Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Jumat, 25 Desember 2015 09:44

Isa al-Masih Perspektif al-Quran

Isa al-Masih Perspektif al-Quran

Setiap tanggal 25 Desember, umat Kristen merayakan Natal untuk memperingati hari kelahiran Isa al-Masih as, seorang manusia pilihan, pembawa pesan perdamaian dan keselamatan, serta penolong sang juru selamat di akhir zaman, Imam Mahdi as.

 

Al-Masih berkata, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membencimu, mintalah berkat bagi orang yang mengutukmu, dan berdoalah bagi orang yang mencacimu.” Ajaran utama al-Masih adalah penekanan pada rahmat, cinta, kasih sayang, dan saling memaafkan. Isa as berkata, “Aku memberi perintah baru kepadamu, yaitu hendaklah kamu saling mengasihi, sama seperti aku sudah mengasihi kamu, maka kamu pun harus saling mengasihi. Melalui hal itu, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah para pengikutku, yaitu jika kamu saling mengasihi."

 

Ada banyak referensi dan buku sejarah yang mengisahkan tentang kehidupan Nabi Isa as dengan versi yang berbeda. Tapi, di sini kita akan mengkaji dimensi kehidupan al-Masih dari bahasa al-Quran. Kitab samawi ini menjelaskan perkara penting kepada umatnya tentang kehidupan dan ajaran Nabi Isa as serta perannya sebagai utusan Tuhan di tengah umat. Tidak ada referensi lain yang mampu menerangkan tentang dimensi kehidupan al-Masih kepada para pecinta seperti yang dijabarkan oleh al-Quran.

 

Al-Quran memperkenalkan kehidupan Isa al-Masih sebagai pembawa risalah kebenaran dan pemberi kabar gembira tentang kedatangan nabi akhir zaman. Deskripsi al-Quran telah menambah kecintaan dan penghormatan kita kepada seorang utusan yang disebut sebagai Firman Allah Swt. Kitab suci umat Islam memperkenalkan Isa ibnu Maryam sebagai al-Masih, Ruh Allah, Abdullah, Mubarak, dan Firman Allah. Isa disebut Firman Allah karena ia terlahir dengan kehendak khusus Sang Pencipta dan juga sebuah kelahiran yang luar biasa. Sejumlah riwayat juga menyebut Ruh Allah sebagai julukan untuk Isa ibnu Maryam. Julukan lain Nabi Isa as adalah Mu’allim al-Khair (pengajar kebaikan) dan Ruh al-Amin.

 

Kajian sumber-sumber Islam akan memberi pengetahuan yang berharga tentang kepribadian Isa ibnu Maryam as. Kelahiran al-Masih terjadi dengan keajaiban, tanpa perantaraan ayah. Ia dilahirkan dari seorang wanita suci bernama Maryam binti Imran. Allah Swt dalam kitabnya menyebut Maryam sebagai perempuan yang menjaga kesucian dan kehormatannya. Ia adalah sosok wanita yang sepenuhnya tunduk pada perintah Allah Swt dan tidak memikirkan perkara lain kecuali untuk meraih keridhaan-Nya. Ibunda Nabi Isa as memiliki kedudukan yang tinggi dan malaikat pun datang bercengkrama dengannya.

 

Namun, Sayidah Maryam mendapat tudingan-tudingan yang tidak pantas setelah kelahiran putranya. Dalam situasi sulit itu, Isa al-Masih yang masih dalam gendongan tampil membela kesucian ibunya dan juga mengumumkan kenabiannya.

 

Tanda-tanda kenabian sudah tampak sejak Isa masih kecil. Beberapa mukjizatnya juga sudah mulai terlihat. Menginjak usia 30 tahun, Isa diperintah untuk menyampaikan risalahnya kepada kaum Yahudi. Saat itu, Isa berada di Bukit Sair dan Malaikat Jibril datang untuk menyampaikan wahyu. Ia diangkat ke langit pada usia 33 tahun.

 

Isa al-Masih as dari segi fisik memiliki postur tinggi sedang, putih kemerahan, dan berambut keriting. Dari segi akhlak, Nabi Isa as memiliki jiwa yang suci dan luhur. Ia lebih memilih hidup serta berdampingan dengan kaum fakir miskin dan meringankan beban kehidupan mereka. Isa as menjauhi kehidupan mewah dan kedudukan duniawi. Ia lebih memilih membantu kaum tertindas dan melindungi mereka. Pakaian yang dipakai oleh Isa terbuat dari bulu domba yang sangat sederhana dan kasar. Nabi Isa as menghiasi lembaran kehidupannya dengan tafakur dan ibadah.

 

Imam Ali as dalam sebuah ucapan tentang sifat Nabi Isa as berkata, “Jika kalian ingin aku berbicara tentang Isa ibnu Maryam. Ia tidur berbantalkan batu, mengenakan pakaian berbahan kasar, memakan makanan yang keras (tanpa kuah) dan kuahnya adalah kelaparan. Ia tidak memiliki istri yang membuatnya tersibukkan, anak yang membuatnya bersedih, harta yang menjadikan hatinya lalai, dan makanan untuk disimpan. Tunggangan Isa adalah kedua kakinya dan pelayannya adalah kedua tangannya.”

 

Isa al-Masih as termasuk salah satu di antara para nabi ulul azmi, di mana mereka menjadi teladan utama dalam sifat-sifat seperti, ketakwaan, kesabaran, dan pemaaf. Meskipun para musuh menuduh Nabi Isa as sebagai dukun dan tukang sihir, tapi hinaan musuh tidak pernah membuatnya ragu tentang kebenaran risalahnya. Isa as cukup aktif dalam melawan orang-orang zalim dan memprotes keras kerusakan moral para ulama Yahudi. Ia berkali-kali menyebut ulama Yahudi terlibat korupsi, memakan harta haram, dan bermoral rendah.

 

Nabi Isa as selalu dalam perjalanan untuk menyampaikan dakwah dan memberi nasehat kepada masyarakat dalam bentuk kiasan. Ia menekankan ajaran tauhid dan pengesaan Tuhan, serta menekankan akhlak di samping persoalan penegakan hak-hak masyarakat dan keadilan. Al-Masih adalah penerus risalah para nabi terdahulu dan penyempurna pandangan dunia dan ideologi mereka. Isa berkata, “Aku tidak diutus untuk menghapus hukum-hukum Taurat, tapi aku diutus untuk menyempurnakannya.”

 

Isa al-Masih as adalah seorang utusan langit, di mana ucapan dan perilakunya sesuai dengan para pendahulunya dan juga nabi yang datang sesudahnya. Ajaran Isa as adalah membenarkan ucapan para nabi terdahulu dan menyampaikan kembali pesan-pesan mereka. Di samping itu, Isa as juga mempersiapkan kondisi untuk kemunculan penghulu para nabi.

 

Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 87 berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa, putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu, lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”

 

Nasib Isa al-Masih as juga sama seperti para nabi terdahulu. Mereka tidak menerima sesuatu dari para penguasa zalim kecuali tuduhan berdusta dan juga tidak pernah lepas dari bayang-bayang kekejaman mereka. Isa as juga menghadapi keganasan dan konspirasi orang-orang zalim yang ingin membunuhnya dan kemudian menyeretnya ke tiang salib. Namun berbeda dengan kisah di Alkitab, al-Quran dan riwayat-riwayat Islam membantah kebenaran peristiwa penyaliban Isa al-Masih as. Berdasarkan literatur Islam, Allah Swt mengangkat Nabi Isa as ke langit sebelum ia dibunuh oleh musuh dan ia akan diturunkan ke bumi pada masa yang telah dijanjikan.

 

Nabi Isa as dipersiapkan untuk menyebar keadilan di dunia. Ia akan tetap berada di sisi Tuhan sampai tiba waktu yang sudah ditentukan. Menurut referensi Islam, Isa al-Masih as akan turun ke bumi setelah kemunculan Imam Mahdi as di akhir zaman. Sekarang umat Kristiani sedang menanti kedatangan kabar gembira yaitu, kembalinya Isa as ke bumi dan mendirikan pemerintahan Ilahi. Kaum Muslim juga menunggu kemunculan Imam Mahdi as untuk mengumumkan pemerintahan global yang adil, damai, dan sejahtera.

 

Hari kelahiran al-Masih dan para nabi lainnya menjadi kesempatan bagi para pengikut agama samawi untuk merenungkan kembali ajaran kolektif para utusan Tuhan. Tak diragukan lagi, jika Nabi Isa as saat ini berada di tengah-tengah kita, maka ia tidak akan tinggal diam menyaksikan kezaliman. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh