Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 26 Agustus 2015 14:59

Konferensi Internasional Perempuan Pelayan Razavi

Konferensi Internasional Perempuan Pelayan Razavi

Di Iran dari tanggal 1  hingga 11 Dzulqa’dah diperingati sebagai Sepuluh Hari Keramat. Pada tanggal 1 merupakan hari kelahiran Sayidah Fathimah Maksumah as dan di 11 Dzulqa’dah adalah hari kelahiran Imam Ridha as. Di rentang kelahiran dua manusia agung ini mengingatkan kita akan nilai-nilai kemanusiaan. Sepuluh Hari Keramat juga mengingatkan kasih sayang Sayidah Fathimah Maksumah as kepada kakaknya Imam Ridha as.

 

 

Kasih sayang Sayidah Fathimah Maksumah as menyaksikan keterasingan dan kemazluman kakaknya memaksanya melakukan perjalanan di usianya yang  masih terbilang muda. Hal ini membuat segala kesulitan, penyakit dan kematian menjadi mudah baginya. Di hari-hari ini, Haram Sayidah Fathimah Maksumah di Qom dan Haram Imam Ridha as di Mashhad menjadi pusat berkumpulnya para pecinta Ahlul Bait.

 

Sepuluh Hari Keramat juga mengingatkan kita akan peran seorang perempuan yang mampu melakukan perubahan besar. Karena seluruh Ahlul Bait, khususnya Imam Ridha as dan saudarinya, Sayidah Maksumah as merupakan manusia agung yang berhasil mendidik tokoh-tokoh besar. Terlebih lagi perilaku dan ucapan mereka menjadi teladan bagi seluruh manusia.

 

Saat ini, di Iran dan negara-negara Islam ada tuntutan dari para Muslimah untuk merealisasikan budaya Razavi di segala bidang. Hal ini dengan menjadikan ajaran mulia Imam Ridha as dan saudarinya Sayidah Maksumah as sebagai teladannya. Sekaitan dengan hal ini, dalam rangka menyebarkan budaya Razavi, diselenggarakan “Konferensi Internasional Perempuan Pelayan Budaya Razavi”. Konferensi ini diadakan berkat kerjasama Festival Internasional Imam Ridha as dan Lembaga Budaya dan Komunikasi Islam.

 

Tujuan dari penyelenggaraan konferensi ini untuk mendata para perempuan yang menyebarkan budaya Razavi dan menambah informasi demi memperluas kegiatan perempuan yang aktif menyebarkan budaya Razavi di Iran. Konferensi internasional ini dihadiri para tamu dari negara-negara seperti Tunisia, Irak, Pakistan, Azerbaijan dan lain-lain. Pada acara penutupan konferensi, diserahkan penghargaan kepada delapan tamu asing, sementara dari Iran diberikan kepada sembilan orang.

 

Seddigheh Hejazi, Direktur urusan Perempuan dan Keluarga Lembaga Budaya dan Komunikasi Islam mengatakan, “Festival Imam Ridha as untuk Iran telah berjalan selama lebih dari 10 tahun, sementara bagian internasionalnya baru berusia 8 tahun. Selama 8 tahun ini banyak tokoh muslim dan muslimah dari dalam dan luar negeri yang berpartisipasi. Penyelenggaraan Konferensi Internasional Perempuan Pelayan Razavi bertujuan mendata para perempuan yang berusaha menyebarkan budaya Razavi.”

 

Cinta kepada manusia agung dan saleh, khususnya para nabi dan wali Allah merupakan rasa yang secara fitrah diciptakan dalam diri manusia. Abuzar Ibrahimi Turkman, Ketua Lembaga Budaya dan Komunikasi Islam menyinggung masalah ini saat pemberian hadiah dan penghargaan kepada para perempuan penyebar budaya Razavi.

 

Ibrahimi mengatakan, “Cinta merupakan faktor yang berhasil mengumpulkan ulama besar kita di Haram  Sayidah Maksumah as. Mereka menjadikan Imam Ridha as sebagai patokan dikarenakan cinta. Cinta membuat manusia tidak melihat keburukan dan hanya cinta yang dirasakan dari yang dicintainya. Antara kita dan Imam Ridha as begitu juga dengan Sayidah Maksumah dari jenis cinta.

 

Terkadang kita tidak bisa menyampaikan apa yang kita rasakan dengan lisan. Tapi apa yang tidak dapat dikatakan ini dikarenakan cinta kepada Ahlul Bait. Bahasa hati tidak dapat diucapkan. Kita diarahkan kepada Allah dan melakukan perbuatan baik semua berkat hati. Para perempuan penyebar budaya Razavi harus mengetahui bahwa hati mereka telah ditunjuki ke jalan ini. Karena dari seribu buah apel yang jatuh hanya seorang yang mendapat hidayah. Semoga Imam Ridha as menerima kita semua menjadi pelayan beliau.”

 

Mereka yang ingin menyebarkan budaya Razavi perlu mengenal ciri khasnya dengan benar agar sarana bagi penyebarannya dapat terpenuhi. Sekaitan dengan hal ini, Wakil Presiden urusan Perempuan dan Keluarga, Shahindokth Mowlaverdi di konferensi ini mengatakan, “Budaya terkait para Imam lebih umum dari ucapan dan perilaku. Artinya apa saja yang sampai dari mereka kepada kita. Satu dari ucapan Imam Ridha as yang sampai kepada kita mengajak manusia meninggalkan dunia, hidup sederhana dan menjauhi kemewahan.

 

Ridha atau keridhaan adalah salah satu sebutan yang disematkan kepada Imam Ali bin Musa ar-Ridha as. Sebutan ini membuat beliau dibedakan dari para Imam yang lain. Setelah mengkaji dan sesuai dengan kutipan yang disampaikan oleh Imam Jawad as kepada kita dapat dimengerti mengapa sebutan ini disematkan kepadanya. Artinya, selain diakui dan didukung oleh sahabatnya, musuh beliaupun ridha dengannya. Itulah mengapa beliau disebut Ridha.”

 

Mencermati kondisi saat ini, peran perempuan sangat penting dalam menerima tanggung jawab sosial. Fatemeh Rahbar, Ketua Fraksi Perempuan di Majlis Syura Islami termasuk salah satu pembicara dalam konferensi ini. Ia mengatakan, “Dalam undang-undang Islam, semua manusia bertanggung jawab pada pencipta, diri dan masyarakatnya. Perempuan juga demikian, bahkan dalam beberapa kasus tertentu mendapat penekanan khusus untuk menerima tanggung jawab.”

 

Fatemeh Rahbar menambahkan, “Dalam masyarakat internasional telah banyak dilakukan pembahasan mengenai hak perempuan yang sesuai dengan cara pandang Barat. Tapi kita harus membahasnya sesuai dengan pandangan Islam dan menyampaikannya kepada dunia. Perempuan muslim perlu menunjukkan kepada perempuan sedunia, khususnya dunia Islam dengan meneladani budaya Razavi dan sirah Fathimi. Kita harus menyebarkan budaya ini dengan perbuatan, pena dan lisan.”

 

Pesan penting lainnya dari budaya Razavi adalah berlaku sesuai dengan keksatriaan dan menghidupkan nilai-nilai agama. Sayid Javad Jafari, Direktur Eksekutif Departemen Internasional Imam Ridha dalam hal ini mengatakan, “Budaya Razavi pada hakikatnya ajaran Islam itu sendiri. Bagaimana kita harus berlaku ksatria, sekalipun terhadap musuh. Budaya ini semakin mencerahkan dengan tuntunan budara Razavi. Dengan budaya ini, dunia semakin aman dan dipenuhi ketenangan.”

 

Sayid Javad Jafari menjelaskan, “Tidak diragukan bahwa risalah untuk menyampaikan pesan Imam Ridha as dan budaya Razavi berada di pundak kita. Risalah yang mampu membersihkan wajah Islam dan menjelaskan dengan indah hakikat Islam. Kita semua patut bersyukur dikumpulkan dalam Forum Internasional Pelayan Budaya Razavi.

 

Kita harus melaksanakan tanggung jawab yang telah dibebankan kita di tempat tinggal kita. Dengan melaksanakan peran ini, kita telah mencatat diri sebagai para penyebar budaya Razavi, bahkan penghidup ajaran Imam Ridha as. Beliau sempat berkata kepada sahabatnya, Aba Salt, “Semoga Allah merahmati siapa saja yang menghidupkan ajaran kami.”(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh