Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 18 Oktober 2015 11:30

IRIB dan Perang Lunak di Mata Rahbar

IRIB dan Perang Lunak di Mata Rahbar

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Senin (12/10) bertemu dengan jajaran direktur dan staf lembaga penyiaran nasional (IRIB) serta anggota dewan pengawas lembaga penyiaran ini. Di pertemuan tersebut, Rahbar memaparkan dengan gamblang tujuan dari perang lunak terorganisir dan luas kekuatan imperialis dunia terhadap Republik Islam Iran. Menurut beliau tujuan terpenting perang lunak tersebut adalah mengubah pandangan dan ideologi bangsa Iran. Beliau menekankan peran utama media nasional untuk secara serius menyusun program terencana dan cerdas guna merealisasikan kewajiban media nasional.

 

 

Rahbar di kesempatan tersebut juga menyeru para pakar dan cendikiawan yang memiliki motivasi kebangsaan untuk mengkaji secara serius dimensi perang lunak musuh. Rahbar mengatakan, “Perang lunak, berbeda dengan perang fisik, tidak kentara, tidak dipahami dan tidak terasa, bahkan di sebagian kasus pihak lawan melepaskan pukulan, tapi masyarakat sebagai targetnya, mengantuk dan tidak merasa diserang.”

 

Lebih lanjut Ayatullah Khamenei menjelaskan posisi penting dan urgen media nasional (IRIB) di sistem pemerintahan Republik Islam dan mengungkapkan, “Media nasional berada di medan perang unik dan besar serta gesekan yang tak diinginkan. Ini adalah medan tempur perang lunak yang rumit dan sangat penting.” Joseph Nye, ilmuwan kontemporer meyakini bahwa landasan kekuatan keras atau perang nyata adalah pemaksaan. Sementara landasan kekuatan lunak adalah kepuasan. Ia berbeda dengan pakar lainnya terkait ekonomi dan diplomasi. Ia menempatkan keduanya di bawah kekuatan keras dan hanya media yang ia pandang sebagai kekuatan lunak.

 

Istilah perang lunak memiliki banyak sinonim di ilmu politik dan militer. Di ilmu militer perang ini biasa disebut perang syaraf atau operasi psikologis. Sementara di ilmu politik, istilah perang lunak disamakan dengan ancaman lunak, revolusi beludru dan yang terbaru revolusi warna. Perang lunak merupakan satu bentuk perang melawan sebuah bangsa atau pemerintah tertentu, di mana penyerang melalui penyusunan program yang panjang dan upaya yang terus menerus, berusaha mengubah ideologi dan pemikiran bangsa yang ditarget demi keuntungan mereka.

 

Dengan kata lain, penyerang berusaha mengubah emosi dan ideologi bangsa yang ditarget tanpa pertumpahan darah. Upaya ini akan membuat sebuah bangsa dengan keinginan sendiri akan bergerak merealisasikan tujuan musuh. Di perang seperti ini, bangsa yang ditarget tidak akan merasa tengah diserang musuh. Oleh karena itu, mereka dengan sendirinya tidak akan melakukan perlawanan. Perang keras atau dikenal dengan perang militer akan memicu emosi rakyat dan mendorong persatuan nasional. Sementara perang lunak mengikis semangat resistensi dan menciptakan peluang perpecahan serta friksi.

 

 

Rahbar mengatakan, “Perang lunak tidak terbatas pada Iran, namun di kasus Iran, tujuan utama dari perang ini adalah transmutasi Republik Islam dan mengubah nurani serta moralitas dengan tetap mempertahankan bentuk lahiriahnya.” Seraya menekankan bahwa perubahan nurani dan moralitas berarti perubahan motivasi, slogan, pengenalan revolusi dan tujuan besarnnya, Rahbar menandaskan, “Di koridor tujuan besar perang lunak musuh, tidak penting nama Republik Islam tetap eksis atau seorang ruhaniawan berada di pucuk pimpinan. Yang paling penting bagi musuh adalah Iran menjadi operator tujuan Amerika Serikat, rezim Zionis Israel dan jaringan kekuatan global.”

 

Pada tahun 1950, setahun pasca berakhirnya Perang Dunia Kedua, Harry S. Truman, presiden Amerika saat itu meratifikasi bujet sebesar 121 juta dolar untuk proyek Perang Kebenaran untuk memulai perang syarat di Korea. Dalam hal ini militer Amerika membentuk pusat komando perang syaraf sebagai sebuah unit komando khusus dan di samping unit perang, dibentuk unit-unit perang syaraf dengan memanfaatkan pengalaman perang dunia kedua.

 

Sejak saat itu hingga kini, organisasi dan unit-unit perang syaraf dan propaganda Amerika terus berkembang dan senantiasa menjadi tulang punggung utama negara ini di perang serta perdamaian. Di tahun 1984, untuk pertama kalinya proyek penumbangan Polandia secara halus berhasil dan seiring dengan runtuhnya Uni Soviet serta Yugoslavia serta sejumlah negara Eropa Timur, perang lunak menjadi isu baru di bidang kekuasaan dan keamanan. Esensi utama perang lunak menurut pengakuan AS adalah upaya mempengaruhi pemikiran, emosi dan kecenderungan kelompok sahabat, musuh atau kubu netral.

