Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 09 Maret 2016 15:41

Nowruz dan Berbagai Dimensinya

Nowruz dan Berbagai Dimensinya

Kata Nowruz adalah susunan dari dua kata dalam bahasa Persia, now yang berarti baru, ruz berarti hari. Dengan demikian arti Nowruz adalah hari baru yang dalam penggunaan, dimaksudkan untuk dimulainya musim semi atau peringatan tahun baru. Dalam sejarah Persia kuno, Nowruz dikenal dengan nama Nawa Sirda, yang berarti tahun baru. Dan ada beberapa kata lain yang digunakan untuk Nowruz oleh sebagian kelompok masyarakat seperti Nowsarad dan Nowsarji yang juga berarti tahun baru.

Asal-usul penggunaan Nowruz untuk pertama kali hingga kini tidak jelas. Namun berdasarkan dokumen sejarah, peringatan Nowruz dimulai pada era Babilonia. Dokumen dan catatan sejarah yang ada di Iran menyebutkan bahwa Nowruz telah ada sekitar 538 tahun sebelum Masehi, yakni pada era imperium Cyrus the Great dari dinasti Achaemenid.

 

Nowruz adalah peringatan tradisional tertua bagi bangsa Iran dan memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang. Sama seperti Shahnameh Ferdowsi, Nowrouz adalah shahnameh, dan dokumen nasional serta identitas setiap orang Iran. Tanpa itu, mereka seakan akan kehilangan budaya dan identitas. Tersimpan banyak filosofi dalam peringatan ini.

 

Nowruz merupakan hari besar kuno Iran yang diselenggarakan pada awal musim semi. Pada prinsipnya, perayaan hari besar dilakukan di seluruh dunia sebagai kesempatan untuk memperkuat persatuan masyarakat. Sementara di Iran sendiri, peringatan tahun baru Nowruz menjadi sarana untuk memperkokoh solidaritas anggota keluarga, baik di tingkat daerah maupun secara nasional. Tahun baru Nowruz mampu mendekatkan satu anggota keluarga dengan yang lainnya.

 

Nowruz merupakan acara peringatan tahun baru dalam budaya Iran yang paling menggembirakan dan masih berlanjut hingga kini. Nowruz juga menjadi simbol persahabatan dan mengingatkan manusia untuk kembali ke alam. Budaya Iran sangat mementingkan masalah keluarga dan institusi ini punya posisi yang tinggi dalam masyarakat Iran. Oleh karenanya, pengaruh terbaik dari tahun baru Nowruz langsung mengena pada keluarga dan memperkuat solidaritas di antara anggotanya. Di sini, peran wanita, terlebih istri dan ibu dalam merayakan Nowruz dan menciptakan kedekatan antara anggota keluarga sangat terasa.

 

Perayaan Nowruz memberikan peran sentral kepada wanita. Sejatinya, perayaan Nowruz membuktikan partisipasi wanita dalam aktivitas sosial, khususnya dalam memperkokoh institusi rumah tangga. Di jam-jam pertama pergantian tahun, para wanita Iran berada bersama anggota keluarga dan boleh dikata, seluruh persiapan perayaan Nowruz dipimpin langsung oleh wanita. Mereka yang memenej banyak hal mulai dari persiapan melakukan perjalanan Nowruz, silaturahmi, pemberian hadiah, menyiapkan taplak Haft Sin dan lain-lain.

 

Taplak Haft Sin merupakan satu dari daya tarik rumah Iran di tahun baru dan biasanya yang mempersiapkannya adalah wanita. Di atas taplak Haft Sin berderet dengan rapi tujuh produk pertanian yang diawali dengan huruf Sin; Sir (bawang putih), Sabzeh (kecambah), Senjed (Seladren), Samanu (dodol), Somaq (rempah) dan Serkeh (cuka). Selain Haft Sin ini adalah beberapa benda lain yang diletakkan seperti al-Quran, cermin, lilin, telur berwarna, buah, bunga, kue, kacang-kacangan dan ikan merah dalam toples.

 

Hampir semua benda yang diletakkan di atas taplak Haft Sin disiapkan oleh wanita dan mereka juga yang mengaturnya dengan indah. Detik-detik menjelang pergantian tahun, ibu memanggil semua anggota keluarga dan berkumpul di sekeliling meja yang di atasnya telah dihiasi dengan taplak Haft Sin. Setelah itu, ia mengingatkan anggota keluarga, khususnya anak-anak untuk membaca beberapa ayat al-Quran dan tidak lupa mengucapkan doa pergantian tahun.

 

Satu hal menarik dari tradisi Nowruz, selain ciri nasionalnya, ternyata juga ada nilai-nilai keislamannya. Dimensi ini yang memberi berkah dan dampak positif bagi anggota masyarakat. Benar, masalah silaturahmi dimana terjadi saling kunjung antara keluarga dan handai tolan selama musim liburan Nowruz. Masalah silaturahmi menjadi perekat antara budaya Islam dan Iran, terutama dalam perayaan tahun baru Nowruz.

 

Tradisi silaturahmi di tahun baru Nowruz lebih banyak ditangani oleh wanita Iran. Mereka yang menyusun rencana melakukan kunjungan baik kepada keluarga yang berada di satu kota hingga yang berada di kota lain. Wanita Iran di awal tahun baru mempersiapkan keluarganya dengan baik untuk mengunjungi kakek dan nenek dari anak-anak mereka. Para sosiolog meyakini masyarakat yang saling melakukan interaksi dan mencintai satu sama lainnya merupakan masyarakat yang hidup dan riang. Hal ini juga berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan budaya masyarakat itu.

 

Wanita muslim Iran sangat berperan dalam silaturahmi. Karena ia mengetahui dengan benar betapa banyak berkah dari melaksanakan tradisi ini dalam kehidupan individu maupun sosial. Wanita Iran memahami silaturahmi merupakan kebutuhan batin anggota keluarga. Mereka perlu untuk mengasihi, sebagaimana ingin dikasihi. Keluarga yang melakukan silaturahmi akan mencapai satu ketenangan dan kegembiraan tersendiri. Silaturahmi bahkan dapat menjadi obat untuk menyembuhkan penyakit baik terkait kejiwaan seseorang atau jasmaninya.

 

Silaturahmi mampu menciptakan atmosfir yang sehat, sehingga manusia dapat melakukan interaksi dengan orang lain dan mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Saling menceritakan masalah yang ditemukan dan bagaimana penyelesaiannya dapat mengurangi stres yang dihadapi. Banyak hadis yang menyebutkan orang yang melakukan silaturahmi akan panjang usianya. Karena manusia yang melakukan silaturahmi pada dasarnya ia akan sampai pada ketenangan jiwa yang menjadi inti dari kesehatan badan.

 

Nowruz berarti hari pertama dari tahun Hijriah Syamsiah yang dipakai Iran. Sekalipun nama ini sudah identik dengan Iran dan memiliki sejarah ribuan tahun, tapi Nowruz menjadi hari raya bersama bagi mereka yang hidup di belahan timur dunia. Negara-negara tetangga Iran seperti negara-negara Asia Tengah, Kaukasus, Afghanistan, negara-negara di Anak Benua, Turki dan Iran juga merayakan hari Nowruz. Sidang Umum PBB pada 23 Februari 2010 meratifikasi resolusi yang menetapkan tanggal 21 Maret bertetapan dengan 1 Farvardin dalam butir 49 sebagai budaya perdamaian dan Hari Sedunia Nowruz.

 

Penetapan Nowruz sebagai Hari Sedunia menyebabkan lebih dari 310 juta orang di dunia saat ini merayakan tahun baru ini setiap tahunnya. Oleh karenanya sangat tepat bila di hari-hari menyenangkan dan penuh berkah ini ada penjelasan tentang tradisi Nowruz di negara-negara yang lain. Apa lagi permulaan musim semi dan mekarnya bunga-bunga membuktikan keabadian Sang Pencipta yang Esa dan Bijaksana.

 

Masyarakat pengguna bahasa Persia dan ramah Tajikistan merayakan Nowruz seperti yang dilakukan warga Iran. Menurut masyarakat Tajikistan, perayaan Nowruz lebih memiliki sejarah yang lama dan dirayakan sejak dahulu, ketimbang perayaan hari-hari lainnya. Hari raya Nowruz yang merupakan hari nasional nenek moyang mereka dinilai sebagai rahasia persahabatan dan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Itulah mengapa mereka menyebut Nowruz dengan nama Ayam Xedir yang berarti Hari Raya.

 

Perayaan Nowruz di Uzbekistan memiliki coraknya sendiri. Pemerintah negara ini menetapkan libur resmi di hari Nowruz. Masyarakat memanfaatkan hari libur ini dengan menyelenggarakan perayaan besar, sehingga suasana Nowruz begitu terasa di seluruh negeri. Rakyat Uzbekistan baik di kota maupun desa memakai pakaian barunya pada hari itu. Sebelumnya, mereka membersihkan gang, jalan, bundaran dan taman-taman. Pada hari Nowruz ada tradisi khusus dimana anak-anak dan remaja mengelilingi desa dan kota kecil sambil membawa bunga yang dipetik dari lembah. Tradisi ini merupakan simbol datangnya musim semi.

 

Lain lagi dengan masyarakat Kazakhstan yang menilai Nowruz sebagai musim semi yang paling normal. Mereka berkeyakinan bahwa di hari ini bintang-bintang di langit mencapai titik pertamanya, sehingga semuanya menjadi baru dan siapa saja yang di atas bumi bergembira. Menurut legenda Kazakhstan, tepat di hari Nowruz “Batu Nilgun” di Samarqand meleleh menjadi air. Sementara di malam pergantian tahun, setiap rumah menyalakan dua buah lilin dan diletakkan di atas rumahnya lalu dimulailah proses Khaneh Takani atau membersihkan rumah. Rumah yang bersih di awal tahun baru bagi mereka petanda penghuninya tidak akan sakit.

 

Nowruz dalam sejarah dan budaya Afghanistan adalah manifestasi penghormatan akan kehidupan, alam dan nilai-nilai kemanusiaan yang telah berakar dalam puisi, sastra, seni dan tradisi keluarga dan masyarakat negara ini. Di hari Nowruz warga Afghanistan memiliki tradisi khusus untuk merayakannya, seperti tradisi Mileh Gol-e Sorkh (perayaan bunga mawar), Jashn Dehghan (perayaan petani) dan Tahiyeh Haft Miveh (persiapan buah tujuh rupa).

 

Dua hari menjelang Nowruz, keluarga Afghanistan mempersiapkan buah tujuh rupa untuk menjamu tamu yang datang ke rumahnya. Buah tujuh rupa ini terdiri dari campuran tujuh buah yang telah dikeringkan seperti kishmis, aprikot, seladren, pistachio, kacang walnut, kacang almond dan eshtaq (buah lokal). Buah tujuh rupa yang telah dikeringkan ini menjadi hidangan wajib yang dipersiapkan tuan rumah Afghanistan kepada tamunya di hari Nowruz.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh