Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 24 Februari 2016 15:45

Kepulangan Sang Amir Jurnalis Mesir

Kepulangan Sang Amir Jurnalis Mesir

Mohamed Hassanein Heikal, seorang jurnalis terkemuka Mesir belum lama ini meninggal dunia di usia 93 tahun. Ia dilahirkan pada 23 September 1923 di desa sekitar provinsi al-Qalyubiyah, Mesir. Kecerdasan dan potensinya yang besar dalam analisis sejarah dan politik, membuat Heikal termasuk deretan jurnalis terkemuka di dunia di abad kedua puluh.

 

Para analis menilai Heikal melampaui seorang jurnalis dan politikus, sebab perannya sangat besar bagi Mesir dalam kondisi sensitif, bahkan bagi dunia Arab. Mohamed Hassanein Heikal termasuk jajaran pemikir besar Mesir yang menyuarakan persatuan Islam dan perlawanan terhadap Israel. Hingga akhir hayatnya, ia memegang teguh dua prinsip tersebut.

 

Ketika berusia 34 tahun, Heikal diangkat menjadi pemimpin redaksi koran Al-Ahram, Mesir. Sejak tahun 1957, selama 17 tahun, ia menempati posisi tersebut. Kehadirannya sebagai orang nomor satu di koran Al-Ahram menjadikan harian Mesir itu termasuk salah satu koran terkemuka di dunia.

 

Tidak hanya itu, Heikal juga mendirikan sejumlah pusat riset di bawah bendera Al-Ahram di antaranya: pusat studi politik dan strategi, pusat studi jurnalistik, dan pusat dokumentasi sejarah kontemporer Mesir. Dengan kejelian dan ketajamannya dalam menganalisis atmosfir politik internasional dan dunia Arab, pandangannya menunjukkan kualitas Heikal sebagai jurnalis politik kawakan.

 

Ia juga melancarkan kritik terhadap arus politik dan pemimpinnya, tapi tanpa menyerang kecenderungan partainya. Sikapnya tersebut membuat Heikal dihormati dan disegani oleh berbagai kalangan pemikir dan politikus Mesir.

 

Mohamed Hassanein Heikal adalah teman sekaligus penasehat presiden Gamal Abdel Nasser. Heikal mengartikulasikan pikiran Nasser pada awal karirnya. Ia juga berperan sebagai ghostwriter untuk Nasser, dan berbicara mewakili ideologi pan-Arabisme.

 

Gamal Abdel Nasser Hussein adalah Presiden kedua Mesir yang melakukan nasionalisasi Terusan Suez pada tahun 1956. Peristiwa besar ini mengerek namanya sebagai seorang tokoh ikonik dunia Arab, khususnya untuk langkah ke arah keadilan sosial dan persatuan Arab, kebijakan modernisasi, dan upaya anti-imperialis. Sejarawan menggambarkan Nasser sebagai tokoh politik yang menjulang tinggi di Timur Tengah pada abad ke-20.

 

Sebagai penasehat sekaligus karib Nasser, Heikal senantiasa hadir mendampingi presiden Mesir itu dalam kondisi paling sensitif sekalipun. Heikal menyampaikan pandangannya mengenai sejumlah masalah penting seperti nasionalisasi Terusan Suez, dan perang enam hari.

 

Mohamed Hassanein Heikal telah menjadi anggota Komite Sentral Uni Sosialis Mesir. Ia ditunjuk sebagai menteri informasi pada tahun 1970, namun mengundurkan diri dari pemerintah Mesir pada tahun 1974, karena berbeda pandangan dengan Anwar Sadat, terutama berkaitan dengan sikapnya yang keras terhadap Israel. Sedangkan Sadat dikenal bersikap kompromis dengan rezim Zionis. Sadat pula yang menyingkirkan Heikal dari posisinya sebagai pemimpin redaksi al-Ahram.

 

Karya pertama yang berbentuk buku berbahasa Inggris berjudul “The Cairo Documents” yang diterbitkan pada tahun 1971. Buku tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia yang mencapai lebih dari 20 bahasa. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku berjudul “Nasser dan Dunia”. Pada 9 September 1972, Heikal juga menulis paper berjudul “Kissinger dan Aku” yang menyulut friksinya dengan Anwar Sadat, yang menjabat sebagai presiden Mesir setelah Nasser.

 

Selain itu, ia menulis sejumlah karya lain di antaranya: Cerita di Balik Hubungan Nasser dengan Pemimpin Dunia, Pemberontak, dan Negarawan di tahun 1973,

Jalan Menuju Ramadhan di tahun 1975, Sphinx dan Komisaris: Kebangkitan dan kejatuhan pengaruh Soviet di dunia Arab tahun 1978, dan Perang Oktober tahun 1980, Pembunuhan Sadat yang terbit di tahun 1983, menganalisis alasan di balik pembunuhan Sadat dan kebangkitan Islam politik.

 

Pada tahun 1986, ia menulis buku “Cutting the Lion's Tale: Suez Through Egyptian”,

“Illusions of Triumph: An Arab View of The Gulf War” di tahun 1993, dan

“Secret Channels: The Inside Story of Arab-Israeli Peace Negotiations” di tahun 1996. Heikal juga menyoroti perkembangan teranyar yang terjadi di dunia dengan ketajamannya, seperti buku Imperium AS dan Agresi Militer ke Irak, Krisis Arab dan masa depannya. Ia juga menulis pengantar untuk buku-buku penulis terkenal seperti Noam Chomsky berjudul “Paman Sam Apa yang Engkau Inginkan.”

 

Mohamed Hassanein Heikal dengan ketajaman penanya tetap konsisten membela gerakan perlawanan Islam. Sekitar dua bulan setelah kesyahidan Samir Qantar, Heikal di laman twitternya bercuit, “Samir Qantar adalah syuhada pembebasan Arab dan pahlawan perlawanan terhadap rezim Zionis”. Heikal mengakui dirinya berbeda pandangan dengan Samir, tapi tidak menjadikan keduanya bermusuhan. Sebab menurut Heikal, musuh utama dan terpenting adalah rezim Zionis.

 

Menurut Heikal, “Ketika rezim Zionis menjadi musuh bersama, maka setiap masalah yang menyebabkan persengketaan tidak ada manfaatnya dan harus ditinggalkan,”. Oleh karena itu, kematian Heikal merupakan berita penting bagi rezim Zionis, bahkan menjadi headline media massa Israel.

 

Menjelang akhir hayatnya, Mohamed Hassanein Heikal masih menyampaikan pandangan mengenai berbagai masalah regional dan global. Menyikapi koalisi Arab pimpinan Saudi yang menyerang Yaman, Heikal mengatakan, “Koalisi ini dibentuk oleh negara-negara pendukung ISIS”. Pada akhir tahun 2015, dalam sebuah wawancara dengan BBC, analis politik Mesir ini menyampaikan bela sungkawa atas kematian bangsa Arab. Ia juga menyesalkan dilupakannya masalah Palestina oleh dunia Arab.Heikal menegaskan, “Ini teori keamanan Israel yang menyatakan sebagian Arab menghantam sesamanya, dan melupakan Israel”.

 

Mengenai Iran, Heikal menulis sejumlah buku dan paper di antaranya: Kembalinya Sang Ayatollah: Revolusi Iran dari Mossadeq ke Khomeini di tahun 1981, “Iran: Cerita yang Tak Terkatakan” setahun kemudian. Sebanyak dua kali Heikal bertemu dengan Imam Khomeini, bapak pendiri Republik Islam Iran. Ketika itu, Imam Khomeini menerima jurnalis senior Mesir ini, dan menjawab sejumlah pertanyaan mengenai masalah Iran pasca kemenangan Revolusi Islam, hubungan dengan AS, serta transformasi regional dan global.

 

Sekitar setahun lalu, Mohamed Hassanein Heikal dalam sebuah acara televisi CBC, Mesir menyikapi sepak terjang negara-negara Arab terhadap Iran. Jurnalis terkemuka Mesir ini mengungkapkan,“Saya amat kecewa dengan cara negara-negara Arab memperlakukan Iran. Kita benar-benar tidak membutuhkan pola interaksi seperti itu. Saya bertemu dengan Imam Khomeini di Paris, dan berbicara dengan beliau. Imam Khomeini menyinggung Sheikh Shaltut, Sheikh Al-Azhar (tokoh Sunni yang mendukung persatuan Sunni dan Syiah), dan memuji pendekatan mazhab Islam yang dilakukannya,”.

 

Mohamed Hassanein Heikal termasuk deretan sejarawan kontemporer Mesir dan dunia Islam. Pengetahuannya yang luas dan pengalamannya yang melimpah di dunia politik membuat Heikal jernih menganalisis masalah Mesir, dan dunia Arab bahkan dinamika global dari masalah terusan Suez, perang enam hari, perjanjian Camp David, hingga revolusi 25 Januari dan 30 Juni. Oleh karena itu, Heikal dijuluki sebagai “Amir Penyaksi Sejarah Mesir “.

 

Heikal dikenal sebagai pemikir yang menyuarakan persatuan Arab. Ia juga menjadi contoh dari sosok jurnalis yang memainkan peran penting dalam transformasi politik negaranya dan kawasan. Asosiasi Jurnalis Muslim mengeluarkan statemen duka atas meninggalnya Mohamed Hassanein Heikal.

 

Hizbullah Lebanon dalam pernyataan duka citanya mengungkapkan, “Mesir dan dunia Arab, insan media, para pemikir, penulis dan politikus, kehilangan seorang guru terkemuka; Mohamed Hassanein Heikal adalah tokoh yang berkarakter, pemikir yang bernas, penulis yang tajam, dan menorehkan rekam jejak cemerlang dalam sejarah politik dan perlawanan dengan profesinya. Dengan berbagai karakterisktiknya ini, beliau adalah sebuah “mazhab” di bidang politik nasional, yang berkomitmen dengan profesionalisme dan kepercayaan terhadap prinsip bangsa Arab, termasuk di dalamnya masalah Palestina,”.

 

Hizbullah dalam statemennya menegaskan, hubungan erat antara Heikal dengan gerakan perlawanan dan para pemimpinnya yang berjuang mewujudkan persatuan dan jihad serta kemenangan dalam pikiran dan tindakannya akan tetap abadi. Pemikiran dan tulisannya mengenai berbagai masalah dan sejarah politik serta profesionalisme, senantiasa menjadi pelita yang menerangi saat ini dan masa depan dalam sejarah kontemporer Arab.(PH)

 

Add comment


Security code
Refresh