Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 08 Desember 2015 22:54

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (1)

Dimensi Surat Rahbar kepada Pemuda Barat (1)

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran untuk kedua kalinya mengirim surat kepada para pemuda Barat. Beberapa bulan sebelumnya, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei dalam surat pertama mengajak para pemuda Eropa dan Amerika Utara untuk berpikir merdeka, dan mengenali Islam lebih dekat di tengah gencarnya Islamofobia.

 

Rahbar mengajak mereka menelaah secara langsung sumber utama agama Islam, yaitu al-Quran dan Nabi Muhammad Saw. Islam, ujar Ayatullah Khamenei, bukan seperti yang dijelaskan secara pejoratif oleh sebagian media Barat. Kini, setelah peristiwa serangan teroris terbaru di Paris, pemimpin Besar Revolusi Islam Iran kembali menulis surat kepada para pemuda Barat untuk mengajak mereka berpikir secara objektif mengenai Islam sejati, dan masalah terorisme.

 

Ayatullah Khamenei dalam surat terbarunya menyinggung serangan teroris Paris dan aksi serupa di berbagai belahan dunia. Rahbar berkata, “Setiap orang yang memiliki cinta kasih dan kemanusiaan akan sedih dan terluka menyaksikan pemandangan tersebut; baik itu terjadi di Prancis, Palestina, Irak, Lebanon maupun Suriah. Yang pasti, satu setengah miliar Muslim juga merasakan hal yang sama. Mereka mengecam serta berlepas tangan dari ulah para pelaku dan otak tragedi tersebut. Akan tetapi masalahnya adalah berbagai penderitaan saat ini jika tidak menjadi bekal untuk membangun hari esok yang lebih baik dan lebih aman, maka hanya akan terpendam menjadi kenangan getir dan sia-sia belaka. Saya yakin, hanya kalian para pemuda yang mengambil pelajaran dari peristiwa ini yang akan mampu menemukan jalan baru untuk membangun masa depan, sekaligus benteng dari berbagai penyimpangan yang telah mengantarkan Barat hingga ke noktah [hitam] sekarang ini.”

 

Pada 13 November 2015, tepat pukul 21:16 waktu Eropa tengah terjadi rangkaian serangan teroris yang dilakukan secara terkoordinasi di kota Paris, yang menyebabkan 130 orang tewas dan 268 orang lainnya cidera. Menyusul kejadian tersebut, pemerintah Prancis mengumumkan keadaan darurat nasional. Mayarakat Barat saat ini berduka atas terjadinya serangan teroris yang menimpanya. Tapi ironisnya sebagian dari mereka tidak mengetahui bahwa negara-negara barat, terutama AS adalah pendukung utama kelompok teroris ISIS. 

 

Ayatullah Khamenei dalam kelanjutan suratnya kepada para pemuda Barat menyebut masalah terorisme sebagai duka bersama Barat dan Timur. Beliau berkata, “Perlu diketahui, ketidakamanan dan kekhawatiran yang kalian rasakan dalam berbagai peristiwa terbaru, amat berbeda dengan penderitaan yang dipaksakan selama bertahun-tahun kepada rakyat Irak, Yaman, Suriah dan Afghanistan.Pertama, dunia Islam menjadi korban keganasan dan kekerasan dalam dimensi yang jauh lebih luas, volume yang lebih masif, serta rentang waktu yang lebih lama. Kedua, sangat disayangkan sekali  berbagai kekerasan dengan berbagai cara, selalu didukung oleh sejumlah kekuatan adidaya.”

 

Berkaitan dengan standar ganda Barat terhadap gerakan kebangkitan Islam, Rahbar menyinggung masalah Palestina yang menajdi korban aksi terorisme dalam bentuk yang terburuk selama lebih dari 60 tahun. Ayatullah Khamenei berkata, “Jika masyarakat Eropa sekarang berlindung di rumah-rumah mereka selama beberapa hari serta menghindar dari kerumunan massa dan pusat-pusat keramaian, sebuah keluarga Palestina selama puluhan tahun bahkan tidak aman di rumah mereka sendiri dari ancaman mesin-mesin pembunuh massal rezim Zionis.”

 

Ayatullah Khamenei menegaskan, “Setiap hari Zionis merusak rumah, kebun dan lahan-lahan pertanian warga Palestina, tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk memindahkan perlengkapan hidup mereka, atau untuk memanen hasil pertaniannya.Semua itu seringkali terjadi di hadapan perempuan dan anak-anak yang ketakutan dengan mata berlinang menyaksikan pemukulan dan penganiayaan anggota keluarganya, bahkan dalam banyak kasus mereka dipindahkan ke tempat-tempat penyiksaan yang mengerikan.”

