Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 01 Desember 2015 16:22

Basij dalam Perspektif Rahbar

Basij dalam Perspektif Rahbar

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran hari Rabu (25/11) bertemu dengan 2.500 komandan Basij. Dalam pertemuan yang digelar memperingati “Hari Basij”, Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei menyebut Basij sebagai “Wakil penuh berkah dari pertumbuhan elemen bangsa”. Rahbar menilai instruksi pembentukan “Basij Mustadhafin” oleh Imam Khomenei sebagai terobosan penting dan inisiatif cemerlang.

 

 

Ayatullah Khamenei berkata,“Berdirinya kelompok pejuang di berbagai negara di era perlawanan terhadap imperialis telah ada sejak dahulu.Tapi, kelompok-kelompok perlawanan yang bertahan setelah mencapai kemenangan dalam bentuk yang lebih lebih maju dan berkembang dari sisi kuantitas dan kualitas, hanya terdapat di Iran saja”.

 

Imam Khomeini menyebut Basij sebagai sajarah thayibah, pohon yang baik. Bapak Revolusi Islam ini berkata, “Masalah Basij, tidak lain dari masalah yang ada sejak awal Islam, dan bukan sesuatu yang baru, dan memiliki [akar] sejarah dalam Islam. Karena tujuan kita adalah Islam, maka setiap pemuda adalah sebuah kekuatan untuk membela Islam dan seluruh rakyat, dan siapapun dengan profesinya masing-masing, demi mencegah serangan kafir dan musuh,”.

 

Revolusi Islam Iran lahir dari rahim Islam Muhammadi, dan sejak awal kelahirannya menghadapi berbagai konspirasi masif dan terorganisir yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Rakyat Iran selama bertahun-tahun menderita demi memperjuangkan tercapainya kemenangan Revolusi Islam. Secara sukarela mereka menjaga dan mempertahankan Revolusi Islam dengan memasuki arena dan melakukan gerakan yang bernilai. Dalam kondisi demikian, Imam Khomeini dengan kecerdasan dan wawasan luasnya yang jauh ke depan secara resmi menginstruksikan pembentukan Basij pada 5 Azar 1358 Hs (1980).

 

 

Ayatullah Khamenei menyebut Basij sebagai gerakan yang lahir dari akar rumput dan perwakilan dari elemen bangsa. Rahbar berkata, “Para Basij adalah bagian dari masyarakat dengan tujuan tinggi ilahi dan semangat yang tidak penah mengenal lelah. Mereka senantiasa hadir di setiap arena dengan berbagai potensinya dan tidak pernah takut menempuh perjalanan ini,”. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyebut tumbuh dan berkembangnya potensi rakyat dalam bentuk Basij merupakan salah satu hakikat kecemerlangannya.

 

Ayatullah Khamenei dalam pidatonya hari Rabu menilai konflik utama di tingkat global terjadi antara kubu imperialis yang saat ini dipimpin AS menghadapi front nilai dan independensi nasional dengan poros Republik Islam Iran. Rahbar berkata, “Selain institusi dan jawatan politik, kubu arogan juga dilengkapi dengan kuasa finansial dan korporasi-korporasi raksasa Zionis. Sejatinya, front arogan memanfaatkan segitiga: emas, kekuasan dan penipuan, yang dilancarkan secara masif. Menurut Ayatullah Khamenei, “Penipuan dalam kinerja jawatan politik dan diplomasi kubu arogan terjadi ketika mereka tersenyum dan memelukmu, tapi menusukkan belati di jantungmu”.

 

Rahbar mengingatkan pentingnya kewaspadaan yang harus terus dijaga dalam menghadapi musuh. Sebab musuh menggunakan berbagai cara, termasuk melancarkan perang lunak. Menurut Ayatullah Khamenei, cara paling berbahaya yang dilakukan musuh adalah “proyek penetrasi”. Spionase adalah metode paling sederhana dari penetrasi musuh.

 

Dari sekian model penetrasi musuh, yang paling berbahaya adalah penetrasi gerakan dan jaringan, terutama menggunakan dua alat, yaitu uang dan daya tarik seksual, yang ditanam di dalam sebuah bangsa dan negara. Tujuannya  untuk mengubah pandangan, keyakinan, cita-cita dan pola hidup masyarakat demi kepentingan pihak yang menanamkan penetrasi tersebut. Menghadapi masalah tersebut, Ayatullah Khamenei menyerukan seluruh elemen bangsa dan negara, dari pejabat hingga kalangan intelektual memperhatikan ancaman penetrasi musuh, dan mempersiapkan program terpadu demi menangkal dan melumpuhkannya.

 

Menurut Rahbar, salah satu cara musuh untuk memuluskan proyek penetrasinya adalah dengan melancarkan program untuk meneggelamkan nilai-nilai dan cita-cita revolusi Islam. Musuh membenamkan pandangan di tengah masyarakat bahwa orang-orang yang berkomitmen dengan nilai dan spirit Revolusi Islam adalah kelompok ekstrem atau kalangan garis keras. Sehingga, ketika mereka diam dan mengubah sikapnya sebagaimana diharapkan musuh, maka lambat-laun komitmen terhadap Revolusi Islam semakin memudar, dan proyek penetrasi musuh berhasil meraih targetnya.

 

Ayatullah Khamenei mengkritik pihak yang tidak menghargai potensi besar dalam negeri dan merasa minder terhadap Barat. “Barangkali di dalam negeri terdapat beberapa kelemahan. Tapi tidak boleh terpesona terhadap pihak asing, apalagi menghina bangsa sendiri, dengan mengabaikan posisi dan kedudukan penting Iran di kawasan dan dunia, serta capaian dan kekuatan rakyat yang besar, terhormat dan mulia ini,” tegas Rahbar.

 

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Khamenei menyinggung upaya kubu arogan global untuk mengubah opini publik dunia terhadap masalah Palestina, dan menilainya sebagai contoh dari penetrasi gerakan dan jaringan musuh. Rahbar berkata, “Media Barat menyebut orang-orang yang memprotes para agresor perampas tanah dan rumah mereka dengan lemparan batu, sebagai teroris ! Dan mendukung kelompok yang menghancurkan kehidupan serta harga diri Palestina, sebagai pembelaan diri”.

 

Pemimpin besar Revolusi Islam Iran menyebut Basij sebagai kekuatan yang tumbuh kuat saat ini. Ayatullah Khamenei berkata, “Basij dahulu hanya tanaman kecil, tapi kini menjadi pohon yang besar dan kuat. Dengan inayah ilahi akan semakin baik lagi. Tapi hati-hatilah pohon besar ini dihinggapi penyakit.” Rahbar menilai kesombongan, kelalaian karena bangga diri, dan pesona harta dan keindahan dunia, termasuk sejumlah penyakit yang harus diwaspadai dan akan melemahkan Basij dari dalam.

 

Imam Baqir berkata, ‘Sekecil apapun rasa sombong hinggap di dalam hati manusia, maka sebesar itu pula akalnya berkurang’. Imam Ali juga berkata, “Berbangga terhadap diri sendiri menghalangi kemajuan dan kesempurnaan,”. Ayatullah Khamenei menasehati para komandan Basij supaya tidak sombong atas setiap pekerjaan besar yang dilakukannya.

 

Kelalaian juga merupakan salah satu penyakit penting yang menghalangi kesempurnaan manusia. Al-Quran berulangkali mengingatkan pentingnya masalah tersebut. Al-Quran menjelaskan karakter orang yang lalai, seperti: memiliki hati dan akal, tapi tidak digunakan untuk merasakan dan berpikir; memiliki mata, tapi tidak digunakan untuk melihat kebaikan; kuping tidak dipergunakan untuk mendengarkan kebaikan dan kebenaran; serta tangan dan kaki untuk melakukan kebaikan.

 

Rahbar  menilai ketakwaan, penyucian diri, visi ilahi dan kesiapan diri sebagai prioritas gerakan Basij. Ayatullah Khamenei berkata, “Langkah pertama yang harus dilakukan adalah tidak melakukan dosa. Jika langkah ini dilalui, maka banyak masalah, baik masalah mental, spiritual maupun material akan bisa diatasi. Selanjutnya, Allah swt akan membantu kalian.” Beliau memandang takwa dan menjauhi dosa akan memberikan keberkahan hidup dan kemudahan rahmat ilahi. Imam Ali berkata, “Sesungguhnya, takwa adalah harta karun terbaik, yang akan menyelamatkan manusia dari dosa terkuat, serta menjaga dan melindungi kehormatan dan kemuliaannya. Harapan terhadap kemenangan berada dalam ketakwaan.”

 

Ayatullah Khamenei diakhir pidatonya di hadapan para komandan Basij menyebut Basij sebagai harta karun yang sangat bernilai. Rahbar berkata, “Dengan taufik ilahi, bangsa tercinta Iran, pertama akan tetap menjaga harta karun bernilai ini. Kedua, akan mendulangnya.Ketiga, dengan dukungan tekad bajanya, pastinya perjuangan dan visinya akan semakin berkembang dan menyempurna sebagaimana yang diharapkan. Dan Musuh terpaksa menyaksikan kemajuan bangsa Iran, dan tidak bisa melakukan apapun”.(IRIB Indonesia/PH)

   

 

 

Add comment


Security code
Refresh