Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 25 Oktober 2015 15:10

Tragedi Mina dan Perspektif Rahbar

Tragedi Mina dan Perspektif Rahbar

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran telah bertemu dengan para pejabat dan staf Organisasi Haji Republik Islam Iran pada Senin siang, 19 Oktober 2015. Haji tahun lalutelah meninggalkan kenangan pahit dan sangat menyedihkan bagi umat Islam.Tragedi Mina di Hari Raya Idul Adha,Kamis, 24 September 2015 merupakan peristiwa terburuk dalam sejarah haji, di mana hampir 8.000 jemaah haji dari berbagai negara, meninggal dunia dalam tragedi ini termasuk lebih dari 460 jemaah haji Iran.

 

 

Terkait dengan tragedi ini, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Sejumlah besar tamu-tamu Allah Swt dan orang-orang Mukmin yang berhijrah kepada-Nya dari berbagai negara telah wafat (di Hari Raya Idul Adha). Peristiwa ini telah menimbulkan kesedihan besar di dunia Islam dan membuat hari raya umat Islam menjadi hari berduka."

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyebut tragedi pahit di Mina sebagai bagian dari ujian Allah Swt. Ayatullah Khamenei mengkritik kebungkaman pemerintah-pemerintah terutama negara-negara Barat dan berbagai lembaga pengklaim pembela HAM atas tragedi  tersebut. Rahbar menegaskan, "Tragedi ini sama sekali tidak boleh dilupakan daninstansi diplomatik dan Organisasi Haji berkewajiban untuk menindaklanjuti masalah ini secara tegas."

 

Rahbar dalam pertemuan tersebut juga menyinggung tanggung jawab pemerintah Arab Saudi di hadapan para korban tragedi Mina yang berjumlah lebih dari 7.000 Muslim.Ayatullah Khamenei mengatakan, "Pasca tragedi ini, seharusnya bangkit satu suara dan protes dunia Islam, namun sayangnya tidak terdengar suara (protes) kecuali dari Republik Islam Iran, bahkan pemerintah-pemerintah yang para peziarah (jemaah haji) mereka termasuk di antara para korban, tidak menyampaikan protes yang dapat diandalkan terhadap tragedi ini."

 

Sayid Hassan Nasrullah, Sekretaris Jenderal Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) dalam pertemuan tahunan dengan para mubaligh Islam menjelang bulan Muharam, menyinggung tragedi Mina dan sikap tegas Iran. Ia mengatakan,"Jika Iran tidak berteriak, tragedi ini akan ditutup-tutupi dan para korban akan dimakamkan dengan diam-diam, dan mereka akan memenjarakan setiap orang yang diinginkan."

 

Tragedi Mina telah merenggut nyawa ribuan jemaah haji dari puluhan negara dunia termasuk Iran, Aljazair,Maroko, Pakistan, Mesir, Senegal, Indonesia, Malaysia, Turki, India, Somalia dan berbagai negara lainnya, namun sayangnya tidak ada yang memberikan respon efektif terhadap tragedi ini. Ketidakmampuan, kelalaian dan kesalahan penanganan pemerintah Arab Saudi dalam tragedi Mina tampak jelas, bahkan kelambanan negara ini dalam menangani para korban dan penolakan kerjasama dengan kelompok-kelompok medis dari berbagai negara untuk memberikan bantuan tepat waktu kepada para korban, sungguh sangat sulit dibayangkan.

 

Selain itu, kelalaian dan kegagalan dalam menjaga, mengidentifikasi dan menyerahkan jenazah-jenazah korban Mina kepada negara-negara asal mereka telah menyebabkan Pemimpin Besar Revolusi Islam berbicara tegas. Rahbar mengancam bahwa Iran akan mengakhiri sikap menahan diri dan akan mereaksi keras perilaku Arab Saudi. Pasca statemen tegas Ayatullah Khamenei itu, pemerintah Arab Saudi mengubah sikapnya dan para pejabat Riyadh akhirnya bersedia untuk bekerjasama dengan Iran guna memulangkan jenazah-jenazah korban tragedi Mina.

 

Rahbar menilai tindak lanjut tragedi Mina dan dialog dengan pemerintah-pemerintah untuk menjelaskan pentingnya masalah ini serta evaluasi berbagai langkah untuk mencegah terulang kembali peristiwa itu sebagai tugas penting bagi para pejabat negara khususnya instansi diplomatik.

 

Ayatullah Khamenei menuturkan, "Peristiwa tersebut secara lahiriyah adalah akibat kelalaian pemerintah tuan rumah (penyelenggara haji), namunbagaimanapun, masalah ini bukan masalah politik melainkan berkaitan dengan ribuan Muslim yang sedang beribadah dan melaksanakan manasik haji yang meninggal dunia di saat sedang mengenakan pakaian ihram. Hal ini harus ditindaklanjuti secara serius."

 

Rasululah Saw bersabda,"Orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah adalah para tamu Allah (Swt). Dia mengundang mereka, dan mereka memenuhi undangan-Nya. Lalu mereka meminta kepada-Nya, maka Allah (Swt) mengabulkan permintaan mereka." Beliau juga bersabda,"Ka`bah disebut sebagai Baitul `Atiq(rumah kemerdekaan), sebab bebas dari kepemilikan masyarakat, dan belum ada dan tidak akan pernah ada seorangpun yang menjadi pemiliknya."Oleh karena itu, rezim Al Saud harus bertanggung jawab atas tragedi Mina di hadapan umat Islam.

 

Pemimpin Besar Revolusi Islam menilai kebungkaman lembaga-lembaga pengklaim pendukung HAM di Eropa dan Amerika sebagai aspek lain dari peristiwa di Mina yang harus ditindaklanjuti. Ayatullah Khamenei mengatakan, "Lembaga-lembaga pembohong dan munafik pengklaim pendukung HAM dan juga pemerintah-pemerintah Barat yang terkadang menggulirkan kontroversi luas di dunia karena tewasnya satu orang, hanya bersikap bungkam dalam peristiwa ini, di mana kebungkaman ini akan menguntungkan pemerintah mitra mereka (rezim Al Saud)."

 

Rahbar menegaskan, "Jika benar-benar jujur, para pengklaim pembela HAM initentunya sudah menuntut tanggung jawab, penebusan kerugian dan jaminan tidak terulangnya tragedi Mina serta penindakan terhadap para penyebab tragedi ini."

 

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menilai tindak lanjut untuk tuntutan dan upaya untuk tetap menjaga masalah ini sebagai tugas penting bagi Organisasi Haji. Rahbar mengatakan, "Masalah ini tidak boleh didiamkan dan terlupakan, dan harus diungkapkan di forum internasional hingga bertahun-tahun. Titik sasaran gerakan ini harus difokuskan terhadap pemerintah-pemerintah Barat dan lembaga-lembaga pengklaim pembela HAM."

 

Haji adalah ibadah yang luar biasa di antara ibadah-ibadah lainnya dan memiliki berbagai dimensi yang tidak terkumpul dalam ibadah-ibadah lainnya. Ibadah haji memiliki sejarah sepanjang kisah penciptaan umat manusia. Sejumlah riwayat mencatat bahwa Nabi Adam as adalah manusia pertama yang membangun Ka’bah dan melaksanakan haji. Ada banyak riwayat dalam Islam yang berbicara tentang pelaksanaan haji oleh para utusan Allah Swt seperti, Nabi Nuh, Musa, Yunus, Daud, Sulaiman, Ibrahim, dan Isa as.

 

Haji juga termasuk salah satu kewajiban utama dalam Islam. Perkumpulan besar kaum Muslim di Tanah Suci setiap tahunnya telah menampilkan keagungan agama Islam dan kebesaran umatnya di mata dunia. Banyak riwayat dari Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as tentang pentingnya haji. Imam Ali as berkata, "Demi Allah! Perhatikanlah Baitullah selama kalian hidup dan jangan biarkan ia sepi, karena jika haji mulai ditinggalkan, rahmat Allah akan terputus dari kalian."

 

Sejarah membuktikan bahwa hari-hari haji merupakan peluang yang sangat tepat dan unik untuk menyebarkan budaya kaya Islam di antara kalangan umat Islam dan membuat iman dan tekad mereka semakin kuat. Dari satu sisi, musuh-musuh Islam setiap tahun akan merasa takut dan putus harapan ketika melihat kebesaran haji dan persatuan umat Islam. Sementara dari sisi lain, orang-orang non-Muslim yang tidak memiliki permusuhan terhadap Islam, akan menyaksikan jutaan manusia beribadah di Makkah sehingga mendorong mereka untuk merenungkannya. Hal ini merupakan dakwah terbesar bagi Islam.

 

Sayidah Fatimah Az-zahra as, Putri Rasulullah Saw dalam sebuah riwayat menyebut haji sebagai sumber kebanggaan dan kekuatan agama. Oleh karena  itu, haji selalu menjadi pusat perhatian bagi musuh-musuh Islam, sebab dengan melemahkannya maka akan terbuka ruang untuk melemahkan umat Islam. Dengan demikian, tindaklanjut dan penyelidikan terhadap faktor sebenarnya yang menyebabkan tragedi Mina sangat penting supaya peristiwa pahit ini tidak terlulang kembali. (IRIB Indonesia/RA)

Add comment


Security code
Refresh