 

Di bagian lain suratnya, pemimpin besar Revolusi Islam Iran menyinggung agresi militer terbaru yang dilakukan AS dan negara-negara Barat terhadap Dunia Islam yang telah menewaskan ratusan ribu orang dan menghancurkan infrastrukturnya. Ayatullah Khamenei berkata, “Bagaimana mungkin sebuah negara yang telah berubah menjadi puing, serta kota dan desa-desanya telah menjadi abu, kemudian dituntut untuk tidak mengenalkan diri sebagai pihak yang tertindas! Alih-alih menyeru untuk tidak memahami dan melupakan berbagai tragedi, bukankah permintaan maaf secara jujur akan lebih baik? Penderitaan yang dirasakan dunia Islam secara bertahun-tahun akibat kemunafikan dan menutupi wajah agresor dengan topeng, tidak lebih kecil dari kerugian materi.”

 

Pasca peristiwa 11 September, AS menyerang Afghanistan dengan dalih memerangi al-Qaeda, padahal kelompok ini kelahirannya dibidani Washington. Kemudian AS melancarkan agresi militer di Irak. Agresi militer AS terhadap dua negara Muslim itu menewaskan satu setengah juta warga sipil, dan memporak-porandakan negaranya.

 

Terkait hal ini, Ayatullah Khamenei dalam suratnya kepada pemuda Barat menegaskan, Selama parameter standar ganda menguasai politik Barat dan selama terorisme menurut pandangan para pendukung kuatnya terbagi dalam kategori baik dan buruk, dan selama kepentingan politik pemerintah Barat didahulukan di atas nilai-nilai kemanusiaan dan etika, maka akar-akar kekerasan jangan dicari di tempat lain.

 

Ayatullah Khamenei menilai ISIS sebagai buah getir dari perkawinan imperialisme dengan ekstremisme. Rahbar menegaskan, “Jika masalahnya adalah murni ideologi, maka seharusnya fenomena ini muncul di dunia Islam sebelum era imperialisme, namun sejarah membuktikan sebaliknya.” Dengan nada tanya, beliau berkata, “Bagaimana mungkin salah satu agama yang paling menjunjung tinggi moralitas, dan nilai-nilai kemanusiaan di dunia dalam sumber ajarannya, (al-Quran) yang meyakini pembunuhan satu nyawa sama seperti membunuh seluruh umat manusia, memproduksi sampah seperti ISIS?”

 

Di bagian akhir suratnya, Ayatullah Khamenei menulis, “Oleh karena itu saya ingin kalian para pemuda membangun pilar-pilar sebuah interaksi yang benar dan terhormat dengan dunia Islam berdasarkan prinsip penilaian yang benar dan mendalam, serta memanfaatkan berbagai pengalaman getir sebelumnya. Ketika itulah, di masa yang tidak terlalu jauh, kalian akan menyaksikan berdirinya sebuah bangunan yang tegak di atas pondasi kuat, yang menjamin kepastian dan kepercayaan para arsiteknya, yang mempersembahkan keamanan dan ketenangan bagi mereka, dan menyalakan pelita harapan bagi masa depan yang cerah di muka bumi”.

 

Surat terbaru pemimpin besar Revolusi Islam Iran kepada pemuda Barat sebagaimana surat sebelumnya menjadi sorotan dunia. Meskipun muncul reaksi untuk menjegal penyebaran surat ini, sebagaimana yang dilakukan Twitter yang menutup akun pemosting surat tersebut. Tapi tidak menghalangi para pemuda Barat untuk menelaahnya.

 

Salah satunya adalah reaksi positif dari Chris Eldrigde, seniman sekaligus aktivis politik Pennsylvania yang menyampaikan pandangannya setelah menelaah surat pemimpin besar Iran kepada pemuda Barat. “Surat ini ditulis sangat kuat. Sepenuhnya menukik isi pembahasan. Ritme yang indah, tapi bertenaga. Karya yang tidak berisi utopia atau harapan kosong. Surat ini ingin menjelaskan alasan baru yang berbeda mengenai usaha untuk menghentikan pembunuhan. Ini yang harus disampai ke mana-mana; tapi sepertinya tidak bisa dipahami dengan mudah oleh masyarakat. Dalam surat ini sangat jelas menunjukkan masalah perdamaian dan perhormatan terhadap manusia merupakan bagian dari keyakinan beragama Muslim.”(RIB Indonesia/PH)

 

 

Add comment


Security code
Refresh