 

Meski pandangan mengenai perang lunak selama beberapa dekade terakhir  memasuki ranah politk, namun metode ini sepanjang sejarah umat manusia terus eksis. Sejatinya upaya mempengaruhi pemikiran dan emosi pihak lain dengan tujuan mereka menyerah, menjadi metode pemerintah atau bangsa untuk saling serang. Perbedaannya adalah dewasa ini mengingat kemajuan umat manusia di bidang sains dan seni, serta perubahan di sarana komunikasi massa, pengaruh serta ancaman perang lunak dimensinya menjadi semakin luas.

 

Rahbar menilai pejabat dan rakyat menjadi target perang lunak dan mengingatkan, “Kekuatan imperialis dunia khususnya AS berusaha mempengaruhi rakyat dan mengubah ideologi mereka khususnya pemuda dan cendikiawan. Di antara ideologi tersebut adalah keyakinan agama dan budaya masyarakat.” Beliau menambahkan, “Rakyat kita memiliki keyakinan dan ideologi terkait agama, keluarga, isu gender, independensi, anti-asing, demokrasi Islam dan beragam masalah budaya lainnya. Sementara pihak seberang berupaya merusak ideologi tersebut atau mengubahnya.”

 

Rahbar menyebut mengubah pandangan terhadap masa lalu termasuk salah satu tujuan dari perang lunak yang dilancarkan musuh. Beliau menekankan, “Rakyat kita memiliki pandangan terkait rezim despotik yang terguling, di mana di perang lunak diupayakan mengubah pandangan rakyat Iran terkait rezim terguling dan dicitrakan masa lalu sangat gemilang dan indah, padahal saat itu adalah masa-masa kelam serta buruk...Melalui perubahan pandangan ini, mereka ingin menekankan tidak ada keharusan terjadinya Revolusi Islam untuk merusak masa lalu tersebut. Mereka ingin mendiktekan kepada pemuda dewasa ini bahwa kondisi negara saat ini sangat memalukan dan juga tidak mungkin mencapai kemajuan di masa mendatang. Hal ini ditujukan untuk mematikan semangat, pergerakan sains dan optimisme generasi muda terhadap masa depan.”

 

Seraya mengisyaratkan perangkat keras dan lunak musuh di perang lunak, Rahbar menambahkan, “Seluruh kemajuan di dunia maya dimaksudkan untuk merealisasikan tujuan perang lunak, namun yang lebih penting dari fasilitas dan kemajuan perangkat keras adalah pasukan besar para cendikiawan pemikiran, politik, literatur, sosial, aktivis komunikasi serta berbagai cabang seni yang mempersiapkan barisan perangkat lunak sangat kuat serta berpengaruh untuk mensukseskan misi perang ini.” Beliau mengingatkan, “Di seluruh produk audio, visual dan karya tulis kubu anti-Iran, target dan tujuan-tujuan perang lunak, tapi biasanya secara tidak langsung, dapat dilacak.”

 

Menurut Rahbar, pekerjaan terpenting untuk merealisasikan tujuan media nasional dalam menghadapi perang lunak musuh, akses atas analisa fundamental, benar dan realistis, terkait situasi dalam negeri, kawasan dan dunia. Beliau menekankan, untuk memahami secara benar posisi Iran saat ini kita harus membandingkan kondisi kekinian Iran dengan kondisi negara lain empat dekade pasca Revolusi, sehingga kemajuan besar nasional dapat dipahami lebih baik.

 

Selain itu menurut Rahbar, kondisi dewasa ini Iran harus dibandingkan dengan sejumlah negara kawasan yang selama empat dekade terakhir berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat. Ayatullah Khamenei mengungkapkan, “Perbandingan ini menunjukkan bahwa apa yang dihasilkan dari sikap menyerah dan bagaimana resistensi memberikan banyak kebaikan serta kemajuan besar.” Ayatullah Khamenei di akhir pidatonya seraya mengucapkan terima kasih kepada jajaran direksi dan pegawai IRIB menekankan, “Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) sebagai markas terdepan dan aktif dalam menghadapi perang lunak. Dan pimpinan dan pegawai IRIB, adalah komandan dan prajurit perang ini.”

 

Kajian historis Islam menunjukkan bahwa di berbagai zaman, bahkan di era Rasulullah Saw, musuh agama menggunakan beragam metode perang lunak untuk menghancurkan gerakan kuat yang dibangun Islam. Propaganda luas anti Islam dengan memanfaatkan kemampuan zaman itu, seperti syair dan puisi, merusak kepribadian tokoh agama, menyebarkan syubhat serta memperlemah keyakinan masyarakat, bahkan gerakan pembuatan hadis palsu serta mazhab palsu, senantiasa menjadi metode perang lunak kaum kafir dan munafikin terhadap umat Islam.

 

Dalam ajaran al-Quran dan Ahlul Bait Nabi seperti pengokohan ideologi agama dan keyakinan masyarakat melalui keakraban dengan al-Quran, perhatian besar terhadap shalat, amar makruf dan nahi munkar, takwa, memperhatikan unsur persatuan serta menghindari faktor yang memicu perpecahan dikategorikan sebagai benteng kuat melawan perang lunak. Namun demikian sarana memperkokoh unsur-unsur tersebut di tengah masyarakat harus dipilih sesuai dengan kondisi zaman. Oleh karena itu, inovasi, program jangka panjang, upaya siang malam serta menyediakan fasilitas yang tepat sangat diperlukan dalam perang lunak.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh