Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 08 Maret 2016 15:59

Mengenang Farajollah Salahshoor

Mengenang Farajollah Salahshoor

Pekan lalu Farajollah Salahshoor, artis, make up artis, penulis naskah film dan sutradara Republik Islam Iran meninggal dunia. Farajollah Salahshoor dilahirkan di kota Qazvin tahun 1331 HS (1953). Salahshoor memulai aktivitas seni sejak kemenangan Revolusi Islam sebagai aktor. Kemudian ia mulai merambah dunia televisi dan mensutradarai sejumlah serial sejarah-agama.

 

 

Di antara karya sutradara kawakan Iran ini adalah serial Nabi Ayub,  The Men of Angelos dan Nabi Yusuf. Serial tersebut diputar baik di kanal dalam negeri maupun televisi asing. Salahshoor meninggal dunia pada 27 Februari 2016 di usia 63 tahun akibat menderita sakit. Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya sutradara Iran ini. Di bagian pesan Rahbar disebutkan, “Karya kekal seniman besar Iran yang membuat bangga bangsa serta mengenalkan kebesaran sinema Iran kepada bangsa lain, pastinya termasuk kebaikan baginya dan layak mendapat pahala dari Allah Swt serta namanya akan terus dikenang oleh bangsa Iran.”

 

Salah satu serial televisi Iran yang sukes adalah serial Nabi Yusuf yang mengisahkan kehidupan nabi besar ini dan disutradarai Farajollah Salahshoor.  Serial ini diputar kanal satu televisi Iran tahun 1387 HS (2009) dan kemudian diputar di televisi IRIB sesi bahasa asing serta sejumlah televisi luar negeri. Serial ini melibatkan 45 pemain asli dan 150 aktor pembantu.

 

Uniknya serial ini juga diputar di laman Youtube dan jumlah mereka yang menonton atau mengunduh serial ini mencapai 300 ribu hingga satu setengah juta. Angka ini hanya khusus di serial Nabi Yusuf yang telah di dubing ke dalam bahasa Arab  dengan judul Yusuf as-Siddiq. Jika kita gabung dengan bahasa lainnya, maka angka ini akan semakin besar.  Stasiun televisi satelit yang menyiarkan serial Nabi Yusuf adalah al-Kautsar, al-Wialyah, al-Manar,  Drama al-Misriah, Oscar Drama, Televisi Melodi, Time Mix, al-Furat, Donya al-Fadhaiyah, Nasmah TV, Diyali dan Iraq al-Mustaqbal.

 

Serial televisi lainnya yang disutradarai Farajollah Salahshoor adalah serial Nabi Ayub yang mengisahkan kehidupan nabi yang terkenal kesabarannya tersebut. Nabi Ayub  namanya disebut beberapa kali di al-Quran dan dipuji karena kesabarannya. Serial yang digarap berdasarkan riwayat al-Quran ini menampilkan kedengkian syaitan atas posisi dan kedudukan Nabi Ayub di sisi Tuhan. Atas kehendak Allah, Ayub akan diuji secara keras karena syaitan tidak meyakini keimanan Nabi Ayub. Allah Swt menguji Ayub dengan ujian berat, namun ternyata Ayub tidak berpaling dari beribadah kepada-Nya dan akhirnya berkah yang telah hilang dikembalikan kepada nabi penyabar ini.

 

The Men of Angelos atau kisah Ashabul Kahfi, serial lain garapan Farajollah Salahshoor. Serial ini menceritakan kisah sejumlah hamba Allah setelah kelahiran Isa al-Masih dan maraknya ajaran Nasrani. Kisah ini terjadi di era kepemimpinan salah satu raja Romawi kuno bernama Diqyanus. Dari tujuh penyembah Tuhan di kisah ini semuanya dari keturunan mulia dan pejabat pemerintah, kecuali satu orang. Mereka terus menyembunyikan keimanannya.

 

Setelah sang raja mengetahui keimanan mereka, hamba Tuhan ini kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Ketika malam tiba, mereka melarikan diri dari penjara dan bersembunyi di gunung. Sesampainya di gunung, mereka menceritakan keimanananya kepada pengembala kambing dan meminta perlindungan.  Pengembala pun kemudian beriman kepada agama tersebut dan bersama-sama kelompok ini bersembunyi di sebuah gua. Mereka tidur untuk waktu yang lama, sekitar 309 tahun dan kemudian bangun. Peristiwa besar setelah bangkitnya hamba beriman ini menjadi acuan serial The Men of Angelos.

 

Selama pekan lalu, media Arab selain menyiarkan biografi Farajollah Salahshoor juga mengisyaratkan karya besar sutradara Iran ini. Selama menyiarkan berita kematian Salahshoor, media Arab juga menyatakan belasungkawa. Laman dan koran seperti, Asosiasi Radio dan Televisi Mesir, al-Ahed Lebanon, al-Sumariyah Irak, al-Youm al-Sabe Mesir, al-Wasat Bahrain, Akhbar Qatar, al-Khabar Press, Moujaz Mesir, dan Sahifah al-Saah melaporkan berita kematian Salahshoor.

 

Media-media Arab juga mengisyaratkan upaya Salahshoor menggarap serial Nabi Musa dan meliput reaksi sejumlah seniman Iran seperti Mostafa Zamani, pemeran Yusuf di serial Nabi Yusuf. “Semoga Allah merahmatinya, ia seorang duta Iran di seluruh negara Arab,” ungkap Sayid Amin, salah satu penggemar Salahshoor dari Mesir. Adel Abdul Aal, salah satu penggemar Salahshoor mengatakan, “Saya bertemu dengan Salahshoor di rumahnya, semoga Allah merahmatinya. Kami berbincang mengenai peran sebagai Nabi di sinema. Kami mengatakan, meski al-Azhar mengharamkan memainkan peran nabi di senima, namun rakyat Mesir antusias menyaksikan serial ini. Salahshoor tersenyum dan berkata, kita hidup di abad 21, kita harus menceritakan kisah pada nabi dengan alur yang mudah dan sederhana. Menyaksikan pemain, akan sangat menarik bagi pemirsa daripada hanya mendengar suaranya.”

 

Zahra Ahmad dari Tunisia dicatatannya pertama-tama memohonkan ampunan bagi Salahshoor dan kemudian menulis, “Serial ini telah mengelurkan kita dari kondisi monoton serial mazhabi dan kami sadar jika sosok nabi ditampilkan di film akan sangat menarik, dengan syarat sang aktor kemudian tidak memainkan peran negatif yang bertentangan dengan akhlak Islami di film, maka hal ini tidak akan menimbulkan hal-hal yang buruk.

 

Serial Nabi Yusuf yang disutradarai Salahshoor setelah meraih sukses besar di dalam negeri berubah menjadi duta budaya Iran di seluruh dunia. 92 persen pemirsa luar negeri mengaku puas dengan serial Nabi Yusuf. Angka mengejutkan ini tak berbeda jauh dengan di Iran sendiri. Baru-baru ini pemimpin Muslim Thailand mengirim hadiah dan memuji serial Nabi Yusuf. Di pesan pemimpin Muslim Thailand disebutkan bahwa serial Nabi Yusuf bukan saja memukau umat Islam, namun umat Budha di negara ini pun turut menyaksikan.

 

Terkait sambutan luas serial Nabi Yusuf dan bahkan di kalangan non Muslim, Salahshoor  mengatakan, “Serial Nabi Yusuf berhubungan dengan fitrah manusia. Fitrah merupakan kekuatan deteksi dan pembeda adalah hal yang adil yang diberikan Allah kepada umat manusia. Dengan fitrah ini, manusia baik Muslim atau non Muslim akan mengakui kebaikan. Nabi Yusuf sebuah kebenaran bukan kebohongan. Kebenaran selaras dengan fitrah manusia. Manusia siap menerima kebenaran seperti kebencian mereka terhadap kebohongan..”

 

Salahshoor menambahkan, “...Sangat disayangkan film-film dewasa ini penuh dengan kebohongan, kecuali yang diproduksi berdasarkan dokumen. Selain itu, Nabi Yusuf merupakan sebuah kisah indah dan manusia mencintai kisah-kisah indah. Poin penting di sini adalah kisah ini penuh dengan pelajaran berharga. Bisanya film yang penuh dengan pelajaran berharga banyak diminati pemirsa dan karakteristik ini juga ditekankan oleh al-Quran. Karakteristik lain serial Nabi Yusuf adalah isi kisah itu sendiri. Kisah ini dipenuhi dengan pengorbanan, percintaan, ibadah, dan keimanan. Belum lagi dekorasi, para pemain, pengambilan gambar serta musik di serial kian menambah nilai positif.”

 

Farajollah Salahshoor termasuk sejumlah kecil seniman Iran yang memasuki dunia sinema dengan menjadikan al-Quran sebagai acuan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Salahshoor seniman yang mampu menggabungkan dunia perfilmenan dengan al-Quran. Di bidang ini, Salahshoor banyak menciptakan inovasi di dunia teater, film dan televisi.

 

Poin penting di sini adalah menurut para seniman menerapkan film-film bernuansi religi dan qur’ani di sinema dan televisi tidak mungkin diwujudkan, namun dengan upaya dan kerja keras Salahshoor, hal ini dapat direalisasikan. Hal ini dengan baik dapat disaksikan di karya terakhir Salahshoor yakni serial Nabi Yusuf, karena karya ini bukan saja mendapat sambutan dari Iran, namun juga di luar negeri.

 

Disebutkan bahwa Salahshoor telah menulis naskah serial Nabi Musa dan berencana mensutradarai serial ini, namun ternyata kematian membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Serial yang menceritakan kehidupan dan ajaran para Nabi Ilahi dapat membongkar kebohongan dan makar yang diusung rezim Zionis. (MF)

Add comment


Security code
Refresh