Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 16 November 2015 10:27

Tafsir al-Mizan, Pelita Penerang Manusia

Tafsir al-Mizan, Pelita Penerang Manusia

Ulama adalah pewaris para Nabi yang menjadi penerang jalan bagi umat manusia. Lembaran sejarah Islam hingga kini menjadi bukti hadis dari Rasulullah Saw tersebut. Ulama mendedikasikan seluruh umurnya untuk mengajarkan agama kepada umat manusia, dan hanya menyisihkan sebagian kecil usianya untuk dirinya sendiri.

 

 

Para ulama sejati memikul tanggung jawab besar, karena kehadirannya menjadi pelita penerang bagi umat manusia. Terkait hal ini, Imam Ridha berkata, “Allah swt merahmati hambanya yang menghidupkan ajaran kami. Mereka mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Jika masyarakat mengenal keindahan perkataan kami, maka mereka adalah orang-orang yang mengikuti kami.” Salah satu ulama kontemporer itu adalah Allamah Thabathabai, dengan magnum opusnya tafsir al-Mizan.

 

Allamah Thabathabai adalah seorang ulama terkemuka yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Selain dikenal sebagai mufasir dengan karya besarnya tafsir al-Mizan, Allamah Thabathabai adalah seorang filsuf, teolog, faqih dan arif besar yang berpengaruh di dunia dengan karya-karyanya.

 

Allamah Thabathabai mengajar di hauzah ilmiah Qom. Kehadirannya di Qom memberikan pencerahan di kota ilmu itu. Selain melahirkan karya dalam bentuk buku di berbagai bidang, Allamah Thabathbai juga mendidik murid yang kemudian menjadi para ulama terkemuka seperti: Shahid Muthahari, Syahid Behesti, Ayatullah Javadi Amoli, dan Ayatullah Misbah Yazdi. Pertemuan ulama terkemuka Syiah ini dengan filsuf dan islamolog Prancis, Henry Corbin menghasilkan karya yang mengenalkan Islam Syiah kepada masyarakat dunia, terutama Eropa.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di kota kelahirannya, Tabriz, Allamah Thabathabai melanjutkan pendidikan di hauzah ilmiah Najaf, dan di kota Irak itu beliau menempuh pendidikan selama 10 tahun dengan berguru kepada para ulama terkemuka di zaman itu, di antaranya: Ayatullah Mirza Hossein Naini, Agha Sayid Khonsari dan Ayatullah Qadhi. Beliau kembali ke Tabriz dan bekerja menjadi petani untuk membantu ayahnya, lalu pindah ke kota Qom untuk mengajar di hauzah ilmiah.

 

Kemuliaan akhlaknya merupakan salah satu karakteristik Allamah. Setiap hari semakin banyak yang tertarik dengan ceramah dan pelajaran yang disampaikan beliau. Dalam pelajaran hikmah, ratusan pelajar hadir dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi ulama terkemuka dan ilmuwan kawakan seperti prof. Gholam Hossein Ebrahim Dinani, yang mengajar filsafat di universitas Tehran. Selain mengajar filsafat, tafsir al-Quran dan pelajaran Hauzah lainnya, Allamah Thabathabai sangat memperhatikan pelajaran akhlak, terutama penyucian diri atau tazkiyatunafs kepada murid-muridnya.

 

Profesor Ebrahim Dinani menjelaskan tentang gurunya, “Manusia besar ini senantiasa dalam keadaan merenung.Siang dan malam, dalam perjalanan maupun sedang tinggal, ketika berjalan dan duduk, dalam tidur maupun bangun; beliau selalu merenung. Apa yang dipikirkannya bukan tentang urusan sehari-hari. Saya sebagai murid yang cukup dekat dengannya melihat sendiri bagaimana perilaku beliau di antara muridnya, maupun pertemuan dengan Henry Corbin, serta para dosen di universitas. Ketika mengajukan pertanyaan, saya merasakan beliau telah memilikirkannya dan bukan persoalan baru baginya. Segala pertanyaan maupun pandangan yang berbeda dengan beliau disampaikan tanpa rasa khawatir. Beliau bersedia untuk menjawab setiap persoalan dengan meninjaunya dari awal.”

 

Tafsir al-Mizan merupakan karya terpenting Allamah Thabathabai. Para ahli menilai tafsir al-Quran ini sebagai karya monumental dan memiliki kedudukan tinggi dengan karakteristik khusus yang membedakannya dengan karya tafsir lainnya. Kitab tafsir al-Quran terdiri dari 20 jilid berbahasa Arab yang ditulis selama 20 tahun. Hingga kini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia seperti Farsi, Inggris, Urdu, Turki dan bahasa lainnya.

 

Salah satu karakteristik tafsir al-Mizan adalah terobosannya di bidang metode tafsir yang terbilang baru, yaitu ayat ditafsirkan dengan ayat. Allamah Thabathabai berkeyakinan bahwa al-Quran dipahami dengan keterkaitan ayat lain. Meskipun motode ini bukan pertama kali ditemukan oleh Allamah Thabathabai, tapi sebelumnya tidak banyak dipergunakan oleh para ulama tafsir. Para mufasir sebelumnya hanya menggunakan sebagian metode ini secara partikular, sedangkan tafsir al-Mizan secara keseluruhan menggunakan metode tafsir ayat dengan ayat lain.

 

Karakteristik lain dari tafsir al-Mizan adalah pemahaman dan berbagai makna yang ada dalam sebuah ayat dengan bantuan ayat lain. Kebanyakan buku tafsir al-Quran menjelaskan dua atau tiga makna dari sebuah ayat tanpa memilih salah satunya.Tapi Allamah dalam tafsir al-Mizan menjelaskan beragam makna tersebut dan memilih salah satunya dengan bersandar kepada penjelasan dari ayat lain. Selain itu, tafsir al-Mizan juga mengungkapkan istilah agama dan al-Quran dengan bantuan ayat. Misalnya makna istilah istijabah doa, taubah, rizq, barakah, jihad, safaat dan lainnya, dengan penjelasan ayat-ayat al-Quran.

 

Tafsir tematis menjadi karakteristik lain dari tafsir al-Mizan. Kebanyakan buku tafsir membahas al-Quran sesuai urutan ayat, tanpa memfokuskan terhadap tema utama di dalamnya.Tafsir al-Mizan mengumpulkan seluruh ayat yang berkaitan dengan sebuah masalah, misalnya ahbat atau hilangnya pengaruh sebuah amal baik oleh dosa, atau sebaliknya. Kemudian dicari pandangan al-Quran terhadap masalah tersebut. Metode ini merupakan pendekatan menarik yang disajikan dalam tafsir al-Mizan. Hingga kini pendekatan tersebut masih menjadi sorotan para peneliti.

 

Tafsir al-Mizan memberikan perhatian besar terhadap berbagai permasalahan dan pertanyaan yang menjadi bahan diskusi di kalangan akademis.Terkadang, pertanyaan tersebut muncul dalam bentuk pertanyaan mengenai akidah atau bentuk lainnya.

 

Allamah cukup menguasai peta pemikiran dunia Islam dan Arab yang berkembang ketika itu. Beliau berupaya menjawab berbagai permasalahan tersebut dalam bentuk tafsir al-Quran. Selain menjadi perhatian para peneliti al-Quran, tafsir al-Mizan juga menjadi sorotan para pengkaji gagasan serta problematika pemikiran yang dihadapi dunia Islam dan Arab. Terkait karakteristik tafsir al-Mizan, Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, “Karya ini disusun berdasarkan metode tafsir al-Quran yang tinggi, dan sejatinya menjadi jaminan sebuah rangkaian kebenaran yang selama ini tersembunyi bagi kita, “.

 

Allamah Thabathabai wafat pada 14 November 1981. Tapi karyanya hingga kini tetap lestari dan menjadi obor penerang bagi umat manusia. Imam Hadi berkata, “Jika setelah keghaiban qaim (Imam Mahdi) kami tidak ada, maka carilah para ulama yang menasehati dan membimbing masyarakat dan membela agama ilahi dengan hujah-Nya serta menyelamatkan manusia yang lemah dari ikatan iblis dan para pengikutnya.“(IRIB Indonesia/PH)

 

 

Add comment


Security code
Refresh