tidak menyaksikan hal lain kecuali kasih sayang dan kesabaran.”

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam surat keduanya kepada pemuda Barat menyinggung akar masalah kekerasan di dunia Barat. Rahbar mengajukan pertanyaan penting, “Di sisi lain, harus dipertanyakan mengapa orang-orang yang lahir di Eropa dan pemikirannya tumbuh di lingkungan tersebut, tertarik kepada kelompok jenis ini? Apakah dapat dipercaya jika orang-orang yang baru sekali atau dua kali mengunjungi zona perang mendadak berubah sedemikian ekstrim hingga menembaki orang-orang satu negaranya sendiri?

 

Ayatullah Khamenei menegaskan, “Tentu saja tidak bisa dilupakan peran budaya tidak sehat dan lingkungan terpolusi yang melahirkan kekerasan. Dalam hal ini harus dilakukan analisis komprehensif, sebuah analisis yang mendeteksi berbagai pencemaran nyata dan terselubung dalam masyarakat. Mungkin kebencian mendalam telah tertanam dalam hati satu lapisan masyarakat Barat, selama beberapa tahun era keemasan industri dan ekonomi, akibat berbagai ketimpangan dan terkadang diskriminasi hukum dan struktural, yang telah menciptakan dendam yang terkadang muncul dalam bentuk penyakit seperti ini”. (IRIB Indonesia/PH)

Add comment


Security code
Refresh