Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 10 Desember 2015 09:47

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (2)

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (2)

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengeluarkan surat kedua kepada pemuda Barat setelah serangan teror di Paris, Perancis. Dalam surat itu, kaum muda Barat diajak untuk secara kritis dan proporsional memikirkan isu-isu penting dunia, di mana berpengaruh besar pada nasib umat manusia dan perdamaian global. Rahbar menyebut terorisme sebagai salah satu pemicu kerusakan perdamaian global dan juga menyeroti akar kemunculan dan penyebaran kelompok-kelompok anti-kemanusiaan seperti, ISIS dan juga organisasi teroris lainnya.

 

 

Ayatullah Khamenei menyeru kaum muda Barat untuk melihat faktor-faktor munculnya krisis tersebut secara lebih detail dan kritis serta tidak mudah terjebak dalam perangkap media-media Barat dan klaim-klaim palsu para politisi mereka. Dari sisi lain, Rahbar mengajak pemuda Barat untuk menganalisa kebijakan Barat dan rezim Zionis Israel di wilayah Timur Tengah dan dampaknya bagi perdamaian yang berkelanjutan di dunia.

 

Dalam suratnya itu, Ayatullah Khamenei menyampaikan keprihatinannya terhadap situasi global di masa depan dan memaparkan solusi demi terwujudnya perdamaian yang berkelanjutan di dunia. Rahbar menulis, “Bagi saya, ini sangat disayangkan bahwa insiden tersebut harus menjadi kerangka pembicaraan. Namun realitasnya adalah bahwa jika masalah-masalah yang menyakitkan tidak menghadirkan peluang untuk menemukan solusi dan kesepahaman, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa lebih besar lagi.”

 

Rahbar mengajak pemuda Barat untuk memikirkan dan mempelajari kembali tentang solusi-solusi yang ditawarkan oleh para pemikir dan politisi Barat untuk merealisasikan perdamaian dan hak asasi manusia. Ia secara implisit mengingatkan bahwa mengikuti jalan suram justru akan menghancurkan masa depan dunia.   

 

Ayatullah Khamenei sengaja memilih kalangan pemuda sebagai teman diskusinya, karena mereka lebih peduli dan prihatin tentang masa depannya dan masa depan kehidupan di dunia modern dan karena tidak memiliki tendensi politik dan ekonomi, generasi muda secara tulus menghendaki perdamaian global. Dari sisi lain, para pemuda tersebut akan menjadi politisi dan pemikir masa depan bagi pemerintahan Barat dan jika mereka berpikir dengan benar, maka dapat mengarahkan masyarakatnya dan penduduk bumi menuju dunia tanpa kekerasan dan penuh perdamaian. Tentu saja, kondisi itu akan terwujud dengan mengadopsi cara yang berorientasi pada perdamaian, keadilan, serta menjunjung tinggi HAM.

 

Jelas bahwa menciptakan sebuah perdamaian yang berkelanjutan di planet bumi, merupakan syarat pertama untuk melestarikan peradaban dan umat manusia. Setiap suku bangsa dan individu masyarakat – terlepas dari etnis, kepercayaan, bahasa, atau gender – memiliki hak esensial untuk hidup dalam kedamaian. Menghormati hak esensial ini bersama dengan seluruh hak-hak lain merupakan kepentingan kolektif seluruh individu manusia dan syarat mutlak untuk memajukan semua suku bangsa di seluruh tingkatan dan bidang.

 

Untuk memenuhi hak masyarakat di ranah perdamaian, maka kebijakan semua negara harus menghapus segala bentuk ancaman terhadap perdamaian dan yang paling utama adalah komitmen untuk memenuhi hak-hak dan kebebasan fundamental semua individu manusia, di mana sudah ditekankan dalam Piagam HAM Dunia.

 

Merealisasikan perdamaian dari satu sisi merupakan mukaddimah untuk mewujudkan semua dimensi HAM. Dan dari sisi lain, dibutuhkan iklim kondusif, tentram, dan bebas dari permusuhan sehingga semua dimensi HAM dapat terwujud. Jadi, masalah perdamaian dan hak asasi manusia saling terkait dan melengkapi. Kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan akan terwujud jika dunia sudah terbebas dari kekerasan, konflik, kemiskinan, tirani, dan ketidakadilan. Ketika hak-hak dan kebebasan fundamental individu belum terwujud, maka perdamaian tidak akan tercipta dan kalau pun ia hadir, perdamaian itu hanya bersifat temporal dan semu.

 

Para pemimpin Barat – dengan semua klaim-klaimnya terkait perdamaian global dan hak asasi manusia – secara praktis telah menghancurkan peluang untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan serta menegakkan HAM untuk sebagian besar masyarakat di Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya. Mereka telah menghancurkan itu semua dengan mengobarkan perang, mendukung kelompok-kelompok ekstrim, dan merusak sarana dasar kehidupan. Kebijakan mereka telah menghancurkan perdamaian global dan kehidupan damai umat manusia.

 

Salah satu langkah para pemimpin Barat adalah pengerahan pasukan ke beberapa negara Islam dengan alasan menegakkan demokrasi dan HAM. Sayangnya akibat serangan luas Barat, banyak masyarakat Muslim menjadi korban dan mereka juga kehilangan sarana infrastruktur ekonomi dan industrinya. Gerakan kaum Muslim ke arah pembangunan menjadi terhenti atau melambat dan dalam beberapa kasus mundur jauh ke belakang.

 

Agresi dan perusakan besar-besaran yang dilakukan Barat membuat masyarakat di negara-negara Islam tidak bisa menikmati HAM dan juga kehilangan syarat yang diperlukan untuk mencapai standar-standar kehidupan dan pembangunan. Mereka sekarang tidak dapat menikmati hak-hak dasarnya sebagai umat manusia.

 

Pengiriman pasukan di Afghanistan, Irak, dan Yaman telah menciptakan kehancuran luar biasa di bidang kemanusiaan dan materi bagi negara-negara tersebut. Namun, para politisi dan media Barat berusaha mengaburkan fakta saat ini di Afghanistan, Irak, dan Yaman, dan menghalangi publik dunia untuk memahami realita pahit akibat kehadiran pasukan Barat. Oleh karena itu, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menulis kepada pemuda Barat, “Saya menaruh harapan bahwa Anda sekarang atau di masa depan, dapat mengubah mentalitas yang ternodai oleh tipu daya ini, mentalitas yang lihai menyembunyikan tujuan jangka panjang dan menghiasi tujuan-tujuan jahat.”

 

Tidak ada keraguan bahwa menebarkan benih-benih ketidakadilan dan diskriminasi merupakan metode jitu untuk menciptakan kekerasan dan ekstrimisme, di mana cita-cita untuk mencapai perdamaian global akan menghadapi tantangan serius. Dewasa ini, terorisme telah menjadi sebuah ancaman bagi perdamaian dunia. Ayatullah Khamenei menilai terorisme sebagai keprihatinan bersama Dunia Islam dan Barat. Jika sekarang Paris menjadi target serangan, maka rakyat Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, dan… sudah bertahun-tahun dan rakyat Palestina sudah berpuluh tahun menyaksikan kekerasan seperti itu.

 

Dalam perspektif Ayatullah Khamenei, ada dua perbedaan utama antara keprihatinan terorisme di Dunia Islam dan keprihatinan terorisme di Barat. Dunia Islam menjadi korban teror dan kebrutalan dalam dimensi yang lebih luas, dalam skala yang lebih besar, dan dalam jangka waktu yang lama. Perbedaan kedua adalah kekerasan di Dunia Islam senantiasa didukung oleh beberapa kekuatan besar dengan berbagai cara dan bentuk yang efektif.

 

Tantangan lain perdamain global adalah masalah terorisme negara. Negara kadang secara langsung melakukan tindakan teror terhadap negara lain dan kadang secara tidak langsung dengan cara mengirim bantuan dana dan senjata atau menyediakan dukungan moral atau propaganda terhadap kegiatan terorisme. Kedua bentuk terorisme negara ini sudah dijalankan di Timur Tengah dan beberapa negara Islam selama beberapa tahun terakhir.

 

Ayatullah Khamenei menulis, “Sekarang hanya sedikit orang yang tidak tahu tentang peran Amerika Serikat dalam menciptakan, memelihara, dan mempersenjatai Al Qaeda, Taliban serta para pengikut tujuan jahat mereka. Selain dukungan langsung ini, para pendukung terang-terangan teroris Takfiri, meskipun memiliki sistem politik kolot, tapi selalu berada di barisan sekutu-sekutu Barat, sementara pemikiran yang paling progresif dan cerah yang bersumber dari demokrasi dinamis di kawasan, justru ditumpas tanpa ampun. Kebijakan standar ganda Barat terkait gerakan Kebangkitan Islam di Dunia Islam merupakan contoh nyata dari kontradiksi dalam kebijakan Barat.” (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh