Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 11 Oktober 2015 15:29

Rahasia Kekuatan AL Iran dalam Perspektif Rahbar

Rahasia Kekuatan AL Iran dalam Perspektif Rahbar

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei pada 7 Oktober 2015 bertemu dengan komandan dan staf angkatan laut Sepah Pasdaran (IRGC) dan keluarga mereka. Laksamana Madya Ali Fadavi, komandan angkatan laut IRGC di pertemuan ini membacakan laporan aktivitas angkatan yang dipimpinnya. Seraya mengisyaratkan keberanian pasukan IRGC di era perang pertahanan suci, Ali Fadavi mengingatkan, “Pasukan Anda tengah menanti perintah sehingga mampu memberi pelajaran bersejarah kepada setan besar dan anasir pengganggu, algojo tamu dan anak-anak mereka di kawasan.”

 

 

Seraya menakankan bahwa pasukan IRGC dalam kondisi paling siap saat ini, Ali Fadavi mengungkapkan, “Pameran sejumlah kemampuan perang dan kesiapan angkatan laut IRGC demi memaksa musuh untuk menyadari pentingnya perubahan strategi mereka di laut. Sementara apa yang mereka ketahui tentang kami jika di banding dengan yang tidak mereka ketahui tidak dapat disamakan.”

 

Angkatan laut IRGC dibentuk tahun 1364 HS (1984) atas instruksi Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Pasukan ini dengan cepat terlibat dalam berbagai operasi boat cepat di era perang pertahanan suci. Prestasi besar dan partisipasi kental pasukan ini di Teluk Persia ditandai dengan kemenangan gemilang melawan kapal perang Amerika Serikat di tahun 1987. Dewasa ini angkatan laut Sepah Pasdaran bersama angkatan laut militer Republik Islam menjadi dua pilar utama bagi negara ini untuk menjaga perbatasan maritim Republik Islam Iran serta menerapkan keamanan di perairan.

 

Ayatullah Khamenei di pertemuan ini menyebut para komandan dan staf angkatan laut IRGC sebagai sosok yang penuh tekad dan beriman. Mereka menurut Rahbar merupakan kekayaan besar Republik Islam Iran. Rahbar mengatakan, “Keamanan adalah infrastruktur seluruh kemajuan sebuah bangsa. Keamanan maritim bagi negara yang memiliki garis pantai dari satu sisi sangat penting karena laut merupakan sarana interaksi umum internasional...Jika negara yang bertetangga laut dan memiliki wilayah pantai tidak mampu memberikan keamanan kepada laut di sekitarnya, sejatinya negara ini tidak mampu membentuk pilar-pilar keamanan dalam negerinya.”

 

Rahbar seraya memuji keluarga staf angkatan laut, menyebut keberadaan personil angkatan ini di wilayah dan pantai yang berbahaya merupakan sebuah usaha yang mulia dan penting. Beliau menilai keberanian pemuda Iran dalam perang laut dengan agresor AS serta Baath Irak, telah memuliakan bangsa ini serta menghinakan musuh. Rahbar mengatakan, “Bahwa di wilayah Teluk Persia upaya semua pihak yang mendukung Saddam adalah membuat kawasan Teluk Persia menjadi wilayah tak aman bagi Iran, menunjukkan urgensitas kawasan ini...Namhn kehadiran pemuda-pemuda revolusioner dan Sepah Pasdaran (IRGC) serta angkatan laut telah membuat laut berbalik menjadi daerah tak aman bagi mereka (pendukung Saddam). Pelayaran mereka terganggu, helikopter mereka hancur, kapal tanker minyak mereka rusak. Kini mereka sadar bahwa Republik Islam Iran bukan barang mainan yang mampu mereka permainkan nasibnya. Ini adalah kekuatan spiritual Republik Islam.”

 

Ayatullah Khamenei di bagian pidatonya mengisyaratkan kemenangan gemilang armada kecil Zulfikar dari unit angkatan laut Sepah Pasdaran yang berujung pada kegagalan misi Amerika Serikat. Dan selanjutnya angkatan laut AS di perairan Iran merasa tidak aman lagi. Sepanjang perang pertahanan suci yang menggugurkan lebih  dari 200 ribu warga Iran, kekuatan besar dunia termasuk AS dan Uni Soviet, dengan berbagai jalan mendukung kejahatan rezim Saddam Hussein terhadap rakyat Iran.

 

Selain itu, kekuatan besar dunia ini dengan kapal perang mereka di Teluk Persia hadir di perairan Teluk Persia untuk mendukung sekutunya Saddam Hussein serta Kuwait. Saat itu, Kuwait menjadi arena mereka untuk menyerang Iran dan diserahkan kepada Saddam. Pada Juni 1987, sebuah armada kecil yang terdiri dari sembilan angkatan laut Sepah Pasdaran yang baru saja dibentuk, dengan berani melawan armada angkatan laut AS yang terdiri dari helikopter tempur, pesawat pengintai dan kapal perang. Armada kecil IRGC ini mampu meledakkan kapal tanker Bridgeton milik Kuwait. Peristiwa ini membuat sadar AS akan tekad serius dan kemampuan militer Iran. Insiden tersebut bukan sebuah ledakan sederhana, namun ledakan pamor AS, karena selanjutnya armada laut Amerika selalu berhati-hati serta was-was jika memasuki perairan Iran.

 

Ayatullah Khamenei seraya mengisyaratkan bahwa sifat alami para imperialis adalah agresi, berkata, “Jika tanah atau bendungan kalian dapat diinfiltrasi, maka mereka akan melakukannya. Kalian harus bergerak sedemikian rupa sehingga mereka merasa tidak mampu melakukan infiltrasi. Berulang kali telah kami katakan bahwa kita bukan pihak pemicu perang, kita memiliki argumentasi tersendiri dalam masalah ini. Namun kita harus melucuti keberanian musuh untuk memulai perang.”

 

Lebih lanjut beliau mengungkapkan, Allah Swt berfirman di surat al-Anfal ayat 60 yang artinya.. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). Menurut beliau ayat ini menunjukkan pentingnya bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri mencegah segala bentuk kemungkinan serangan musuh.

 

Rahbar menekankan dewasa ini mesin-mesin imperialis dunia di kawasan mengejar ambisi berbahaya dan berhubungan dengan nasib berbagai bangsa. Tak hanya itu, untuk mensukseskan ambisinya ini, imperialis dunia menggunakan sarana tak manusiawi dan buas. Rahbar kemudian mengisyaratkan apa yang terjadi di Suriah, Irak, Afghanistan dan Pakistan serta kebungkaman masyarakat internasional terhadap tragedi di kawasan ini. Kondisi ini menurut Rahbar menunjukkan sifat munafik pemerintah Barat terkait klaim mereka mendukung Hak Asasi Manusia (HAM). Rahbar menilai sifat munafik ini sebagai ancaman terbesar dunia.

 

Ayatullah Khamenei di bagian lain pidatonya mengisyaratkan pentingnya untuk mencegah infiltrasi musuh. Beliau menekankan, “Perundingan dengan Amerika, karena risiko yang tidak terhitung, dilarang dan tidak bermanfaat, pasalnya Amerika berusaha membuka jalan untuk menginfiltrasi Iran lewat perundingan, namun Iran sepenuhnya memahami masalah ini.” 

 

Rahbar juga mengkritik interpretasi sederhana terkait perundingan dengan Amerika dan mengatakan, “Bahwa sejumlah kalangan menilai perundingan Iran dengan AS tak ubahnya seperti perundingan Imam Ali dengan Zubair atau perundingan Imam Husein dengan Saad, adalah sebuah pemikiran dangkal dan polos. Karena perundingan menurut definisinya saat ini adalah sebuah transaksi, Anda memberi Saya menerima, namun Imam Ali atau Imam Husein tidak melakukan transaksi, namun memberi ketakutan kepada musuh serta memperingatkannya.

 

Rahbar menandaskan, “Kami saat ini juga terlibat perundingan dengan arti transaksi, negara negara lain yang seluruhnya bukan tergolong sahabat kami dan kami tidak menentang prinsip perundingan. Namun berunding dengan Amerika dilarang karena bahayanya lebih besar dan tidak ada manfaatnya. Hal ini berbeda dalam perundingan dengan satu pihak tertentu atau negara khusus yang tidak memiliki fasilitas merusak atau ambisi infiltrasi seperti AS.”

 

Ayatullah Khamenei menilai bagian penting dari aktivitas musuh Republik Islam Iran adalah upaya mereka mengubah perhitungan pejabat Iran, opini publik dan para pemuda. Rahbar mengatakan, “Di kondisi seperti ini, pemuda harus senantiasa sadar. Dan Alhamdulillah mereka sadar. Saya dalam masalah ini tidak memiliki kekhawatiran.”

 

Rahbar kemudian meminta para staf Angkatan Laut Sepah Pasdaran yang memiliki tugas penting yakni menjaga keamanan laut dan supaya mereka meningkatkan kesiapannya dari sisi sains, peralatan serta kemampuan perang sehingga musuh tidak terbersit dibenaknya untuk menyusupkan pengaruhnya ke Iran. Rahbar berkata, “Musuh menghadapi sarana siap Sepah Pasdaran mulai berpikir untuk mengubah strategi perangnya, yakni kehadiran IRGC di laut yang disertai dengan prakarsa jitu membuat musuh terpaksa mengubah strateginya. Oleh karena itu inisiatif dan inovasi kalian di bidang sains, peralatan perang dan kehadiran militer harus ditingkatkan. Inovasi manusia tidak ada akhirnya.”

 

Di akhir pidatonya Rahbar mengatakan, “Ketahuilah bahwa Allah Swt pelindung kalian. Dalam hal ini tidak ada keraguan bahwa jika kalian menolong Allah, maka Allah akan menjadi penolong kalian. Tekad kita harus berupa upaya untuk menolong dan membantu Allah. Janji Ilahi tidak pernah dilanggar...Masa depan milik kalian. Musuh Allah baik di Asia Barat atau wilayah lain atau di bidang keamanan dan militer pasti kalah. Berkat rahmat Ilahi, di sektor ekonomi dan budaya musuh pasti kalah. Ini tidak perlu diragukan, namun dengan syarat kita harus bekerja secara serius.”(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh